Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS266. Kejutan untuk Ghifar


__ADS_3

Esok harinya, Ghifar masih berdiam diri di rumah. Ia tidak bisa keluar rumah, meski untuk bekerja di pabrik. Ia masih diberi hukuman oleh ayahnya.


Ia pun menahan rindu, karena tak pernah melihat kekasihnya lagi berkeliaran di rumah itu.


"Yang....." Ghifar menyerukan panggilan sayangnya, dengan meremas kesal selimutnya.


Jika ia berada di lantai bawah, ia tidak nyaman dengan pandangan penuh marah dari ayahnya. Namun, jika ia mengurung diri. Ia tersiksa sendiri dengan rasa rindunya pada Kinasya. Ia terbiasa dengan kehadiran Kinasya di rumah itu, tetapi sejak kejadian itu ia tidak pernah melihat Kinasya lagi di lingkungan rumahnya.


Ia menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka lebar.


"Abi?" Ghifar terheran-heran dengan kehadiran ayah angkatnya di ambang pintu kamarnya.


Haris geleng-geleng kepala, sembari memperhatikan wajah nelangsa Ghifar.


"Kau tega sama kakak kau sendiri, Far." ucap Haris dengan melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Ghifar turun dari ranjangnya, ia langsung mencium tangan Haris.


"Ada kepala kampung di bawah. Dia lagi nyelesaiin masalah tentang status kau. Tuh, uang lagi aja Far. Suap lagi. Haji apa, tukang suap. Segala masalah dia main suap." Haris cenderung seperti menggerutu.


Lalu ia duduk di sofa dobel yang terdapat di kamar Ghifar.


"Sama siapa keuchik ke sini?" Ghifar ikut duduk di sofa tersebut.


"Sama ayah kau. Urus pernikahan kau sama Kin, besok kalian nikah."


"Hah?" Ghifar seperti orang bodoh.


"Nikah pesta keluarga aja. Panggung pelaminannya lagi di pasang di halaman belakang." jelas Haris membuat Ghifar bertambah kebingungan.


"Kinnya mau?" tanya Ghifar cepat.


"Mau lah. Kau kang*angin aja mau, apa lagi disahkan." terang Haris dengan begitu lugas.


Ghifar tertunduk, ia malu mendengar sindiran ayah angkatnya.


"Tapi aku belum, Bi." Ghifar mengatakan kejadian kemarin hari.


"Udah atau belumnya. Dengan kau terlalu sering berduaan sama Kin itu, itu bakal ngundang kecurigaan penduduk Far." Ghifar tidak bisa lagi menyangkal ucapan Haris.

__ADS_1


"Bilang sama keuchik, kau udah jatuhin talak ke Tika. Terus kau mau nikah resmi sama Kin, karena perjodohan orang tua. Tadi papah sama Abi udah sepakat untuk itu. Kau juga jawab tau, kalau keuchik nanyain Kin dikirim ke sini semata-mata untuk saling mengenal sama kau." ternyata Ghifar diminta untuk berbohong, karena warga kampung mengetahui bahwa Ghifar adalah suami Tika.


"Cepet turun dulu, bantu papah kau buat ngomong."


Ghifar segera mematuhi perintah Haris. Ia ingin melancarkan rencana orang tuanya, yang selalu melindunginya itu.


Ghifar memasang senyum ramah, saat melihat tamu yang Jefri bawa.


Kemudian, dirinya berjabat tangan dengan tamu tersebut.


"Masa iddah ya berarti dek Tika?" ternyata Tika juga ada di ruang tamu tersebut.


"Iya, Pak. Lagi ngandung juga, tunggu lepas nifas." sahut Ghifar kemudian.


"Ada anak bujang, kenapa Teungku haji nikahinnya sama yang udah beristri?" tanya tamunya kembali.


"Tadinya udah sepakat buat nikahin mereka. Ghifar merantau lama juga, sama keluarga Kinasya. Tapi, pas balik merantau tiba-tiba bawa istri aja. Aku aja kaget, Pak." Adi menyamar kebohongannya dengan tersenyum lebar.


"Terus... Ya, bukannya mencampuri. Memang mereka berdua yang milih buat pisah. Jadi, setelah Ghifar duda satu bulan. Deket lagi itu sama bu dokter." warga kampung sudah biasa menyebut Kinasya dengan sebutan itu, tak heran kepala kampung tersebut memahami siapa yang Adi maksud.


"Oh, iya. Paham, Teungku." kemudian kepala kampung menggulirkan pandangannya pada Tika.


