
"ABANG BOSAN HIDUP?!!! PENGEN AKU KULITIN? APA MAU AKU PISAHKAN URAT SAMA LEMAKNYA?" seruan Adinda, saat melihat pemandangan wanita molek yang suaminya dekap.
Anak-anak bujang Adi, langsung bergegas menuju ke ibunya. Mereka teringat, akan sikap dan tindakan ibunya yang tidak bisa ditebak.
Adinda meraih vas bunga keramik, yang berada di sisi lemari hias.
"Nah… kau ladeni itu istri aku! Aku kasih tau ya… ini karyanya. Pembuluh darah daerah mata sampek pecah, bikin bagian bawah putih mata aku jadi berwarna merah darah hampir sebulan lebih. Terus tiga jahitan, yang dijahit dengan posisi aku masih sadar." ungkap Adi, dengan menunjukkan luka yang menjadi kenang-kenangan hidupnya. Ia memajukan tubuh wanita tersebut. Kemudian dirinya memundurkan langkahnya, untuk berjaga agar Rara tak bisa kabur.
Fokus Rara terbagi, pandangan matanya tetap tertuju ke arah Adinda yang berapi-api. Sedangkan telinganya menyimak, tentang yang Adi ucapkan.
"Maaf, Mbak. Aku sama suami Mbak gak ngapa-ngapain. Masnya tadi nyered-nyered aku biar masuk." ungkapnya dengan posisi tangan memohon.
"BOHONG!!! KAU KIRA SUAMI AKU LAKI-LAKI LUMAYANAN? LAGIAN KAU NGOTAK!! DIA UDAH TUA BEGITU, PASTI PUNYA ISTRI, PASTI PUNYA ANAK. KAU YANG MUDA, NYARINYA YANG MACAM DIA BEGITU???!!! BELUM PERNAH KENA SANTET YA KAU?!!! MAIN-MAIN KAU SAMA AKU?" teriak Adinda, yang malah membuat Adi terkekeh geli di belakang wanita tersebut.
Anak-anak Adi merasa heran, dengan drama kali ini. Apa lagi anak laki-laki mereka mengetahui, bahwa wanita tersebut adalah seseorang yang mengantarkan paman mereka.
Prang…..
Adinda melemparkan vas bunga keramik, ke arah wanita tersebut. Sayangnya, vas bunga tersebut terjatuh lebih dini sebelum mengenai Rara.
Rara mengusap-usap dadanya, ia tertekan dengan kondisi saat ini. Ia merasa amat bingung, karena dirinya dimaki dan diteriakan oleh perempuan yang tak ia kenal.
"Demi Allah, Mbak. Aku sama Mas tadi gak saling kenal, aku dijebak di sini." ungkapnya dengan mundur satu langkah.
__ADS_1
Semua penghuni rumah keluar dari tempatnya, tak luput dengan Benazir yang baru mengurus suaminya.
"Aduh, Dinda… jantung Umi pindah ke dengkul. Ada apa sih? Kau doyan kali ngamuk-ngamuk." ucap ibu Meutia, dengan menghampiri Adinda yang tengah dirundung emosi tersebut.
"KAU MASIH GADIS KAN?" tanya Adinda, yang masih konsisten pada suara tingginya.
Rara langsung mengangguk, saat Adinda menanyakan itu dengan menunjuk padanya.
"KAU TAK LAKU KAH, GADIS??? SAMPEK SUAMI ORANG KAU GANGGUIN??! KAU TAK LAKU KAH SAMA PERJAKA ATAU DUDA? SAMPAI HATI KAU USIK RUMAH TANGGA ORANG? KAU KALAH SAMA AKU YANG JANDA, MALAH DULU BISA DAPATKAN BUJANG KAYA. TANPA BERPAKAIAN MINI, TANPA NGUMBAR AURAT DI DEPAN UMUM, AKU BISA DAPATKAN ITU!!! KAU TAK MIKIR KAH, LAKI-LAKI YANG KAU DEKATIN ITU BEKAS AKU, BEKAS ISTRINYA?! LEPAS DIA MASUKIN AKU, TERUS PUNYANYA DI MASUKKAN KE MULUT KAU. KAU TAK JIJIK, BATANG YANG KAU S*PONG ITU, SAMA DENGAN YANG MASUK KE INTI AKU? DIA BEKAS AKU, BARANG BEKAS YANG KAU NIKMATI DI MULUT KAU. BARANG BEKAS YANG KAU JILATI TANPA JIJIK. BARANG BEKAS ORANG, YANG MASUK KE INTI KAU!!!"
"KAU INI PEREMPUAN, KAU SAMA KEK AKU PEREMPUAN JUGA. TAPI DENGAN KAU KEK GINI, KAU NGERENDAHIN DIRI KAU SENDIRI! KAU INGAT INI YA!!! AKU DIMULIAKANNYA, DENGAN SEMUA JERIH PAYAHNYA. SEDANGKAN KAU, KAU CUMA DIJADIKAN SEBAGAI HIBURANNYA! AKU YAKIN SUAMI AKU TAK MUNGKIN GAMPANG TERGODA, APA LAGI SAMA YANG HARGA 200 RIBUAN AJA. TAPI AKU TAK YAKIN JUGA, KARENA NYATANYA KAU LEBIH TERJANGKAU DARI AKU. HARGA DIRI KAU LEBIH BISA DINEGO, KETIMBANG MAS KAWIN AKU."
