
Ia menduduki kursi tersebut, "Kita putus saat itu, karena Adi nikahin ibu kamu. Sampai beberapa bulan, kita losh kontak. Ayah minta penjelasan ibu kamu, saat ibu kamu pamer bayi Naya di sosial medianya. Siapapun yang liat, udah pasti dia tau kalau Adi bukan ayah biologisnya. Kau Chinese, keturunan Chinese. Sedangkan Adi, dia pribumi berkulit sawo matang. Mulai dari itu, Ayah kejer lagi ibu kamu. Terus Ayah jalin hubungan lagi, saat ibu kamu masih punya status istri orang. Sampai di suatu kejadian, Ayah lagi antar ibu kamu pulang. Tiba-tiba datang Adi yang langsung narik ibu kamu ke trotoar jalan, Ayah kaget dan paham situasi saat itu. Di depan mata kepala Ayah sendiri, Adi jatuhin talaknya." ungkapnya begitu menarik perhatian Icut.
"Kaget, gak percaya. Tapi coba mahamin, bahwa laki-laki manapun, gak bakal sudi kalau istrinya pacaran lagi. Lepas itu, ibu kau masih ngejer-ngejer Adi, entah apa yang buat dia berat ninggalin Adi. Padahal, ibu kamu cerita ke Ayah. Kalau Adi tempramen, Adi kasar, Adi gak pernah menuhin nafkah batin, nafkah lahir juga gak pernah yang seperti ibu kamu minta. Tiba-tiba, kamu diboyong ke kota J. Itu juga yang bikin Ayah pindah ke kota J sampai sekarang. Ayah masih sama ibu kamu, Ayah janjiin dia nikah. Tapi, ibu kamu masih pengen perjuangin Adi. Nih, ini kan foto kamu kecil?" lanjutnya, dengan menunjukkan foto kecilnya yang dilaminating seperti kartu keluarga asli.
Icut mengenali foto kecilnya, karena keluarganya pun memiliki foto saat dirinya kecil.
"Hingga di masanya, Ayah diminta jemput ibu kamu di stasiun. Dari situ, Ayah paham siapa Adi di mata ibu kamu. Ibu kamu minta Ayah anterin pulang ke rumah orangtuanya, tapi tanpa kamu Nak. Ayah banyak tanya di situ, mana anak kita, mana Naya. Ibu kamu jawab, Naya diambil alih Dinda. Adi punya istri lain, si penulis yang pernah aku tanyakan ke kamu. Gitu kata ibu kamu saat itu. Aku gak dapat apa pun, jadi aku nuntut uang sebesar harga 2 hektare ladang. Masa iya, Dinda yang punya aset Adi. Sedangkan aku, gak ada aset apa pun atas nama aku. Ibu kamu marah besar, sambil dirinya cerita tentang hal itu. Ayah sadar diri saat itu. Pantas ibu kamu gak mau ayah nikahin, saat dirinya hamil kamu dulu. Gak taunya, Adi juragan kaya, sedangkan Ayah cuma anak dari pemilik toko piring antik di deretan toko dekat keraton." Icut mengangguk, ia mencoba mengerti akan cerita singkat tersebut.
"Ayah sampai nganterin ibu kamu di depan rumah orang tuanya. Tapi, ada pihak dari Adi yang minta beberapa dokumen. Ibu kamu langsung cepat-cepat aja tuh, kasihin itu dokumen, terus minta secepatnya dia dapat surat janda. Esoknya, ibu kamu cerita. Dia dapat rumah milik Adi, rumah ibu kamu kan dijual ke Adi, waktu itu rumahnya udah kembali ke tangan ibu kamu. Ayah tetap nanya gimana Naya, masa anak kita kamu tinggal sama orang lain. Apa lagi... Dinda ini, pernah masuk koran, berita utama lagi. Dia punya kasus percobaan pembunuhan, penusukan obeng di tangan laki-laki. Kamu bayangin stresnya Ayah saat itu. Anak perempuan, anak tiri, ibu sambung, notabene kasus pembunuhan. Terus ibu kamu bilang, aku mau pindah ke kota B, di rumah kakak aku, ibu juga pindah, soalnya di sana lagi kelahiran anak keduanya kakaknya katanya. Ayah marah di situ, bisa-bisanya malah ngerayain kelahiran keponakan, tapi anak sendiri ditinggalkan. Dia jawab, Naya ikut kamu, memang kamu punya apa. Biar dia dibesarkan Adi, biar dia dapat bagian dari Adi. Naya besar, dia pasti paham perasaan ibunya yang ditinggal ayahnya demi perempuan lain. Dia pasti balik ke kita, dengan bagian warisan dari Adi. Detik itu juga, Ayah minta putus sama ibu kamu. Ayah balik ke kota J, berharap bisa ketemu sama Naya besar sampai sekarang." ungkapnya panjang lebar, berakhir dengan ia mengusap pipi Icut dengan jempol tangannya.