"Dek Tika udah tak apa kah? Masih masa iddah, mana lagi ngandung lagi. Tapi Ghifar udah mau nikah balik. Tak bakal ngundang keributan di rumah ini kan? Saya sedikit khawatir tentang hal itu, takut malah cakar-cakaran." terangnya kemudian.


Ghifar menarik kesimpulan, bahwa Tika sebelumnya sudah diberi instruksi terlebih dahulu.


"Ka bereh, Teungku. Besok ya? Saya segerakan jadi dokumen nikahnya, Teungku." sanggupnya kemudian.


"Ya, ya, ya." Adi tersenyum lebar dengan berjabat tangan kembali dengan kepala kampung tersebut.


"Mari semuanya. Assalamualaikum." ia langsung pamit, diikuti dengan Jefri yang berniat untuk mengantarkan ketua kampung itu.


"Enak betul jadi teungku." gerutu Haris, dengan memperhatikan motor Jefri dan motor kepala kampung yang keluar dari halaman rumah Adi.


"Alhamdulillah." Adi merasa plong pada kepalanya.


"Belum selesai, Di. Masih ada kerunyaman lagi." ujar Haris dengan berjalan menuju kamar tamu yang sedang dihias, yang akan Ghifar dan Kinasya tempati untuk malam setelah pernikahan mereka.


"Shalwa... Aziz.... Ini calonnya Kin." suara Haris membuat Ghifar tegang.

__ADS_1


Satu pasang seusia Zuhra muncul, mereka tersenyum ramah pada Ghifar yang diam tanpa ekspresi.


Di sisi kamar lain, muncul sepasang manusia yang tersenyum ramah pada Ghifar.


"Hai, Nak." Haris tak mengerti, kenapa Ghifar malah melamun.


"Oh, iya Bi." Ghifar tersenyum pada mereka semua.


"Cium tangan, ini ibu kandungnya Kin. Adik Abi, yang tinggal di Hongkong. Ini suaminya sekarang, dokter di Hongkong. Ibunya Kin pun, dia dokter di Hongkongnya." Ghifar segera menuruti perintah Haris.


"Terus ini." mata Ghifar bergulir ke sisi kamar lain.


"Ini bapak kandungnya Kin, stay di B*njarmasin. Ini istrinya sekarang." penjelasan Haris cukup membuat Ghifar paham.


"Jadi... Kalau lebaran nanti. Mertua yang mana, yang harus aku belikan pakaian?" tanya Ghifar dengan nada seriusnya.


Mereka semua tertawa lepas, calon menantu mereka begitu bagus selera humornya.


"Ya Abi lah, siapa lagi mertua kau?" ujar Haris dengan menyugar rambutnya ke belakang.


"Istri Abang mana? Kok tak diajak?" tanya Sukma, yang baru muncul dari kamar yang tengah dihias tersebut. Ghifar tak mengira, ada banyak orang di kamar yang tengah dihias tersebut.


"Kalau diajak, nanti tak bisa nostalgia sama Adek." jawab Haris membuat mereka semua kembali tertawa renyah.


"Kinnya kenapa tak diajak, Mi?" Ghifar mengetahui, perihal Kinasya yang pindah satu rumah dengan Ahya.


"Biar esok aja sekalian." Ghifar murung kembali, karena rindunya tak terobati juga.


Kemudian, mereka semua duduk di tempatnya. Saling mengenal satu sama lain, dengan gurauan ringan di sepanjang obrolan mereka.


Ghifar tak menyangka, ternyata istrinya memiliki banyak orang tua. Yang lebih membuatnya terheran-heran, karena Haris mengatakan bahwa Kinasya tak mengetahui rupa orang tua kandungnya sampai saat ini.


Rasa bahagia, bercampur dengan bersalah. Karena ayahnya masih susah untuk ia ajak berbicara. Adi begitu kaku, untuk kembali baik-baik saja dengan anaknya.


"Far... Ada kawan-kawan kau di teras depan." Canda memberanikan diri untuk mengeluarkan suaranya. Karena Ghifar masih anteng di halaman belakang, ia tidak tahu dengan kedatangan teman-teman lamanya.


"Hmm..." Ghifar menoleh ke arah orang yang mengajaknya berbicara tersebut.


"Ya, Ka.... Kakak ipar." Ghifar begitu sulit mengeluarkan kata sebutan untuk Canda.

__ADS_1


Ghifar segera bergegas menuju teras depan rumahnya. Ia sedikit bertanya-tanya, dari mana teman-temannya tahu bahwa dirinya akan menikah?


......................


__ADS_2