
"Soe peugah 15 mayam dapat? Minimal 50 mayam lah." celetuk Adinda yang membuat hati Zuhdi mencelos.
Ia menatap kedua telapak tangannya, yang begitu kasar dan memiliki kulit yang mengeras. Ia merasa, dirinya tak sanggup jika 50 mayam hanya untuk mahar saja.
"Aku pamit dulu, Pah." ucap Zuhdi tiba-tiba. Lalu ia langsung mencium tangan Adi, bergantian dengan tangan Adinda.
"Pulang dulu, Dek." sahut Zuhdi lirih, saat melewati Giska.
Giska mengangguk samar, dengan menatap punggung lebar Zuhdi yang terlapisi kaos panjang berwarna putih.
"Masuk yuk." ucap Giska pada adik bungsunya. Lalu ia melangkah masuk, tanpa menghiraukan perkataan Farid yang terus menggodanya.
~
Tiga hari sejak kejadian itu sudah berlalu. Hari ini Adi dan Adinda dipusingkan dengan Giska, yang tiba-tiba sakit dan terus mengeluarkan air matanya.
"Apa yang sakit? Mewek terus kau, apa yang dirasa? Bang Ghavi sakit, kau sakit, bingung Mamah." ucap Adinda yang kembali mengecek dahi anaknya.
"Tak panas pun. Sakit perut kah?" tanya Adinda kembali.
"He'em." jawab Giska lirih, di tengah tangis manjanya.
"Ya udah Mamah ambil obat mag dulu. Kau dari kemarin makannya tak teratur sih! Kemarin cuma makan sekali kan? Cuma makan siang aja jam 2 itu kan?" sahut Adinda dengan mengamati wajah kacau anaknya.
Giska mengangguk samar, "Mau Papah, Mah." balas Giska kemudian.
"Papah lagi ngurus adik-adik kau." jawab Adinda dengan bangkit dari posisinya.
"Mamah aja yang urus mereka. Papah suruh urus aku aja." rengeknya dengan suara yang bergetar.
Adinda menghela nafasnya, kemudian melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar.
Tak lama, Adi muncul dengan mengusap keringat di pelipisnya.
"Yang kuat-kuat, Sayang." ucap Adi menyanyikan bait lagu yang ramai di sosial media. Ia mencoba menghibur anaknya yang berderai air mata tersebut.
Namun, saat Adi duduk di tepian tempat tidur anaknya. Giska langsung bangkit dari posisinya, kemudian memeluk erat tubuh ayahnya.
"Manja betul tuh, sakit perut aja juga. Kunyah obatnya nih, terus makan sarapannya." ujar Adi sedikit tegas, dengan mengusap surai anaknya yang berantakan.
Giska membuka mulutnya, dengan Adi yang langsung menyuapkan satu tablet obat berwarna hijau kebiruan.
"Papah ngomong apa sama bang Adi? Bang Adi tak balas-balas chat aku." ungkapnya membuat Adi geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Kau betul sakit perut, atau sakit karena mikirin Adi?" sahut Adi dengan memperhatikan anaknya, yang tengah mengusap air matanya tersebut.
"Aku sakit perut juga, Pah." balasnya dengan mengikat asal rambutnya.
"Papah tak ngomong apa-apa. Kemarin ngobrol biasa aja, terus dia pamit itu." ujar Adi kemudian.
"Tak ada kuota kali dia. Sana bersih-bersih badan, terus sarapan." lanjut Adi dengan berjalan ke arah jendela anaknya.
"BANG...."
"ABANG...."
Adinda memanggil suaminya dengan suara yang begitu menggelegar.
"HEI ADI!!! JURAGAN SOMBONG! MENTANG-MENTANG ANAK PEREMPUAN SATU-SATUNYA, KAU MATOK MAHAR SEGITU TINGGINYA. BELUM AJA ANAK KAU ITU TAK LAKU!" teriak seseorang, yang membuat Adi berlari ke sumber suara.
Giska yang mengenal suara tersebut, langsung terburu-buru meraih hijabnya. Kemudian ia mengenakannya asal, sembari berlari ke arah halaman depan rumahnya.
"Bertamu baik-baik ya, Pak! Anda ini sebetulnya ada masalah apa?" tanya Adi, dengan meladeni orang yang berada di halaman rumahnya.
"Anak saya sakit, dia minum B*ygon. Dia maksa sama saya buat nyiapin lima puluh mayam, buat mahar anak kau itu. Tiap hari aku kasih paham dia, dia tak mau dengar. Sampek dia nekat, kalau saya tak mau sanggupi itu. Dia beneran minum B*ygon. Hari ini kebukti, dia sekarat di rumah sakit." jawab pak Zuhri dengan berapi-api.
