Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS19. Giska yang manja


__ADS_3

"Kau boleh ikut. Udah, stop nangisnya!" putus Adi, dengan menyandarkan punggungnya.


Giska malah memukuli dada ayahnya kembali, "Tak dari tadi! Aku udah nangis-nangis bombay, baru dikasih ikut." seru Giska dengan tangis pecahnya.


"Ehh, malah nangis kuat lagi." timpal ibunya kemudian.


"Aku terharu, aku diajakin juga ternyata." sahut Giska dengan suara yang tidak jelas.


Adi mendekap anaknya, lalu mengusap punggung anaknya sekilas.


"Cep, diem. Jangan nagis aja, anak perawan Papah." ungkap Adi kemudian, kemudian ia mendaratkan kecupan ringan di pucuk kepala anaknya.


"Jadi, dua bungsu macam mana Bang?" tanya Adinda dengan mengangkat tubuh anak bungsunya, untuk duduk di pangkuannya.


"Gibran dibawa, Gavin biasanya mau sama abang-abangnya. Nanti tanya dulu ke kembarnya, mau tak mereka jagain Gavin." jawab Adi, dengan masih mengusap air mata Giska.


Ghifar bersandar pada tiang beton rumah orang tuanya, "Pasti mau, kalau dititipin uang juga." balas Ghifar kemudian.


"Gih, mandi. Skincare-an sana, biar glowing macam kak Icut." pinta Adi dengan tersenyum lebar, pada anak yang berada di pangkuannya.


"Memang aku item dekil ya, Pah?" tanya Icut dengan menoleh ke arah ayahnya, dengan pipi yang menggembung.


"He'em… tapi, meski Adek Giska macam itu. Papah tetep cinta kok. Apa lagi, kalau shubuhannya jam setengah lima pagi. Nanti papah belikan kalung bermata belian, serius Papah tak bohong." jawab Adi seperti tengah merayu istrinya.


"Mana bisa aku, Pah!" sahut Giska dengan helaan nafas panjangnya.


"Bisa, tidurnya tuh jam sembilanan. Apa kau yakini dalam hati kau, kau jam setengah lima pagi mau bangun macam itu. Nanti besoknya betulan kau bangun pagi." balas Adi dengan mantap.


"Janji ya kalung bermata berlian?" ujar Giska dengan mengacungkan jari kelingkingnya.


Adi menautkan jari kelingkingnya, dengan jari kelingking anaknya.


"Janji, asal sholatnya tepat waktu." tutur Adi, dengan langsung diangguki oleh Giska.


Namun, momen tersebut malah terganggu oleh istri dari Adi.


"Awas kau, Giska! Turun bentar!" pinta Adinda, dengan mendorong bahu anaknya.

__ADS_1


Giska langsung turun dari pangkuan ayahnya. Kemudian Adinda langsung menduduki tempat Giska barusan.


Adi hanya bisa menghela nafasnya, saat istrinya mengalungkan tangannya di lehernya.


"Aku sholat lima waktu on time, dhuha tak ketinggalan, tahajud kalau kebangun malam. Tak ada niat kah Abang buat belikan aku berlian juga?" ucap Adinda manja.


Ghifar dan Giska menahan tawanya, melihat tingkah ibunya tersebut. Dengan Gibran yang melongo, dengan pandangan herannya.


"Uang kan di Adek, bisanya minta berlian sama Abang?" ucapan Adi, yang langsung mendapat cubitan di bibirnya.


"Kalau aku dapat hadiah dari laki-laki lain, nanti Abang ngambek. Tapi istri sendiri, tak pernah dikasih hadiah." gerutu Adinda dengan bersedekap tangan, sembari masih menduduki paha suaminya.


"Iya, iya, iya hadiah. Abang belikan hadiah juga." putus Adi pasrah.


Adinda langsung memberikan suaminya kecupan di pipinya, dengan senyum bahagianya yang mengembang.


"Ditunggu kotak beludrunya." balas Adinda dengan turun dari pangkuan suaminya, lalu melenggang pergi masuk ke dalam rumah.


"Mak kau itu! Segala minta hadiah." ujar Adi dengan menoleh ke anak bungsunya, yang tengah menyusun balok susunnya.


"Diundur besok ya Pah penerbangannya." ungkap Ghifar, dengan memakai sendalnya.


