
"Papah lagi ke luar sebentar, lagi beli jajan." ucap ibu Meutia, dengan membelai surai hitam anak bungsu menantunya.
Gibran mengangguk, lalu duduk begitu saja di pangkuan ibu Meutia.
"Makan apa sih?" tanya ibu Meutia kemudian.
"Weh. Ada eyes ya." jawab Gibran, yang membuat ibu Meutia bingung.
"Kenapa ya yang bungsu cadel gini?" ujar ibu Meutia, dengan menoleh ke arah Haris.
"Kalau anak laki-laki, memang ngomongnya agak lambat. Anak Dinda kan memang cadel-cadel. Givan aja, 4 tahun baru jelas ngomongnya. Lagian, Gibran ini masih 2 tahun kurang sebulan Mi. Masih kecil betul dia, cuma memang tubuhnya tinggi." jelas Haris dengan memperhatikan anak dua tahunan tersebut.
"Memang ini udah tak ASI, Om?" tanya Canda, yang baru menyuarakan suaranya.
"Asi sampek tiga bulan kalau tak salah, terus kering sendiri. Padahal ibu mertua kau, ikut KB yang aman buat ibu hamil." jawab Haris, dengan beralih memandang Canda.
"Masih KB suntik itu Dinda?" tanya ibu Meutia kembali.
"Tadi sih cerita-cerita, ngobrol kan kita. Katanya udah sebulan ini lepas KB. Karena Dindanya menggigil terus." jawab Alvi, yang membuat mereka menoleh ke arah Alvi.
"Duh, Dinda tuh. Nanti hamil lagi dia." balas ibu Meutia terdengar frustasi.
"Padahal ikut KB ya? Tapi bisa hamil lagi hamil." celetuk Canda, yang membuat mereka terkekeh pelan.
"Iya, berarti dipercayakan sama yang diatasnya. Ekonomi juga bagus sih, mertua kau itu." ucap Haris kemudian.
"Pahhhh…. Papah…. Papah Adi Riyana…" seru Giska, yang terdengar semakin mendekat.
"Pah…. Aku haid." lanjut Giska, yang mengadu tentang keadaannya.
"Terus… kalau kau haid, papah kau suruh apa?" ketus ibu Meutia, saat melihat batang hidung Giska.
"Suruh sayang-sayang aku. Sakit kali pinggangnya." rengek Giska, dengan duduk di samping neneknya.
"Hadeh… pakek pembalut belum? Sana minta ke Kin dulu." ujar ibu Meutia, yang kesal dengan sifat kekanak-kanakan Giska.
"Udah, baru pakek. Papah ke mana, Omah?" tanya Giska, dengan ibu Meutia yang mengedikan bahunya untuk merespon ucapan Giska.
"Sana tidur." pinta ibu Meutia yang digelengi oleh cucunya.
"Kau ini banyak tingkah betul. Kesel Omah sama kau!" ucap ibu Meutia, saat Giska menggosokkan wajahnya di baju neneknya.
__ADS_1
"Omah tuh rewel betul. Pantes dapat menantunya kek mamah aku." ujar Giska, dengan melenggang pergi.
Ibu Meutia mengusap dadanya, dengan memperhatikan Giska yang masuk ke dalam kamar yang orang tuanya tempati.
"Gih bobo, sama kakak kau itu." pinta ibu Meutia, pada anak laki-laki yang masih setia duduk di pangkuannya.
"Ti… Agi mam weh." jawab Gibran dengan sedikit ngotot.
"Duh… tak paham Omah. Ya udah, kalau udah cuci tangan terus bobo." sahut ibu Meutia yang diangguki oleh cucunya.
"Canda… masuk kamar Kin aja. Di lantai atas itu. Tidur di sana aja, sama Kin. Keknya lagi nonton drakor itu anak." ucap Haris, dengan menunjuk pintu di atas tangga. Yang bersebelahan dengan kamarnya.
"Ya, Om." sahut Canda, dengan langsung melangkah menuju kamar Kinasya.
"Masih belum boleh campur?" tanya ibu Meutia, saat Haris hendak beranjak pergi.
"He'em, Mi. Minimal 21 hari. Soalnya ada sedikit luka di dalamnya itu, Mi. Maklum lah, perawan dikasarin tanpa pelumas kan lumayan bikin fatal. Bahkan ada kasus, yang sampek perempuannya kejang." jawab Haris dengan menoleh ke arah ibu Meutia.
Lalu Haris melangkah menuju kamarnya. Sedangkan ibu Meutia masih berada di ruang tersebut dengan cucunya yang paling kecil, ditemani oleh Alvi. Yang berpindah duduk di sampingnya.
~
Pikirannya campur aduk. Ia khawatir rumah tangganya hanya seumur jagung, karena pernikahan yang dipaksakan tersebut. Namun, ia tak bisa membayangkan. Jika perempuan yang kemarin ia nikahi, akan kembali pada adiknya tersebut. Pasti suasana kumpul keluarga mereka, tak sebahagia dulu.
