Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS253. Pembahasan tentang anak


__ADS_3

"Bersih Dek tangan Abang tuh. Kenapa sih diminta cuci tangan terus?" Zuhdi muncul di area dapur, wajahnya seperti menahan kekesalannya sendiri.


Adinda memahami nada tersinggung dari Zuhdi. Adinda menyangka, ini menyangkut dengan profesi Zuhdi.


"Jangan tersinggung, Di. Giska memang resik orangnya. Masak aja, dia berkali-kali bolak-balik cuci tangan. Abis ngelakuin kegiatan apapun, Giska pasti cuci tangan. Apa lagi, pas musim covid dulu." ungkap Adinda, saat menantunya berjalan ke arah wastafel.


"Ya, Mah." Zuhdi akhirnya memahami alasan di balik perintah dari istrinya itu.


"Win... Bangunin suami kau."


Meski Winda kurang bisa berbaur dengan keluarganya. Adinda kini memahami bahwa Winda condong untuk berbicara di depan publik. Bahasa dan intonasi yang Winda gunakan saat berbicara dengan pihak berwajib, cukup menarik perhatian Adinda saat itu.


"Ya, Mah." Winda mengeringkan tangannya, kemudian berjalan menuju ke kamar suaminya.


Adinda berbalik memperhatikan Kinasya dan Ghifar. Belum apa-apa, Kinasya sudah begitu fokus untuk mengurus putranya. Sepertinya Kinasya benar-benar tidak bisa ia lepaskan dari putranya. Benak Adinda tengah memiliki banyak kemungkinan.


"Lepas ini, anter sarapan ke papah Far."


Perintah ibunya mengingatkan Ghifar pada pertengkaran dalam diamnya dengan ayahnya.


"Ya, Mah. Aku siapin ya?" Kinasya langsung mencarikan wadah kedap udara di rak penyimpanan piring.


Selepas mengantarkan Kinasya ke tempat kerjanya. Ghifar bergegas menuju ke ladang tempat ayahnya bekerja, baru kemudian ia akan pergi ke pabrik. Ia sudah kembali ditelpon oleh Jefri, karena Ghifar sudah libur terlalu lama karena kesibukan di rumah.


"Pah..." Ghifar menemukan keberadaan ayahnya.


Adi menoleh sekilas pada anaknya. Lalu ia kembali fokus pada gundukan tanah.


"Papah tumben apa, berangkat ke ladang belum sarapan? Ini sarapannya." Ghifar turun dari motornya, kemudian berjalan ke arah ayahnya.


"Hmm."


Sungguh Ghifar merasa sedih, karena hanya dekheman saja dari ayahnya.


"Di sini ya, Pah." Ghifar menyangkutkan plastik yang membungkus wadah kedap udara tersebut, pada stang sepeda ayahnya.


Kembali, hanya dekheman saja dari Adi.


Ghifar tak berani untuk membuka suara lebih banyak. Ia segera menarik gas motornya, untuk menuju ke pabrik tempatnya bekerja.


Beberapa jam terlewat, Adi memutuskan untuk kembali ke rumah. Karena memang tak ada pekerjaan yang berarti untuknya. Ia hanya mencari kesibukannya sendiri di ladangnya.


"Adek...." Adi mencari keberadaan istrinya.

__ADS_1


Harusnya istrinya tengah berada di rumah, untuk menyuapi anak-anak mereka yang baru pulang sekolah.


"Dek Dinda...." seru Adi, setelah dirinya selesai mencuci tangan dan kakinya.


Ia kembali mencari keberadaan istrinya.


Adi mengerutkan keningnya, ia mendengar suara yang begitu lamat-lamat terdengar.


Ia mencari sumber suara itu, karena ia merasa itu adalah suara istrinya dan seseorang yang tengah mengobrol.


'Dapur kosong.' gumam Adi, ia menyangka suara itu dari arah dapur.


"Iya betul, tak salah lagi. Masalahnya Ghifarnya ngaku."


Suara itu semakin jelas. Adi menoleh ke arah jendela dapur tersebut.


Ternyata memang istrinya tengah berbincang dengan seseorang di halaman belakang. Adi mengintip istrinya dari jendela yang setengah terbuka tersebut.


"Sukma?" tanyanya seorang diri. Ia pun menekan suaranya, agar tidak terdengar oleh telinga dua wanita itu.


Adinda pun tengah menggenggam telepon, yang ia hadapkan di depan wajahnya.


"Nelpon siapa itu?" ada rasa sedikit cemas, karena Adi takut bersaing dengan laki-laki lain di usianya sekarang.


Adi mengangguk, ia mengenal suara ini. Bukan lain, sepertinya Haris yang tengah menelpon istrinya itu.