"Kamu sehat-sehat aja, Nak? Gimana Dinda memperlakukan kamu di sana? Gimana kasih sayang Adi ke kamu?" tanyanya kemudian, dengan air mata yang tak tertahankan.
Icut merasa dirinya ikut cengeng, ia menghapus air mata yang lolos begitu saja.
"Aku malah nyesel, kenapa aku tak dititipkan di rahim Dinda. Kenapa aku anak Maya, bukan anak Dinda?" ucap Icut, yang membuat dosen yang mengabdi pada universitas tersebut. Berprasangka buruk, tentang orang tua dari anaknya sekarang.
__ADS_1
"Cerita, Nak. Ada apa?" sahutnya dengan wajah khawatir.
"Aku hamil tanpa suami. Coba Anda pikirkan, aku buah, yang jatuh tidak jauh dari pohonnya." ungkap Icut, yang mengungkapkan satu fakta terburuk dalam hidupnya.
Icut tak bisa menahan tangisnya, ia tersedu-sedu di pelukan sumber darahnya mengalir.
"Keuangan, kasih sayang, perhatian, waktu, mereka adil dengan anak-anak kandungnya. Tapi nasib aku, tak semujur macam anak-anak kandung ibu sambung aku." ujar Icut, yang kembali teringat akan neneknya yang memberitahunya bahwa Giska telah bertunangan.
"Sabar, Nak. Ada hikmah di balik ini semua." tuturnya, dengan mencoba menenangkan darah dagingnya.
Yang Adinda pikirkan, malah berbelok jauh dari pembicaraan kali ini.
"Wisuda, terus aku balik ke sini. Tak lama lagi kok, Mah. Nitip Memei, aku pasti balik ke sini lagi kok." lanjut Adinda dengan menirukan gaya bicara Icut.
Icut yang memahami sindiran ibunya, langsung berpindah tempat ke sebelah ibunya. Icut menyembunyikan wajahnya, di lengan ibunya. Kekehan kecil terdengar, saat perhatian mereka tertuju ke arahnya.
__ADS_1
"Memang kenapa, Dek?" tanya Adi, yang masih memikirkan istrinya yang belum sarapan pagi ini.
Sedari dulu Adi memahami otak istrinya yang tak pernah bisa cepat konek, jika sang empunya tengah kelaparan. Adi masih bingung, dengan pembahasan masalah Icut. Namun, malah berbelok tentang wisuda Icut.
"Bapaknya kan dosen pembimbingnya. Tadi Abang tak simak ceritanya?" jelas Adinda, dengan melirik sekilas pada Icut.
Adi menjetikan jarinya, "Ohh, iya-iya. Bim salabim rupanya. Ghava bilang otak kau mampu, kau bisa kejar materi, bentar lagi kau diwisuda. Iya, iya. Papah paham sekarang." ujar Adi kemudian.
"Memang itu sih hasil jerih payah aku sendiri lah, Pah. Aku cuma minta bapak pembimbing editkan yang kurang tepatnya. Gitu aja." elak Icut yang melirik takut pada ayahnya.
"Haram, percuma kau kuliah Tuyul!" tukas Adi dengan ekspresi geramnya.
Icut tertawa puas, dengan suara yang begitu menggema.
"Yang penting dapat gelar S.A.B. Kan adem hidup gue, tinggal fokus ngempanin anak." ucapnya dengan begitu sombongnya.
__ADS_1
"Terus... Guna aku di sini buat apa?" mereka semua menatap seseorang yang menanyakan hal itu.
......................