Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS09. Tawaran gila Givan


__ADS_3

"Tak, Bang. Demi Allah, aku tak pernah macam-macam sama Ghifar." aku Fira dengan air mata yang mengalir deras.


"Bisa diem tak kau?!! Aku paling tak suka tengok perempuan nangis macam itu." tegas Givan dengan jari telunjuk yang mengacung.


Fira hanya mengangguk, kemudian ia tertunduk diam sembari memikirkan nasibnya sendiri. Ia akui dirinya salah, ia menduakan kekasihnya yang selalu membantu perekonomian keluarganya.


Namun, rupanya rasa yang pernah ada itu mulai mengikis. Saat waktu dengan Ghifar lebih banyak, ketimbang dengan kekasihnya sendiri yang memutuskan untuk pindah ke pulau K. Fira mengenal Ghifar, saat dirinya pindah ke daerah keluarga Adi tinggal, karena orang tuanya yang memutuskan untuk menjadi seorang petani kopi di daerah tersebut. Hubungan keduanya semakin dekat, juga rupanya Ghifar pun memiliki rasa tertarik pada wanita milik kakaknya tersebut.


"Kalau mau mandi ke sungai aja, Kak. Soalnya daerah sini tak semua rumah punya kamar mandi, macam rumah yang Akak tempati itu." ucap Ghifar, yang merupakan seorang anggota IRMAS di daerah ia tinggal.


Ia dan anggotanya, membantu memindahkan barang-barang milik keluarga Fira.


Fira dan orang tuanya saling beradu pandang. Mungkin biasa saja kegiatan mandi di sungai untuk warga di sini, tetapi tentu itu sangat canggung jika dilakukan oleh perempuan muda atau orang-orang yang berasal dari kota besar.


"Mana tau ada tempat kontrakan lain, yang ada kamar mandi di dalamnya Bang?" tanya Fira dengan tersenyum ramah.


Terlihat Ghifar dan beberapa anggotanya tengah mengingat sesuatu, "Oh, ada Kak. Di kontrakannya mamah aku, cuma memang harganya lebih tinggi." jawab Ghifar kemudian.


"Tapi sebenernya itu bukan kontrakan kan, Bang? Itu macam motel untuk mereka yang wisata ke kebun kopi." timpal Ghavi yang juga ikut dalam keanggotaan IRMAS.


"Ya, sih. Coba aja tanya ke mamah dulu nanti. Takut-takut hitungannya sama lagi kek wisatawan." sahut Ghifar yang diangguki beberapa dari mereka.


"Di mana memang tempatnya, Bang?" balas Fira yang masih penasaran dengan tempat yang dimaksud.


"Ini, di belakang rumah yang ujung itu. Kebun kopi yang di sana kan jadi tempat wisata, sampek beberapa meter ke dalam. Ada coffe shop juga, jarak 100 meter dari jalan ujung itu." jelas Ghifar dengan menunjuk rumah megah milik orang tuanya.


"Nah, coffe shop yang dimaksud itu aku punya Kak. Main-main ya ke situ, tapi jangan lupa bill-nya." timpal Ghavi dengan nada bercanda.

__ADS_1


Tawa renyah terdengar dari Fira dan keluarganya, "Tapi di deretan ruko jalan besar sana, ada kedai kopi yang namanya sama kek yang diujung itu?" pertanyaan yang muncul dari ibunda Fira.


"Ohh, iya punya dua cabang. Soalnya yang punyanya dua orang, jadi biar tak berebut dibikin satuan. Tapi cita rasa tetap sama kok Mak, cuma beda suasananya aja." jelas Ghavi yang diiyakan oleh mereka.


"Oh, iya. Kenalin saya Fira, ini orang tua saya." ujar Fira dengan mengulurkan tangannya pada Ghifar dan Ghavi, juga teman-temannya secara bergantian.


Ghifar dan yang lainnya pun saling berjabat tangan, dengan Fira dan keluarganya. Sejak saat itu, mereka mulai akrab dan memutuskan menjalin kasih. Tanpa sepengetahuan Givan, selama dua tahun belakangan ini.


Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di tempat tujuan. Givan langsung memesan kamar hotel, kemudian mengajak Fira untuk beristirahat di kamar yang telah ia pesan.


"Mak sama ayah kau macam mana, Fir?" tanya Givan dengan meluruskan pinggangnya di atas tempat tidur.


Fira menghampiri Givan, kemudian ia berinisiatif untuk melepaskan sepatu milik Givan.


"Mak sama ayah udah pindah ke kecamatan sebelah, tak di satu daerah sama keluarga Abang lagi. Soalnya yang baru ini, lebih dekat ke ladangnya." jawab Fira dengan melepaskan satu persatu sepatu Givan.


