
"Mamah sama Papah tak pacaran. Mungkin itu juga salah satunya, yang bikin penasaran sampek sekarang. Karena belum tau pasti sifat sama sikapnya, soalnya sebelumnya cuma temenan aja." jawab Adinda dengan merapikan rambut Ghifar.
"Mana ada… tak pacaran tapi suka gini-gini." timpal Givan dengan berpindah ke samping ayahnya, dengan langsung memeluk erat lengan ayahnya.
Adinda terkekeh malu, dengan suara anak-anaknya dan Adi yang tertawa lepas.
"Nah, kan. Memang yang begitu-begitunya, yang bikin laki-laki baper. Pas dari awal Mamah kau bilang, hei om melamun kah. Itu Papah udah sering mikirin mamah. Belum lagi anaknya juga bikin tambah ngasih kenangan, gara-gara Adi's bird Papah kena senter bola pagi-pagi betul." balas Adi dengan mengingat kembali kisahnya dengan istrinya dulu.
Givan tertawa renyah, "Aku paling ingat sama Papah kena pukul botol di pelipisnya. Bang Ken juga sampek sekarang masih sering bahas itu, Kin juga ada cuma keknya lupa." ujar Givan membuat Adi teringat kembali kisah kelamnya dengan ibu dari Icut.
"Siapa yang mukul, Pang? Kok aku tak ingat." tanyanya pada kakaknya.
"Mamah yang mukul. Kau masih bayi, kau sama Papah diusir sama Mamah. Sehari semalam kau jadi gelandangan sama Papah. Papah pergi dari rumah, dengan keadaan wajah yang penuh darah kata nenek." jawab Givan yang membuat keduanya saling berbagi cerita.
Sesekali Adi dan Adinda menimpali cerita yang Givan tahu, tak luput juga Adi dan Adinda membenarkan fakta tentang rumah tangganya. Bukan rahasia untuk anak-anak Adi lagi, jika memang Adi pernah beristri dua, juga mereka mengetahui bahwa Icut adalah anak dari istri kedua ayahnya.
~
~
~
Satu bulan telah berlalu, dengan Givan yang masih menetap di rumah orang tuanya. Hubungannya dengan adiknya pun sudah baik-baik saja, tak pernah lagi ada pembahasan tentang Fira.
Kini Adinda tengah mencurigai anak gadis tertuanya, yang menurutnya sering mengurung diri akhir-akhir ini.
"Cut… ikut Mamah ke pasar." ajak Adinda, dengan pakaian yang tak memperlihatkan bahwa ia sudah memiliki delapan anak.
"Biasanya minta anter papah, Mah. Papah ke mana memang Mah?" tanya Icut yang masih bermalas-malasan di atas tempat tidur dengan ponselnya.
"Papah ke kampus kau. Nyelesaiin pembayaran semester kau, Giska sama kembar." jawab Adinda dengan berjalan memasuki kamar Icut, kemudian ia membuka jendela kamar yang masih tertutup rapat tersebut.
"Gavin sama Gibran ke mana? Diajak juga kah ke pasarnya? Duh… pasti ngerepotin betul dua anak itu, heboh sendiri nanti." sahut Icut dengan memperhatikan ibunya yang berjalan ke arah ranjang.
"Ada di kamarnya, sama bang Givan. Tak ikut, cepat kau bangun, temenin Mamah ke pasar." balas Adinda dengan menyibakkan selimut anaknya.
__ADS_1
Icut bangkit dari posisinya, tetapi dengan cepat ia memegangi kepalanya.
"Kenapa kau?" tanya Adinda yang menyadari bahwa anaknya tak baik-baik saja.
"Tak tau, Mah. Kliyengan terus kalau bangun." jawab Icut dengan memejamkan matanya, karena ia merasa begitu tidak nyaman dengan penglihatannya.
"Kurang darah kah? Nanti minum obat Mamah tuh. Kalau kurang darah, yang rajin olahraga ringan. Biar peredaran darahnya lancar, jangan malah banyakin tidur. Malah yang ada nanti nambah puyeng itu kepala." ujar Adinda yang diangguki oleh Icut.
"Aku cuci muka, sama skincare-an dulu ya Mah." tutur Icut, dengan berjalan ke arah kamar mandi pribadinya.
"Skincare yang Mamah kasih kan pakeknya? Tak aneh-aneh kan?" tukas Adinda dengan menoleh ke arah Icut.
"Ya, Mah. Yang Mamah kasih, aku mana ada uang buat beli skincare." ucap Icut kemudian.
"Kan dienakin. Kuota dijatah, skincare dijatah, uang jajan dijatah, mau ngemil tinggal ambil, mau makan tinggal ambil. Mau pergi-pergian, tinggal minta anter sama cek Lhem." sahut Adinda dengan berjalan ke arah pintu kembali.
"Kan kurang uang jajannya, Mah." balas Icut dengan berhenti di pintu kamar mandi, dengan berbalik badan untuk menoleh ke ibunya.
"1 juta sebulan, cuma buat beli es teh sama gorengan kau bilang kurang? Udah besok kau ke kampus, bawa botol T*pperware yang di kulkas." ujar Adinda dengan menatap tajam anaknya.