"Terus kek mana?" Sukma ikut menimpali obrolan Adinda dan Haris.


Adi memutuskan untuk melangkah ke arah pintu belakang. Ia ingin mendengar sendiri pembahasan mereka bertiga. Ia tidak mau Adinda membicarakan sesuatu di belakangnya.


Wajah terkejut Adinda tidak bisa disembunyikan. Saat melihat tubuh gagah suaminya melangkah ke arah mereka.


"Anak kita mana, Dek? Udah pada makan belum mereka?" basa-basi Adi.


"Anak-anak sama Key lagi diajak keluar sama Winda sama Ghava. Ke kota katanya, Bang." sahut Adinda kemudian.


"Hmm." Adi duduk di sebelah istrinya, lalu mengecup pipi istrinya sekilas.


"Kebiasaan!" Sukma memukul pundak Adi.


Dirinya duduk di atas kursi, sedangkan Adinda duduk di lantai. Membuat Sukma bisa melihat jelas, Adi yang nyosor pada istrinya.


"He'em, malu-maluin aslinya. Tak lagi sepi, tak lagi ramai orang. Kek gitu terus kelakuan. Risih betul pas hari itu, lagi kumpul keluarga. Ini anak jantan abi Ali, mainin leher aku aja. Apa tak gemas aku?! Kalau tak nampak wajah kacau dia, udah aku marahin itu. Mana aku lagi makan lagi." mulut Adinda berbicara sangat cepat.

__ADS_1


Mereka semua terkekeh geli, tak terkecuali dengan Adi. Hari itu, ia tidak berpikir akan istrinya yang marah. Dirinya sudah benar-benar kacau, ia hanya memikirkan tentang kewarasannya sendiri saat itu.


"Ya tapi bersyukur dong. Alhamdulillah kan, rumah tangganya kokoh sampek sekarang?" ucapan Haris menimbulkan keharuan Adinda.


"Alhamdulillah." Adi mengungkapkan rasa syukurnya.


Ia bersyukur telah diberi pasangan hidup yang mengerti akan dirinya. Terkadang ia berpikir, bahwa dirinya cukup keterlaluan dalam meminta haknya. Sebelum tidur dirinya sudah mendapatkan jatahnya, tapi saat bangun tidur subuh dirinya menuntut kembali.


Belum lagi untuk hidup bersamanya dan menerima segala sifat baik buruknya. Adi pun merasa dirinya sedikit kasar, jika tengah dirundung emosi. Namun, kembali hatinya mendingin karena ketenangan yang Adinda berikan.


"Tapi Bang Adi tua, jadinya kolot betul Bang. Susah diajak ngomong baik-baiknya. Apa lagi kalau udah pokoknya, udah mentok rayuan aku tak bisa aku ungkapin lagi." Adi tertawa geli, mendengar penilaian istrinya tersebut.


"Padahal dari dulu dia kek gitu, Din. Kau baru ngerasa dia kolot, karena kau bosan hidup sama dia." Sukma memanas-manasi suasana hati Adi yang sudah melunak kembali.


Adinda menoleh ke arah suaminya, telunjuknya ia tempatkan di dagunya.


"Bisa jadi, bisa jadi." ia manggut-manggut mengiyakan.


Adi mendelik tajam. Ia tidak suka dengan gurauan itu.


Adinda terkekeh, kemudian mengusap keringat di pelipis suaminya.


"Tak bosan kok." ibu jarinya mengusap-usap pipi Adi.


"Udah mesra-mesraannya, jadi Ghifar sama Kin kek mana nih?"


Adinda menegang, karena ucapan Haris barusan. Ia lupa untuk memberitahu Haris, agar tidak mengatakan itu pada suaminya.


"Kau jemput aja anak kau." putusan Adi begitu dingin.


Apa ia tak memikirkan perasaan anak-anak? Adinda pun merasa heran dengan penuturan Adi barusan. Adi seperti bukan suaminya yang ia kenal.


"Pas aku bawa balik nanti, yang ada dia udah ngandung. Jangan mentang-mentang punya pihak laki-laki, kau segitu sombongnya Di." nada suara Haris terdengar santai. Ia hanya ingin Adi mengerti dengan keadaan anak-anak yang saling mencintai itu.


"Ghifar bukan laki-laki baik. Mulutnya udah banyak berdusta, dalihnya pintar kali. Kasian Kin, kalau kelak jadi sama Ghifar."


Adinda tak mengerti, mengapa suaminya sampai begitu marah pada anaknya?


"Kenapa kau ngomong kek gitu?" tanya Haris dalam panggilan telepon tersebut.


"Dia.....


......................

__ADS_1


Kenapa dengan Adi? 🤔


__ADS_2