
"Ck... Malas tak masalah, kalau suaminya mau turun tangan. Setidaknya lah, pengertian gitu Givannya." Adi hanya bisa geleng-geleng kepala, kala mengingat Givan yang fokus pada game perang setiap berada di rumah.
"Pasangan klop, yang perempuannya drama Korea, yang jantannya game perang. Hiburan sih hiburan, tapi yang tau waktu dan tanggung jawab." Adi seperti orang gila yang berdialog sendiri.
Beberapa saat kemudian, masalahnya teratasi karena istrinya sudah kembali. Adinda langsung meminta suaminya untuk pergi berladang.
Adinda melanjutkan rutinitasnya, dengan memilih menu makanan yang akan ia masak.
"Key... Key mainan ini nih." Adinda memberikan salembar daun sawi, untuk anak itu mainkan.
"Gini caranya, Key. Key potek seukuran tangan Key, terus masukin ke wadah ini. Key jadi orang jualan bakso. Nanti Nenek beli, jangan kasih sambel ya Key, nanti hah." Adinda mencoba membuat anak itu anteng dengan mainan yang tidak biasa. Adinda mengajak Mikheyla masak-masakan untuk pertama kalinya.
Hal baru itu, cukup menarik perhatian Mikheyla. Ia mengangguk, kemudian duduk bersila di depan wadah plastik dan selembar daun sawi yang neneknya berikan.
"Agi...." tangan Mikheyla menengadah, meminta daun sawi kembali.
"Nih." Adinda memberikan satu ikat daun sawi.
Apa saja menurutnya, yang penting Mikheyla mau diam dan berada di jangkauan matanya.
"Assalamualaikum....."
"Mak......"
Adinda mengenal seruan dari seorang anaknya itu.
Ghifar telah kembali, diikuti kedua wanita yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
Ghifar muncul, ia memasang senyum manisnya pada ibunya dan Mikheyla yang anteng di area dapur tersebut.
"Com tangan ma!" pinta Ghifar pada Yoka dan Tika.
Mereka mengerti akan perintah Ghifar. Sedikit banyaknya, mereka telah menyerap bahasa dari daerah itu. Apa lagi Yoka, yang menekuni ilmu bahasa. Tidak hanya bahasa asing, yang menarik perhatiannya. Bahasa daerah pun dipelajarinya dengan baik.
"Bersih-bersih gih, istirahat." Ghifar kembali memerintah kedua wanita itu.
"Diminum obatnya, Tik." lanjutnya, kala teringat mereka sempat mampir ke dokter kandungan untuk cek kehamilan Tika.
Namun, ada sedikit permasalahan pada kehamilan Tika. Tika diminta kembali untuk datang ke tempat dokter tersebut.
Ghifar duduk di kursi makan. Mengambil makanan yang tersedia, lalu memasukkannya dalam mulutnya.
"Mah... Gimana kalau Tika di sini sampek dia lepas nifas? Tadi udah ngobrol kan, Yoka mau balik ke Bali bareng sama Fira. Fira juga aku minta nempatin rumah aku aja, nemenin Yoka. Rumah yang di sana pun, udah lagi dipagar beton. Kek rumah ini, sekelilingnya dipagar beton." ungkap Ghifar pada ibunya. Namun, pandangannya fokus pada Mikheyla yang tengah mengolah daun sawi tersebut.
Alis Ghifar naik sebelah, "Mamah kan masih muda. Masa mau nyandar di kursi goyang?" ucapnya kemudian.
Adinda menoleh ke arah anaknya, "Bukan mau nyandar di kursi goyang. Percaya atau tidak, bukan masalah keberatan atau terbebani. Nyatanya... Nitipin anak ke orang tua itu, termasuknya dzolim terhadap orang tua. Contohnya gini, besarin anak dari merah sampek dia menikah. Pikiran para orang tua tuh, alhamdulilah plong, anak udah ada yang tanggung jawab atas hidupnya. Tapi, tiba-tiba keluar cucu, si orang tua malah dititipi bayi lagi. Padahal mereka orang tua ini, pengen gantian sama anaknya. Bukan dalam hal harta, tapi lebih ke perhatian, hal sederhana yang memudahkan orang tua. Bukannya malah dititipkan anak lagi. Memang Mamah sanggup, Mamah masih muda, masih kuat. Tapi hukum mengatakan demikian, Far. Dzolim, sekalipun Mamah ikhlas ridho ngasuh cucu. Memei aja, rencana Icut mau pakek nanny. Udah ngobrol Mamah sama Icut. Kalau ini lancar, mau merantau ke kota sama Aira katanya. Aira pun mau buka toko juga, dia berani kalau ada kawannya. Nanny yang bakal Icut pakek juga, harus ngintilin aja Icut itu, karena Memei masih ASI." Ghifar terdiam.
