Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS119. Aset juragan


__ADS_3

"Maaf, Dek. Pegangan pinggang aja, Dek. Gasnya memang tak halus, lama belum diservis." ucap Zuhdi, yang melirik sekilas pada spion kirinya. Untuk melihat perubahan wajah Giska.


Tiba-tiba, di tengah perjalanan. Giska menepuk-nepuk pundak Zuhdi, dengan ia meminta Zuhdi untuk putar balik.


"Ada apa, Dek?" tanya Zuhdi, dengan menepikan motornya.


"Uang jajan aku ketinggalan, mana tak bawa bekel. Nanti aku amsyong di sana, tak jajan, tak makan. Puter balik, Bang. Ke rumah aku, mau ambil uang jajan ketinggalan di meja makan keknya." jawab Giska, dengan sedikit memajukan kepalanya.


"Berapa sih uang sakunya? Tanggung kalau mesti balik lagi, nanti keburu telat." sahut Zuhdi, dengan melirik sekilas ke arah belakang.


"7 ribu, Bang. Soalnya cuma ujian aja, terus balik lagi." balas Giska kemudian.


"Ya udah, nanti Abang sanguin. Tak usah balik lagi, soalnya Abang juga bentar lagi udah mulai kerja." ujar Zuhdi, dengan mulai menarik gasnya kembali.


Namun, terjadi lagi. Motor itu melompat, membuat posisi Giska lebih maju ke depan.


"Maaf, Dek. Pegangan pinggang Abang aja." tutur Zuhdi, dengan fokus pada jalanan yang belum diaspal tersebut.


Mood Giska kacau, gara-gara motor Zuhdi yang tak nyaman tersebut.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di depan sekolah negeri di kecamatan setempat.


"Nih, Dek. Bisa pulang sendiri kan? Ada abangnya juga kan, satu sekolah?" ucap Zuhdi, dengan memberikan Giska uang berwarna hijau dari dalam sakunya.


"Abang aku udah kuliah semua, Bang. Nanti biar minta anter kawan, kalau cek Lhem belum siap betulin ban mobilnya." sahut Giska, dengan menerima uang tersebut.


Zuhdi mengangguk, "Jangan sama kawan, biar Abang jemput lagi. Jam berapa baliknya?" balas Zuhdi kemudian.


"Jam 11an, cuma ujian aja." ujar Giska dengan memandang wajah pemuda tersebut.


"Ya udah, kalau cek Lhem belum siap. Nanti biar Abang yang jemput Adek. Jangan sama kawan, nanti malah dibawa ke mana-mana dulu." tutur Zuhdi yang merasa malu, kala mendapati mata bersorot tajam seperti sang juragan tersebut tengah memandangnya begitu lekat.


"Ya, Bang. Aku masuk dulu, assalamualaikum." tukas Giska, lalu dirinya berbalik badan dan berlalu masuk ke dalam gerbang sekolahnya.


"Wa'alaikum salam." sahut Zuhdi dengan masih memperhatikan Giska.


Saat Giska sudah tak terlihat lagi di pandangannya, Zuhdi langsung memutar motornya untuk kembali ke tempat kerjanya.


"Terus langsung pacaran, Dek?" tanya Ahya, setelah mendengar cerita pertemuan pertama antara Giska dan Zuhdi.


"Belum lagi. Lepas itu.....

__ADS_1


"Pak... Anak juragan Adi balik belum?" tanya Zuhdi, pada security sekolah bertaraf negeri tersebut.


"Belum. Tuh anaknya, masih nungguin jemputan." tunjuk security, pada Giska yang tengah duduk seorang diri. Di bangku panjang, yang terdapat di tempat parkir sekolah tersebut.


Zuhdi melongok ke arah Giska, kemudian ia memberi tepukan keras untuk memanggil Giska.


"DEK GISKA... PULANG." seru Zuhdi, dari pos security yang terletak di sebelah pagar.


Giska menoleh ke arah Zuhdi, kemudian mengangguk pelan. Giska berjalan ke arah Zuhdi, yang menunggunya di sebelah motor matic yang dikendarainya.


"Ayo, Dek. Cepetan! Abang bilang ke bos, cuma dikasih waktu izin 15 menit." ucap Zuhdi, saat melihat Giska menghampirinya.


"Kalau memang tak bisa, tak usah repot-repot jemput aku Bang. Nanti cek Lhem juga bilang ke papah, kalau aku belum dijemput." sahut Giska, dengan naik kembali di motor milik Zuhdi tersebut.


