
Adi kembali membaca satu persatu pesan chat tersebut, menyimak kata demi kata yang anaknya dan laki-lakinya ketikan. Hingga menemukan percakapan paling akhir, sebelum chat tersebut mentok di bagian paling bawah.
[Adek pernah bilang, dikasih mamah Dinda sebulan 1,5 juta. Kenapa bisa kek gini sih, Dek? Abang ikut pusingnya aja, harus gimana Abang bantunya?] tulis Zuhdi, yang membuat Adi membaca kembali pesan dari Giska.
[Bang, ada 500 ribu tak? Aku minta dulu lah, soalnya celengan udah mau dibuka ini. Aku ingat-ingat, keknya kurang sekitar 400 atau 500 ribuan. Nanti mamah bisa marah besar sama aku.] ungkap Giska, setelah Adi membaca balik pesan dari Giska. Sehingga Zuhdi mengirim balasan seperti itu.
[Aku minta tolong lah, Bang. Janji deh, nanti aku tak mintain uang lagi. Aku mau berubah, takut kena marah mamah kalau sampek ketahuan.] balas Giska, setelah Zuhdi menuliskan pesan di atas.
[Abang yang laki-laki aja, Abang tak main domino itu Dek. Ini Adek yang perempuan, kuat betul main domino. Itu haram loh, Dek. Susah dikasih paham, kalau udah begini pusingnya ngajak-ngajak.]
[Akhir bulan nanti, Abang mau bawa keluarga ke rumah Adek. Kalau sekarang diambil 500 buat Adek, takutnya tak nyampe buat beli cincin Adek nanti. 1,5 juta dari mamah itu, Adek pakek buat domino semua kah? Uang yang tiap minggu Abang kasih, itu buat domino juga kah?]
Dua pesan chat yang cukup panjang tersebut, berasal dari Zuhdi.
[Tak, Bang. 200 ribu, wajib buat ngisi celengan tiap bulan. Yang 1,3nya, disuruh buat jajan aku di tempat kuliah. Kan kadang berangkat pagi, jam sepuluh pulang, jam tiga berangkat lagi. Jadi boros uang jajan. Nah, masalahnya. Uang buat jajan itu, aku pakek buat domino online. Uang dari Abang, aku pakek buat jajan. Kalau Abang tak kasih, aku tak jajan.] jelas Giska, yang mendapat kiriman emoji menangis dari Zuhdi.
[Bisa-bisa Abang jual isi sarung, Dek.] balas Zuhdi di bawah emoji tersebut.
[Ya udah sana jual! Ke mamah aku aja, Bang.] Tulisan Giska itu, membuat mata Adi melebar seketika.
[Pungo memang kau! Ya udah, main aja ke rumah Abang. Nanti Abang kasih 500 ribunya, Abang lagi capek kali soalnya Dek.] balas Zuhdi, yang membuat Adi berpikir jangan-jangan anaknya sering berkunjung ke rumah Zuhdi.
[Ya, Bang. Nanti ke sana sama Gibran.] chat yang berada paling bawah. Setelah itu, Zuhdi tak memberi balasan lagi.
Adi mengantongi ponsel anaknya. Pikirannya berputar tentang kenakalannya, pada pacar-pacarnya dulu.
'Pacar-pacar aku dulu mintain uang juga, tapi aku dapat yang setimpal dari mereka. Aku tak yakin Giska utuh, dengan uang-uang yang dia minta. Setakut itu dia sama Dinda, sampek dia lari ke laki-laki buat nutupin celengannya. Aku harus ngobrol keknya sama Zuhdi.' gumam Adi, dengan melangkahkan kakinya menuju ke motor matic milik Ghifar tersebut.
Ia tak memiliki motor. Hanya satu motor matic berukuran cukup kecil, jika digunakan oleh Adi. B*at hitam, yang selalu direbutkan oleh istrinya, Giska dan Icut. Tentu ia tak nyaman membawa motor tersebut.
__ADS_1
Berbeda dengan Adinda, yang menolak untuk mengenakan motor matic berbodi bongsor milik Ghifar. Karena ia merasa kakinya dibentangkan cukup lebar, untuk duduk di motor tersebut.
Adi langsung bergegas menuju ke rumah Zuhdi, yang sebenarnya letak rumahnya pun ia tak tahu. Sampai ia melupakan semangkuk titipan dari bibinya untuk istrinya, yang tertinggal di meja teras.
Hingga beberapa saat kemudian, Adi sudah berada di rumah pak Salim.