Pria yang umurnya berjarak lima belas tahun lebih tua dari Adi tersebut, terlihat begitu marah pada Adi.
Giska langsung memeluk ibunya, yang berdiri di belakang tubuh ayahnya.
"Mah..." suara Giska yang terdengar tidak stabil.
"Masuk, Nak! Masuk!" pinta Adinda yang dituruti langsung oleh Giska.
"Saya tak mau tau! Ini gara-gara Anda. Kalau anak saya tak selamat. Anda bakal saya tuntut ke pengadilan!" ancam pak Zuhri, sebelum dirinya berlalu pergi.
Adi hanya terdiam, karena ia merasa amat bingung dengan situasi saat ini.
"Gimana memang, Bang?" tanya Adinda, dengan menyentuh punggung suaminya.
Adi menoleh ke arah Adinda, yang berpindah ke samping kanannya.
"Bikin teh manis dulu gih. Biar enak ngobrolnya." sahut Adi kemudian.
Adinda mengangguk, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah. Untuk membuatkan teh yang suaminya minta.
Terlihat Giska masih berdiri di ambang pintu, Adi berjalan menghampiri anaknya. Lalu mengajaknya duduk di ruang tamu.
__ADS_1
Tangis Giska pecah kembali, saat ia mendapat usapan lembut di punggungnya.
"Gimana kalau bang Adi tak selamat, Pah?" ucap Giska, dengan memeluk pinggang ayahnya.
Adi menghela nafas beratnya, "Insyaa Allah dia tak apa-apa. Papah pernah nelen 10 butir Paracetamol pas sakau aja tak apa-apa. Cuma memang pingsan aja beberapa hari, mulut berbuih." balas Adi santai.
"Kenapa Papah bodoh kali? Mau bunuh diri, nelen obatnya yang generik." ujar Giska, yang membuat Adi terkekeh geli.
"Papah tak tahan rasanya sakau, jadi pengen mati aja. Untungnya tak mati waktu itu, diselametin sama bundanya bang Haikal." tutur Adi kemudian.
Adinda muncul, dengan tiga gelas cangkir yang asapnya mengepul.
"Nih, buburnya. Teh manisnya." tukas Adinda, dengan memindahkan barang yang berada di nampan yang ia bawa.
"Nanti, Mah. Obatnya baru hilang di mulut." ucap Giska dengan melepaskan pelukannya pada ayahnya.
"Jadi gimana, Bang?" tanya Adinda, dengan memperhatikan wajah frustasi suaminya.
"Abang tak minta mahar tinggi gitu, Dek. Abang tak ada bilang harus lima puluh mayam, kek gitu-gitu." jawab Adi, yang teringat akan tuduhan pak Zuhri.
"Tadi yang datang itu siapa? Terus memang siapa anaknya yang masuk rumah sakit itu?" Adinda memperjelas kebingungannya, atas pertanyaan yang muncul di benaknya.
Adi melirik sekilas anaknya, yang tengah bersandar pada lengan kokohnya.
"Laki-laki yang hari itu datang, yang sarungan sama kaos panjang puteh itu. Dia... Anaknya bapak itu. Bapak itu namanya pak Zuhri." jelas Adi, yang urung mengatakan bahwa Zuhdi adalah kekasih anaknya.
"Terus?" tanya Adinda, yang tengah memusatkan fokusnya pada suaminya.
"Anaknya namanya Zuhdi, dipanggil Adi. Dia naksir Giska, dia minta ngikat Giska akhir bulan nanti." jawab Adi yang membuat mulut Adinda membentuk huruf O.
"Terus, terus?" balas Adinda, yang penasaran mendengar cerita suaminya.
"Ya... Anaknya pekerja keras sih. Pandai nabung juga. Abang juga ada tanya-tanya ke kawan Abang, yang jadi tetangganya dia. Ya katanya Zuhdi ini, orangnya tekun. Jadi misalkan diajarin masak, dia bakal usaha terus biar dia jadi chef." ujar Adi kemudian.
Adinda manggut-manggut, "Jadi dia chef Arnold gitu macamnya? Badan gagah, tapi pandai betul masak." tutur Adinda yang masih fokus menatap wajah suaminya.
"Bukan, Dek. Dia, kuli bangunan." tukas Adi yang mendapatkan pekikan kaget dari Adinda.
"Hah?"
......................
Ini akhir scene-nya lucu, besok mesti baca ulang biar dapat humornya 😆
__ADS_1