
"Yaaahhhh, memang kek gitu kok. Aku masih tak habis pikir aja sama kau, Yang. Kau bodoh apa kek mana? Macam kacang yang lupa kulitnya! Aku yang ambil resiko, malah Ahya yang mau diajak nikah."
Adinda dan Adi saling memandang, Kinasya keceplosan menyebut Ghifar dengan sebutan sayangnya meski hanya singkat.
"Ya... Karena aku takut sama Mamah. Takutnya aku, kita udah jauh, malah dilarang sama Mamah." itulah alasan di balik Ghifar lebih memilih Ahya saat itu.
"Ya kau ngomong, Yang! Mamah Dinda tak galak, tak macam abi Haris. Aku tau nih... Kau ini nunggu lengahnya aku. Pas disuruh bilang ke orang tua, iya nanti sabar-sabar. Terus tiba-tiba datang rencana kau lamaran sama Ahya. Kalau betul-betul kejadian kek gitu. Balik aku ke abi, aku cari dukun pelet yang bisa bikin kau lari ngejer-ngejer aku!" Kinasya sampai mengacungkan jarinya ke arah Ghifar.
Ghifar menangkap jari telunjuk Kinasya, "Sini-sini, balikin cincinnya. Salah milih betina keknya aku." Ghifar meraih tangan lain Kinasya, ia berniat mengambil kembali cincin yang sudah ia berikan.
Kinasya menarik tangannya cepat, "Tak bisa!" Ia menyembunyikan jarinya yang tersemat cincin dari Ghifar.
"Ngomong aja kau, cincinnya mau dikasihkan ke Ahya?!" Kinasya adalah tipe wanita yang besar cemburu. Sayangnya, Ghifar malah terlanjur mencintai wanita itu. Ia tadi hanya memberi gertakan saja, agar Kinasya mau bungkam dan tak melanjutkan ucapannya.
"Mana ada! Tak boleh Ahya, masih ada Tika, Yoka, Fira, Novi, kak Aca. Bisa itu mereka semua aku lobi, dari pada menua sama kau yang berisik kek gini." ucapan Ghifar tetap tak bisa membuat Kinasya berhenti mengungkit Ahya.
Namun, tiba-tiba Kinasya menarik kerah kemeja Ghifar.
"Ayo kita berantem aja?!" Kinasya benar-benar sudah termakan rasa cemburunya sendiri.
"HEH!!!" Adi melepaskan cekalan tangan Kinasya pada kerah kemeja anaknya.
Berbeda dengan Adinda, ia malah terpingkal-pingkal melihat drama anak-anaknya yang tengah dimabuk asmara.
"Apa sih kau ini, Kin? Gitu aja kau sampek macam perang badar. Lagian Ahya tak ada gerakan apapun. Baru omongan Ghifar aja, kau udah kebakaran jenggot sampek dukun kau bawa-bawa." Adi sedikit heran dengan tipe perempuan seperti Kinasya. Pasalnya, istrinya tak seperti itu meski memiliki sifat cemburu juga.
"Kenapa sih kau sampek segitunya sama Ghifar?" tanya Adi kemudian. Dengan memperhatikan Kinasya yang masih memberikan delikan tajam pada anaknya.
"Tak sama Ghifar aja aku begini. Sama yang kemarin-kemarin pun aku begini, Pah. Tak suka aku, kalau ada yang lebih dipujanya selain aku. Tak suka aku, kalau ada tujuannya tak lebih berharga dari pada aku." ucapan Kinasya, menggambarkan memang dirinya adalah sosok wanita yang memiliki besar cemburu.
Kinasya kembali memelototi Ghifar, "Lagian kau sama Ahya dapat apa, Yang? Mending kau sama aku. Bagian kebun kopi di B*njarmasin aku dapat, bagian kolam ikan sampek udah ada sertifikatnya. Sabar sebentar, aku punya gelar spesialis, gaji puluhan juga. Kau enak ngan*kang di rumah, kelak nanti aku punya rumah sakit spesialis sendiri."
Ghifar menahan tawanya. Karena takut tersaingi dengan Ahya, Kinasya sampai membandingkan dirinya sendiri. Ia tidak habis pikir, dengan wanita yang rutin ia antar jemput tersebut.
"Tambah ngaco nih." Adinda berbicara pelan, dengan geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Apa kau?" rupanya Kinasya menyadari tarikan di sudut bibir Ghifar.
Ghifar memasang wajah seriusnya kembali, "Tak ada, Yang!" ia tak tau harus bersyukur atau menangis. Kala dirinya mengetahui, bahwa wanitanya begitu mencintainya. Sayangnya, rasa cinta itu sampai diselimuti api cemburu yang begitu besar.
Adi berpikir, jika memang Kinasya adalah wanita yang mengincar harta. Rasanya tidak mungkin, karena keluarga Haris adalah keturunan orang kaya. Ladang kopinya tak kalah banyaknya darinya. Belum lagi usaha lain, Kinasya pasti mendapatkan bagian itu semua.
