Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS107. Givan pulang


__ADS_3

Givan tersenyum lebar pada istrinya, setelah ia mencium dan memeluk ibunya.


"Cium dong tangan suami kau! Diam aja." ucap Givan dengan menyodorkan tangan kanannya.


Canda langsung meraihnya, kemudian mencium tangan laki-laki yang menjadi kepala keluarga di kartu keluarganya tersebut.


Givan langsung membingkai wajah Canda, kemudian mendaratkan kecupan ringan di kedua pipi dan dahi Canda.


Namun, tiba-tiba Canda langsung menghempaskan tangan suaminya, yang berada di antara rahangnya.


"Gak usah sok baik-baik aja. Jangan sok mesra, setelah semalam tadi kamu ngata-ngatain aku." ucap Canda dengan menatap tajam pada suaminya.


"Itu, Pah. Tengok menantunya! Papah aja marah besar kalau Mamah kau-kauin Papah. Nah tuh tengok! Sebutan kamu, dari semalam terus diucapinnya!" adu Givan pada orang tuanya, membuat Canda menggeleng cepat.


"Kekanak-kanakan! Lapor terus macam Gavin, Gibran. Udah ayo masuk, dramanya nanti lagi." sahut Adi dengan merangkul anak sulungnya.


Canda masih terdiam di tempatnya, dengan menatap marah punggung suaminya.


Usapan lembut ia rasakan di pundaknya, "Udah, dibawa santai aja. Anak-anak Mamah, memang semuanya tukang ngadu." ujar Adinda dengan senyum ramahnya.


Canda menoleh ke arah mertuanya yang tengah merangkul pundaknya, "Tapi Mamah percaya kan sama aku?" tanya Canda kemudian.


Adinda melirik sekilas pada Canda, lalu ia mengedarkan pandangannya pada kedua anak balitanya yang berlarian saling mendahului.


"Anak-anak Mamah pasti jujur, tapi Mamah sama papah pasti dengerin pengakuan dari yang bersangkutan juga." jawab Adinda, yang membuat Canda menunduk sedih.


'Sebaik-baiknya mertua, dia tetap orang lain.' sepenggal kalimat yang terlintas di batin Canda.


"Kalau kaku manggil abang, atau semacamnya. Coba manggil nama aja, misalkan kau manggil Givan, ya Givan aja." ujar Adinda dengan menutup pintu utama, agar kedua anak balitanya tak bisa keluar dari rumah.


"Bukan aku kaku, Mah. Aku kesel, aku marah. Mas Givan nyudutin aku terus. Dia yang banyak dosanya, tapi seolah aku kemarin keterlaluan sama Ghifar. Segala ngatain Ghifar gak selera sama aku, Ghifar nerima aku karena gak ada perempuan lain. Itu kasar banget Mah di telinga aku." ungkap Canda, yang akhirnya buka mulut atas masalahnya dengan suaminya.


Adinda menghentikan langkah kakinya, lalu ia menoleh ke arah menantunya,


"Terus ada bilang apa lagi dia?" tanya Adinda, membuat Canda merasa diintrogasi.

__ADS_1


"Ya aku sebutin dosanya, terus dia tanpa malu ngakuin. Aku sakit hati, Mah. Meski nikah belum lama juga, tapi status aku istrinya dia. Hati aku panas, dia ngakuin terang-terangan." jawab Canda yang membuat Adinda memikirkan tentang permasalahan mereka.


Adinda menyimpulkan sendiri, ini tentang pasangan masing-masing sebelum pernikahan ini.


"Perlahan tapi pasti. Taklukin hati Givan, biar rumah tangga kau bahagia." ujar Adinda yang digelengi Canda.


Reaksi Canda barusan, membuat Adinda merasa bingung dengan menantunya ini.


"Aku udah minta cerai, Mah." aku Canda yang membuat Adinda membulatkan matanya.


"Cuma masalah kek gini aja, kau minta cerai? Apa kabar kemarin Mamah yang dimadu diam-diam sama papah mertua kau." ujar Adinda dengan wajah kesalnya. Lalu ia meninggalkan menantunya seorang diri, agar Canda bisa berpikir jernih.


Canda terdiam, ia memikirkan ulang perkataan ibu mertuanya.


"Sini Canda." seru ayah mertuanya, yang tengah berkumpul di ruang keluarga.


Saat Canda sudah berada di hadapan mereka semua, ia disajikan pemandangan manis oleh ibu dan ayah mertuanya.


Adinda baru kembali dari dapur, dengan memberikan kecupan manis di pipi suaminya dari arah belakang.