Dengan Adinda yang berlalu pergi, untuk mengecek kembali stok bahan makanan. Yang masih tersedia di ruang penyimpanan, yang berada di sebelah garasi mobil.
~
Setelah mereka sampai di pasar, Adinda malah kewalahan dengan Icut yang merasa mual dengan bau yang bercampur aduk tersebut. Tak jarang, Icut meludah dan meminum air mineral kemasan botol yang dibelinya di depan pasar.
"Mah… aku tunggu di parkiran aja deh. Atau aku nunggu di tempat bakso, aku mau ngilangin mual aku dulu." ucap Icut dengan menutup mulutnya dengan tangannya.
Adinda memperhatikan wajah Icut yang terlihat pucat pasi tersebut, kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Kau pulang aja. Mamah biar naik ojek, atau nanti minta abang kau buat jemputin. Kau bawa balik aja motornya, bisa kan?" sahut Adinda kemudian.
"Ya, Mah. Nanti aku bilangin bang Givan." balas Icut setelah mencium tangan ibunya.
"Tak usah, Mamah bawa HP. Biar nanti Ghifar atau yang lain, Givan lagi jaga dua bungsu." ujar Adinda yang diangguki oleh Icut.
__ADS_1
"Aku pamit dulu ya, Mah." tutur Icut kemudian, lalu ia berlalu pergi dengan mata Adinda yang masih memperhatikannya.
Adinda menghela nafasnya beberapa kali, kemudian ia melanjutkan aktivitas berbelanjanya. Sesekali ia bertanya dan menawar beberapa barang, yang ia perlukan pada pedagang.
~
Malam harinya, Adinda tengah bersandar pada dada bidang suaminya. Dengan bercerita tentang apa yang mengganjal di hatinya.
"Terus macam mana, Dek? Abang pikir, didikan kita udah benar." sahut Adi setelah mendengarkan prasangka Adinda dengan anak gadis tertuanya.
"Bener atau salahnya didikan kita, itu bukan acuan Bang. Karena masalahnya itu kebutuhan, Bang. Macam kita aja, apa lagi sebelum kita rumah tangga. Abang ya… kek Abang, yang pandai ngaji, dari daerah yang agamanya kental, tapi untuk maksiat kadang tak Abang pikirkan dua kali. Karena apa? Karena… pergaulan Abang, kebutuhan Abang juga, belum lagi kebiasaan jeleknya itu." ungkap Adinda dengan menegakkan punggungnya, kemudian menghadap pada suaminya dengan wajah seriusnya.
"Adek ya… kek Adeknya. Yang paham dalil, tau hukum tajwid, hafalan surat ya tak usah diragukan, tapi apa coba? Kuat minum, rokok jalan, judi tak putus, meski shodaqoh juga dilakuin, belum lagi hobi yang suka bikin Adi's bird kepancing. Jangan masa lalu Abang aja dong Dek yang diungkit-ungkit, sekali-kali masa lalu Adek macam itu." balas Adi yang langsung mendapat cubitan di bibirnya.
"Rokok kan makruh hukumnya, tak usah disebut-sebut lah." ujar Adinda yang terlihat tengah membela diri, meski dirinya sudah tak merokok lagi.
"Kau tau hukumnya??? Tapi tetap kau lakukan dulu? Fix, setan batangan yang nyangkut di bibir kau ini Dek." tukas Adi kesal, terlihat dari wajahnya dan sebutan kau untuk istrinya terdengar kembali.
"Mending setan batangan, ny*pong pun aku pandai. Dari pada setan yang Abang punya, setan ketengan. Beli S*mpoerna mild sebungkus, kalau lagi nongkrong sama aku. Kalau lagi sendiri, beli S*rya mana cuma 5 ribu yang dapat 3 lagi. Kaya, tapi miskin hati, pikiran. Abang tak tau kah? Kalau beli sebungkus, jatuhnya lebih murah, dari pada ketengan 5 ribu 3 itu?" ucap Adinda dengan suara yang meninggi.
"Dari s*pong, sampek ke ketengan 5 ribu 3. Balik lah aku, pening kali pala aku dengar kalian ributin harga rokok." gerutu Ghifar dengan berjalan melewati mereka begitu saja, karena Adi dan Adinda tengah bersantai di ruang keluarga.
Adi dan Adinda saling memandang satu sama lain, "Anak kau itu!" ucap Adi dengan merilekskan otot punggungnya.
"Anak mi*ionaris itu." sahut Adinda dengan membuka bungkus makanan.
"Siapa itu mision*ris?" tanya Adi dengan wajah heran.
Adinda menoleh pada suaminya dengan lirikan tajam, "Yang kata Abang adidas, Adek di bawah, Abang di atas itu. Itu namanya gaya misi*naris, dodol betul suamiku ini!" jelas Adinda yang membuat Adi tertawa geli.
Lalu Adi merangkul istrinya, dengan menghujami istrinya ciuman yang bertubi-tubi di wajahnya.
"Gemes betul Abang sama Adek, mau Abang kunyah-kunyah rasanya." ujar Adi saat istrinya memberontak atas dekapan eratnya.
......................
__ADS_1
Aku yang nulisnya senyum-senyum sendiri, entah bagaimana dengan yang bacanya 😅