
"Obat aja, obat. Ngeri betul!" lanjut Adi begitu kacau.
"Tak ada!!!" tegasnya dengan bangkit dari duduknya.
"Udahlah! Capek aku! Minggu depan ke tempat aku lagi. Sekarangnya udah dulu. Capek urat syaraf aku ngadepin keluarga pasien yang banyak aturannya." Wahyudin ngeloyor begitu saja, tanpa berpamitan dengan Ghifar.
Adi cekikikan sendiri, ia sedikit geli melihat wajah kesal Wahyudin.
"Far... Balik." Adi menghampiri mobilnya, yang berada tak jauh dari jangkauan Ghifar.
Ghifar mengalihkan perhatiannya dari ponselnya. Kemudian ia bangun dari jongkoknya, lalu menghampiri ayahnya.
"Ya, Pah." sahutnya dengan masuk ke dalam mobil.
Mereka berdua langsung meninggalkan parkiran laboratorium tersebut. Tujuan mereka adalah pulang ke rumah. Hanya begitu-begitu saja, tetapi cukup menguras tenaga mereka.
Sesampainya di rumah, Adi langsung mencari keberadaan istrinya. Sedangkan Ghifar, ia memilih untuk beristirahat di kamarnya.
"Jam segini udah di rumah?" Adi terheran-heran, saat melihat Kinasya tengah bermanja-manja pada istrinya. Kinasya melebihi manjanya anak perempuan mereka, ia selalu bercerita apa saja pada Adinda.
"Sakit, Pah." Kinasya memasang wajah memelasnya.
Adi melirik dengan tawa mengejeknya, ia tak mempercayai jawaban Kinasya.
"Sakit apa?" Adi melepaskan kemejanya begitu saja, meski ada anak angkatnya di kamarnya.
"Bisulan." Adinda menyahuti sembari tertawa puas.
Adi menoleh pada dua orang wanita, yang tengah berbaring di atas tempat tidur itu. Garis bibirnya tertarik ke atas, melihat raut wajah kemerahan Kinasya.
"Udah besar kok masih bisulan aja? Di mana itu bisul kau?" Adi berjalan ke arah pintu kamar mandi mereka.
"Di paha dalam, Pah. Senut-senut betul, sakit kepala aku." jawab Kinasya kemudian.
Adi menahan gagang pintu tersebut, sebelum dirinya menutup kembali pintunya.
"Yang bisulan paha dalam. Kok bisanya yang sakit di kepala?" Kinasya terbahak malu-malu, karena Adi seperti tengah mengejeknya terus menerus.
"Meriang dia, Bang. Namanya bisulan." Adinda ikut menimpali.
Adi hanya manggut-manggut, kemudian melanjutkan tujuannya untuk beraktivitas di dalam kamar mandi.
Tak lama, Adi muncul kembali dengan setelan sarung dan kaos nyamannya.
"Makan belum, Bang?" Adinda bersandar di kepala ranjang.
"Udah." Adi duduk di tepian tempat tidur, dekat suaminya.
__ADS_1
"Suram, Dek. Pengobatannya serem." Kinasya begitu tertarik untuk mendengar cerita ayah angkatnya.
"Kek mana, Pah? Coba cerita." pinta Kinasya dengan memepetkan tubuhnya yang tengah berbaring, untuk memeluk kaki Adinda.
"Jadi gini....." Adi menceritakan ulang, tentang semua yang ia lalui bersama Ghifar dan Wahyudin.
Tiba-tiba, Kinasya teringat akan kekhilafan Ghifar kemarin hari. Ia tak bisa memastikan, apa inti Ghifar bisa terbangun. Namun, ia menyimpulkan bahwa Ghifar tengah mendapat ambang rasa rangsa*gnya.
"Dia butuh keyakinan, bahwa memang Canda udah tak apa-apa. Dia juga butuh keyakinan, bahwa perempuan yang akan dia gauli tak kesakitan. Intinya dia trauma, takut perempuan yang mau dia gauli itu kesakitan macam Canda diper*osa bang Givan dulu." Kinasya langsung memberikan pendapatnya.
"Dinikahin aja kah, Bang?" tandas Adinda kemudian.
"Kalau dinikahin tuh, Dek. Syaratnya Ghifarnya mau. Ghifar tak mau nikah, dia ini malu Dek dengan kenyataan ini. Terus kalau misal dinikahin, kita juga harus cerita ke calon istrinya." Adinda dan Kinasya manggut-manggut, mereka mengerti dengan maksud Adi.
"Mana bisul kau? Sini Papah pencet." Adi mengalihkan pandangannya pada Kinasya.
"Tuh..." Kinasya menunjukkan paha dalamnya, yang sudah diolesi dengan salep berwarna hitam.
"Udah beberapa hari ini tuh. Udah mau pecah. Tapi rasanya psikopet betul, orang yang berniat mecahin bisul aku." ungkapnya dengan wajah memelas.
"Dibilang udah matang. Kalau tak dipencet, tak bakal sembuh." Adinda mengulangi pendapatnya kembali.
"Tak mau aku, Mah. Sakit kali pasti." Kinasya kembali menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
Adi naik ke atas ranjang, untuk bisa melihat lebih jelas bisul yang berada di paha dalam Kinasya.
