Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS116. Drama kembang pepaya


__ADS_3

"Kaya gini?" tanya Canda, dengan mencontohkan seperti yang suaminya inginkan.


Matanya melihat ke atas, dengan bibir bagian bawahnya yang lenyap seketika karena tertutupi bibir bagian atasnya.


Givan melebarkan matanya, merasa bahwa istrinya benar-benar bodoh. Lalu tawanya pecah seketika, sampai ia memegangi perutnya yang ikut bergerak naik turun.


"Ya ampun. Rasanya mau over kredit istri aja, mau nyari janda aja." ujarnya di sela tawanya.


Canda yang tidak mengerti letak kesalahannya, ikut menyuarakan tawa gelinya. Saat melihat suaminya begitu bahagia mentertawainya.


"Apa yang lucu sih, Mas?" tanya Canda, saat tawa mereka menurun sejenak.


Givan menyentuh lengan istrinya, dengan Canda yang menoleh cepat pada suaminya.


"Gini nih." jawab Givan dengan mencontohkan, bagaimana caranya terlihat seksi dengan menggigit bibir bawah dan pandangan ke atas.


"Bukan kaya gini." lanjutnya dengan menirukan yang Canda lakukan tadi.


Canda baru mengetahui letak kesalahannya, tetapi ia malah terbahak-bahak. Karena melihat Givan menirukan dirinya tadi.


"Mas, aku pasti jelek banget tadi?" tutur Canda, dengan mencoba menurunkan suara tawanya.


Givan yang masih terkekeh geli, semakin menjadi mendengar penuturan istrinya barusan.


"Bukan jelek lagi, kau nampak konyol!" tukas Givan dalam tawanya.


Rasa cinta yang sebenarnya sudah mereka rasakan, sensasinya tak terlihat oleh kedua pasangan pengantin baru tersebut. Karena mereka terus memperdebatkan tentang perasaan satu sama lain, yang seharusnya mereka pertanyakan pada diri masing-masing.


~


Mereka semua tengah menikmati sajian makan malam. Namun, suasana menjadi sangat kacau. Saat Givan mulai menyuapkan sesendok masakan hasil istrinya.


"Kembang pepaya yang ambil di rumah Ahya kemarin ini?" tanya Givan, setelah meneguk air putih dengan terburu-buru.


Canda mengangguk, "Iya, Mas. Baru sempet di masak sore tadi, jam tigaan. Paginya kan, aku masak usus itu." jawab Canda, yang merasa heran dengan raut wajah suaminya.


"Mah... Coba cicipin." pinta Givan, dengan memberikan sepiring tumis kembang pepaya yang istrinya masak tumis.


Adinda mengambil sedikit dalam sendoknya, lalu mengunyah perlahan dalam mulutnya.


Tiba-tiba Adinda langsung meraih tisu, lalu melepehkan hasil kunyahannya dalam tisu tersebut.


"Kau tak olah dulu kah, Canda?" tanya Adinda, dengan meneguk air putih di gelas milik suaminya.


Adi yang hendak minum, langsung menatap kesal wajah istrinya. Yang tiba-tiba menyerobot air miliknya tersebut.

__ADS_1


"Kaya Mamah masak waktu itu kan? Papah coba cicipin, Papah waktu itu lahap banget makan masakan tumis kembang pepaya Mamah." ujar Canda, dengan memberikan ayah mertuanya hasil masakannya.


Adi menelan kasar, tumis kembang pepaya yang menantunya masakan tersebut.


"Ini belum diolah?" tutur Adi, dengan menggigit tahu goreng pelengkap lauk malam ini.


"Diolah gimana sih?" tanya Canda dengan menggaruk kepalanya yang terlapisi hijab asal menempel, seperti ibu mertuanya.


"Kan direbus dulu pakek air garam, biar tak pahit." jawab Adinda, di atas kebingungan menantunya.


"Ohh..." Canda manggut-manggut, lalu terkekeh kecil dengan menutupi mulutnya.


Givan geleng-geleng kepala, melihat kebodohan istrinya kembali.


"Pah, katanya butuh istri muda buat ngasuh dua balita Papah. Tuh, aku over kredit Canda. Full set, minus tiga kali pemakaian aja. Barang kali minat?" ungkap Givan, yang langsung mendapat cubitan pelan dari istrinya.


"Dari semalam, aku mau dijualnya terus Mah." adu Canda pada ibu mertuanya.


"Ya kau, yang betul lah. Masak kembang pepaya, udah macam bikin jamu. Horor betul rasanya, Canda! Kau tak tanya Mamah dulu, kalau kau tak bisa masaknya." ucap Adinda, yang membuat Canda malu sendiri.


"Waktu itu Mamah masak kembang pepaya, Gavin sampek ikut makan. Pada lahap-lahap semua, makan sama tumis kembang pepaya Mamah. Pas aku masak, malah gak laku." sahut Canda yang membuat Givan merasa kasihan pada istrinya.


"Ya udah, sini-sini. Biar Mas makan." balas Givan, dengan menuangkan segelas air putih kembali.