"Rutin betul minum itu sih, Pah." ujar Givan, yang berada di sebelah ayahnya.


"He'em. Mak mau masih butuh Papah soalnya, jadi diminta rutin minum rebusan seledri." sahut Adi yang mendapat delikan tajam dari istrinya.


"Sini." pinta Adinda dengan beralih memandang Canda, yang masih mematung memperhatikan mereka semua.


Kemudian Canda duduk di sebelah ibu mertuanya. Ia terlihat begitu canggung, dengan situasi sekarang.


"Ambilin kue apa gitu, Dek. Tak enak mulutnya." ungkap Adi, setelah dirinya menghabiskan air rebusan daun seledri.


Adinda mengambil gelas bekas rebusan daun tersebut, kemudian berjalan ke belakang lagi.


"Mas belum minum loh, Dek. Mamah ngurus suaminya aja dari tadi." ujar Givan, yang memperhatikan Canda yang tertunduk.


Canda menghela nafas beratnya, lalu segera berlalu pergi menuju dapur.

__ADS_1


Tak berselang lama, kini mereka sudah berkumpul di ruang keluarga kembali. Adinda memperhatikan wajah suaminya dan anak sulungnya, yang duduk beriringan tersebut.


"Tadi apa katanya, Bang?" ucap Adinda dalam keheningan.


"Masih belum lepas, ikut prosedur. Enam bulan lah kurang lebih, masih harus bolak-balik ke sana, rutin cek darah juga." jelas Adi yang masih mengunyah kue yang istrinya berikan.


"Manfaatnya apa Mah, daun seledri tadi?" tanya Givan, agar ibunya mengajaknya berbicara juga. Givan masih teringat akan permasalahannya dengan ibunya, sebelum dirinya dijemput oleh pihak yang membina rasa ketergantungannya.


"Biar kuat, benihnya gacor." jawab Adi, yang membuat para laki-laki tersebut tertawa bersama.


"Mana ada! Itu kan buat menstabilkan tekanan darah." ucap Adinda kemudian.


"Tapi perasaan sering betul liat Papah minum air rebusan daun seledri." sahut Givan dengan menoleh pada ibunya.


"Papah kau, kalau stress dikit aja. Darahnya langsung naik. Kalau lagi stabil, seminggu sekali atau dua kali pasti minum rebusan daun seledri juga. Biar tetap stabil, misalkan naik juga, fisik Papah kau tetap terjaga. Kan ada tuh, orang tekanan darahnya naik. Langsung sakit stroke ringan, atau pembuluh darahnya pecah. Kan Papah jangan sampek kek gitu, anaknya masih pada kecil-kecil." di akhir kalimat, Adi menoleh cepat ke arah istrinya dengan tatapan kagetnya.


"Alesan anak! Bilang aja, kan aku masih butuh suami." celetuk Adi yang membuat mereka tertawa ringan.


"Memang butuh buat apa, Mah?" tanya Canda, yang menarik perhatian mereka semua.


Adinda menoleh ke samping kirinya, "Buat angkut karung beras. Buat masang gas, buat cuciin baju, buat ngosrek WC juga." jawab Adinda yang membuat Adi tersenyum miring.


"Ck... Buktinya itu semua dilakuin sendiri. Butuh Abang kan bukan buat hal-hal sepele itu. Anak-anak juga, udah kebagian tugas buat ngosrek WC masing-masing kamar. Gas Adek pandai masang sendiri. Abang kan cuma cuci giling di mesin, yang jemur kan Adek juga. Ngomong aja butuh buat....." Adi menyuarakan tawa gelinya, saat di akhir kalimat ia menggantungkan ucapannya.


Adinda melemparkan bantal sofa ke arah suaminya. Membuat Adi semakin terbahak-bahak.


"Pah.... Papah..." panggil Giska begitu manjanya.


"Ngaji sana! Ajak Gavin tuh." sahut Adi, yang melihat anaknya melangkah ke arahnya.


Giska duduk di pangkuan ayahnya, lalu memberi kecupan kecil di pipi ayahnya.


"Udah mau nikah juga, masih aja gini ke Papah. Apa kata bang Adi kau nanti, tau istrinya suka nyiumin Papahnya." ungkap Adi dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Papah mau nikahin Giska? Papah udah tak mampu kah biayain Giska? Sampek-sampek dia masih kecil gitu, udah mau dinikahin aja?" tanya Givan beruntun, yang membuat mereka semua memperhatikan reaksi wajah Adi.

__ADS_1


......................


__ADS_2