Merumit sudah isi di otaknya. Namun, jika dipikir kembali. Tika ini siapa untuk keluarganya? Ghifar begitu tak pantas, meminta ibunya untuk mengurus anak dari Tika. Cucunya bukan, salah seorang yang menikah dengan anaknya juga bukan. Tetapi malah terlalu merepotkan dirinya.
"Tak masalah kalau tinggal di sini sampek nifas. Tapi, dengan adanya ngomong kek gitu. Tandanya Tika harus pergi, setelah siap nifas. Bukan karena Mamah bermasalah dengan agamanya, tak sama sekali. Cuma... Tika ini termasuknya single, dia single parent. Sedangkan anak-anak Mamah juga single, bujang semua. Rasanya tak pantas, Far. Apa lagi tak ada ikatan kekerabatan atau ikatan keluarga." Adinda melanjutkan pendapatnya yang mengendap di pikirannya.
"Iya juga sih, Mah. Ya udah, Mah. Biarkan dia numpang sampek masanya siap nifas aja. Sekarang dia udah masuk delapan bulan nih, tak terasa dia di sini udah sebulan lebih aja." Ghifar mencoba mengerti situasi dan kondisinya. Memang tak pantas, benar kata ibunya.
Adinda mengangguk, ia tak ingin memperpanjang masalah ini. Namun, ada yang mengganjal di hatinya. Tentang keputusannya dan suaminya, untuk membawa Ghifar berobat pada dokter yang Haris rekomendasikan.
__ADS_1
"Astaghfirullah...." Haris tak percaya, mendengar penuturan sahabatnya dalam ponsel.
"Kenapa ya kondisi Ghifar bisa kek gitu?" Adinda mendominasi suara dalam panggilan telepon tersebut.
"Awalnya kek mana? Bisa dia kek gitu?" Haris melempar kembali pertanyaan, yang jawabannya tak diketahui oleh Adinda.
"Entah, Bang. Tak tau aku." sahut Adinda kemudian.
"Ya udah, Abang rekomendasikan dokter ahli andrologi aja. Adi pasti tau orangnya, dulunya kawan satu kelas. Namanya Wahyudin, domisilinya di kota daerah kau. Kau kan di kabupatennya, Dek. Nah, si Wahyu di kotanya. Nanti aku mintain alamatnya, terus kau antar Ghifar ke sana." Adinda manggut-manggut, tanda dirinya menyetujui hal itu.
"Ok, Bang." sanggup Adinda kemudian.
"Far... Nanti ikut papah kau ya. Kamis besok mau ke kota. Jagain papah ya, pas tua malah suka slengean." Adinda tak memberitahu maksud dan tujuan suaminya bertolak ke kota kamis besok.
"Ada apa di kota, Mah?" Adinda mengerutkan keningnya, ia kurang paham dengan maksud anaknya.
"Maksudnya... Mau ngapain papah ke kota? Ada tujuan apa? Papah kan kepala pundak lutut kakinya banyak. Biasanya juga tinggal nyuruh-nyuruh aja." jelas Ghifar kemudian.
"Ohhh, itu. Mau ketemu kawan lamanya. Katanya sih dulunya satu kelas sama papah kau, sama abi Haris juga." ungkap Adinda dengan kembali menoleh pada Mikheyla.
Anak itu menambahkan air minumnya ke dalam wadah berisi potongan daun sawi itu. Entah apa yang anak itu imajinasikan.
"Laki-laki apa perempuan, Mah?" tanya Ghifar ingin tahu.
"Ya itulah.... Mamah tak tau laki-laki apa perempuannya. Makanya minta kau buat temenin papah kau. Jagain papah kau." dalih Adinda pura-pura frustasi. Padahal, dirinya memiliki maksud lain untuk meminta anaknya menemani suaminya itu.
......................
__ADS_1