Adi dan Adinda geleng-geleng kepala, melihat drama dari anak sulung mereka.


"Besok-besok, kalau masak ini. Ikuti saran Mamah itu, direbus dulu pakek garam yang banyak. Biar tak pahit macam ini." ujar Givan, dengan mengunyah makanannya.


"Ok, Mas. Nanti aku olah dulu, kalau masak kembang pepaya lagi." sahut Canda dengan senyum yang terpatri indah.


"Mulai bucin." tuduh Adi lirih, yang membuat semua mata tertuju ke arahnya.


"Apa?" tanya Adi yang terlihat santai saja, dengan melanjutkan acara makannya.


"Tak bucin ya aku, Pah. Memang Papah, yang bucinnya mendarah daging." elak Givan, setelah mengunyah lauk lain untuk menghilangkan rasa pahitnya.


"Biarin bucinnya mendarah daging, yang penting istri mau dihamili berkali-kali." sahut Adi dengan sombongnya.


Adinda menepuk pundak suaminya, kemudian terkekeh bersama.


"Ini jadi yang ke berapa, Dek?" tanya Adi dengan mengusap perut istrinya.


"Entah. Hamil ya nerima, tak hamil ya tak apa juga." jawab Adinda enteng. Pasalnya dirinya sudah amat tersiksa dengan pengaruh KB. Membuatnya berpikir bahwa anak adalah rejeki tanpa harus di KB, dirinya tak akan hamil jika belum rejekinya.


"Giliran aku. Jangan sampek, pamannya anak aku lebih muda nanti." sahut Givan, yang membuat suasana makam malam kali ini begitu asik.

__ADS_1


"Adek Gibran mau punya adek lagi tak?" ujar Adi, dengan mengusap kepala anaknya yang duduk di sebelahnya.


Gibran mengangguk, tanpa menjawab pertanyaan ayahnya.


"Tuh, dia aja tak masalah Van." tutur Adi kemudian.


"Ya aku yang bermasalah. Nanti pasti anak-anak yang kecil begini, akhirnya aku yang harus urus mereka di sekolah." tukas Givan dengan menunjuk kedua balita Adi.


Adi terkekeh geli, kemudian melanjutkan sesi makannya hingga selesai.


~


Beberapa hari kemudian.


Adinda memperhatikan Giska dan Zuhdi, yang baru sampai di kediamannya.


"Udah dapat, Dek?" tanya Adinda pada anaknya, yang baru turun dari motor.


Giska mengangguk, lalu berjalan ke arah ibunya.


"Sini dulu, Bang." ajak Giska, dengan memperhatikan laki-lakinya yang tengah menstandarkan motornya.


"3,2 juta, model rata gini aja Mah." ujar Giska, dengan menunjukkan kotak beludru berwarna merah gelap tersebut.


Adinda melihat isi kotak tersebut, kemudian memperhatikan modelnya begitu lekat.


"Mas tua kah, Di?" tanya Adinda, pada Zuhdi yang berjalan menuju ke arahnya.


Zuhdi mengangguk, "Ya, Mah. Mas muda 2,7 udah dapat 1 mayam. Yang sedang, campuran gitu 2,9. Tapi perasaan warnanya macam xuping gitu, warna gold-nya kaya semprotan." jawab Zuhdi, dengan duduk di sebelah kekasihnya.


"Bikinin minum dulu gih! Mamah lagi jagain adik-adik kau." pinta Adinda pada anak gadisnya.


Giska mengangguk, lalu berlalu pergi. Dengan memberikan kotak beludru miliknya, pada kekasihnya.


"Kau ada uang segitu, Di? Nanti ngurangin tabungan kau lagi." ucap Adinda, saat Giska sudah masuk untuk membuatkan minuman.


"Ada, Mah. Hasil kerja bulan ini. Tabungan aku di Bank, sengaja tak pakek ATM biar susah ambilnya. Jadi, aman lah. Tak ngacak-ngacak uang tabungan aku." sahut Zuhdi, yang duduk berjarak satu meter dari calon ibu mertuanya.


"Nanti Giska juga Mamah minta dia nabung, buat bantuin biaya kau. Kasian juga sama kau, uangnya besar betul. Mana emasnya nilainya selangit lagi. Papah Giska memang begitu orangnya, Di. Waktu nikahan Mamah aja, sunting yang di kepala Mamah. Dibuat dari emas murni, sampek berat betul beban di kepala." ungkap Adinda, mengingat kembali tentang cerita pernikahannya.


"Katanya jeulame juga pakeknya ladang ya, Mah?" tutur Zuhdi, yang diangguki Adinda.


"Nikah pertama, ladang sembilan hektare. Nikah yang kedua, maharnya sunting yang di kepala itu. 3,5kg emas murni." tukas Adinda, yang membuat Zuhdi merasa takjub dengan calon ayah mertuanya itu. Yang ternyata begitu memuliakan seorang wanita, yang ia cintai.


......................

__ADS_1


__ADS_2