
Meja ruang tengah telah dipindahkan di salah satu sudut, Ghifar lebih leluasa untuk menjangkau tempat orang tuanya.
Berat tubuhnya berpangku pada lututnya. Ia meraih tangan ayahnya, kemudian ia cium. Dengan tangan kirinya menangkup tangan ayahnya.
"Maafin aku, Pah. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya. Jangan hindari aku, Pah. Aku anak Papah." tiba-tiba ia mencium lutut ayahnya, beralih pada punggung kaki ayahnya.
"Heh, Far!" Adi tak kuasa, melihat anaknya yang baru bangun dari mimpinya. Langsung meminta maaf padanya, dengan cara seperti itu.
Dari ungkapan Ghifar, Adi menyimpulkan pasal dirinya tidak keluar kamar malam tadi. Ghifar merasa orang tuanya menghindarinya, hingga ia tertidur di ruang keluarga agar lebih dekat dengan tempat orang tuanya.
Ghifar mendongakan kepalanya, saat tangan Adi mengusap kepalanya.
"Aku minta maaf, Pah. Jangan berpikir aku anak durhaka." ungkapnya dengan bergantian menatap ibunya.
Tangan kanannya terulur, untuk menggapai tangan ibunya. Ia sedikit menggeser lututnya, kemudian dirinya mencium tangan ibunya dan lutut ibunya.
Hal yang sama ia lakukan pada ibunya, punggung kaki ibunya menjadi sasaran permohonan maafnya.
"Maafin aku, Mah. Aku minta maaf. Aku janji, bakal bantuin Mamah urus adik-adik. Aku bukan melarikan diri dari tanggung jawab aku ngurusin mereka." ungkapnya bergetar.
"Kau minta maaf terus, kau minta maaf buat apa?" tanya Adi, dengan menarik lengan anaknya. Agar Ghifar bangun, tidak mempertahankan posisi sungkemnya.
"Paaaa......."
Gadis kecil seumuran cucu mereka berlari ke arah Ghifar dengan tangis tersedu-sedu. Anak itu seperti akan mengadu pada Ghifar, dengan ekspresi wajah sendunya.
"Minta maaf buat anak kau ini?" Ghifar kembali menoleh, saat ayahnya menanyakan hal itu.
"Minta maaf untuk mereka bertiga? Minta maaf untuk kelakuan kau di luar sana?" lanjut Adi menyudutkan anaknya sendiri.
Ghifar terdiam, setelah ia menyadari bahwa ketiga wanita yang ia bawa tengah berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Pah, dengerin cerita aku dulu. Aku tak bisa ninggalin Yoka sama Tika, aku punya tanggung jawab sama mereka. Karena...." Adi sepertinya tidak mau mendengar penjelasan anaknya.
Tangannya terangkat, memberi efek Ghifar menggantungkan kalimatnya.
"Siapapun bisa ambil kesimpulan, siapapun pasti tau kau punya tanggung jawab, kalau perempuan itu berperut besar." tukas Adi dingin.
Tangan Adi terulur, mengusap air mata gadis kecil yang setia berdiri di sebelah Ghifar.
"Siapa nama kau, Nak? Kau mirip nenek kau." ucap Adi dengan tersenyum manis pada gadis itu.
Adinda mengusap-usap punggung suaminya, ia hanya memahami bahwa suaminya tengah kacau sekarang. Adi tak bisa menaik turunkan ekspresinya seperti ini. Adinda memahami, bahwa Adi tertekan dengan keadaan anaknya.
"Mmmhh... Puk." mulut kecilnya begitu mengerucut.
__ADS_1
"Masa namanya Cipluk?" ujar Ghifar, dengan memeluk anak tersebut. Kemudian mendaratkan kecupan ringan di pipinya.
Gadis kecil tersebut terlihat malu, ia memasukkan jarinya ke dalam mulutnya.
"Kenalan dulu sama Kakek, Nenek. Salim." pinta Ghifar pada gadis kecil tersebut.
"Kek, kenalin. Nama aku Mikheyla Alreen Rishani." ucap Ghifar, saat anak tersebut mulai mencium tangan Adi.
"Sekarang kenalan sama Nenek." anak itu terlihat begitu penurut, ia berpindah mencium tangan Adinda.
"Nek... Nama aku Mikheyla Alreen Rishani, dipanggilnya Cipluk. Karena... Aku doyan makan buah ciplukan, kersen sama beri liar." ungkap Ghifar, yang membuat mereka semua tertawa samar.
Wajah cantik gadis bermata bulat seperti ibunya tersebut, terlihat begitu memerah karena rasa malunya.
Mikheyla berlarian tak tentu arah, ia seperti kupu-kupu yang begitu bahagia.
"Pakekan bajunya coba, Fir. Di sini udaranya dingin. Kau kek mana sih?" nada suara Ghifar begitu tidak bersahabat, dengan sorot matanya yang mengarah pada Fira.
