
"Apa yang Abang rasain, pas mimisan itu?" tanya Wahyudin kemudian.
"Kalau di mimpi basah, rasanya kek mau keluar. Tapi... Tak bisa." jawab Ghifar lirih, ia malu karena ada ayahnya di sampingnya.
"Memuncak gitu ya? Udah di ubun-ubun, tapi tak bisa terlampiaskan?" Wahyudin bisa menebak itu dan ternyata, diiyakan oleh Ghifar
"Konsumsi obat-obatan terlarang? Alkohol?" Wahyudin lanjut mewawancarai Ghifar.
"Alkohol, tapi tak sering." jawaban Ghifar mengingatkan Adi pada botol minuman keras yang sudah kosong. Botol-botol itu yang tadinya berada di dalam kulkas, lalu tiba-tiba kosong melompong dan terkumpul di sudut halaman belakang.
"Seberapa sering? Apa Abang kecanduan? Contohnya gini, misalkan tak minum itu tak bisa tidur?" pertanyaan Wahyudin gampang dimengerti oleh Ghifar.
"Saya... Saya sulit tidur, kalau memang sudah berha*rat tapi tak bisa lari ke mana-mana. Kalau lepas minum, kepala pengar, mata berat, pasti langsung tidur. Tapi itu..." Ghifar melirik ke ayahnya.
Kemudian ia meluruskan pandangannya lagi pada teman ayahnya.
"Tapi itu, saya tak banyak. Paling beberapa teguk, karena toleransi alkohol aku cukup buruk." lanjut Ghifar was-was. Ia khawatir dimarahi ketika sampai di rumah.
"Ok, saya paham. Cuma buat penenang aja gitu ya?" Ghifar langsung mengangguk mengiyakan.
"Berarti mimisan bukan karena alkohol. Karena mimisan saat berha*rat, sedangkan alkohol jika menginginkan untuk tidur?" Ghifar mengangguk kembali. Karena itulah kebenarannya.
"Baiklah." Wahyudin sibuk dengan dokumennya. Tepatnya, ia tengah mencari spekulasi baru.
"Sejak kejadian apa? Abang tidak bisa lagi bereaksi? Kecelakaan? Atau trauma?"
Deg....
Adi dan Ghifar satu pemikiran. Mereka teringat akan kisah pernikahan Givan.
"Sepertinya saya tau jawabannya. Tapi, saya tak bisa memastikannya. Cuma memang, saya sering teringat akan wanita yang menangis sesenggukan, saat saya mencoba menggauli wanita. Saya khawatir, tindakan saya menyakitinya. Karena, saya selalu ingat pesan seseorang tentang perempuan yang merasakan sakit, kala kita memaksakan kehendak kita." penuturan Ghifar diperhatikan dengan baik.
__ADS_1
"Hal apa itu? Yang membuat Abang demikian?" Wahyudin mencoba mendalami masalah pada diri Ghifar.
"Pemer*osaan mantan kekasih saya. Tapi, saya benar-benar tak mempermasalahkan lagi. Saya udah baik-baik aja. Memang terlintas kek gitu, kala saya coba gauli perempuan. Udah coba pahami, bahwa pasangan saya saat itu pun menginginkan hal itu. Tapi entah mengapa, saya pun tak mengerti. Entah itu atau bukan penyebabnya." tandas Ghifar kemudian.
"Pesan yang selalu anda ingat itu, bisa jadi itu pesan yang disampaikan saat Abang tak sadar. Saat Abang tertidur mungkin, atau saat Abang tak sadarkan diri. Kalau bisa jadi karena hal itu, ini karena psikis, ada terapi yang harus Abang jalani buat ngilangin traumanya." Ghifar manggut-manggut, mendengar penjelasan yang menarik perhatiannya.
"Tapi... Abang juga mesti jalani pemeriksaan lebih lanjut nih." Wahyudin terdiam sejenak.
"Benar-benar tidak bisa bangun sama sekali? Atau saat subuh, masih dapat serangan fajar?" lanjutnya bertanya.
"Serangan fajar, udah tak pernah saya rasakan lagi. Tak bisa bangun sama sekali sepengamatan saya." aku Ghifar tentang yang ia rasakan.
"Baik." Wahyudin terdiam dengan fokus pada dokumennya, ia seperti menuliskan sesuatu.
"Bisa kita mulai dengan terapi hormon testosteron. Tapi kita cek darah terlebih dahulu, cek hormon juga. Kalau hormonnya stabil, kita tak bisa ambil tindakan itu." Adi bergidikan, karena Givan pernah menceritakan tentang terapi hormon itu. Givan pernah merasakan itu.
"Tak ada obat kah? Katanya terapi psikologis?" Adi seperti keberatan akan hal itu.