"Ma... Ada Teungku haji." seru seorang anak tanggung, yang duduk di teras rumah pak Salim.
Istri dari pak Salim keluar dari rumah, menyambut Adi yang memperhatikan beberapa anak yang duduk di teras rumah tersebut.
"Silahkan masuk, Teungku." ucap wanita paruh baya tersebut begitu ramah.
"Ohh, maaf Bu. Saya sebetulnya mau ke rumah Zuhdi, katanya keponakan Ibu ya?" sahut Adi dengan tersenyum ramah.
"Iya betul, Teungku. Maaf ya, Teungku. Suami saya belum bisa berangkat kerja kembali, kesehatannya lagi menurun betul." balas istri dari pak Salim, dengan memperhatikan juragannya yang tengah mengedarkan pandangannya.
"Iya, tak apa Bu. Saya maklumi. Anak-anak juga, udah ada bilang soal cek Lhem yang lagi sakit. Jadi... Di mana rumah Zuhdi, Bu?" ujar Adi, dengan ibu Munira yang langsung mengantarkan Adi ke rumah Zuhdi.
Ibu Robiah keluar dengan terburu-buru. Ia langsung memberi senyuman ramahnya, kemudian berniat untuk mencium tangan juragan tersebut.
Namun, Adi malah mundur satu langkah. Lalu mengulurkan tangannya, untuk hanya berjabat saja.
"Ada apa ya, Teungku haji?" tanyanya kemudian.
"Tak ada apa-apa, Bu. Ada Zuhdinya, Bu? Mau ngobrol aja sama Zuhdi." jawab Adi ramah. Membuat dua wanita tersebut saling beradu pandang.
"Ada Zuhdinya tak, Bu?" ulang Adi, yang langsung mendapat anggukan dari ibu Robiah.
"Ada, di dalam. Biar saya panggilan dulu, Teungku." sahutnya yang diangguki Adi.
__ADS_1
Ibu Munira memperhatikan juragannya. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia terlihat ragu-ragu untuk mengungkapkannya.
"Ada apa, Bu?" tanya Adi, dengan ia langsung menundukkan kepalanya. Untuk melihat penampilannya, yang membuat ibu Munira seperti terheran-heran melihatnya.
"Maaf sebelumnya, Teungku. Memang dek Giska sering ke sini. Kita pun udah tau mengenai... Giska sama Adi. Ehh, maksudnya Zuhdi. Tapi, apa kedatangan Teungku ke sini buat ngelarang Zuhdi ya?" ungkap ibu Munira, dengan kalimatnya yang terpenggal-penggal.
"Tak juga. Mau ngobrol aja." sahut Adi kemudian. Dalam hatinya Adi menggerutu, dengan sikap orang dihadapannya yang ingin tahu saja tersebut.
Zuhdi muncul, dengan membenarkan sarung miliknya. Terlihat dari penampilannya, ia seperti baru bangun tidur.
"Saya permisi dulu, Teungku." pamit ibu Munira, dengan diangguki saja oleh Adi.
Zuhdi langsung mencium tangan ayah Giska tersebut. Kemudian ia mempersilahkan Adi untuk masuk ke dalam rumahnya, yang terlihat begitu sederhana dengan kayu-kayu yang dicat berwarna hijau daun.
"Gimana, Pak?" tanya Zuhdi terlihat sedikit gugup.
Adi urung menjawab, karena ibu Robiah muncul dengan dua gelas kopi.
"Maaf, adanya begini Teungku." ucapnya, dengan menghidangkan satu gelas kopi di hadapan Adi.
Adi tersenyum ramah, "Tak apa, Bu. Tak perlu repot-repot." sahut Adi, kemudian ibu Robiah kembali masuk ke ruangan lainnya.
Adi berdekhem sejenak. Ia merasa cukup nekat, untuk mendatangi rumah Zuhdi. Namun, jika Adinda tahu lebih dulu. Maka masalah Giska akan semakin membuat Adi runyam. Karena tentu, istrinya tak akan memikirkan tentang perasaan anaknya.
"Ini masalah Giska." ucap Adi membuka obrolan.
"Ya, kek mana Pak?" sahut Zuhdi, dengan wajah seriusnya.
"Saya baru tau, kalau Giska sering mintain uang sama kau. Hari ini pun dia ada minta uang kan?" tanya Adi tiba-tiba, membuat Zuhdi terdiam sejenak.
__ADS_1
Kemudian Zuhdi mengangguk samar, "Ya, Pak. Memang..
......................