
"Kau mau mesum? Jauh-jauh kau ke L*t T*war. Macam tak ada tempat di sini aja kau!" ucap Adi, membuat Zuhdi terkekeh geli. Dengan Icut yang begitu tak percaya, akan ucapan ayahnya barusan.
"Macam yang dibolehin aja. Bisa-bisa, keluarga aku nanti diputus kerja." sahut Zuhdi, membuat Adi memahami bahwa calon menantunya segan padanya.
"Nah tuh tau. Lagian, macam tau caranya aja. Tapi ngomong-ngomong, pas nanti malam 1001 sejarah Giska. Kau bisa tak, yang kira-kira Giska jangan sampek kau buat nangis?" tanya Adi, membuat Zuhdi memandangnya dengan tatapan bodoh.
"Mingkem!" seru Adi yang membuat Zuhdi kembali ditertawakan oleh Icut.
"Nanti aku ketikan di searching, how to make women org*sme." jawab Zuhdi tanpa dosa.
Tawa Icut begitu menggema, dengan Hamerra yang kebingungan dengan tawa ibunya.
Adi menepuk pundak Zuhdi, "VPN jangan lupa ya?" ujar Adi kemudian.
Zuhdi terkekeh geli, kemudian bangkit dari duduknya.
"DEK GISKA... KEBURU ADZAN NANTI, KAU TAK JADI NGAJI." seru Zuhdi kembali.
Giska segera muncul, dengan kitab suci di dekapannya.
"Iya-iya, ayo berangkat." sahut Giska, dengan mengenakan sendalnya.
"Mamah lagi apa?" tanya Adi, saat Giska berjalan ke arahnya.
Giska mencium tangan Adi, bergantian dengan Icut.
"Mamah lagi telepon sama pihak nanny-nanny gitu." jawab Giska kemudian.
"Berangkat dulu Pah, Kak." pamit Zuhdi, dengan memandang Adi dan Icut bergantian.
Adi bangkit dari duduknya, "Ya, ati-ati. Nanti anter sampek rumah lagi." sahut Adi yang diiyakan oleh Zuhdi.
Lalu Giska berlalu pergi, dengan berjalan beriringan dengan Zuhdi.
Terdengar tawa dan obrolan mereka ke telinga Icut, "Metuah dara." ucap Icut seorang diri. Dengan masih memperhatikan adiknya yang diawal oleh Zuhdi.
"Kau pun metuah dara." lanjut Icut dengan memandang wajah anaknya. Kemudian ia mendaratkan kecupan di pucuk kepala anaknya.
__ADS_1
"CUT...." panggil Adinda, dari dalam rumah.
"Ya, Mah." sahut Icut, dengan menggendong anaknya. Kemudian masuk ke dalam rumah.
"Sini!" pinta Adinda dengan menepuk tempat di sebelahnya.
Icut segera duduk, dengan memposisikan anaknya di pangkuannya kembali.
"Apa, Mah?" tanya Icut, dengan memperhatikan wajah serius Adinda.
"Lepas ini kau mau kerja apa?" ucap Adinda, dengan menoel hidung Hamerra.
"Ghava sih minta aku kelola kedainya, Mah. Tapi kan Mamah tau, aku condong ke arah jualan pakaian. Aku pun dari masa SMA, sering jual pakaian preloved aku. Jadi... Aku mau coba jualan pakaian monza, tapi yang bermerek. Kan ada tuh Mah, yang satu bal besar tiga juta. Tapi random, tak semuanya layak pakek. Mamah paham kan? Mungkin bukan kelas Mamah, pakaian bekas kek gitu. Tapi aku mau coba, kan di sini belum ada tuh." ungkap Icut, menjelaskan tentang peluang yang menarik minatnya.
"Tak di kota J aja?" tanya Adinda, dengan mengambil alih cucunya. Kemudian mendaratkan kecupan gemasnya, pada pipi chubby Hamerra.
"Tak, Mah. Di kota J, aku tak punya kawan yang sealiran. Maksud aku, tak ada dari mereka yang suka pakaian bekas bermerek. Aku jumpai salah satu tokonya di sana, tapi kebanyakan konsumennya tua-tua. Sedangkan, aku udah pelajari, aku cari tau ulakan dan lainnya, ya pakaian untuk anak-anak muda. Mamah keberatan kah aku di sini?" jawab Icut, kemudian menundukkan kepalanya.
Adinda menghela nafasnya, "Mamah cekik kau sekalian, kalau ngomong macam itu lagi." bentak Adinda, yang malah membuat Hamerra terkejut.
"Nenek galak, harap maklum Nak." ujar Icut, saat menyadari ekspresi terkejut dari anaknya.
"Iya-iya, terserah Mamah aja." sahut Icut dengan bersedekap tangan.
"Kata abang kau, kau mau nitipin Hame?" ucap Adinda, yang diangguki oleh Icut.
"Tapi Mamah tak mau dia lepas ASI sebelum waktunya. Mamah tak mau kau di sana, sedangkan anak kau di sini. Gimana kalau Mamah carikan pengasuh bayi aja, sementara nunggu kau siap nyandang sarjana." ungkap Adinda mengutarakan obrolannya kali ini.
