Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS183. Mie ayam


__ADS_3

Ghifar merasa tidak enak, saat melihat Canda dan kakaknya berduaan di dapur. Ia merasa menjadi pengganggu keromantisan suami istri tersebut.


"Makan, Far." ucap Givan, saat melihat Ghifar berdiam diri.


Givan menyangka, adiknya belum bisa melupakan istrinya. Karena terlihat sekali di matanya, Ghifar yang selalu menghindari Canda.


"Ya, Bang." Ghifar yang sudah tepergok, terpaksa melanjutkan langkah kakinya.


Ia berdiri di samping Canda yang tengah memasak di depan kompor, sedangkan dirinya tengah mencuci mangkuk bekas makan Mikheyla.


"Istri-istri kau masak apa, Far?" Ghifar terdiam sesaat, menyelami pertanyaan kakaknya.


"Masak sayur bayam." namun, nyatanya yang memasak adalah dirinya.


Yoka dan Tika benar-benar malu untuk berada di dapur. Mereka begitu segan pada Adi dan Adinda. Mereka merasa tidak enak, dengan tatapan yang Adi berikan.


Bau masakan Canda menusuk hidung Ghifar, ia mengenali masakan yang satu ini. Masakan yang sering Canda bawakan ke tempat kerjanya dulu.


***** makannya tergugah, tapi ia sangat tidak selera untuk makan sayur bayam yang ia buatkan untuk Mikheyla.


Ghifar lekas mencuci tangannya, setelah ia selesai mengucek mangkuk Mikheyla. Ia bergegas pergi, meninggalkan dapur tersebut.


Secepat kilat ia meraih kemejanya yang tergolek di sofa ruang keluarga, kemudian mengenakannya. Itulah kebiasaan buruknya ketika berada di rumah, ia selalu bertelanjang dada.


"Pah... Kunci motor aku ke mana?" seru Ghifar di depan pintu kamar orang tuanya.


Adi muncul dengan penampilan yang cukup menawan. Kini celana jeans terpasang gagah yang dipadukan dengan kemeja berwarna putih, Adi terlihat masih begitu pantas mengenakannya.


"Masih di motornya, di garasi motor kau. Ini uang, buat biaya adik-adik kau. Keknya Papah bakal lama. Terserah kau mau kek mana, yang penting adik-adik kau urus baik. Perhatikan Giska, kembar, Icut, itu amanah yang harus kau emban." Ghifar langsung menolak, satu gepok uang berwarna biru yang ayahnya berikan.


"Aku ada, Pah." Ghifar mengangguk, ia menyanggupi tanggung jawab yang ayahnya berikan.


"Adik-adik kau masih tanggungan Papah. Kau cukupi aja biaya hidup anak kau sama peliharaan kau." hati Ghifar mencelos mendengar kata peliharaan keluar dari mulut ayahnya.


Yoka dan Tika bukan peliharaannya, ialah yang membuat Yoka dan Tika seperti ini. Dia adalah penyebab utama dari musibah yang Yoka dan Tika dapat.


Ghifar menerima uang tersebut, ia tidak ingin berdebat terlalu jauh dengan ayahnya.


"Ati-ati, Pah." hanya itu yang bisa Ghifar ucapkan.

__ADS_1


Adi mengangguk, kemudian meninggalkan Ghifar. Dirinya menuju ke kamar anak-anaknya yang ingin mereka ajak berlibur. Rupanya liburan panjang, yang Adi rencanakan bersama istrinya.


"Mah... Berapa hari liburan?" tanya Ghifar, saat melihat bayangan ibunya di sela pintu yang terbuka setengah.


"Tadi rencananya tiga hari. Tapi keknya dua mingguan, balik-balik langsung ke rumah sakit buat sunat Gavin sama Gibran." Adinda muncul dari dalam kamar, dengan senyum lebarnya.


"Mau sunat yang bius total, Mamah pernah denger soal itu. Gavin tak pernah mau buat sunat, jadi kau bayangin aja kek mana histerisnya dia." lanjut Adinda kemudian.


Ghifar mengangguk, "Ya, Mah. Ati-ati di jalan." Ghifar melangkah menuju pintu penghubung ke garasi rumah itu.


Ia ingin mengeluarkan motornya, untuk berkeliling mencari makanan dan informasi di daerah itu. Karena, ia pun ingin mengembangkan usaha travelnya di kampung halamannya juga.


Ghifar mulai mengendarai motor yang ia minta dari orang tuanya. Motor berbodi bongsor keluaran pertama, yang langsung memikat hatinya saat itu.


"Makan aja dulu ah." tentu karena ia sudah merasa amat lapar.


Ghifar memesan mie ayam, yang bertempat di sebelah rumah pak Salim. Ia pun merasa heran, dengan pak Salim yang sudah tidak bekerja di rumahnya. Cukup aneh menurut Ghifar, karena Giska masih membutuhkan supir pribadi.


