
"Besok sore kau ke rumah!"
"Saya pamit, assalamualaikom..."
Ucap Adi langsung berlalu pergi, tanpa berjabat tangan kembali dengan mereka berdua.
Adi tak ingin orang lain mengetahui sifat jeleknya, yang cukup membuat orang bertambah segan padanya tersebut.
Adi tak menyukai cara pak Zuhri bersikap. Padahal Adi datang baik-baik, tapi tuan rumah malah membuatnya semarah itu.
"Anaknya bener, bapaknya kek gitu." gerutu Adi, dengan mengendarai motornya untuk kembali ke rumah.
"Mau nyelesaiin baik-baik juga, aku malah terhina sama ucapan bapaknya. Kalau sampek nanti bapaknya datang ke rumah, Dinda aku suruh maju aja. Biar Dinda yang babat habis itu orang. Punya anak gagah segitu aja sombong! Mentang-mentang Giskanya suka sama anaknya, kurang ajar orang tuanya!" lanjut Adi yang masih menyimpan amarah pada ayah dari Zuhdi.
Beberapa saat kemudian, Adi sudah berada di teras rumahnya. Ia masih menetralisir nafasnya yang memburu. Ia takut Adinda memahami, bahwa dirinya tengah dilanda emosi. Pasti nanti istrinya akan menanyakan masalah yang membuatnya semarah ini. Jelas Adi pasti akan jujur, untuk kelangsungan hidupnya yang bahagia.
"Abang dari mana? Ahya nganterin pacri nenas ke sini, katanya mau Abang bawa tapi ketinggalan di teras?" suara dari ambang pintu, yang mengejutkan Adi.
Adi menoleh ke arah sumber suara, mencoba menarik sudut bibirnya ke atas.
"Ngobrol, Dek. Sama cek Lhem." sahut Adi kemudian.
Adinda mengerutkan keningnya, kemudian berjalan menghampiri istrinya.
"Mari kita Ng W, dari pada tengkuknya kaku lagi." ajak Adinda, yang membuat Adi geleng-geleng kepala.
"Marah di luar, dituntasin di luar lah. Ngos-ngosan macam itu, bikin darah Abang naik aja. Mending jotos-jotos orangnya, terus tuntas masalahnya. Dari pada kek gini, malah jadi bumerang buat Abang sendiri." ucap Adinda dengan merengkuh pinggang suaminya mesra.
"Apa ngos-ngosan karena nahan birahi sama janda-janda yang lain?" lanjutnya dengan menarik dagu suaminya, lalu mengunci pandangan matanya.
"Tak, janda yang satu ini memang yang suka bikin birahi. Mari kita misionaris." balas Adi yang membuat Adinda terkekeh geli.
"Biasanya nyebutnya adidas?" tanya Adinda dengan melepaskan rengkuhannya.
__ADS_1
"Abang masang gembok pagar dulu ya?" sahut Adi, tanpa menjawab ucapan istrinya itu.
Adinda mengangguk, kemudian mendahului suaminya untuk masuk ke dalam rumah. Adinda melanjutkan aktivitasnya, untuk mengecek kembali jendela dan pintu-pintu rumahnya. Kemudian memastikan anak-anaknya sudah tertidur, dengan suhu yang nyaman.
"Vi... Tidur!" ujar Adinda, saat melihat anaknya masih memainkan gitar di halaman belakang.
Ia mengangguk, "Papah udah pulang kah? Mamah udah ada kawannya kah?" tanya Ghavi, dengan bangkit dari duduknya.
"Udah." jawab Adinda dengan memperhatikan punggung lebar anaknya, yang tengah berjalan menaiki tangga.
"Awww...." pekik Adinda yang langsung dibungkam oleh seseorang.
"Kenapa, Mah?" Ghavi menuruni beberapa anak tangga kembali, untuk mengetahui keadaan ibunya.
Ghavi merasa malu sendiri, saat melihat pemandangan orang tuanya yang tengah beradu lidah. Dengan tubuh ibunya yang didorong ke tembok oleh ayahnya.
Ghavi segera menaiki kembali anak tangga yang tersisa, karena merasa geram dengan aksi ayahnya itu. Ya, Ghavi sudah mengetahui siapa yang membuat ibunya memekik tertahan tadi.
~
Pagi ini, Adi mengantarkan Gavin bersekolah. Anak itu tak pernah bersekolah full satu minggu. Pasti saja ia memiliki absen dua atau tiga hari, tanpa keterangan. Bukan karena orang tuanya yang malas mengantarkan sekolah anak tersebut, tapi karena jam tidur anak itu yang begitu kacau. Sehingga Adi tak tega memaksa anak 5 tahun tersebut untuk bangun bersekolah, jika dini hari anak itu baru tertidur.
