Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS81. Tekanan darah menurun


__ADS_3

"Ada apa lagi sama Fira?" tanya Adi begitu lantang.


"Fira, pacar aku. Di waktu yang sama, adikku sendiri macarin dia. Di situ… apa ada yang ngomong, Ghifar jahat? Saat keadaan di balik, aku ambil Canda darinya. Dia dapat simpati dari segala sisi, syoknya bikin iba. Aku 4 tahun sama Fira, dibandingkan sama Ghifar yang cuma hitungan bulan sama Canda. Tapi tak ada yang nanya perasaan aku waktu itu, tak ada yang nanya apa aku baik-baik aja. Ini… ini gimana ya konsepnya?" ucap Givan, dengan beberapa kali terpenggal karena nafasnya sendiri.


"Aku jadi pelaku, yang seolah paling berdosa di sini. Kena pasal, kena hukum, kena rehab juga. Aku ditekan dari pihak kepolisian, ditekan dari pihak keluarga. Apa ada yang nanya, kalau aku baik-baik aja? Bang Ken, Kin, kak Aca dan yang lain juga. Pada simpati ke Ghifar, pada kasian sama Ghifar. Sama kok… aku juga kasian sama Ghifar. Tersakiti betul ya keknya Ghifar ini. Tapi sesakitnya dia, kok tak ada yang ingat sakitnya aku pas masalah Fira kemarin?" lanjut Givan, yang membuat tangan Adinda bergetar hebat.


"KAU BODOH APA GIMANA? POLA PIKIR KAU MENTAH BETUL, VAN!!! DI SITU, JELAS FIRA YANG SALAH. GHIFAR PUN TAK TAU, BAHWA FIRA WANITA KAU! KAU YANG PAHAM SITUASI DAN KONDISINYA! RUPANYA BAPAK KAU INI, BUAT KAU TAK BACA BISMILLAH DULU. MENTAH BETUL KAU JADI ANAK!!!" teriak Adinda dengan suara bergetar.


Adi yang baru melihat istrinya semarah ini, merasa takut akan kesehatan istrinya.


"Hei, Dinda." Adi mengalihkan perhatian istrinya, dengan membingkai wajah istrinya.


"Liat Abang, Sayang." lanjut Adi, yang melihat air mata Adinda lolos tak terkendalikan.


Adinda langsung memeluk erat suaminya, dengan tangis yang meraung-raung hebat. Adinda gagal menumpahkan emosinya, membuatnya begitu terlihat kacau dengan tubuh yang gemetaran.


"AKU NYERAH, BANG…." suara lantang Adinda, yang terdengar masih bergetar hebat tersebut.


"Aku nyerah jadi orang tuanya…" lanjut Adinda dengan lirih.


"Aku nyerah…." ulangnya dengan nafas tersengal-sengal.


Hingga, tubuhnya melemas di pelukan suaminya.


"Rebahin, Di. Rebahin!" pinta Haris, saat melihat sahabatnya lunglai di pelukan Adi.


"Dinda…. Jangan kek gini, Dek." ucap Adi, dengan mengangkat tubuh istrinya.

__ADS_1


"Kau ke mana, Ris?" tanya Adi, saat melihat Haris berlari menuju ke ruangan pribadi miliknya.


"Ambil alat." sahut Haris, dengan melanjutkan langkahnya.


Adi merebahkan tubuh istrinya di atas sofa tersebut. Kemudian melepaskan jarum yang menautkan hijab istrinya.


Kemudian tangannya terselip, di bagian belakang punggung istrinya. Lalu melepaskan tautan, yang menyangga dada istrinya.


Adi kembali meloloskan tangannya, kemudian menguasap air mata istrinya.


"Awas, Di!" ucap Haris, dengan membawa peralatan dokternya.


Haris mengecek bagian nadi Adinda, yang terletak di leher dan pergelangan tangan Adinda. Dengan menghitung denyut nadi, dengan jam tangan yang ia kenakan.


"Dek… Dinda… Adinda…." panggil Haris beberapa kali. Namun, Adinda tak merespon panggilan Haris.


Haris beralih ke bagian kaki Adinda. Lalu ia memberikan ganjalan setinggi 30 cm, lebih tinggi dari dadanya.


Adi mengangguk, "Jilbab sama wadah dada aja." jawabnya kemudian.


"Dek Alvi… Bun…" seru Haris memanggil istrinya.


"Ya…" sahutan Alvi terdengar lamat-lamat. Karena Alvi berada di kamarnya, di lantai dua.


"Minyak aromaterapi di mana, Bun? Tolong ambilkan." pinta Haris yang disanggupi Alvi.


Tak lama, Alvi muncul dengan minyak aromaterapi di tangannya.

__ADS_1


"Dinda kenapa, Bang?" tanya Alvi dengan berjalan cepat ke arah Adinda.