"PAPAH.... JANGAN!!!" Kinasya langsung memekik hebat, saat tangan Adi sampai di paha mulusnya.
Adinda cekikikan, melihat drama bisul itu.
"Udah pecah itu ujungnya. Petes, keluar mata hijaunya. Terus sembuh." Adi menajamkan penglihatannya, untuk melihat bisul yang sebesar kuku ibu jarinya.
"ADUHHHHH..... SAKIT PAPAH...... PAPAH....." raungan hebat menjadi tanda betapa terurusnya Kinasya di tangan Adi.
Masalah bisul itu terselesaikan, dengan anak-anak Adi yang berbondong-bondong untuk melihat kejadian di kamar orang tuanya tersebut.
~
Esok harinya, Ghifar senantiasa mengantar jemput Kinasya. Karena ia dipaksa oleh kakak angkatnya tersebut. Kinasya tetap ingin bekerja, meski keadaannya dalam masa penyembuhan dari bisulnya.
"Aku lagi sibuk nih, Kak. Tak bisa langsung antar balik ke kontrakan kau, Kak. Aku mesti selesaikan dulu beres-beres rumah panggung aku, sekalian kunci balik pintunya." ucap Ghifar, di tengah perjalanan mereka.
"Iya." Kinasya hanya menyahuti sekenanya. Yang terpenting untuknya, ada yang mengantarnya sampai ke kontrakannya.
Sesampainya di rumah panggung, yang terletak dua ratus meter ke dalam ladang kopi itu. Ghifar langsung membantu Kinasya untuk turun, kemudian ia berjalan mendahului untuk sampai di anak tangga rumah itu.
"Pasti banyak setannya. Lama tak ditungguin." komentar Kinasya dengan memperhatikan Ghifar yang naik ke atas anak tangga itu.
__ADS_1
Tiba-tiba, Ghifar turun kembali dengan wajah tegangnya.
"Ada setan, ada setan." Ghifar melarikan diri, meninggalkan Kinasya yang tengah merasa sakit pada sebelah kakinya.
"WOY!!!" Kinasya panik, ia mencoba berlari untuk mengejar Ghifar.
Namun, langkah kaki Ghifar berhenti. Ghifar kembali menoleh ke belakang, menyaksikan Kinasya yang lari terpincang-pincang.
Tawanya meledak, ia begitu puas telah mengerjai kakak angkatnya.
Langkah Kinasya berhenti, ia menatap Ghifar penuh amarah.
Ghifar cekikikan, lalu ia menghampiri Kinasya yang terlihat akan memakannya tersebut.
"Setannya ada di antara kita. Kau tunggu di depan aja, Ok? Aku mau berdirikan kasur dulu, masuk-masukin bantal. Terus kunci pintu, lepas itu aku antar kau balik." Ghifar membantu Kinasya untuk berjalan, meski Kinasya masih terlihat menyeramkan.
Kinasya menuruti Ghifar, ia memandangi pohon-pohon kopi di sekitar bangunan tersebut. Mobil-mobil tengah berlalu lalang, dengan mengangkut pekerja. Namun, mobil itu tak melewati area rumah panggung Ghifar. Mobil itu lewat di jalan tengah ladang, yang terlihat dari tempat Kinasya duduk.
Ranting yang bergesekan karena angin, cukup memberikan bunyi-bunyian yang membuat Kinasya merinding.
"Apa yang dia rasain? Tinggal di dalam ladang kek gini? Apa tak takut dimakan setan kah dia?" Kinasya menoleh ke arah pintu rumah panggung itu.
"Susulin, ahh. Takut betul aku." Kinasya berjalan perlahan, untuk mencari keberadaan adik angkatnya.
"Far...." Kinasya menyerukan nama Ghifar, agar ia bisa menentukan tempat Ghifar berada.
"Ya, bentar." seru Ghifar dari dalam kamarnya.
Kinasya berjalan menuju sumber suara, sedikit ia mendorong pintu kamar tersebut.
Terlihat Ghifar tengah melipat beberapa kain, yang mungkin telah dicucinya. Dengan keadaan bertelanjang dada, juga keringat yang membasahi pelipisnya. Ghifar adalah juaranya untuk mengeluarkan keringat di udara dingin seperti ini.
"Anter balik, yuk. Takut aku." Kinasya mengusap-usap lengannya sendiri.
Angin yang menyeriwing dari jendela yang terbuka, cukup menyampaikan bahwa hawa di daerah itu semakin dingin.
"Sebentar." Ghifar memasukkan kain-kain itu ke dalam lemarinya.
Lalu ia menghampiri Kinasya, yang berdiri di dekat pintu.
Ghifar mengerutkan keningnya, saat berada di hadapan Kinasya.
Tangannya terulur, melewati tubuh Kinasya dari samping. Kemudian pintu tersebut tertutup, karena terdorong tangan Ghifar. Yang tengah mengambil kaosnya, yang bertengger di kastok yang berada di belakang pintu tersebut.
Kinasya teringat akan rabu paginya. Apa lagi jaraknya terlalu dekat dengan Ghifar.
Bukannya beranjak, Ghifar malah memperhatikan wajah Kinasya yang seperti menahan sesuatu itu.
__ADS_1
......................
Cicak-cicak di dinding 😆