"Dek… Canda. Abang mau ngomong." panggil Givan, yang menarik perhatian para wanita di dapur tersebut.
Alvi menyenggol lengan Canda, karena Canda tak kunjung memenuhi panggilan suaminya.
"Di ruang keluarga aja, atau di halaman belakang. Jangan mau dibawa ke kamar dulu." ucap Alvi lirih.
Canda mengangguk, kemudian melangkah menuju ke arah suaminya.
"Jangan lama-lama. Tuntasin tumisan kau." ujar Adinda, yang fokus pada kompor di depannya.
"Ya, Mah." jawab Canda, yang sempat berhenti sejenak karena mendengar ucapan mertuanya.
"Ngomong apa, Mas?" tanya Canda yang hendak duduk di kursi makan tersebut.
Givan masih sedikit bingung, dengan panggilan yang Canda bubuhkan. Ia sebelumnya terbiasa dengan panggilan abang, kemudian tergantikan dengan panggilan aa. Sekarang berubah kembali, dengan sebutan mas.
"Ke belakang aja." jawab Givan, dengan mengajak Canda ke halaman belakang.
__ADS_1
Tanpa disangka, Givan menggandeng tangan Canda. Canda yang sebelumnya sudah sering digandeng oleh Ghifar, tentu merasa sedikit tidak nyaman kala dirinya digandeng oleh laki-laki lain. Yang kini menjadi suaminya.
Canda menghempaskan tangan Givan, lalu berjalan mendahului suaminya. Givan hanya bisa menghela nafasnya, kemudian mengikuti langkah kaki istrinya.
"Ada apa, Mas?" tanya Canda, dengan memperhatikan ikan-ikan peliharaan Haris di kolam yang terawat tersebut.
Tiba-tiba Canda mendapatkan pelukan hangat dari belakang tubuhnya. Ia kini merasakan pelukan pelaku kembali, membuatnya teringat akan kejadian minggu pagi tersebut.
Tubuhnya bergetar, ia tak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
"Jangan berani peluk-peluk aku! Jangan berani nyentuh aku!" ucap Canda histeris, dengan melepaskan pelukan Givan.
Givan merasa bingung, saat istrinya memberontak hanya karena pelukannya saja.
"Abang… Ehh. Mas, tak ada maksud apa-apa. Cuma mau ngobrol aja sama Adek. Ehh, sama Canda." sahut Givan, yang merasa bingung dengan pemilihan sebutan tersebut.
"Tenang, Canda. Jangan nangis! Jangan bikin Mas jadi tak enak sama orang rumah." ungkap Givan, dengan mencoba menyentuh lengan Canda.
Canda memasang telapak tangannya di depan tubuhnya, "Jangan dekat-dekat! Ngomong, tinggal ngomong. Gak usah Mas peluk-peluk aku." sahut Canda kemudian.
"Oke. Ayo, kita sambil duduk di sana." balas Givan, dengan menunjuk kursi taman yang berada tak jauh dari jangkauan mereka.
Canda mengangguk, kemudian ia mengusap air matanya. Lalu ia berjalan menuju ke tempat kursi taman tersebut.
Givan langsung segera menyusul istrinya, kemudian duduk di samping istrinya.
"Tenang, Mas tak mungkin kasar sama kau." ungkap Givan, dengan duduk menyerong ke arah Canda.
"Aku takut, Mas. Aku belum bisa lupain kejadian kemarin." sahut Canda lirih, dengan menundukkan kepalanya.
"Iya, Mas paham. Mas minta maaf ya? Maaf, udah ngelakuin hal itu ke Canda. Bukan maksud hati, mau ngerenggut itu dari kau. Normalnya laki-laki, pasti itunya bangun kalau pagi-pagi. Canda juga kenapa? Kenapa berani masuk ke dalam rumah? Apa rencananya mau ngasih umpan buat Ghifar? Tapi kenanya malah abangnya?" balas Givan, yang kembali mengungkit Ghifar.
Canda melirik sinis pada suaminya, "Kalau cuma mau bahas tentang adik Mas, mending kita tak usah ngobrol lagi." ujar Canda dengan memalingkan wajahnya.
Karena mau bagaimana pun juga, Canda masih memiliki secuil harapan pada Ghifar. Ia amat bahagia, saat mendengar Ghifar tetap mempertahankannya. Namun, sayangnya keputusan keluarganya begitu kuat. Ditambah lagi, dirinya merasa terlalu kotor untuk orang sebersih Ghifar. Ia merasa tak pantas, bersanding dengan Ghifar kelak.
Givan menggenggam tangan istrinya, lalu satu tangannya terulur untuk menyentuh rahang istrinya.
"Liat suamimu, Canda. Coba….
......................
__ADS_1