Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS37. Ai Diah


__ADS_3

"Awas aja ya kau, Dek!! Abang yang merasa punya yang cebol buntek, mirip tutup botol miris Dek dengernya." ujar Haris, yang membuat Alvi dan Ghifar tertawa puas.


"Kan tadi Tante tak sebutin besar panjangnya, Bi. Sensitif betul sih." timpal Ghifar dengan melirik Haris sekilas.


"Tapi betul kah tawarannya, Tan? Masih perjaka tak pernah c*li juga nih, Tan. Barangkali penasaran." lanjut Ghifar dengan menoleh ke arah Alvi.


Alvi lebih kuat tertawa, mendengar tanggapan Ghifar. Dengan Haris yang langsung mengulurkan tangannya, untuk menarik rambut dagu peliharaan Ghifar.


"Heh… gurau, Bi. Pedes loh, bek lah Bi." ucap Ghifar dengan mengusap-usap dagunya.


"Bang Adi juga sama ya punya bulu dagu. Dari muda dia peliharaan bulu dagu, meski hanya beberapa helai aja yang dia punya." sahut Alvi yang diangguki Ghifar.


"Abang brewok nih, kau tak pernah muji itu." balas Haris, dengan menunjukkan hasil cukurannya pagi tadi.


"Tapi Abang tak pernah panjangin brewoknya. Baru tumbuh, langsung pangkas lagi." ujar Alvi dengan membelai pelipis suaminya.


"Ya masa, dokter kok brewokan? Ya tak boleh, Dek. Macam apa kali!" tutur Haris yang membuat Alvi terkekeh geli.


"Eh, iya sih. Seumur-umur juga aku tak pernah tengok dokter brewokan. Pernah tengok, memang ada. Tapi bekas cukuran, terus kan nampak itu bulu baru tumbuhnya." tukas Ghifar, setelah mengingat kembali rupa dokter yang pernah ia temui.


"Nah itulah. Sana gangguin Kin, dari pagi drama terus dia. Segala minta tas mahal, dikira abinya punya ladang yang bisa dijanjikan." pinta Haris, yang langsung diangguki oleh Ghifar.


"Kamarnya yang mana, Bi?" tanya Ghifar dengan bangkit dari posisinya.


"Di atas, sebelah kamar Abi. Tapi pintunya buka aja, pas kau masuk nanti." jawab Haris dengan menunjuk asal dengan telunjuknya.


"Ya, Bi. Lagian juga, tak mungkin aku waheho terang-terangan." balas Ghifar dengan berlalu pergi.


"Anak yang terakhir katanya mirip Dinda ya, Bang?" tanya Alvi setelah Ghifar tak ada lagi di situ.


"Mirip Dinda, tapi tetep hidungnya besar macam Adi. Warna kulit, mata, bibir, mirip Dinda. Rahang, sama sorot netranya, buas juga macam Adi." jawab Haris, dengan menunjukkan foto sikecil Gibran.


"Ih, iya sih. Gini kali ya, cikal bakal laki-laki yang diam-diam menghanyutkan." sahut Alvi, dengan memperbesar foto Gibran.


"Keknya, Dek. Soalnya kalau kata Adi sama Dinda, ini anak lembut, tak bisa dikasarin. Tapi lain lagi ceritanya, kalau kata kakak-kakaknya. Abang dapat cerita dari Giska, katanya si Gibran ini mukul kepala Gavin pakek sapu. Waktu dia dititipin ke kakak-kakaknya, Dinda sama Adinya lagi keluar." ungkap Haris, yang membuat Alvi mengerutkan keningnya.


"Kok bisa nampak lembut di mata bang Adi sama Dinda?" balasnya heran. Haris mengedikan bahunya, karena ia pun tak mengerti tentang anak tersebut.

__ADS_1


"BUNDA…… ABI…… NGAPAIN NYURUH MAKHLUK HITAM INI, BUAT MASUK KE KAMAR AKU???!!" teriak Kinasya, yang sangat mengganggu ketenangan mereka.


"KAU MAU DIKAWININNYA KATANYA." seru Haris, yang menciptakan tawa puas Ghifar. Sedangkan anaknya berteriak sekeras mungkin, diikuti dengan suara bantingan pintu kamar.


Tak lama, muncul Kinasya dengan wajah kesalnya. Ia langsung duduk di pangkuan ayahnya, dengan rengekan manja khas anak kecil.


"Apa lagi anak mamah Dinda???? Padahal Bunda yang lebih lama ngasuh kau, tapi kelakuan kau macam Giska, yang dari kecil diasuh mamah Dinda." ucap Haris, dengan mencubit dagu anaknya.


Bukan hal aneh, jika Haris mengetahui sifat kekanak-kanakan Giska. Karena sampai sekarang pun, mereka masih sering bertukar cerita tentang keluarga masing-masing.