"Tapi..." Wahyudin menghadap ke arah Ghifar kembali.
"Tapi, kalau setelah pemeriksaan. Hormon kau bagus, kita tak perlu suntikan hormon testosteron lagi. Tinggal kita vakum, biasanya rata-rata yang menderita DE. Mereka bisa kl*maks, dengan vakum ini." bayangan Adi akan alat bantu se*s, yang ia lihat di film dewasa. Tabung, dengan ujung yang memiliki selang dan pipet untuk memompa.
"Seram-seram betul pengobatan kau. Terapi psikologis aja dulu lah." Adi berani seperti itu, karena sang ahli andrologi adalah temannya sendiri.
"Terapi psikologis itu harus bawa pasangan. Kita kasih sentuhan sama area sensitif tubuh anak kau. Kalau bisa, pasangan halal lah. Mereka ke sini berdua, nanti aku bantu arahkan. Begitu kurang lebihnya. Konsul sama saran sekitar dua puluh menit, nah disambung sentuhan pasangan itu." Wahyudin seperti ingin meremas wajah Adi. Karena temannya tersebut tak mengerti tentang keahliannya, tetapi terlalu menuntut.
Adi garuk-garuk kepala, lalu menyandarkan punggungnya pada sofa.
"Kalau aku yang nyentuh. Batangnya yang ada nambah layu, karena tak selera sama aku." lanjutnya kemudian.
Namun, Wahyudin seperti teringat akan sesuatu.
__ADS_1
"Tapi, orientasi se*sual Abang tak bermasalah kan?" Wahyudin ingin memastikan bahwa Ghifar berh*srat pada perempuan.
"Tak. Saya masih doyan perempuan." jawab Ghifar cepat.
"Ok, ayo ikut saya. Saya antar ke lab, untuk cek darah dulu Bang." Wahyudin bangkit, ia keluar dari ruangannya diikuti oleh Adi dan Ghifar. Mereka semua pergi dari jejeran ruko itu, untuk menuju ke suatu tempat yang Wahyudin tunjukkan.
Hingga lewat jam makan siang, Ghifar masih diminta untuk mengekori Wahyudin. Dengan sabarnya Adi menemani anaknya, ia begitu tulus untuk kesembuhan anaknya.
"Di..." Wahyudin mendekati Adi yang tengah fokus pada ponselnya.
Sedangkan Ghifar berada di parkiran mobil. Ia meneduh di suatu tempat, dengan menikmati rokok.
"Apa?" Adi menoleh dengan menaikkan sebelah alisnya.
Wahyudin memperhatikan tulisan yang berada selembar kertas, itu adalah hasil cek darah Ghifar.
"Anak kau normal. Maksudnya, tak ada penyakit, hormon juga normal." Wahyudin seperti terheran-heran, dalam mengungkapkan kebenaran itu.
"Masa mau langsung vakum? Kek mana kalau sambil terapi psikisnya, kau nikahkan dia juga. Karena... Peran perempuan penting di sini." lanjutnya kemudian.
"Konsul aja dulu. Kau coba gali perasaan yang Ghifar pendam, yang buat perasaannya kacau itu. Soalnya susah dia kalau ditanya hal itu. Dia kek malu, kalau kita bahas hal itu." Adi tidak ingin tindakan yang temannya berikan, memiliki resiko dunia akhirat. Lebih tepatnya, Adi ingin hal yang mudah. Yang mungkin bisa menyembuhkan Ghifar.
"Ck... Keselnya aku sama kau begini, Di." Wahyudin geleng-geleng kepala, dengan menggulirkan pandangannya ke arah lain.
"Cobalah dulu ngobrol. Dari pada tindakan, ngeri aku. Apa tak linu, k*jantan*n divakum? Bayanginnya aja udah linu ke tulang-tulang." Adi khawatir itu menyakiti anaknya.
"Kalau vakum gagal. Kita ambil terapi injeksi. Terapi intrauretral, terapi injeksi ke badan p*n*s serta saluran kencing. Buat melebarkan pembuluh darah di p*n*s. Kalau gagal lagi, perawatan bedah pakek implan p*n*s. Tapi tetap, Di. Kunci keberhasilan terapi disfungsi er*ks*, itu pasangan Di. Studi menunjukkan kalau terapi disfungsi *r*ksi akan memiliki tingkat kesuksesan sampek 50-70%, kalau melibatkan pasangan. Nah, kalau laki-laki harus menjalani terapi se*s sendirian, persentase keberhasilan akan lebih rendah." ungkap Wahyudin lirih, tetapi begitu tegas.
"Aduh...." Adi geleng-geleng kepala, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
......................
__ADS_1
Aduh papah Adi cerewet 😅