
Di tempat lain, Adinda tengah kelabakan karena ponsel anaknya tak bisa dihubungi. Berikut ponsel keponakannya juga, Anasya. Sejak subuh tadi, Adinda mendapat kabar dari kakaknya. Bahwa sejak tadi malam, Anasya dan Ghifar pergi untuk malam mingguan dan tak kunjung kembali.
"Dek… tak bikin sarapan kah?" seru Adi, yang tak mendengar bunyi alat-alat dapur berdentingan. Maupun suara istrinya yang gembar-gembor, untuk menyuruh anak-anaknya sarapan.
Adi masuk ke dalam kamar, dengan langsung ditubruk dengan tangis pecah istrinya.
"Ya Allah, Sayang. Abang cuma lari kecil keliling kampung aja, bek nangis macam itu. Meu'ah, Abang tak ada bilang." ucap Adi, dengan mengusap punggung istrinya.
"Bukan nangisin Abang, dodol!!! Aku takut, aku khawatir. Ghifar sama Anasya ijin jalan-jalan malam mingguan, sampek pagi ini mereka tak balik. Mana nomornya pada tak aktif." ungkap Adinda dengan mendongakkan kepalanya. Yang ia lihat saat ini, adalah pemandangan jakun Adi dan rahang tegas suaminya.
"Baterai habis kali. Nanti tunggu agak siangan." sahut Adi, dengan menunduk dan menatap mata istrinya yang tengah mengeluarkan air mata tersebut.
"Aku takut dia dibegal, atau kecelakaan di jalan." balas Adinda memberitahu sesuatu hal, yang mengacaukan pikirannya sekarang.
"Berpikir positif aja. Nanti Abang coba hubungi kerabat dekat, apa hubungi Haris nanti. Mana tau, mereka ada liat Ghifar keluyuran malam tadi." ucap Adi dengan mengusap kepala istrinya.
"Mah…. minta peng. Mau nguli ahhh dulu, ada mata pelajaran pagi." seru Giska, yang langsung melongok ke dalam isi kamar ibunya. Karena pintu kamar tersebut, tengah terbuka lebar.
"Heh… ya Allah, Mah. Kenapa nangis?" lanjut Giska, ya melihat pemandangan ayahnya tengah membingkai wajah ibunya.
Giska langsung menghampiri orang tuanya. Lalu ia dengan santainya masuk ke dalam pelukan ayahnya, yang tengah mendekap erat tubuh ibunya tersebut.
"Apa sih kau nyempil aja?" ujar Adinda, dengan memberi anaknya pelototan tajam.
"Aku mau sayang-sayang Mamah, kan Mamah lagi nangis. Jangan nangis dong, Mah. Nanti muncul garis halus di wajah, kan sayang perawatan mahalnya." tutur Giska, dengan mendekap tubuh ibunya.
__ADS_1
Adi melepaskan pelukannya, karena sudah tergantikan dengan pelukan Giska untuk istrinya.
"Abang kau tak bisa dihubungi. Tadi malam ijin ke pakde kau, bilangnya mau jalan-jalan malam mingguan sama kak Aca." jelas Adi, dengan menarik kaos olahraga yang dikenakannya. Hingga terpampang jelas, tubuh pria 48 tahun tersebut. Yang masih terlihat begitu gagah dan terawat.
"Coba aku yang hubungi." ucap Giska, dengan melepaskan pelukannya. Lalu ia beralih pada tote bag, yang tergantung di bahunya.
Ia mendapatkan ponselnya, dalam tote bag-nya. Lalu ia mencari nama bang Ghifar, dalam kontak teleponnya.
Tut, Tut….
"Bunyi kereta api, Mah." ucap Giska, begitu panggilan teleponnya tersambung dengan nomor Ghifar.
"Coba speaker." pinta Adi, dengan mendekati anaknya. Setelah ia menaruh kaos yang ia pakai untuk berolahraga, dalam keranjang baju kotor.
"Hallo…" sahut suara Ghifar, yang terdengar masih begitu serak.
"Hmmm… nanti Abang bagi uang saku. Abang cuci muka dulu, nanti Abang antar kau." sahut Ghifar, yang membuat Adinda melongo mendadak.
Adi menatap heran ponsel Giska. Lalu ia mengambil alih ponsel tersebut, dengan memperhatikan nama yang tertera di layar ponsel dan nomor telepon yang tertera di bawah nama.
Senyap beberapa saat. Hingga terdengar kembali suara Ghifar, dengan tawa sumbangnya.
"Abang lupa, Dek. Abang tak di sana." ucap Ghifar, yang membuat Adi terbahak-bahak.