"Aku kan anaknya, Giska cuma numpang di rahimnya aja." sahutnya enteng, yang membuat Haris dan Alvi terkekeh kecil sembari menggelengkan kepalanya.


"Ayolah, Bi. Tak mahal kali kok, paling berapa juta." ucap Kinasya, yang membuat Haris kembali menghela nafas panjangnya.


"Minta sama Ghifar sana! Anak orang kaya dia." pinta Haris, yang membuat Kinasya menoleh ke arah laki-laki. Yang tengah bermain ponsel, di ambang pintu rumahnya.


"Far…" panggil Kinasya, dengan masih memperhatikan Ghifar.


"Pue lom?" sahut Ghifar yang masih anteng dengan ponselnya.


"Belanjain Akak tas Kate Spade. Akak lagi ngelirik Gold Coast Maryanne. Murah Far, cuma 4,3 juta aja." ungkap Kinasya, dengan bangun dari pangkuan ayahnya. Lalu ia berdiri di kusen pintu, yang posisinya paling dekat dengan Ghifar.


Haris dan Alvi terbahak-bahak, "Simbiosis mutualisme ya?" timpal Haris kemudian.


"Ya, dong. Enak aja minta-minta, memangnya Akak kewajiban aku apa? Coba pas kemarin aku ajak nikah Akak mau, udah aku usahain itu 4,3 jutanya." balas Ghifar yang masih memperhatikan wajah Kin, yang terlihat masih terkejut.


"Semoga aja tak semua laki-laki macam kau, Far!" tegas Kinasya dengan mengibaskan rambutnya ke wajah Ghifar. Lalu dirinya berlalu pergi ke dalam rumah, meninggalkan Ghifar yang melongo melihat tingkah Kinasya.


Ghifar mengalihkan pandangannya ke arah Haris, "Ayo Bi, katanya mau ngajak keluar." ujar Ghifar kemudian.


"Yuk, ajak Ken aja. Tak usah ajak Kin, lagi rewel." sahut Haris dengan beranjak dari tempatnya.


"Tak seru lah, masa tak ada perempuannya." balas Ghifar dengan suara lesu.


"Bunda ikut dong, Bi." usul Alvi yang langsung digelengi oleh Haris.


"Yang ada nanti Abi yang risih. No, no, no!" elak Haris dengan berlalu pergi ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Tan…" panggil Ghifar dengan duduk di kursi sebelah Alvi.


"Hmmm." Alvi hanya bergumaman saja.


"Boleh minta masakin makanan khas daerah aku tak, Tan? Buat besok nanti. Tapi aku tak ada uang, buat beli bahan masakannya." ungkap Ghifar terdengar ragu-ragu.


"Boleh, mau masak apa? Asal dibantuin, karena Tante tak tau pasti nih." sahut Alvi, dengan mengalihkan perhatiannya, dari ponsel yang tengah ia mainkan.


"Apa ya….??? Liat nanti aja, nanti aku ikut ke pasarnya." balas Ghifar yang hanya diangguki saja oleh Alvi.


Hingga beberapa saat kemudian, Ghifar pamit pergi keluar dengan Haris dan Kenandra.


~


~


~


Di tempat lain


"Bang…. Siapa ini Ai Diah?" seru Fira, dengan menunjukkan nama yang tertera di layar ponsel Givan.


Givan langsung menoleh cepat, dengan merebut ponselnya yang berada di genggaman tangan Fira.


"Bukan siapa-siapa." sahut Ghifar terdengar gugup.


"Bohong! Tak mungkin dia bukan siapa-siapa, tapi manggil Abang pakek sebutan aa. Aku paham apa itu aa, itu panggilan kesayangan perempuan ke laki-laki di Jawa Barat." ungkap Fira, dengan mata nyalang.


"Orang M*jalengka, memang nyebut aa ke laki-laki yang masih muda." jelas Givan dengan menoleh kembali ke arah pilar-pilar rumah miliknya, yang berbentuk seperti candi tersebut.


Ya, akhirnya Givan memutuskan untuk membeli rumah sederhana untuk mereka berdua. Yang membuat mereka cukup tentram di daerah sana, meski tinggal satu rumah tanpa ikatan pernikahan.


"Oh, jadi Ai orang M*jalengka. Harusnya kau bilang suku Sunda, yang biasa manggil aa. Tapi, secara tidak sadar. Kau malah bilang, bahwa orang M*jalengka yang demikian." balas Fira, seperti tengah menyudutkan Givan.


Givan menoleh ke arah Fira, dengan sorot mata tajamnya.


"Kau berani kau-kau kan aku?!!!" pekik Givan dengan berjalan ke arah Fira.

__ADS_1


......................


Ada yang penasaran sama Givan?


__ADS_2