
"Minum dulu, Dek. Nih, Abang sendokin." ucap Adi, setelah Adinda tersadar dan memeluknya kembali.
"Abang kenapa kenal aku udah jadi janda? Tak begini ceritanya, kalau aku tak hamil anak orang." ungkap Adinda, yang kembali menangis sesenggukan.
"Alihin pikirannya, Di. Nih, teh manisnya." pinta Haris lirih, dengan memberikan teh manis hangat pada Adi.
Adi menerima teh tersebut, lalu melepaskan pelukan istrinya di lehernya.
"Nih, minum dulu." ujar Adi, dengan memandang wajah istrinya begitu lekat.
Kemudian Adi memasang senyum manisnya, dengan sorot mata yang mengarah ke netra istrinya. Entah apa yang dirasakan wanita 43 tahun tersebut. Pipinya memerah, dengan rona indah yang menghiasinya.
"Jangan kek gitu! Iman aku tipis." ungkap Adinda dengan menutupi wajahnya.
Semua orang yang berada di situ menggelengkan kepalanya berulang, mereka tak mengerti dengan pesona yang Adi pancarkan untuk istrinya.
Ya… kini Adi berhasil mengalihkan perhatian istrinya.
"Nih, minum dulu. Terus lepas ini, kita keluar berdua jalan-jalan. Bo'ong-bo'ongannya, kita ini sama-sama bujang tak punya anak delapan. Ceritanya nanti, itu kencan pertama kita. Abang ajakin Adek ke… ke mana ya kalau orang kota?" ujar Adi, dengan perlahan menyendokkan suap demi suap teh manis tersebut.
"Ke bioskop." jawab Adinda, dengan senyum malunya.
"Ok, kita ke bioskop. Nonton Fast furious 9, sama Black Widow. Kan baru keluar itu film." sahut Adi, yang masih perlahan menyuapkan teh manis untuk istrinya.
"Tak begitu konsepnya. Kalau kencan pertama, harus nonton film setan. Biar kalau perempuannya takut, kan ngumpet di ketek laki-lakinya, dipeluk-peluk lah itu laki-lakinya." balas Adinda, yang membuat Haris merasa malu sendiri dengan pasangan tersebut.
"Bubar-bubar." pinta Haris lirih. Pada menantu, dari sahabatnya tersebut. Tak luput, Alvi dan ibu Meutia ikut melarikan diri dari romansa Adi dan Adinda.
"Bukannya film romantis ya, Dek? Kalau film-nya lagi ciuman, kan yang nonton ikut ciuman." ujar Adi, yang masih terdengar saat mereka semua berlalu.
"Bukan lah, berarti Abang dulu tak pandai ngambil kesempatan dalam kesempitan." tutur Adinda terdengar samar, karena mereka semua kini berpindah ke ruang keluarga.
__ADS_1
"Oh, oke-oke. Makasih ya pelajarannya, Dek. Jadi Adek salin gih. Pakek pakaian yang gampang Abang grepe, jangan pakek jeans." tukas Adi, yang masih didengar lamat-lamat oleh mereka semua.
Haris memeluk bantal sofa, karena ia tak tahan untuk menyuarakan tawanya. Berbeda dengan ibu Meutia, yang terus menggelengkan kepalanya saat kalimat perkalimat didengarnya jelas meskipun samar.
"Nanti kau sama Givan begitu, Canda. Karena tak pacaran dulu, kek mertua kau." ucap ibu Meutia dengan menyentuh lengan Canda, yang duduk di sampingnya.
"Ohh… memang mamah sama papah dulu gak pacaran?" tanya Canda, yang langsung diangguki ibu Meutia.
"Tak pacaran, langsung digrebek." jawab ibu Meutia dengan kekehan kecil.
"Mi… jagain anak-anak Abang. Abang mau pacaran dulu sama Dinda." ungkap Adi, dengan berjalan menuju kamar yang ia tempati. Yang berada di sebelah ruang keluarga tersebut.
"Serah kau, Bang. Mau pacaran, mau cek in, mau ngamer. Udah hak kau ini." sahut ibu Meutia kemudian.
"Yang ini kah, Dek?" tanya Adi dengan menunjukkan sehelai pakaian wanita, dari ambang pintu kamar tersebut dan posisi badan menghadap ke ruang tamu.
"Ya, Bang. Sama HP, dompet." jawab Adinda dengan suara yang masih lemas.