"Tadi abis dicek, tekanan darahnya turun drastis. Buatkan teh manis juga, Bun. Manisnya agak kuatin." jawab Haris, yang meminta bantuan kembali pada istrinya.


Alvi mengangguk, kemudian berlalu pergi. Haris menghela nafasnya, ia merasa sedikit khawatir pada kesehatan wanita berumur 43 tahun tersebut.


"10 menit tak bangun, kita rujuk aja Di." ucap Haris, dengan membenahi peralatan kerjanya.


Adi mengangguk, "Dinda tak pernah-pernah dia pingsan. Aku takut betul sama kesehatannya." sahut Adi dengan duduk di sebelah kepala istrinya, kemudian membelai wajah kinclong istrinya.


"Sesayang itu kau sama dia, Bang. Terlalu manjakan istri, sampek sopan santun istri kau tak bisa bina. Dia lemparin barang ke arah aku, kau diam aja. Besok-besok apa, kalau dia kalau marah ke orang nanti." ungkap Mahendra, yang membuat orang paling tua yang baru muncul tersebut menyahuti ucapan mantan suami menantunya.


"Kemarin dia lemparin vas harga puluhan juta, aku diam aja. Kau tak rugi apa-apa, udah sok nyeramahin anak aku. Ketimbang badan kena lemparan barang sedikit, kau sampek buat ibu dan anak berantem malam ini." sahut ibu Meutia, yang memang ia mengetahui segala kejadian. Karena ia berada di ruangan sebelah ruang tamu tersebut, yang disekat dengan kayu ukiran yang memiliki lubang juga.


"Harusnya… kau tau, kau bilang ke Adi. Yang sama-sama laki-lakinya. Ajak ngomong anak kau, sama Adi juga. Sebelumnya Dinda hidup sama kau kan? Tapi kau tak tau karakter mantan istri kau itu? Seumur-umur aku jadi mertuanya, tak pernah aku tengok Dinda semarah itu ke anaknya. Lepas ini, bisa-bisa anak kau itu kehilangan figur ibunya." lanjut ibu Meutia, dengan duduk di kursi yang paling dekat dengan posisinya.


"Pantaslah cerai. Laki-laki tak bisa ngimbangin istrinya. Dia keras, kau lunakin pelan-pelan. Kau mau menang aja, pantas tulang rusuk kau itu lebih sudi kabur dari kau." lanjutnya, dengan menatap kesal pada Mahendra.


"Yang penting aku ngasih dia paham yang betul. Masa marah meledak-ledak gitu, lempar-lempar barang gitu. Tak punya etika betul dia hidup. Jelas anak Anda disalahkan, kalau tak bisa ngajarin istri baik-baik." ujar Mahendra yang tak mau kalah.


"Dinda udah besar. Tak mungkin dia tak tau mana yang baik dan buruk buat dirinya. Masa… untuk hal meluapkan emosi aja, harus aku ajarkan? Pantas dulu dia kurus kering sama kau. Ternyata bukan cuma masalah perut aja, nyatanya di tekanan batin juga." tukas Adi, dengan nada santainya.


"Van… anterin itu orang tua kau balik." lanjut Adi, dengan mengisyaratkan dengan dagunya pada Givan.


Givan mengangguk, kemudian menarik lengan ayahnya untuk keluar dari rumah itu. Givan sedikit khawatir, dengan perseteruan malam ini. Ia tak yakin, mereka akan tetap berbicara baik-baik. Pasti akan ada pertumpahan darah, entah karena pukulan atau lemparan barang lainnya. Jika ayah kandungnya, tetap berada di sini lebih lama.


"Papah Adi itu sayang betul ke istrinya. Dia pasti mau yang terbaik buat istrinya, biar dia yang korban atas segalanya. Termasuk dalam hal pertengkaran. Selama ini aku hidup sama mereka. Hal yang paling aku sering tonton dulu, ya papah Adi nangis karena mamah. Dia pasti ngalah, dari istrinya. Papah minta dia, buat ajarkan mamah. Itu hal yang percuma, pasti tetap papah Adi yang ngalah dari mamah. Papah Adi paham, mamah semakin dikerasi, malah semakin tak terkendali. Apa yang dulu Papah tanamkan ke mamah, tuntut ke mamah. Tak usah minta suaminya mamah yang sekarang, buat ajarkan yang Papah ajarkan. Setiap orang punya cara masing-masing, untuk mengendalikan makmumnya. Tak usah campurin, urusan pribadi mantan istri Papah." ungkap Givan, setelah dirinya berada di dalam mobil untuk mengantarkan ayah kandungnya.

__ADS_1


......................


Aku suka, kalau sifat bijaknya Givan keluar 🥰


__ADS_2