"Suruh pindah ke Bali aja, biar mamah aku tak bisa ngendus keberadaan kau. Mamah aku mirip intel, istri lain papah Adi aja langsung minta cerai sendiri begitu dipertemukan mamah aku." sahut Givan dengan mulai menyalakan rokoknya.


"Papah Adi punya istri lain juga?" lanjut Fira setelah menyimak cerita Givan.


"Papah aku juragan di sana, dia banyak uang. Rasanya sayang betul kan, kalau uangnya tak dinikmati buat nikah lagi? Perempuan yang kulitnya putih itu, yang nyambut kita di halaman rumah. Itu anak dari istri lain papah." balas Givan, yang tak membuka identitas asli tentang Icut.


"Ohh, iya. Icut itu kan? Beberapa kali pun, aku pernah tengok dia lagi dimarahi mamah Dinda. Ternyata dia anak tiri ya?" ujar Fira, saat Givan tengah mengembuskan asap rokoknya.


"Anak kandung atau anak tiri, memang suka dimarahi. Memang karakter mamah Dinda macam itu. Penyakitnya darah rendah, tapi meletup terus macam orang darah tinggian." tutur Givan, dengan meraih bantal, untuk menjadi sandaran pinggangnya di kepala ranjang.


"Tapi aku pernah dapat kabar, papah Adi masuk rumah sakit gara-gara darah tinggi." tukas Fila, dengan memijat telapak kaki Givan meski tak diperintahkan oleh Givan.

__ADS_1


"Papah Adi memang punya darah tinggi, turunan dari keluarganya. Tapi untungnya papah rajin olahraga, makanan pun dijaga ketat sama mamah. Jadi kambuh kalau banyak pikiran aja, kalau mamah haidnya kelamaan juga kambuh." jelas Givan dengan tersenyum samar. Terlihat sekali ia seperti tengah mengingat sesuatu, atau ia teringat tentang kejadian lucu di rumah orang tuanya.


"Kok macam itu?" pertanyaan polos dari mulut Fira, terdengar bodoh di telinga Givan.


"Papah aku kalau tak rutin dapat jatah dari mamah aku, udah uring-uringan tak karuan. Ke ladang males, disuruh mamah ya jawabnya nanti, ngamuk-ngamuk aja, tak jarang darah tingginya kambuh dadakan. Langsung sakit tengkuk, sakit kepala sebelah juga." ungkap Givan yang membuat Fira tertawa geli.


"Udah tua ya padahal, ya ampun lucu kali. Aku kira tak ada laki-laki macam itu." timpal Fira kemudian.


"Laki-laki sekalipun udah doyok betul, masih pengen begituan kalau memang ada tenaganya. Papah aku kan diurus betul-betul, jadi staminanya terjaga meski udah mau kepala lima." sahut Givan dengan menepuk tempat di sebelahnya.


Fira mengangguk, lalu ia pindah ke sebelah kekasihnya.


"Jadi kita macam mana, Bang?" tanya Fira serius.


Givan menoleh ke arah Fira, "Ya… udah macam ini aja dulu. Orang tua kau, keknya pindah ke pulau K aja. Kalau mereka di sini… keknya bakal maksa aku buat nikahin kau. Sedangkan, aku tak mungkin nikah resmi tanpa sepengetahuan mamah aku. Aku tak mau bikin mamah drop, gara-gara tau status di KTP aku berubah udah kawin tanpa sepengetahuannya." jawab Givan dengan merengkuh pinggang Fira.


"Terus… kalau nikah siri, Abang aman dari mamah Dinda? Secara tidak langsung, aku macam tak dianggap kalau kelak nanti Abang ketahuan mamah Dinda." tuduh Fira, yang ternyata sangat tepat.


"Ya udah kalau kau tak mau. Kita macam ini aja, tak usah menikah." putus Givan yang membuat Fira syok seketika.


"Abang tau kita berzina, tapi tetap Abang lakukan. Malah sekarang ngajak kumpul kebo? Macam itu yang Abang pengeni?" suara Fira yang sedikit meninggi.


"Terus macam mana? Aku tak mau resmi, tanpa sepengetahuan mamah. Kalau kau diajak siri tak mau, ya udah. Aku tak masalah, kalau kita begini aja." jelas Givan yang membuat Fira menangis seketika.


"Coba aku tanya sekali lagi. Kau mau tak, aku nikahi secara siri?" tanya Givan, terlihat ia tengah menunggu jawaban Fira dengan seksama.


"Aku…

__ADS_1


......................


Lebih sadis dari Adi ternyata... Coba bandingkan dengan ayah sambungnya? Ada yang masih ingat kisahnya?


__ADS_2