Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS26. Tempat hiburan malam


__ADS_3

"Kak, sini aja sama aku." seru Ghifar pada Kinasya yang tengah menikmati minuman di meja bar.


Ghifar berada di sofa melingkar, dengan Kenandra dan Anasya. Anasya tak mau menimbrung dengan teman-temannya, yang tengah berjoget dalam pengaruh alkohol.


Kinasya berjalan ke arah mereka bertiga, kemudian ia duduk di sebelah Ghifar.


"Kak, cantik kali sih. Coba umurnya di bawah aku, nanti aku nikahin." ucap Ghifar yang membuat tiga orang dewasa tersebut tertawa geli.


"Kau udah mabok kah, hah?" tanya Kinasya, dengan menepuk-nepuk pelan pipi Ghifar.


"Golom. Tapi aku tak mau nih, kalau Akak lebih tua dari aku. Nanti dilarang lagi kek kejadian kemarin, mana nyata betul larangan mak yang ternyata ada hikmahnya." jawab Ghifar yang terdengar seperti ngawur.


"Akak bukan orang A*eh, golom apa lagi itu? Dangarkan, sakira ikam akan tatap hidup. Ikam..." sahut Kinasya yang belum selesai, membuat Ghifar menoleh ke arahnya dengan mengerutkan keningnya.


"Ikam, ikam pue le? Tatap, tatap pue nyan? Tatap mata saya…" balas Ghifar dengan melebarkan matanya pada Kinasya, sontak membuat Kinasya terbahak dengan menarik hidung besar Ghifar.


"Jangan pakek bahasa sana, orang sini tak ada yang paham." ujar Kinasya kemudian.


"Ya Akak, jangan ikam-ikam-in aku." tukas Ghifar yang langsung diiyakan oleh Kinasya.


"Far… mau nyoba minum yang lain tak?" tanya Kenandra dengan bangkit dari posisinya.


"Lon bek keu'eueng Bang beh." jawab Ghifar yang sedikit dimengerti oleh Kenandra.


"Memang minum yang tadi pedas kah? Dikira wedang jahe kali ah! Kamu ini ada-ada aja!" ujar Kenandra dengan berlalu pergi.


Kinasya dan Anasya menahan tawanya, yang menyimpulkan bahwa Ghifar menolak minuman yang pedas.


"Dia mabok, bahasa daerahnya keluar semua." tutur Kinasya pada Anasya.


Lalu Anasya mengangguk, "Memang dia suka campur-campur ngomongnya. Di rumah aja long-long terus." jelasnya memberitahu Kinasya.


"Long itu artinya aku. Long, lon, ulon, artinya itu aku. Kalau tak salah sih. Soalnya abi dulu pesantren di A*eh, dia ngerti bahasa itu. Terus kadang-kadang sedikit-sedikit ngajarin." tukas Kinasya mencoba membuka obrolan.


Anasya mengangguk-anggukan kepalanya, "Kalau lebaran, udah ramai di rumah long-long-an. Kadang mereka keceplosan ngomong bahasa sana sama keluarga di rumah, ya jadinya kita melongo kaya orang bodoh." ucap Anasya dengan tersenyum pada Kinasya.


Lalu senyap kembali menyelimuti, hanya suara musik DJ yang terdengar cukup memekakan telinga. Untung saja, tak lama Kenandra kembali dengan dua botol minuman yang dibawanya.


"Abang gak ambilkan buat aku? Aku jangan yang terlalu berat, nanti kena marah abi." ujar Kinasya, dengan memperhatikan barang yang dibawakan oleh kakaknya.


"Ini tak berat, Ghifar tadi minum ini. Cuma keknya baru dia, udah merem melek aja dia dari tadi." balas Kenandra, dengan menajamkan penglihatannya untuk membaca tulisan yang tertera di depan botol minuman tersebut.


"Nih, bareng aja sama Aca. Dari tadi dia belum nyobain, katanya takut muntah." lanjutnya dengan memberikan satu botol tersebut pada adiknya.


Kenandra pergi kembali, untuk mengambilkan gelas Anasya dan Kinasya. Tak lama ia kembali, dengan langsung menuangkan air dalam botol tebal tersebut untuk adiknya dan Anasya.

__ADS_1


"Cobain nih, Ca. Ringan di kepala, yang Ghifar kata tadi pedas." ucap Kenandra, dengan menyodorkan gelas tersebut pada Anasya sembari duduk di sampingnya.


"Jagain aku loh, Bang. Aku takut banget liat laki-laki sliweran, mana kaya lapar perempuan lagi." sahut Anasya, dengan menerima gelas tersebut.


Kenandra tersenyum manis, "Ghifar minta dijagain, takut kena gang*ang kalian. Kau minta dijagain, takut sama yang sliweran itu. Gimana nanti kita pulang? Ghifar udah sama rasa gitu lagi nampaknya." balasnya dengan membuka botol minuman miliknya.


"Lagi gak, Far?" lanjut Kenandra, dengan memperhatikan Ghifar yang sudah bersandar pada bahu Kinasya.


"Bekle nyang pedas Bang." ujar Ghifar yang membuat mereka terkekeh kembali.


"Gak! Berisik pedas terus dari tadi." seru Kenandra dengan memberikan gelas berisi minuman dari botolnya.


"Memang tadi pedas betul, sampek plong hidung aku. Udah macam pakek inhaler." tutur Ghifar yang membuat Anasya sedikit malu, karena sudah membawa Ghifar.


