
"Coklat kacang berapa, Bang?" tanya seorang wanita muda, yang datang untuk membeli dagangan yang dititipkan pada Adi.
"10 ribu, Dek." jawabnya dengan mulai menyayat roti tawar.
"Ya udah, Bang. Bikin tiga yang keju, nanas." sahut wanita tersebut, yang membuat Adi menghela nafasnya.
Adi melirik ke wanita tersebut, kemudian dirinya terkekeh seorang diri.
"Nanya coklat kacang, belinya keju nanas." gerutu Adi lirih, sembari mulai melakukan aktivitasnya.
"Kenapa, Bang?" tanya wanita tersebut, yang mendengar gumaman lirih dari Adi.
"Tak, Dek." jawab Adi yang mulai menaruh rotinya di panggangan.
Adi terkekeh kecil, saat ingatannya berputar kembali tersebut. Lalu ia berbelok ke ladang kopinya, dengan beberapa orang yang tengah beraktivitas di area itu.
Adi hanya menoleh ke kiri dan kanan sembari mengayuh pelan sepedanya, dengan memperhatikan mereka yang tengah bekerja.
Hingga ia menarik rem tangannya, saat sampai di saung yang menjadi tempat meneduh pekerjanya.
"Ada yang tak berangkat, Bang." ucap orang kepercayaan Adi.
Adi mengangguk, "Sakit kah?" tanyanya kemudian.
"Ya, Bang. Katanya balik kerja kemarin udah panas dingin aja." jawabnya, saat Adi tengah mengedarkan pandangannya.
"Pancaroba sih. Ghavi aja tak berangkat kuliah, panas dingin dari subuh tadi." sahut Adi dengan menolehkan kepalanya ke arah orang yang mengajaknya berbincang.
"Iya, banyak juga tetangga. Panas dingin, sakit tenggorokan, pilek. Sakit congorna katanya, Bang." balas orang tersebut, yang membuat Adi teringat akan masa pandemi yang mereka lewati beberapa tahun yang lalu.
"Pancaroba tiap tahun juga ada, congorna terus berarti ya?" ujar Adi yang membuat mereka tertawa bersama.
"Saya sudah vaksin, Bang." tutur orang tersebut, dengan menunjukkan tulisan yang tercetak pada baju yang dirinya kenakan pada sang juragan.
"Vaksin saya belum lengkap." tukas Adi yang membuat mereka kembali terkekeh.
"Darah tinggi ini, membuat saya terus menunda vaksin tahap dua sampek habis masa wajib vaksin." lanjut Adi yang membuat orang kepercayaannya kembali terkekeh.
Bukan hal aneh untuk mereka, akan juragannya yang memiliki riwayat darah tinggi dari garis keturunannya tersebut. Meski kesehatan Adi tetap stabil, tapi kaku tengkuknya sering menjadi alasan Adi untuk berisitirahat di rumah.
"Siapa itu? Masih kecil kali dia." tanya Adi, dengan menunjuk salah seorang yang tengah sibuk beraktivitas.
"Itu anaknya pak Zuhri, Bang. Baru lulus SMA kemarin, belum dapat kerja. Jadi ikut ngeladang, buat jajannya dia sendiri katanya." jawab orang kepercayaan Adi, yang membuat Adi teringat kembali akan masalah semalam.
__ADS_1
"Kenapa dia tak ikut abangnya aja, bangun rumah yang di jalan sana." sahut Adi dengan menunjuk arah rumah yang tengah digarap oleh Zuhdi.
"Kalau kuli bangunan macam itu, Bang. Harus punya keahlian khusus. Kalau yang bantu tukang kan, capeknya luar biasa itu. Bocah-bocah yang baru ngerasain kerja, pasti langsung kapok kerja balik. Kalau Zuhdi kan, tukangnya. Bukan yang bantu tukangnya." jelas orang kepercayaan Adi, yang membuat Adi mengingat aktivitas Zuhdi tadi.
"Tapi dia ngaduk tadi." balas Adi yang membuat orang tersebut mengedikan bahunya.
"Kurang paham juga, Bang. Aku dengar-dengar sih macam itu." ujarnya kemudian.
Adi mengangguk, kemudian berjalan menyusuri ladangnya.
Adi teringat kembali, saat dirinya tengah liburan sekolah. Ia pulang di kampung halaman ini, untuk menikmati masa liburan sekolahnya dulu. Namun, sayangnya ia malah dikejutkan dengan tembok belakang rumah kakeknya yang runtuh. Membuatnya terpaksa harus ikut membantu mendorong gelodok, yang berisikan pasir.
Nafas Adi tersengal-sengal, ia menyeka keringatnya yang bercucuran.
"Tak mampu bayar orang kah, Pak cek?" tanya Adi bernada ketus.
"Nafas aku senin kamis ini." lanjut Adi, setelah dirinya meneguk air langsung dari tekonya.