"Itu rencana Mamah, aku nurut aja." sahut Icut terdengar pasrah.
"Mamah kan tak mungkin diizinkan buat ikut kau, papah kau pasti ikut juga nanti. Kek waktu kau lahiran itu, papah kau juga ngikut sama Giska sama yang kecil-kecil juga. Sedangkan, kau tau sendiri keadaan di rumah ini. Jadi pengasuh Hame nanti, cuma sampek kau rampung jadi sarjana aja. Kau nanti kan balik ke sini, mulai usaha. Ya Hame bisa Mamah handle, asal kau tetap pulang ke rumah." ujar Adinda memperjelas maksudnya.
Icut mengangguk, "Ya, Mah. Aku ok aja." balas Icut menyetujui.
"Mamah dapat rekomendasi nih, macam dari yayasan para pengasuh yang terlatih. Masalah bayaran, macam biasa. Mamah yang nanggung." tutur Adinda, dengan menunjukkan alamat lengkap yang tertera di layar ponselnya.
"Alamatnya ada yang di deket sini tuh. Nanti Mamah minta orang yang direkomendasikan, suruh ke sini aja. Mamah minta kontrak yang paling sedikit aja, tiga bulan aja. Totalnya 15 juta, padahal suruh ngasuh anak aja." lanjut Adinda, terdengar seperti menggerutu.
__ADS_1
Icut terkekeh geli, dengan bersandar pada lengan ibunya.
"Mamah sakit apa sih kemarin, sampek pucet betul?" tanya Icut, saat ibunya tengah anteng mengutak-atik ponselnya. Sedangkan dirinya berinisiatif, untuk mengajak anaknya bergurau.
"Pendarahan haidnya. Ini ketiga kalinya Mamah pendarahan, dalam 44 tahun ini. Kemarin kan cek up, USG biasa, USG trans v*g*na juga, cek darah juga. Alhamdulillah aman, tak ada penyakit yang mencurigakan. Lepas itu, Mamah diminta minum penstabil hormon, biar haidnya teratur lagi." jawab Adinda, dengan masih fokus pada ponselnya.
"Ada mamahnya kawan aku, Mah. Kena miom, katanya gara-gara kehamilan dengan jarak yang terlalu dekat, sama melahirkan berkali-kali juga. Temen aku itu, enam bersaudara Mah." timpal Icut, yang tengah memasang wajah menyeramkan pada anaknya. Bukannya menangis, Hamerra malah memamerkan gusinya.
"Itulah, Mamah pun pernah dengar masalah penyakit itu. Kan tanda awalnya, pendarahan kek gitu." tambah Adinda tentang kekhawatirannya pada kesehatannya.
"Sekarang udah baik-baik aja, Mah? Udah tak keluar darah?" tanya Icut, dengan mengambil alih anaknya kembali. Karena Hamerra tengah mengenyot jempol tangannya, menunjukkan anak itu ingin menyusu kembali.
Icut mulai menyusui anaknya, di ruang keluarga dengan pintu samping yang terbuka. Untungnya rumah Adinda memiliki tembok tinggi, yang mengitari batas tanah rumah tersebut.
"Udah, udah baik-baik aja. Tapi karena penstabil hormon, jadi kek anak muda lagi rasanya." jawab Adinda malu-malu.
"Memang tiap hari juga Mamah macam anak muda sama papah tuh." ucap Icut membuat mereka berdua tertawa bersama.
~
Pagi mereka disambut oleh Zuhdi, yang datang untuk mengajak Givan berkerja.
"Kerja di mana, Di?" tanya Adinda dengan menghidangkan segelas kopi di meja teras rumahnya.
"Cat ruko, di samping lampu merah itu nah Mah. Lumayan lah, dari pada nganggur terus." jawab Zuhdi, dengan memperhatikan baby walker yang muncul dengan bayi perempuan di tengahnya.
"Seneng, punya mainan baru. Ngejer-ngejer orang terus kerjaan kau." ucap Adinda, dengan meraih gagang dorongan baby walker tersebut. Agar anak perempuan tersebut, tak turun ke halaman rumah mereka.
"Cantiknya, macam mamahnya. Coba anak Giska nanti..." ujar Zuhdi, dengan mencolek pipi Hamerra. Tetapi ia akhirnya menyuarakan tawanya, karena merasa geli sendiri hanya karena membayangkannya saja.
"Kau hitam, Giska hitam. Anaknya nanti macam arang." celetuk Adinda, yang membuat tawa mereka lepas.
Senyap menghampiri mereka, saat sebuah mobil masuk begitu saja ke halaman rumah mewah tersebut. Melewati pagar yang terbuka lebar, karena baru saja dilewati oleh Adi yang keluar dengan mengendarai mobil untuk mengantarkan Giska kuliah.
Otak Adinda blank seketika. Matanya terbuka lebar, dengan gigi yang saling beradu. Amarahnya memuncak, melihat seseorang yang keluar dari dalam mobil tersebut.
......................
__ADS_1
*Baju Monza : Pakain bekas.