"Dengerin Papah ngomong!" tegas Adi, pada anak yang berdiri di rangka sepedanya. Dengan mengalungkan tangannya, melewati tengkuk ayahnya.
Adi mengantarkan anaknya dengan menggunakan sepeda gunung, yang biasa ia gunakan bepergian di kampungnya. Jika motor milik Ghifar, tengah digunakan oleh Ghifar sendiri. Namun, kali ini ia ingin meregangkan ototnya dengan mengayuh sepeda.
"Long dengoe, Pah." sahutnya dengan memperhatikan jalanan yang mereka lalui.
"Dengar-dengarnya aja, tetep sih tidurnya magiin. Kalau udah masuk SD, kau masih gini aja. Nanti dikeluarin loh dari sekolah, distrap juga sama guru kau nanti." balas Adi, yang tak bosan-bosannya memberi anaknya pengertian.
"Tak mau aku, Pah. Mau sekolah, Pah." suaranya seperti memohon.
"Ya makanya Gibran tidur, kau ikut tidur. Nanti kalau tidurnya pagi-pagi terus, kau kalah tumbuh dari Gibran. Nanti Gibran yang besar duluan, karena tidurnya dari abis isya sampek subuh. Nanti juga Gibran yang masuk SD duluan, kau masih TK aja." ujar Adi yang memang tengah berbohong. Tentu hal itu tak mungkin terjadi, apa lagi jarak umur Gibran dan Gavin sekitar 3 tahunan.
__ADS_1
"Ya udah, sekolah yang bener. Nanti balik sekolah Papah jemput." ucapnya dengan menurunkan anaknya dari sepedanya.
"Anter masuk, Pah." rengek Gavin, dengan mendongak menatap wajah ayahnya.
"Papah anterin masuk juga, Papah keluar kau udah lari ke mana-mana." sahut Adi setelah menegakkan standar sepedanya, lalu menggandeng anaknya menuju ke kelas anaknya.
Taman kanak-kanak yang sudah membunyikan lonceng tersebut, sudah memulai pembelajaran.
Adi membuka pintu kelas Gavin, dengan salam yang ia ucapkan.
"Wa'alaikum salam." sahut wanita yang menjadi guru kelas Gavin, yang duduk persis di samping pintu. Untuk menjaga anak-anak tak keluar, saat jam pelajaran dimulai.
"Wahhh, Gavin bangun siang lagi ya?" tanya gurunya, saat Gavin masuk dan mencium tangannya.
"Iya nih, Bu. Tidurnya larut malam terus. Semalam tidur dari abis isya, pas jam 11an bangun dia sampek jam dua malam baru tidur lagi." jawab Adi yang masih berdiri di ambang pintu.
"Gih, duduk." pinta guru tersebut, pada anak Adi.
"Nitip ya, Bu. Jagain dulu, sampek nanti saya jemput balik. Nasehati juga, Bu. Biar tidurnya tepat waktu, biar tak kesiangan terus bangunnya." ungkap Adi yang mendapat anggukan mantap dan senyum ramah dari guru kelas Gavin.
"Kalau dia udah besar sedikit, sebenernya tak gitu lagi Pak. Biar nanti saya nasehati juga. Pasti saya jagain, sebelum Bapak jemput dia." sahutnya kemudian.
Adi mengangguk, "Makasih, Bu. Nitip ya, Bu." balas Adi dengan tersenyum lebar. Kemudian ia menutup kembali pintu kelas tersebut.
'Perasaan... Anak yang paling susah diatur, si Gavin sendiri. Semoga besar nanti dia tak jadi beban keluarga. Yang macam Givan aja, Dinda sampek bilang nyerah jadi orang tuanya. Apa lagi ngurus yang macam Gavin.' gumam Adi dengan memutar sepedanya, kemudian melanjutkan mengayuh menuju ke ladangnya.
Juragan yang suka mengenakan sarung dan dipadukan dengan kaos tersebut, terlihat tak sedikitpun kesusahan mengayuh dengan sarung yang melilit di pinggangnya. Sesekali Adi menyapa orang-orang yang berpapasan dengannya, dengan menyunggingkan senyum ramahnya.
Hingga ia melihat Zuhdi, tengah membuat adukan semen di rumah orang yang tengah dibangun ulang tersebut. Adi hanya melewatinya, tetapi Adi bisa melihat dengan jelas semangat dan tanggung jawab laki-laki tersebut pada pekerjaannya.
"Giska, Giska! Mabok sama yang kerja kasaran, jadi inget muda dulu." ucap Adi lirih, setelah melewati Zuhdi yang masih fokus bekerja.
......................
__ADS_1