Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS69. Ajakan Ghavi


__ADS_3

"Biarin aja lah, Di. Lagian Ken pasti bisa jagain saudaranya." timpal Haris terdengar santai.


"Tak ngelarang juga, Bang. Cuma mau tau Ghifar nanti ngapain di sana?" tegas Adinda yang menarik perhatian mereka semua.


"Ya mungkin… untuk sementara nanti ikut aku dulu, sebelum dia dapat kerjaan baru di sana." sahut Kenandra kemudian.


"Di Bali lagi, nanti malah keingat lagi." tutur Adi dengan suara yang seperti tak mengizinkan.


"Bali kan luas, Pah. Waktu kemarin kita di Kuta. Aku pindah dinas di daerah Gunung Batur itu, Pah. Bukan daerah pesisir." tukas Kenandra, yang entah kenapa langsung diangguki oleh Adi.


"Atur aja, jagain anak Papah. Kau udah besar, kau abangnya. Pengalaman kau lebih banyak dari Ghifar, setidaknya jangan jeblosin Ghifar. Dia anak kemarin sore, kau paham???" ungkap Adi dengan sorot mata tajamnya.


"Ya, Pah. Pasti aku kontrol, pasti aku awasi. Meski tak terang-terangan di depan mata dia. Aku cuek juga, aku masih peduli sama orang terdekat aku." sahut Kenandra dengan membuang wajahnya ke arah lain.


Adi mengangguk, "Papah percaya sama kau. Kau yang dipercaya, semoga bisa ngemban amanat dari Papah." balas Adi kemudian.


"Ayo semuanya, kita makan dulu." panggil Giska, dengan Gavin mengekorinya.


Kemudian mereka semua bangkit dari posisinya, menuju ke ruang makan. Yang berada di sebelah ruangan, yang dulunya adalah tempat bermain anak-anak.


~


~


"Ngerti tak, Far?" tegas Haris yang mendapat anggukan dari Ghifar.


"Ya, Bi. Aku paham, jangan diulang-ulang terus." sahut Ghifar dengan wajah kesalnya.


"Abi tak mau kau nyium-nyium lantai lagi! Kalau kejadian macam itu lagi, kau dapat akibatnya dari Abi." ancam Haris dengan mengacungkan telunjuknya.


"Bi… pingsan bukan kehendak aku. Kenapa Abi sampek ngancem aku kek gitu?" balas Ghifar dengan menoleh ke arah pintu yang diketuk seseorang.


"Kau laki-laki, jangan lemah karena perasaan. Kalau kau kalah, kau tak bisa ngendalikan pikiran kau. Nanti senang mereka, udah buat kau macam orang gila. Tunjukkan ke mereka, kalau kau memang baik-baik aja, kau sehat-sehat aja. Inget-inget saran dari Abi. Ulas balik apa yang Abi bilang kemarin. Bila perlu, kau tulis biar tak lupa. Udah sana! Keluar, berbaur sama yang lain. Makan macam biasa, ngemil macam biasa, olahraga macam biasa juga." ungkap Haris sebelum Ghifar keluar dari ruangan pribadinya.


"Bilang bunda, buatkan Abi kopi." pinta Haris, yang hanya diangguki Ghifar.


Blug….


Suara pintu yang tertutup cukup kuat, menimbulkan suara yang cukup mengusik pendengaran.

__ADS_1


"Kenapa, Dek?" tanya Ghifar, saat menemukan Langi berdiri di depan pintu ruangan ayahnya.


"Abang dipanggil bang Ghavi. Katanya suruh apa gitu…" jawab Langi terdengar malu-malu.


Ghifar mengangguk, "Di mana bang Ghavinya?" tanya Ghifar dengan membawa Langi sejajar dengan langkah kakinya, karena ia merangkul pundak anak bungsu Haris tersebut.


"Di teras, sama papah Adi." jawab Langi kemudian.


"Bunda… bikin kopi buat Abi." seru Ghifar, saat melewati dapur. Di mana Alvi tengah berkutat dengan beberapa piring kotor.


"Ya, Far." sahut Alvi, dengan mengalihkan pandangannya sejenak.


"Ehh, mau ke mana?" tanya Ghifar, saat Langi melepaskan rangkulannya.


"Ke kak Kin, Bang." jawab Langi. Remaja yang tengah mengalami masa puber tersebut, merasa malu dengan Ghifar yang baru ia kenal beberapa hari belakangan itu.


Apa lagi, sekarang Ghifar tengah bertelanjang dada. Tentu saja penampilan Ghifar, cukup membuat Pallawarukka Rawallangi menjadi canggung dan risih.


"Pue, Vi?" tanya Ghifar, saat dirinya sudah berada di hadapan keluarganya.


"Yuk jalan-jalan. Gih salin, kita ke mall." jawab Ghavi, yang membuat Ghifar mengerutkan keningnya.


"Biar kita dikata kakak beradik yang harmonis gitu, macam de Soibah sama aa Sholeh itu? Tak mau Abang! Udah sana kau jalan-jalan sendiri aja. Malu kali Abang jalan-jalan sama kau, macam apa kali." ucap Ghifar, membuat Adi yang tengah menyuapi Gavin dan Gibran terkekeh geli.


