Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS191. Mikheyla sakit


__ADS_3

"Temenin Key ngoceh nih, Bang. VC aja ya? Key mau nunjukin sesuatu. Aku lagi ngobrol nih, tak anteng betul ini anak. Yayah-yayah terus dia." ungkap Ghifar, saat anak yang duduk di sebelahnya merengek kembali.


"Mana-mana Empluknya?" tanya Givan, ia ternyata bersedia membantu Ghifar untuk meladeni putri Fira.


Givan menunda kegiatannya untuk mencari tahu tentang Giska. Kegiatannya ditunda sementara, karena Mikheyla meneriakinya selalu.


Setelahnya, Givan baru membereskan tentang adiknya. Ia menyimpan sementara barang bukti tersebut, ia berniat memusnahkannya setelah ia mewawancarai adiknya.


~


Sunyi malam semakin larut. Ghifar tengah menimang Mikheyla yang mengamuk tengah malam. Mikheyla tengah tidak enak badan, suhu tubuhnya naik beberapa derajat.


"Ya yah... I yung... E nek... A tek... Pa... A yu... Yu... " Mikheyla menangis sembari memanggil nama-nama yang ia kenal.


"Meme... A te... Cik..." tangisnya menggema di sunyinya malam, setelah Giska dicerca pertanyaan oleh kakak sulungnya.


"Jangan dipanggilin semua, Key. Orang-orang lagi pada istirahat." Ghifar menuruni tangga. Ia berniat untuk tidur di ruang keluarga saja, karena Mikheyla lebih lelap di ruangan yang cukup terbuka dan memiliki hawa lebih sejuk. Ketimbang di kamar.


"Ya yah... Ya yah..." Mikheyla memanggil Givan, saat ia menoleh ke pintu kamar Givan.


"I yung I yung... Ya yah... A tek..." Mikheyla tetap memanggil orang-orang di sela tangisnya. Anak itu tetap seperti itu, kala tidak enak badan.


Ceklek...


"Kenapa, Sayang? Anak Ayah." wajah mengantuk Givan, tidak bisa ditutupi dengan sapaan hangatnya.


Givan menguap lebar, kemudian mengucek matanya sembari menghampiri Mikheyla yang masih digendong oleh Ghifar.


"Yaya Yah. Yaya." Mikheyla memukul kepalanya dengan kedua tangannya, ia tengah mengisyaratkan rasa tidak nyaman pada kepalanya.


Givan mengambil alih bocah tersebut, kulitnya bersentuhan dengan kulit yang mengeluarkan suhu panas dari tubuh Mikheyla.


"Ya Allah, Nak."


"Minum obat belum ini, Far?" mata Givan langsung terbuka lebar, kilat khawatir memancar dari ekspresi wajahnya.


"Tadi maghrib sih, udah minum I*zana." Ghifar terduduk di sofa, ia menguap dengan menggaruk-garuk rambutnya.


"Canda...." Ghifar menoleh pada sumber suara, saat kakaknya memanggil istrinya. Rasa penasarannya saat nama Canda disebut, cukup mengagetkan dirinya yang sempat mengubur dalam-dalam nama tersebut.

__ADS_1


"Canda... Dek..." Givan berdiri di ambang pintu, ia masih berusia membangunkan istrinya.


"Bangun, Canda!" suara Givan sedikit meninggi.


"CANDA!!!" bentak Givan, karena Canda masih lelap dalam mimpinya.


"Ya, Mas. Ya, ya. Kenapa?" Canda tersentak kaget dari mimpinya. Ia begitu terkejut, mendapat panggilan yang cukup kuat dari suaminya.


"Key sakit, udah dikasih obat, tapi panasnya tinggi lagi." ungkap Givan, yang masih menenangkan anak yang masih merengek tersebut.


"Mamahnya banyak, Mas. Aku ngantuk nih." Canda hanya berpindah posisi, tanpa berniat bangun dari tidurnya. Hal itu terlalu berat untuk Canda, ia tidak terbiasa bangun tengah malam.


Blughhh....


"BANGUN!" bentaknya tak terbantahkan. Givan menambah tendangan pada pintu kamarnya, untuk mengusik tidur Canda.


Dengan terburu-buru, dengan nyawa yang belum terkumpul. Canda tergopoh-gopoh untuk bangkit dari posisinya, ia merasa bingung seketika.


"Biarin lah, Bang. Key memang lebay kalau sakit." Ghifar merasa tidak enak hati, karena sudah membuat Canda dibentak oleh suaminya.


"Anak-anak kalau panas tak cepat ditangani, dia bisa kejang Far."