Belum lagi pendidikan Kinasya, selangkah lagi pun Kinasya bisa meraih impiannya.
"Udah belum sih, Mah? Kesel aku tak habis-habis kalau inget itu." nada suara Kinasya masih terbawa emosi.
"Udah-udah, sana kau mandi!" Adinda mengizinkan Kinasya untuk keluar dari kamarnya.
Tanpa permisi lagi, Kinasya langsung nyelonong pergi dengan bibir mengerucut.
"Heh!" Adi menahan lengan anaknya, ketika Ghifar hendak pergi.
"Macam Mamah aja, kau tau sendiri. Papah baru tau, Kin seheboh itu cuma gara-gara cemburu aja. Yakin kau sama dia? Papah sih mikir beribu kali, meski dia perawan, pandai, montok. Tak mati kena darah tinggi, kita pendek umur karena ocehannya itu. Ditarik lagi nama Ahya, diungkit lagi masalahnya." Adi geleng-geleng kepala, saat membayangkan bagaimana reaksi Kinasya tadi. Adi juga menebak, bahwa Kinasya adalah tipe wanita yang over protektif.
Pasti banyak larangan untuk Ghifar, belum lagi aturan-aturan yang akan memberatkan Ghifar kelak. Adi malah takut anaknya pendek umur, karena memiliki pasangan seperti Kinasya.
"Jangan entahlah. Kau mau, kau ambilah. Jangan lama-lama, benih kau udah terlalu numpuk."
Adinda tersenyum. Inikah keputusan suaminya? Suaminya melunak, Adi mengerti pasangan baru tersebut.
Kisah mereka tak jauh berbeda dengan kisahnya dan istrinya. Ia tak ingin memperpanjang kisah Ghifar dan Kinasya, seperti kisahnya yang sampai memiliki rangakaian judul yang berbeda.
"Boleh, Pah?" Ghifar begitu terkejut, saat mendengar ucapan ayahnya.
Adi mengangguk, "Nikah dulu." Adi memahami arah pemikiran anaknya. Ghifar pasti sudah membayangkan ranjang yang berderit.
Ghifar tersenyum bahagia. Lantas, ia langsung menubruk tubuh ayahnya. Ia begitu berterima kasih, karena memiliki orang tua yang begitu mengerti akan dirinya.
"Aku dapat perawan, Pah. Jangan lupa dangdutannya."
Mereka semua tertawa lepas. Adi tak menyangka, rupanya anaknya masih mengingat janjinya dulu.
__ADS_1
~
Esok harinya, Adi memutuskan untuk memberi kabar pada Haris.
Satu tahun tiga pernikahan anaknya, itu cukup membuat pusing kepala Adi.
"Kin, nih Abi nih." minggu pagi itu, mereka semua tengah berkumpul di halaman belakang.
"Ya, Bi." Kinasya mengambil alih ponsel Adi, yang sudah terpampang wajah Haris.
Adi membiarkan Kinasya untuk bertukar kabar dengan Haris terlebih dahulu. Lebih-lebih, ia mengharapkan Kinasya untuk bercerita tentang dirinya dan Ghifar pada orang tuanya sendiri.
Agar mereka memahami kondisi Kinasya, untuk melanjutkan hubungannya ke jenjang yang lebih serius.
Fokus Adinda terbagi. Matanya memperhatikan Mikheyla, Hamerra, Gavin dan Gibran.
Icut tengah pergi bersama Aira, untuk survei lokasi tempat usaha mereka. Sedangkan Canda, ia tengah dibawa ke dokter kandungan yang buka praktek di hari minggu ini. Karena ***** makannya kian memburuk, ditambah hari-harinya yang dipenuhi dengan istirahat.
Atas paksaan dan uang pemberian Adinda, Givan segera membawa istrinya ke tempat dokter kandungan tersebut.
"Heh, Di." Adi menyapa menantu baru di rumahnya.
"Apa, Pah?" Zuhdi hanya menoleh, kemudian dirinya lanjut melangkah menuju kandang burung.
"Masih perawan kah istri kau?" Adi menghiraukan Kinasya yang masih bercakap-cakap dengan Haris lewat ponselnya.
Adi menebak hal itu, karena semalam tak ada suara mencurigakan dari kamar Giska yang berada di sebelahnya.
Ghifar menepuk lengan ayahnya. Ia merasa malu sendiri, dengan pertanyaan ayahnya tersebut.
"Masih." wajah Zuhdi begitu lesu.
"Lah, kenapa? Ati-ati loh, tak boleh terlalu lama biarin istri tetap perawan." Adi pun sebenarnya tak mengetahui pasti, tapi ia pernah mendengar hal itu dari pamannya. Jika memang sudah suami istri, maka segera tunaikan kewajiban sebagai sepasang suami istri.
"Ck......
__ADS_1
......................