"Pah… aku masuk dulu ya." tutur Giska yang dijawab dengan gumaman saja oleh ayahnya.


~


Esok harinya, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Dengan langsung melakukan makan malam bersama, dengan diikuti semua anggota keluarga.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka telah menyelesaikan sesi makan. Kemudian langsung mengobrol seputar acara untuk Icut.


"Dek… kalau 4 bulanan kan, biasanya disebut nama orang tua di jabang bayi itu. Masa nanti yang disebut Icutnya aja?" tanya Adi serius.


Terlihat Icut tengah memperhatikan semua orang, yang silih berganti menatapnya.


"Ya, nanti aku yang urus deh." jawab Adinda, dengan masih menyuapi anak bungsunya.


"Sini sama Omah, Nak. Adiknya bang Givan ini tuh, ya? Yang lain sih anaknya papah Adi semua." ucap ibu Meutia, dengan mengusap kepala anak dua tahunan itu.

__ADS_1


"Coba kalau perempuan, pasti cantik." timpal Adi, dengan mengupas buah pisang.


"Papah… memang aku tak cantik?" seru Giska yang hampir membuat pisang di tangan Adi meloncat.


"Tak, kau manis." sahut Adi setelah membetulkan posisi buah pisang yang ingin dimakannya.


"Cantik nih macam aku." balas Icut dengan pedenya.


"Akak yek! Mama atik. Hmmm… atik kali mama atu." ungkap Gibran, yang membuat semua orang menyuarakan tawanya.


"Ya, lah. Itu mamah kau, pasti kau puji terus." ujar Ghifar dengan memperhatikan adiknya yang membuka mulutnya, saat Adi menyodorkan pisang yang tengah ia makan.


"Karakternya lembut ini, Umi. Semoga kelak nanti straight, tak belok macam kaum pelangi." tutur Adi pada ibunya.


"Iyalah, Adek straight ya Dek? Kepalanya besar juga, macam Papah." timpal Adinda yang langsung mendapat toyoran kepala dari ibu mertuanya.


Dengan Adi yang melongo, dengan mulut terisi pisang. Ia cukup syok, mendengar ucapan istrinya barusan.


"Bukan bentuknya Adinda istriku, belahan jiwaku." tukas Adi yang membuat Adinda terkekeh geli.


"Gibran bisa berantem, suka bikin anak tetangga dan abangnya nangis. Udah pasti dia straight, kuat, tahan lama dan tak tertandingi." ucap Adinda dengan membawa tangan anaknya, untuk membentuk bicep lengan.


"Itu batang, atau iklan semen?" sahut Adi, yang membuat Adinda terkekeh kembali.


"Tau ah, Abang suka macam itu orangnya. Sana jauh-jauh, jangan main sama Mamah, jangan main sama Adek Gibran." balas Adinda bernada seperti anak-anak.


"He'em, Papa tuh icik aja." ujar Gibran dengan melirik tajam ayahnya.


"Ihh… Papah juga tak mau main sama Adek Gibran. Papah mau main sama bang Ghifar aja, main bola, Adek tak diajak." tutur Adi dengan berlalu pergi, dengan langsung dikejar oleh anak bungsunya.


"48 tahun, masih punya anak umur 2 tahun. Apa suami kau tak mikirin, anak kau yang paling kecil baligh, suami kau udah tak punya gigi. Kan tak pantas, Din. Aturan dipanggil kakek, masih aja ada yang manggil papah." ucap ibu Meutia, dengan menyentuh lengan Adinda.


"Aku pun udah usaha pakek KB, tapi tetep hamil lagi hamil. Kenapa ya, Mi?" Adinda menoleh ke arah mertuanya dengan ekspresi heran.


"Waktu Gavin, kau IUD gagal itu ya? Terus waktu Gibran, kau yang lengannya sakit terus itu? Terus dibongkar lagi implannya?" sahut ibu Meutia, dengan mendapat anggukan kepala dari menantunya dua kali berurutan.


"He'em, Gavin sama Giska aja jaraknya jauh. Giska 14 tahun, malah punya adik lagi." balas Adinda kemudian.

__ADS_1


"Bukannya kalau abis lepas implan gitu, bisa hamil laginya butuh waktu ya Kak?" tanya Bena, yang duduk di salah satu kursi yang melingkari meja tersebut.


......................


__ADS_2