
"Kau dokter, Kin!!! Kau punya tanggung jawab, di tempat kau tugas. Pergi tanpa pamit, di kerajaan tanpa keterangan." ucap Haris yang kian terdengar ke telinga Adinda.
Isakan kecil terdengar, yang berasal dari dekapan Adi. Kinasya bersembunyi di sana. Gadis yang terlihat kuat tersebut, nyatanya memiliki ketakutan yang tinggi pada ayahnya sendiri.
"Dokter tuh Kin, harus punya tanggung jawab, harus punya komitmen. Karena taruhannya nyawa orang, nyawa kepala keluarga, yang cari penghidupan buat keluarganya. Nyawa ibu, yang jadi jantung dan panutan anak-anaknya. Nyawa anak-anak, dengan si orang tua yang mendoakan kesehatan dan keselamatannya. Nah, itu semua lewat tangan kau."
"Ada masalah sama Abi, kewajiban kau tinggalkan gitu aja. Kau tak ingat kah, orang yang baru masuk ruang IGD udah ngorok? Kau tak ingat kah, mereka yang datang dengan keadaan panik? Kau takut sama Abi, tapi tolong jangan pernah tinggalkan kewajiban kau, ingat sumpah kau. Kau tak berpikir kah, bagaimana kacaunya di sana? Di ruang IGD kau?"
Haris menarik oksigen lebih banyak, kemudian ia menghembuskannya secara perlahan.
"Maaf, Abi."
Suara lirih, yang menggetarkan si keras hati Haris.
"Pulang, ikut Abi, tunaikan kewajiban kau. Keputusan yang kau ambil, yang dari awal Abi selalu tanyakan." pinta Haris, dengan mendekati tubuh anaknya.
"Aku tertekan, Bi. Aku tak bisa nikmati damainya rumah. Karena setiap kali aku di rumah, aku selalu dengar ucapan tentang aku adalah anak yang diungsikan."
"Aku minta maaf, Bi. Kalau ibu aku datang sebagai perusak rumah tangga Abi sama Umi."
Adinda baru menyadari, bahwa Sukma tengah berdiri di ambang pintu kamar tamu. Saat pandangan mata mereka semua, tertuju ke arah Sukma.
Terlihat Haris tengah berkomunikasi dengan Sukma, lewat isyarat mata mereka.
"Kita selesaikan dulu masalah kita. Abi tanya, kau mau ikut Abi pulang tak?" tanya Haris, kembali berfokus pada anak gadisnya.
"Tak, Bi. Aku mau tenang, tanpa makian anak ungsian." jawab Kinasya kemudian.
Haris menyugar rambutnya ke belakang, kemudian ia terduduk di sofa single ruang tamu.
"Duduk, duduk!" pinta Adinda, dengan menyentuh lengan suaminya. Kemudian Adinda melambaikan tangannya pada Sukma, memintanya untuk duduk bersama.
"Sini, Nak. Sama Umi." ujar Sukma, dengan menepuk tempat di sebelahnya.
Kinasya mengangguk, kemudian ia berpindah ke sebelah ibunya. Ia duduk di antara Adinda dan Sukma.
"Cut... Tolong buatkan minuman hangat." pinta Adi sedikit berseru, dengan melongok ke arah ruang keluarga.
"Ya, Pah." samar-samar sahutan terdengar, entah dari mana keberadaan Icut.
__ADS_1
"Kapan kau siap menikah, Nak?" tanya Sukma, dengan merangkul pundak anaknya. Usapan lembut pun ia berikan, pada lengan anaknya yang terbentuk indah.
Kinasya memeluk tubuh Sukma, ia butuh sandaran yang seperti ini. Yang mampu membuatnya nyaman, yang mampu menenangkan hatinya.
"Aku tak punya pasangan, Mi. Udah putus tiga bulan yang lalu." jawab Kinasya kemudian.
Senyum Sukma mengembangkan, mencoba memberi keyakinan pada diri Kinasya.
"Kinasya anak baik budi, anak sholehah, anak pandai, Kinasya anak Umi. Maaf ya, Umi dulu pergi tanpa Kin juga abang Ken. Bukan karena ibunya... Kin juga. Bukan, Nak. Ibu Kin orang baik, sama kek Kin juga." ungkap Sukma perlahan.
Kinasya melepaskan pelukannya, ia menatap tak percaya mendengar ungkapan Sukma.
"Jadi betul aku bukan anak Umi?" urat wajah Kinasya begitu sendu.
Sukma tersenyum manis, ia mencoba memeluk anak itu kembali. Namun, Kinasya menolak pelukan nyaman itu.
"Aku... Aku anak siapa, Mi?" suaranya bergetar, menahan tangis dan rasa gemetar.