"Dinda tak apa kan dibawa keluar?" tanya Adi kemudian.
"Asal baliknya kau bawa jinjingan buat kita. Nanti Abang izinkan kau buat bawa adek Abang keluar." jawab Haris yang membuat beberapa orang terkekeh geli. Karena Haris seolah berperan menjadi kakak dari Adinda.
"Sialan kau!!!"
"Maksudnya, dia udah tak apa-apa kah?" jelas Adi yang langsung diangguki oleh Haris.
"Cek aplikasi chat kau aja. Aku udah resepin beberapa obat sama vitamin, yang harus Dinda konsumsi." tutur Haris dengan fokus pada ponselnya.
Adi kembali masuk ke dalam kamar, untuk berganti pakaian. Agar terlihat lebih pantas, untuk berjalan-jalan.
"Hp Adek rusak." ucap Adi, setelah dirinya keluar dari kamar dan menemukan ponsel milik istrinya di dekat televisi. Mungkin seseorang telah menyimpan ponsel, yang sempat mengenai dada Mahendra.
__ADS_1
"Ada berkas penting tak? Hasil nulis mungkin? Nanti Abang taruh di tempat servis." lanjut Adi dengan berjalan ke arah istrinya, sembari mengusahakan untuk menghidupkan ponsel tersebut.
"Tak ada. Buang aja." balas Adinda, yang membuat Haris bergegas menuju ke arah mereka.
"Sini-sini. Dari pada dibuang, mending aku servis balik, terus aku jual." ungkap Haris, yang membuat ibu Meutia dan Canda terkekeh.
"Nih." Adi memberikan ponsel istrinya.
"Pakek Dek blazer-nya. Yuk jalan-jalan, baliknya beli HP baru kah?" ajak Adi, dengan membantu istrinya untuk bangkit dari posisinya. Adi paling bisa, dalam membujuk wanita dan membuat moodnya kembali membaik.
Adinda mengangguk, "Sama beli rumah. Yang kemarin dijual aja, atau dikosongin kalau tak laku. Aku dulu tak jadi diperkosa sama Abang, malah mantu yang diperkosa anak di sana." ucap Adinda, saat hendak berdiri. Ia teringat kembali, pada saat dirinya dibawa masuk ke kamar miliknya oleh seorang laki-laki yang kini menjadi suaminya. Saat hari di mana ia memutuskan Reno, kekasihnya. Lalu malah mengisengi Adi, dengan menciumi Adi di seluruh wajahnya.
"Ok, bisa diatur. Lama-lama di kota ini juga tak apa, kita wisata dulu." sahut Adi dengan menggandeng tangan istrinya, saat mereka keluar dari rumah.
Haris kembali, dengan ponsel yang sudah tidak bisa menyala di tangannya.
"Aku anak 3, tak bisa macam itu lagi Mi. Adi yang delapan, bisa dia jalan-jalan berduaan." ucap Haris, dengan duduk di sebelah ibu Meutia.
"Anak mereka kan udah besar-besar, udah pada bisa momong adik yang kecilnya. Waktu Giska masih belasan tahun pun, mereka juga tak bisa ke mana-mana berdua. Ada Giska yang nyempil terus di antara mereka. Tapi sekarang Giska udah HP aja, mungkin udah main suka-sukaan. Jadi kan malu, kalau masih aja ikut mamah bapaknya." sahut ibu Meutia, dengan pandangan yang sesekali menoleh pada Canda.
"He'em ya, Mi. Langi juga nyempil aja, kek Giska dulu. Harus punya adik lagi keknya Langi ini." balas Haris, yang mendapat pelototan dari istrinya.
Ibu Meutia terkekeh geli, "Dinda aja hamil bukan kemauannya sendiri, bukan rencana Adi macam hamil Ghifar dulu. Dicampuri sekali aja, hamil lagi kek waktu kembar itu kan. Sampek Adi sering ngatain kembar, anak 31 hari katanya." ujar ibu Meutia kemudian.
"Iya, gampang betul hamil. Untungnya dulu masih bareng-bareng di kota ini, si Dinda belum dijebol Mi." tutur Haris, yang membuat tawa ringan terdengar kembali.
"Papa… Paa…." panggil anak kecil, yang terdengar begitu menggemaskan.
......................
Ada kah yang gampang hamil kek Dinda? Bagi tipsnya dong 😅
__ADS_1