"Cek Lhem lagi antar bu Dinda ke rumah sakit. Tangan Gavin patah katanya, jatuh dari pohon itu anak. Sedangkan papah Adek, lagi di tengah ladang. Baru tadi buru-buru nyusul ke rumah sakit, sama Ghifar juga." ungkap Zuhdi, yang membuat Giska langsung kalap.


"Terus gimana Gavin, Bang?" ujar Giska, dengan memajukan kepalanya di bahu Zuhdi.


"Ya... Dibawa ke rumah sakit. Tadi kan Abang udah kasih tau." tutur Zuhdi, yang mendapat toyoran kepala dari anak juragan di daerahnya.


Zuhdi terkekeh geli, ia merasa kacau dengan gadis yang gampang terbawa emosi tersebut.


"Memang Adek kenapa? Kan Abang jemput ini, Abang kasian sama Adek. Nanti diculik orang, Abang juga yang rugi" ungkap Zuhdi yang membuat dirinya mendapat cubitan di perutnya.


Ternyata tangan lentik yang melingkar di pinggangnya, cukup lihai memberinya pelajaran.


"Kalau besok cek Lhem sibuk, Adek tak ada ojek langganan. Bolehlah Abang aja yang jadi ojeknya. Nanti salin nomor Abang ya? Hubungi kalau Adek perlu ojek." ucap Zuhdi, yang pada dasarnya merasa kasihan pada gadis polos itu.


"Mana HP Abang? Sini aku masukin nomer aku. Hp aku mati nyala tak jelas, susah dimaininnya kalau tak nyolok ke casan." sahut Giska, dengan menengadahkan tangan kanannya di depan perut Zuhdi.


"Di saku kanan, Dek." balas Zuhdi, dengan tangan Giska yang langsung mengarah ke saku Zuhdi.


"Jangan dalem-dalem." mohon Zuhdi dengan kekehan geli.


"Dapat." ucap Giska, dengan senyum manisnya yang terukir.


"Kasih nama dek Giska, biar Abang inget." sahut Zuhdi, yang masih fokus pada jalanan.


"Kok Abang tau, kalau nama aku Giska?" balas Giska, yang tengah mengutak-atik ponsel Zuhdi tanpa kunci pengaman apapun.


"Siapa yang tak tau sama anak-anaknya juragan." ujar Zuhdi kemudian.

__ADS_1


Giska manggut-manggut, "Abang namanya siapa?" tutur Giska, yang menaruh kembali ponsel Zuhdi dalam kantongnya.


"Adek ngajak kenalan?" tukas Zuhdi, yang membuat Giska terkekeh malu.


"Tuh, di situ tuh Abang kerja. Lagi garab bangunan itu." tunjuk Zuhdi dengan menunjuk tempat kerjanya pada Giska.


Tin....


Zuhdi membunyikan klaksonnya, saat melewati teman-temannya yang tengah berisitirahat sejenak. Karena dirinya yang tengah izin, untuk mengantarkan anak juragan tersebut.


Mereka semua menoleh ke arah Zuhdi, lalu menyahuti Zuhdi yang menyapa mereka dengan klakson itu.


"Abang tau kan rumah aku?" tanya Giska tiba-tiba.


Zuhdi mengangguk cepat, "Tau, Adek." jawab Zuhdi kemudian.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di hadapan rumah megah ujung jalan tersebut.


"Alhamdulillah, selamat sampai tujuan aset juragan." ungkap Zuhdi dengan tersenyum pada Giska.


Giska memanyunkan bibirnya, dengan melirik tajam pada Zuhdi.


"Jadi tak ngajak kenalannya?" lanjut Zuhdi dengan tersenyum manis.


Giska tersipu malu, saat mendapati laki-laki yang membuat ilfeel pagi tadi. Kini bisa meronakan warna pipinya.


Zuhdi mengulurkan tangannya, dengan memperhatikan wajah Giska.


"Kenalin, Adi." ungkapnya dengan mempertahankan senyumannya.


"Papah aku itu." ujar Giska, dengan menerima uluran tangan Zuhdi.


"Bukan, papahnya anak-anak Adek kelak." jelas Zuhdi, yang membuat Giska menarik tangannya. Untuk menutupi wajahnya, yang merah padam karena hantaman rasa malunya.


"Nanti malam Abang hubungi, biar tau nomer Abang. Hubungi Abang, kalau Adek perlu." lanjut Zuhdi, dengan beralih fokus pada motornya.


"Masuk gih!" pinta Zuhdi yang diangguki Giska.


Lalu Giska berlalu masuk menuju ke halaman rumahnya. Setelah memastikan aset juragan tersebut aman, Zuhdi kemudian memutar motornya menuju ke tempat kerjanya kembali.


......................

__ADS_1


__ADS_2