Rara terduduk, dengan tangis pecahnya. Ia merasa tertampar tanpa sentuhan, karena makian pedas dari Adinda. Ia pun masih tak mengerti, kenapa dirinya dimaki sedemikian rupa. Karena dirinya merasa, dirinya memang tak memiliki hubungan khusus dengan suami perempuan yang memarahinya habis-habisan tersebut.
"Makasih, Kak…" ungkap Benazir yang tiba-tiba memeluk erat tubuh Adinda.
"Apa lagi kau? Kau mau aku maki juga?" sahut Adinda, dengan emosi yang belum meredam.
"Dia Rara yang aku ceritain, dia yang gangguin hubungan aku sama Edi." balas Benazir, yang membuat Adinda langsung menatap tajam suaminya.
"Kau bikin aku tak sopan di depan orang, ADI RIYANA??!" seru Adinda, dengan melepaskan pelukan Benazir. Lalu dagunya sengaja dinaikkan, dengan menunjuk pada suaminya yang masih berdiri tegap di belakang wanita yang sesenggukan tersebut.
"Tak, Dek. Lagian Adek langsung marah-marah aja. Rupanya cinta betul sama Abang, sampek orang tak kenal, Adek maki habis-habisan." sahut Adi dengan cengengesan.
__ADS_1
Adinda melangkahkan kakinya, menuju wanita yang sesenggukan tersebut. Lalu ia menekuk lututnya, untuk bisa memeluk wanita tersebut.
"Aku minta maaf, tapi lebih baik kau pun punya otak. Maaf mulut aku kasar betul, tapi lebih baik di pikirkan kembali." ungkap Adinda, dengan menaikan dagu wanita tersebut dengan jarinya.
"Edi utangnya banyak, sama aku aja ada 500 juta sekian. Itu baru utang yang terhitung, belum lagi utang yang kak minjem dulu dua puluh ribu, soalnya aku lagi tak ada receh. Ada beberapa kali dia begitu, kalau aku lagi di sini. Kalau kau masih mau bertahan sama Edi, lepas ini kau harus open BO. Biar bisa berjuang bareng-bareng, buat lunasin utang-utangnya Edi. Istrinya aja udah malas-malasan, ngurusin Edi. Karena Edi warisannya udah habis, buat dipakek nyawer kau. Kita perempuan mau gimana lagi coba? Kalau warisan suami, udah tak bisa diharapkan lagi. Mending kau cari guru, TNI, polisi, yang punya pensiunan." lanjut Adinda kemudian.
"Tapi guru, TNI, polisi juga. Pensiunannya buat istri sahnya, Dek." timpal Adi yang menyimak jelas ucapan istrinya.
"Nah, itu. Berartikan, kau harus layak dong buat jadi istri sahnya guru, TNI, polisi. Tak mungkin juga, mereka nikahin perempuan yang pakek pakaian kurang bahan. Kalau bapak TNI, nanti dia bingung mikirin seragam ibu bhayangkarinya. Masa dimodel kek anime jepang, ya nanti tak elegan dong." balas Adinda, yang membuat Rara tekekeh tipis.
"Aku sih tetep, sekalipun janda juga… bakal nyarinya yang perjaka dulu. Biar tetangga pada salut sama aku. Masalah warisan, biar didoakan setelah tau keluarganya aja. Maksudnya doakan cepat terbagi warisannya." lanjut Adinda, yang membuat semua orang yang berada di situ terkekeh geli.
Ibu Meutia yang mengetahui tentang mulut Adinda, sudah tak aneh lagi dengan candaan seperti itu.
"Kalau suami orang, kau pikir juga kehigienisannya. Istri-istri itu, kadang bau ikan asin karena kadang lupa mandi. Kau tau, kenapa suami orang bisa disebut tak higienis? Karena mereka hajar aja, itu para istri-istri yang lupa mandi itu. Kau nanya, apa mereka para suami tak jijik? Jawabnya tak jijik, karena yang penting berlubang. Makanya, ada kau yang bisa dinego 120 ribu dapet. Ya mereka itung-itung makan sate di luar, udah kenyang mereka pulang. Pulangnya ke siapa? Ya jelas ke istrinya lagi, perempuan yang ia hidupi dengan jerih payahnya."
"Coba tengok Bena sekarang. Dia campuran Turki, Indonesia. Makin cantik kan, karena Kakak ipar yang suka minjemin uang ini ajak dia perawatan. Itu yang bekas merah di wajah, itu bekas DNA salmon itu. 18 juta loh, sekali treatment. Satu botol obat yang disuntikkannya harganya 6 juta. Itu wajah Bena, butuh tiga botol."
"Misal kau masih sama si teumbon Edi. Terus kau hamil, jadi terpaksa dinikahinya. Kau ingat kan rupa Bena yang kucel kemarin? Nah, kau pun bakal kek gitu kalau gantiin posisi Bena. Bena yang janda karena kau, jadinya cantik karena tak terikat dan tak nyabarin uang recehnya Edi lagi."
"Kau paham sampek sini? Apa mau ikut kelas makian aku lagi?"
Tegas Adinda, dengan mencengkram rahang Rara.
__ADS_1
......................
*Teumbon : Tambun, gemuk.