"Anak siapapun Kin, tak merubah kenyataannya bahwa Umi sama Abi tetap orang tua Kin." ucap Adi, ia mencoba memberi pemahaman pada Kinasya.
Kinasya menggulirkan pandangannya ke arah Adi yang duduk seorang diri. Adi memancarkan senyum damainya, untuk menenangkan Kinasya.
"Bukan diungsikan, Umi sama Mamah Dinda saksinya. Masa rundingan keluarga pun, Papah Adi kau lagi ada di rumah Abi." ujar Haris, menyeret kedua nama tersebut untuk membantunya menjelaskan pada Kinasya.
"Udah aku aja yang jelasin, pada saling ngelempar!" ketus Adinda, membuat mereka semua terkejut sesaat.
"Jadi gini, Kin. Masa itu...
"Nitip, Kak." Adinda memamerkan senyum mautnya, saat dirinya meminta bantuan Sukma untuk menjaga anak semata wayangnya.
"Hufttt......" helaan nafas lelah Sukma, dengan menyeka keringat yang membasahi pelipisnya.
"Mau ke mana? Baru juga pulang kerja, udah mau pergi lagi." Sukma ingin tujuan wanita muda itu jelas. Sehingga ia direpotkan pun, tak sia-sia jika Adinda mendapatkan hasil dari usahanya.
"Mau gym, biar bagus badan guehhh. Biar dapat bujang." Adinda tertawa lepas, begitu menyelesaikan kalimatnya.
Namun, Adinda hanya tertawa seorang diri. Membuat tawa senangnya, terhenti seketika. Ia memperhatikan wajah murung Sukma, bercampur dengan lelahnya mengasuh Kenandra yang sering nangis tidak jelas.
"Kenapa sih, Kak? Ngelamun terus." celetuk Adinda, membuyarkan lamunan Sukma. Karena janda muda itu, menggoyangkan lengannya cukup kuat.
__ADS_1
"Bang Haris diminta pulang ke keluarganya, belum balik juga udah dua hari sekarang. Kalau balik tuh, takut berantem, takut kena gampar lagi. Tapi kalau tak nampak di mata tuh, rasanya khawatir terus, mana tak ada kabar." ya, Adinda mengetahui perihal kebiasaan suami seseorang yang ia anggap kakak tersebut. Yang mudah marah, juga selalu menumpahkan amarahnya dengan daratan telapak tangan yang melayang.
Tin.... Tin... Tin....
Mobil milik Haris, membunyikan klakson beberapa kali dari depan pagar.
Dengan sigap Sukma langsung berdiri dan berjalan ke arah pagar, untuk membukakan gerbang tersebut.
Mobil pun masuk, disusul dengan Sukma yang menutup kembali pintu gerbang rumah barunya.
"Abi...."
"Abi sholeh alhamdulillah...."
Kenandra berlari ke arah panutan hidupnya, kemudian memeluk kedua kaki yang baru keluar dari mobil.
"Ada kejutan buat Bang Ken." ucap Haris dengan mengangkat tubuh anak satu-satunya.
Ia berjalan ke arah pintu mobil lainnya, kemudian membukakan pintu tersebut.
"Ih, Tante Shalwa Kebab." ucap Kenandra yang saat itu masih begitu periang.
Sukma mengerutkan keningnya, mendengar anaknya menyebutkan nama adik iparnya.
"Bisa tak? Sini Abang bantu." ajak Haris, yang mengundang penasaran hati Sukma.
Sukma melebarkan matanya, saat mendapati Shalwa yang memiliki perut sedikit cembung. Namun, ia tak menayangkan langsung hal itu pada suami dan adik iparnya. Ia memilih bungkam, kemudian mengajak adik iparnya untuk masuk ke dalam rumah mereka.
"Nyaman tak perutnya? Malam nanti kita langsung USG aja, biar tau keadaan bayi kau. Takut kenapa-kenapa, abis perjalanan jauh, mana naik pesawat lagi." tutur Haris, saat mereka semua duduk di ruang tamu.
Adinda hanya terdiam, sesekali tersenyum ramah pada tamu yang tak ia kenali. Givan kecil pun, tengah sibuk dengan ikan dalam toples bekas sosis.
"Tak apa-apa kok, Bang. Tak sakit, biasa aja. Memang capek duduk lama aja." tukas Shalwa, dengan suara lemahnya. Haris memahami adiknya benar-benar kelelahan, apa lagi Shalwa dalam keadaan berbadan dua.
"Bikin kopi, Cantik." pinta Haris, dengan mencolek dagu istrinya.
Ia menyunggingkan senyum bahagianya, seolah-olah luka yang didapat Sukma sebelum dirinya pergi tak berbekas di hati Sukma.
Sukma mengangguk, lalu ia berjalan ke arah dapur. Tak disangka, sang suami malah mengikutinya ke arah dapur.
__ADS_1
......................