Ghifar tak mengerti akan hal itu. Ia mendongak, ia cukup panik mendengar ucapan kakaknya. Karena, sebelum-sebelumnya ia santai saja menghadapi Mikheyla saat sakit. Papah muda tersebut, belum terlalu mengerti akan bahaya sakit panas pada anak-anak.


Ghifar memalingkan wajahnya, ia segan melihat leher dengan tanda merah itu. Canda melupakan hijabnya. Adik ipar laki-laki, bukan muhrim untuknya.


"Mas... Ini untuk usia minimal 2 tahun." ungkap Canda, sembari membaca kardus kecil pembungkus botol obat tersebut.


"Punya Gibran sih." tandasnya, dengan berjalan menghampiri Canda.


"Digabung di sini. Obatnya memang satu. Maksudnya... Dosisnya aja dibedakan, obatnya tetap ini." ujar Canda kemudian.


"Key 2 tahunnya kapan, Far?" pertanyaan yang sama, yang memiliki makna kapan Mikheyla berulang tahun.


"31 Maret, pas 2 tahun." Givan mengangguk, ia mencari-cari obat lainnya.


"Boleh kali, kan tiga bulan lagi 2 tahun." Givan tidak suka, mendengar ucapan istrinya barusan.


Matanya mendelik tajam, "Jangan ambil resiko. Kita tak bisa punya anak, bukan berarti kau boleh bunuh anak orang." ucapan Givan begitu menandas di tepian hati Canda.

__ADS_1


Ghifar menoleh, ia tidak percaya dengan ucapan kakaknya barusan. Benarkah demikian? Bagaimana bisa? Batin Ghifar dipenuhi pertanyaan yang mengorek rasa penasarannya.


"Aduh, aduh, aduh. Buah pepaya, buah nanas. Yang sakit Mikheyla, kenapa kita yang panas?" Ghavi muncul, dengan rambut urakan.


Ia menuruni anak tangga dengan perlahan, uapan lebarnya menghiasi setiap langkahnya.


"Cik... Cik...." panggil Mikheyla, dengan mengulurkan tangannya pada Ghavi.


"Cik, cik! Panggil ane Om." Ghavi menyambut tangan Mikheyla, kemudian dirinya langsung mendekap tubuh panas Mikheyla.


"Om, culik aku dong." timpal Ghifar, ia terkekeh sendiri melihat wajah menyebalkan Ghavi.


"Kakak ipar, pakek kerudung dong." ucap Ghavi, dengan melirik kakaknya yang sempat mengejeknya barusan.


Canda bergegas kembali ke kamar, ia mencari kain untuk menutupi rambutnya.


"Coba ke warung, Bang. Obat warung aja dulu. Atau... Ke warungnya cek Nawi, sebelah warkop WiFi itu. Aku pernah disuruh ma beli plester demam di sana. Aku tengok juga, ada beberapa jenis obat flu buat anak-anak." Ghavi menunjuk arah utara, di mana warung tersebut berada di sebelah utara rumahnya.


"Ya udah, Abang beli dulu." Givan berjalan ke kamar, untuk mengambil dompetnya.


"Udah aku aja, Bang." Ghifar mendahului langkah Givan, untuk menuju warung tersebut.


Ghifar menarik kaos milik Ghavi, yang bertengger di bahunya. Kaos milik Ghifar, tertinggal di kamarnya.


"Bawa uang tak?" seru Givan, melihat langkah cepat Ghifar.


"Ada, kembalian beli bubur sop tadi." sahutnya menoleh ke belakang sekilas.


Ghifar membuka pintu yang sudah terkunci tersebut. Langkah lebarnya menghiasi setiap sudut yang ia lewati. Ia adalah ayah muda, yang kurang pengalaman untuk mengurus anak sakit. Bahkan obat pun, ia tak sedia untuk Mikheyla.


Ghifar hampir memekik, saat ia baru keluar dari pintu pagar rumahnya. Namun, seseorang terburu-buru berjalan. Sehingga tak memperhatikan jalanan. Ghifar tertabrak oleh orang tersebut.


"Heh...." Ghifar menahan lengan orang tersebut, karena ia hampir terjatuh.


Orang tersebut amat terkejut, matanya melebar sempurna. Wajahnya dikenali oleh Ghifar, karena bantuan sinar lampu jalanan.


"Ngapain kau di luar malam-malam?" cerca Ghifar, dengan pandangan marahnya. Ia tidak habis pikir, dengan ulah orang tersebut.


"Itu, Bang. Aku.......

__ADS_1


......................


Naik turun terus sih 😆


__ADS_2