"Lagi di mana, Nak? Anak Papah, yang paling mameh." sahut Adi kemudian.
__ADS_1
"Di abi, Pah." balas Ghifar dengan menguap. Terdengar sampai ke telinga Adi, bunyi suara mulut Ghifar yang tengah mengambil oksigen lebih banyak tersebut.
"Kenapa tadi nomornya tak aktif? Mamah nyariin, katanya mintain boh pala ke mak cek Zuhra." ujar Adi, yang mengarang cerita untuk mengetahui keadaan anaknya.
Nisfun Nahar, adik ipar Adi tersebut beralih menjadi petani pala. Karena beberapa tahun silam, ladang kopi milik Nahar terkena kebakaran dari hutan yang berada tak jauh dari kebun milik Nahar.
"Dicas Bang, dari subuh tadi pas aku bangun subuhan. Aku di rumah abi, sama kak Aca. Soalnya… semalam aku diajak ke club. Diajak sama temen-temennya kak Aca, karena mereka perempuan jadi aku tak berani nolak. Sebetulnya aku males rasanya, masih capek duduk lama di kereta api paginya. Apa lagi aku tak pegang uang, tak enak rasanya pergi-pergian tapi tak bisa jajan apa-apa." curhat Ghifar, yang tak mengetahui bahwa ibunya siap meletuskan amarahnya.
"Minum di club? Terus mabok, paginya tetap subuhan?" tanya Adi yang sebetulnya tengah menahan amarahnya. Ia tak mau anaknya tak berani berterus terang, karena ia takut akan amarahnya.
"Ya, Bang. Sama bang Ken, sama kak Kin juga, jadi aman aja. He'em, memang kenapa? Seumayang, ya seumayang aja. Seumayang kan kewajiban umat. Punya hitungannya masing-masing, tak perlu ragu seumayangnya sah tak, yang penting kita penuhi kewajiban kita sebagai umatNya." terang Ghifar, yang membuat Adi tersenyum samar. Setidaknya, ilmu agama yang ia bekali. Mampu menjaga anaknya, meski dalam keadaan maksiat sekalipun.
"Yang kau rasa, enak tak sih mabok tuh? Papah sih tak kuat, mending lomba makan mie aceh yang pedas aja." ucap Adi, dengan mengajak istrinya duduk di tepian kasur. Namun, malah Giska yang langsung memberi jarak antara dirinya dan istrinya.
"Tak enak, Bang. Nasi kucing yang aku makan, sampek keluar lagi. Mana tadi aku ambil yang isian udang, amis betul rasanya mulut ini. Aku ampun-ampunan, Bang. Tolong jemput aku lagi, aku takut sama jenis perempuan di sini. Godaan dada mangkalnya sama paha mulus, nampak betul di setiap jalan. Aku takut terenggut mereka, mana nampak b*nal-bi*al betul mereka ini." sahut Ghifar yang membuat Adi terkekeh geli.
"Enak tuh, pemandangan menyejukkan mata. Setidaknya kan, kau nikmati lah apa yang ada di depan mata kau. Yang jelas, ingat ucapan Papah. Se*s itu, rasanya gitu-gitu aja. Semua perempuan itu sama, kalau tak didukung perawatan full." balas Adi, yang membuat Ghifar seperti mengingat sesuatu.
"Aku pun, tak kepengen perempuan dulu. Malu mau jajanin apa, uang aja aku tak pegang banyak. Pengen bakso, pengen ngopi, rasa malu, takut kurang pas bayarnya. Terus juga… di sini banyakan tua-tua sih, yang menarik perhatian aku. Boleh kali ya Bang, kalau aku nikah sama kak Aca atau kak Kin? Maksudnya, hubungan kekerabatan kita tak mempengaruhi syarat pernikahan kan? Soalnya… aku agak tertarik sama mereka. Kak Aca, sore tadi handukan aja. Beuhhh…. Body pear dia, Bang. Dada memang tak terlalu besar, tapi perutnya datar betul, mana part belakangnya bisa buat neduh dari panas matahari lagi. Kak Kin cantik betul rupa wajahnya, sayangnya cerewet. Dulu belum baligh, dia suka cium-cium aku, peluk-peluk aku. Sekarang dicium balik, dia langsung lapor abangnya. Maki-maki aku terus, segala ngatain aku malu-maluin lah, hitam lah." ujar Ghifar yang langsung terkoneksi dengan pikiran Adi. Berbeda dengan dua wanita yang berada di sebelahnya. Giska dan Adinda terlihat marah, saat mendengar ucapan Ghifar yang terlalu vulgar barusan.
......................
*Bek : Jangan
*Meu'ah : Maaf
__ADS_1
*Peng : Uang