"Ya Allah, Bang. Pikiran kau negatif aja! Ya kali, masa orang-orang mau nyangka kita homo. Kan kita mirip, Bang. Orang-orang pasti nyangkanya kita kakak beradik." jelas Ghavi, yang membuat Ghifar geleng-geleng beberapa kali.


"Tak mau Abang. Sama Giska aja, jangan sama kau." tegas Ghifar kemudian.


"Aku nanti yang bayarin kau, Bang! Sama Giska, macam Abang dikasih sangu sama mak aja. Coba aku tanya, memang Abang punya uang?" tanya Ghavi dengan wajah meledek.


Ghifar tersenyum samar, dengan menundukkan kepalanya.


"Awas aja kau! Pacar kau nanti juga Abang ajak jalan, lepas masanya Abang berduit nanti." jawab Ghifar dengan lirikan sinisnya.


Ghavi mendekati Ghifar, lalu ia memeluk lengan kakaknya tersebut.


"Jangan pacar aku aja, aku juga diajak jalan lah Bang. Nih kan aku baik sama Abang, tak mau gitu Abang timbal balik baik sama aku?" ujar Ghavi yang membuat tawa Ghifar pecah.


"Memang kau ada pacar?" tukas Ghifar yang langsung digelengi oleh Ghavi.

__ADS_1


Lalu mereka tertawa bersama, mentertawakan gurauan sepele tersebut.


"Makanya aku ajak jalan Abang, karena aku tak ada pacar. Kan lumayan Abang juga." tutur Ghavi, yang langsung terjungkal karena dorongan dari Ghifar.


Adi geleng-geleng, melihat tingkah anak-anaknya.


"Bonyok Far, anak Papah itu. Dari kecil dia udah terdzolimi. Tak sama Ghava, tak sama kau, kalah terus dia dari kecil." ucap Adi dengan memperhatikan gurauan mereka, yang terlihat sudah keterlaluan.


"Ya, sama aku juga terdzolimi. Dari kecil dibikin nangis terus sama mamah, sama bang Givan, tapi yang paling sering sih sama kau Far. Nyebelin kau itu! Tapi apa daya, kau adikku yang ternyata paling aku sayangi." suara seseorang yang baru datang, dengan bagian perut yang membesar tersebut.


"Aduh… gadis Papah baru datang. Kau jalan kaki, Nak? Omah sama Ghava juga?" sahur Adi, dengan berjalan ke arah Icut. Untuk membantu mengangkat tas jinjing, yang berukuran cukup besar tersebut.


"Ngeledek aja! Gadis masa perutnya begini." balas Icut, membuat Adi terkekeh sendiri.


"Mana yang lain, Cut?" tanya Adi, saat Icut meraih tangan ayahnya untuk ia cium.


"Di belokan itu. Mobilnya nyelip, ban belakang sebelah kiri masuk got. Perut aku kram, lama-lama duduk nungguin. Jadi udahlah jalan aja, itung-itung olahraga ringan." jelas Icut kemudian.


"Bantuin itu sana Vi, Far." pinta Adi dengan menoleh ke arah anak-anaknya.


"Kau pakek kaos kau, Far! Mentang-mentang gagah, dada bidang kau pamerin terus." ketus Adi, saat melihat Ghifar hendak berlalu pergi.


Ghifar menoleh ke arah ayahnya, dengan memasang senyum kudanya.


"Tanggung, Bang. Belum mandi juga, sayang kaosnya nanti basah kena keringat." ujar Ghifar, lalu dirinya langsung berlalu pergi.


"Pah… kata temen aku yang fakultas kedokteran. Katanya kalau keringat berlebih gitu, bisa jadi gejala penyakit jantung." tutur Icut, yang membuat Adi mengerutkan keningnya.


"Bukan jantung Ghifar sih. Penyakit batin, batinnya tersiksa. Hatinya merana, pikirannya berkelana, otaknya isinya Canda Pagi Dinanti terus." timpal Haris, yang baru keluar dari rumah. Dengan rokok yang menyelip di antara jari tangannya.


Adi dan Icut terkekeh kecil, "Sehat badannya, psikisnya yang terganggu sekarang. Kalau masalah keringat, tak ada masalah. Orang gunung, jelas gerah tinggal di daerah panas begini. Hawa dingin, baru pas di kulitnya yang hitam itu." lanjut Haris, dengan menghembuskan asap rokoknya.


"He'em, apa lagi ini masuknya daerah pesisir. Tak dapat kamar, mana tak ada AC di ruangan tempat tidurnya lagi. Ya udah mandi keringat." sahut Adi kemudian.


"Gih, masuk Cut! Abi lagi ngerokok. Ajak adik-adik kau juga itu. Mak kau di halaman belakang, lagi motong kangkung sama Giska." pinta Haris, yang diangguki oleh Icut.


Lalu Icut berlalu pergi, masuk ke dalam rumah. Dengan Gavin dan Gibran, yang berlari mendahuluinya.


......................

__ADS_1


__ADS_2