"Tadi udah pakek baju. Minta dilepas lagi, Bang." wajah lelah Fira, tak bisa disembunyikan lagi.
"Gih, makan dulu." ucap Adinda dengan menyentuh pelipis anaknya.
Ghifar terlihat lebih kurus, meski masa ototnya tetap terbentuk. Terlebih lagi wajahnya sekarang memiliki beberapa jerawat, dengan bekas hitamnya.
"Aku udah masak, Bli." ujar perempuan hamil, yang belum Ghifar kenalkan pada orang tuanya.
Mereka saling memandang, kemudian langsung menghampiri Ghifar.
"Ini I Gede Yoka Widiankara, kakaknya Tika. Punya asma yang lumayan parah. Ketergantungan obat sama alat." Ghifar bangkit dan bergeser dari posisinya.
Yoka langsung mencium tangan Adi dan Adinda bergantian.
"Ganti gamis!" perintah Ghifar lirih, saat Yoka memberi tempat untuk adiknya.
Yoka mengangguk, lalu berlalu pergi ke kamar tamu.
"Ini Nyoman Tara Swastika, adiknya Yoka, dia lagi ngandung enam bulan." lanjut Ghifar, dengan menyentuh bahu Tika.
Adi dan Adinda mengangguk, "Sana pada makan." pinta Adi yang diangguki mereka.
Ghifar dengan cepat menghilang dari pandangan semua orang, ia naik ke lantai atas untuk membersihkan diri di kamarnya.
Hingga beberapa saat kemudian, Ghifar sudah membawa sepiring sarapannya. Penampilannya yang selalu mengenakan celana jeans panjang, kini dipadukan dengan kemeja berwarna hijau tua polos. Entah ia akan pergi ke mana, dengan penampilan cukup rapih tersebut.
"Cepet lah, Bang. Udah jam sembilan lebih." ucap Fira, yang tengah duduk di ruang tamu.
__ADS_1
"Ya aku lagi makan, Fir. Pergilah sendiri, kan kek gitu keputusan kita malam tadi." Ghifar duduk di sofa ruang tamu tersebut, dengan mulai menikmati makanannya.
"Bi... Bi... Bi... Uwap, nyap, yap..." celoteh Mikheyla, dengan menarik-narik kaki Ghifar yang tengah bersila.
"He'em." Ghifar hanya menyahuti asal, karena dirinya tak mengerti bahasa rahasia anak tersebut.
"Uwap, nyap, yap." ulang Mikheyla berlari ke arah orang lain.
"Mana? Mana?" Ghifar dan Fira langsung menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat Mikheyla tengah menarik tangan Givan, untuk melihat sesuatu di luar rumah.
"Oh iya, ya. Angsa namanya, lagi makan." suara Givan di teras rumah, membuat Ghifar dan Fira saling melempar pandangan.
"Kalau Abang tak mau antar ke depan, biar aku pergi sendiri aja lah. Lama kali, capek nungguin." tiba-tiba Fira langsung bangkit dari duduknya, saat melihat Canda muncul dari dalam rumah.
"Mas..." panggil Canda melewati Ghifar begitu saja.
"Di depan, Dek." sahut Givan, yang mengenali suara istrinya.
"Beli seafood bakar, Mas. Yang bentuk capit kepiting, sama yang kubus isi keju." rengek Canda dengan mendekati suaminya.
"Di mana, Dek? SD libur, TK libur. Ke mana kita mesti cari?" balas Givan dengan mengikuti tarikan putri Fira tersebut.
"Sama ABCD uncle Muhto, Bang." timpal Canda, membuat Givan terkekeh dengan menggendong gadis kecil pendatang di rumah tersebut.
"Ayam guling Opah, nasi lemak kak Ros juga tak?" tandas Givan, membuat Canda terkekeh dengan menutup mulutnya.
Ia duduk di kursi teras, dengan memperhatikan suaminya yang menggendong anak perempuan tersebut.
"Aku pengen jajan, Mas." ucap Canda kembali mengganggu pendengaran Givan.
"Ya ayo. Ke mana kita cari jajanan?" sanggup Givan, pada istrinya yang satu bulan terakhir lebih sering merengek meminta jajan.
Prang.....
Givan dan Canda terhenyak keget, kemudian mereka mencari sumber suara pecahan beling tersebut.
"Ya kau macam anggap Key ini aib. Aku tak pernah paksa kau buat balik, kau yang minta ikut. Kalau memang semalu itu kau punya anak Key, biar kau tinggal dia di sini aja! Biar dia ikut aku aja! Kau mau pulang ke orang tua, tinggal pulang!"
"Key biar jadi tanggungan aku, kau balik sana ke orang tua!"
Canda mendekati suaminya, ia takut dengan suara meninggi tersebut. Ia memeluk tubuh suaminya yang tengah menggendong anak perempuan tersebut.
"FAR!!!!! TALAK.....
__ADS_1
......................
Siapa itu ya yang nyariin Ghifar aja 😅