"Heh!" Ghifar menoleh ke bangku belakang, ia tidak memperhatikan jika ada seseorang yang ia kenal di sana.


Ghifar mengingat kembali, siapa nama orang bersangkutan. Ia kenal dengan wajah orang tersebut, tapi ia lupa dengan namanya.


Orang tersebut berpindah ke kursi panjang yang Ghifar duduki.


"Udah seminggu lebih di rumah." jawabnya yang masih berusaha mengingat nama orang tersebut.


"Giska sehat?" pertanyaannya, yang langsung teringat pada cerita tentang Giska gagal tunangan.


"Sehat, Bang. Lagi KKN dia." Adi, nama yang kini Ghifar ingat.


"Katanya balik kau bawa anak istri?" tanya Zuhdi, yang cukup mengejutkan Ghifar.


Ghifar berpikir sejenak, ia mengingat kembali tentang ayahnya yang menutupi tentang Yoka dan Tika.


"Ya, Bang. Siri." jawab Ghifar dengan tersenyum samar.


"Kalau aku main kek mana? Mamah papah lagi good mood tak?" Ghifar terkekeh, mendengar ucapan Zuhdi. Rupanya Zuhdi sudah mengenal tentang orang tuanya.


Ghifar menilik pada jam tangannya, "Bentar lagi mau berangkat liburan, Bang. Lagi nyari good moodnya dulu." ucap Ghifar kemudian.

__ADS_1


Zuhdi terlihat menganggukkan kepalanya. Ia ingin mendapat pertanyaan dari Ghifar, tapi Ghifar terlalu cuek untuk itu.


"Giska lagi diincer. Aku denger itu, sampek aku balik kampung." ungkap Zuhdi, karena Ghifar hanya fokus pada mie ayam yang tengah dibuatkan.


Alis Ghifar terangkat sebelah, kemudian ia menoleh ke arah Zuhdi.


"Kemarin malam pun, kawan ada yang bilang macam itu." timpal Ghifar yang ternyata sudah mengetahui masalah itu.


"Terus tanggapan kau kek mana? Abang kau masa diam aja?" Zuhdi terlihat khawatir, pada putri dari keluarga juragan di daerahnya.


"Ini baksonya, Di." semangkuk bakso dihidangkan di atas meja panjang, yang terlapisi plastik untuk bungkus suatu produk minuman.


"Ini mie ayamnya, Bang." bukan hal aneh, tentang anak-anak juragan yang dituakan di daerah tersebut. Sekalipun Ghifar di bawah usia mereka, tetapi mereka tetap mencoba menghormati Ghifar, sebagai mana mereka menghormati juragannya.


"Es teh manis satu."


"Ehh, dua deh. Satuan sama Bang Adi." ucap Ghifar pada pedagang yang melayaninya tersebut.


Ghifar membubuhkan saus, pada makanannya. Berlanjut ia mengaduk-aduk mie ayam miliknya, kemudian melahapnya tanpa memikirkan pertanyaan Zuhdi barusan.


Ia tidak bisa melakukan sesuatu dengan baik, jika keadaan perutnya tengah lapar. Warisan dari kebiasaan ibunya, menurun padanya.


"Udah... Makan aja dulu, Bang." Ghifar menyenggol lengan Zuhdi, karena teman kakaknya tersebut masih melamuni mangkuk baksonya saja.


Akhirnya, setelah es teh manis pesanan Ghifar datang. Zuhdi mulai menikmati bakso pesanannya. Ia tak memungkiri, jika perutnya memang perlu diisi.


Mereka makan dalam diam, tak keluar satu kata dari mulut masing-masing. Hingga tiba masanya, makanan mereka habis tak tersisa.


Rokok milik Ghifar keluar dari dalam sakunya, kemudian ia menawari Zuhdi rokok berbungkus putih tersebut.


"Tak ngerokok aku." tolak Zuhdi yang diangguki Ghifar.


Ghifar mengeluarkan satu batang rokok, dari dalam bungkusnya. Ia menjepit ujung rokoknya dengan bibirnya, dengan sisi lainnya ia bakar dengan korek api yang ia bawa.


Hembusan nafasnya keluar bersama asap dengan bau yang khas. Ia jarang sekali merokok di rumah, karena Mikheyla selalu bersamanya.


"Apa mesti aku bilang ke papah langsung? Hukuman buat Giska tak main-main." Zuhdi terlihat amat frustasi, dengan masalah yang akan menimpa wanita yang ia cintai.


Ia tak memungkiri Giska masih bersemayam di hatinya. Ia masih memimpikan bisa memilih wanitanya. Hidup bahagia, dalam satu kartu keluarga yang utuh.

__ADS_1


"Papah....


......................


__ADS_2