Pak Akbar terkekeh geli. Ia meregangkan sejenak otot punggungnya, karena ia terlalu lama berjongkok untuk membuat adukan semen.
"Biar jadi kenang-kenangan, kalau dinding ini anak cucunya sendiri yang buat." jawab pak Akbar kemudian.
Adi meludah ke samping kirinya, "Tak sanggup aku, Pak cek. Biar aku yang bayar orang, buat ngangkut pasir-pasir itu. Potong aja dari jatah bulanan aku." sahut Adi yang membuat beberapa anggota keluarganya tertawa terbahak-bahak.
Adi hanya terdiam, sembari menyeka keringatnya yang membasahi kaosnya.
Adi menggelengkan kepalanya, saat kenangan-kenangan tersebut silih berganti di ingatannya.
'Aku buktiin sampek hari ini. Badan gagah, tetep sih gemetaran nemenin istri ngeden.' gumam Adi, dengan memetik biji berwarna merah tersebut.
Ia melanjutkan aktivitasnya, sampai waktu sudah menunjukkan jam pulang Gavin. Adi langsung bergegas menuju ke taman kanak-kanak di desanya, lalu membawa anaknya pulang ke kediamannya.
~
"Hana peureulee, Di! Repot-repot kau." ucap Adi, saat Zuhdi datang dengan membawa buah pisang dan pepaya.
"Dari ma, suruh bawa aja katanya." sahut Zuhdi, dengan duduk di samping ayah kekasihnya. Mereka duduk di bangku panjang, yang berada di bawah pohon mangga di halaman rumah Adi.
"Ini sih kedoyanan Gibran semua." balas Adi, dengan melihat buah yang begitu menarik tersebut.
"Iya, dari depan rumah itu Pak." ujar Zuhdi yang diangguki saja oleh Adi.
"Bang..." panggilan seseorang yang selalu Adi dengar setiap saat.
__ADS_1
Adi menoleh ke teras rumahnya. Terlihat Adinda, Giska, Gavin dan Gibran tengah berada di sana. Kemudian mereka berjalan ke arah Adi dan Zuhdi. Terlihat juga, Canda menyusul mereka dengan terburu-buru.
Adi sebenernya sudah merasa tegang, ia takut Adinda menanyakan siapa pemuda yang duduk di sebelahnya.
"Ehh, ada tamu Bang?" tanya Adinda dengan tersenyum manis pada Zuhdi. Zuhdi langsung mencium tangan Adinda, yang berada di hadapannya.
"Kon, Dek. Dia yang kerja di pengolahan biji." jawab Adi cepat, sebelum didahului oleh Zuhdi.
Zuhdi yang sedari tadi menatap wajah kekasihnya, kini beralih menatap wajah Adi. Atas pengakuan Adi, yang terdengar jelas berbohong tersebut.
Adinda mengangguk, "Ya udah, tinggal dulu ya?" ujar Adinda dengan menggandeng tangan anak yang paling kecil.
"Adek mau ke mana?" tanya Adi, saat Adinda hendak melangkah.
Adinda menoleh ke arah Adi, "Pasar malam dong. Nyari telor gulung, sama apa Dek?" jawabnya, lalu beralih melemparkan pertanyaan pada Gibran.
"Maaa... Ma pa, ya?" sahut Gibran yang terdengar begitu lucu.
"Ma meutabak yasa enju." lanjutnya dengan beralih menatap Zuhdi.
"Dada Bang..." Gibran tersenyum manis, lalu melambaikan tangannya pada Zuhdi.
Zuhdi melambaikan tangannya pada Gibran, "Dada juga, ati-ati di jalan ya?" sahutnya yang membuat dahi Adinda berkerut.
"Kau kenal, Dek?" tanya Adinda menunduk, untuk melihat wajah anaknya. Sembari melangkah perlahan, berjalan keluar dari kediamannya.
"Ya, Ma." jawabnya terdengar samar di telinga Adi.
"Siapa memang?" sahut Adinda yang sesekali masih memperhatikan wajah anaknya.
"Bang, entu abang." balas Gibran kemudian. Kemudian percakapan mereka, tak terdengar lagi di telinga Adi dan Zuhdi.
"Bu Dinda masih belum tau siapa saya, Pak?" tanya Zuhdi membuka percakapan.
"Belum, saya belum berani cerita." jawab Adi kemudian, lalu beralih ke Zuhdi. Saat punggung keluarganya, sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.
"Jadi gimana, Pak? Masalah aku sama Giska ini?" tanya Zuhdi kemudian.
Adi memandang paving blok di halaman rumahnya, ia tak setega istrinya untuk memutuskan segalanya. Apa lagi menyangkut perasaan anak gadis, yang begitu Adi sayangi.
......................
Sesayang itu Adi sama anaknya?
__ADS_1
Kalian paham gak sih? Bahwa Adi ini lagi coba nutupin masalah Giska, biar gak ketahuan maknya.