"Malu-maluin ya? Berisik aja dia." ucap Kenandra, dengan menoleh pada wanita di sampingnya.


"Maklum, gak diijinkan mamahnya. Mana berani dia ke tempat begini sendirian." sahut Anasya yang masih merasakan sisa rasa dari minuman keras, yang baru saja diteguknya.


"Kalau anak mamah sih pasti berani, kek bang Givan. Masalah dia ini anaknya papah. Coba ngeganja, mungkin dia kuat banyak, ketimbang suruh minum begini." timpal Kinasya, yang membuat mereka kembali tertawa ringan.


"Stttt…." Ghifar menempatkan telunjuknya di depan mulutnya.


"Kak, aku mau pipis." lanjutnya, dengan duduk tegak. Kemudian ia berdiri dan menyeimbangkan tubuhnya.


"Tak bisa, Kak. Tolong pegangkan pas aku pipis nanti." jawabnya setelah melewati kaki Kinasya.


"Tuh, sama Bang Ken. Sungkan betul Akak, suruh megangin kamu kencing." sahutnya kesal.


"Yuk, Bang Ken." ajak Ghifar, dengan menoleh ke arah Kenandra.


"Apa? Suruh megangin punya kamu? Hmmm… Abang sunat lagi sekalian." balas Kenandra dengan melirik tajam.


"Mentang-mentang pak dokter, main sunat-sunat aset orang aja!" tukas Ghifar dengan berlalu dengan langkah hati-hati.


Sesaat kemudian, Ghifar bertanya pada seseorang yang ia yakini sebagai pegawai club malam tersebut. Benar saja, ia langsung ditunjukkan pada toilet khusus laki-laki.


Ghifar dengan cepat menyelesaikan tujuannya, setelah mendengar suara desisan seseorang yang membuatnya membayangkan hal-hal negatif. Hingga tanpa sengaja, ia menabrak seseorang yang berada di depan pintu masuk toilet.


Brukkk…


Ponsel dan tas genggam milik perempuan, berjatuhan di depan Ghifar. Ghifar yang merasa bahwa dirinya menabrak seseorang, langsung mengucapkan maaf berkali-kali dengan berjongkok untuk mengambil barang-barang yang berjatuhan tersebut.


"Gak apa, Mas." sahut perempuan yang berada di hadapan Ghifar, dengan ikut berjongkok untuk mengambil barang-barangnya.


Lubang hidung Ghifar melebar sempurna, tatkala melihat perempuan yang siang tadi ia kenal.

__ADS_1


"Canda??? Anak santri ngapain di sini? Di sini tak butuh tausiah! Murotal pun, dilarang di tempat ini." tanya Ghifar dengan menyerahkan tas genggam milik Canda.


"Stttt… jangan ngomong kenceng-kenceng." sahut Canda, dengan menempatkan telunjuknya di depan bibirnya.


"Ya udah ati-ati lah, pusing aku tengok jenis-jenis perempuan di kota ini." balas Ghifar dengan hendak berlalu pergi.


Namun, Canda mencekal pergelangan tangan Ghifar.


"Nanti, Mas." cegah Canda kemudian.


"Apa lagi?" tanya Ghifar dengan helaan nafas panjangnya.


"HP aku jangan di bawa." jawab Canda dengan wajah memelas.


Ghifar langsung menoleh ke tangannya, ternyata ia masih menggenggam ponsel dengan softcase berwarna merah muda tersebut. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri, kenapa ia seperti orang bodoh dan linglung. Hanya karena minum minuman beralkohol, dengan kadar rendah saja.


"Nih!" ketus Ghifar dengan memberikan ponsel milik Canda.


Canda menerima ponsel miliknya, dengan menahan tawanya karena melihat wajah Ghifar yang terlihat kesal.


"Mas, ambil kamar apa pulang malam ini?" tanyanya, sebelum Ghifar berlalu pergi.


Ghifar mengerutkan keningnya, ia malah berpikir jelek tentang wanita berhijab modis di depannya. Penampilan Canda bertolak belakang, tak seperti yang Ghifar lihat siang tadi. Umumnya santriwati, siang tadi Canda memakai kerudung besar, dengan kemeja sepanjang paha dan rok panjang lebar yang menutupi mata kakinya. Tak lupa dengan kaos kaki warna kulit, juga flat shoes yang berwarna hitam.


"Kenapa memang?" ujar Ghifar yang malah bertanya kembali pada Canda.


"Aku mau……


......................


*Dangarkan, sakira ikam akan tatap hidup. Ikam...


*Dengarkan, agar kamu akan tetap hidup. Kamu...


Kurang lebih kek gitu artinya... kurang banyak wawasan Author, untuk bahasa asal daerah Haris.


*Golom : Belum


*Ikam, ikam pue le? Tatap, tatap pue nyan? : kamu (dalam bahasa Haris), kamu apa tuh? tetap (dalam bahasa Haris) apa itu?


*Lon bek keu'eueng Bang beh : Aku jangan pedas ya Bang. Beh hanya kalimat sambung, tergantung kalimat.


*Bekle nyang pedas Bang : Janganlah yang pedas Bang. Campuran bahasa Indonesia.


Kurang lebih seperti itu... kadang, bisa ngomong, tapi bingung artiin, padahal ngerti maksud ucapannya. kadang, lain yang diucapin, lain juga yang ditulis, ya... kira-kira kurang lebih seperti itulah.

__ADS_1


__ADS_2