Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS159. Pergi dari rumah


__ADS_3

***Ceritanya nyambung menyambung menjadi satu. Masih ingat season 1 Sang Pemuda? Nyambung loh. Jangan salah kira juga, Kinasya ikut andil di pemecahan masalah keluarga Adi nanti. Jangan kabur ya, nikmati bacaannya 🙏😅


"HEH... KINASYA!!! NIH BUKTINYA, BAHWA KAU ANAK YANG TAK PUNYA AYAH DAN HASIL DI LUAR NIKAH. KAU BUKAN ANAK ABI, BUKAN ANAK ABI AKU!" teriak Langi di depan kamar Kinasya.


Kinasya terguncang dalam tangisnya. Ia mencoba menstabilkan nafasnya, kemudian ia berjalan ke arah pintu kamarnya.


Ceklek...


"Nih! Baca dan cermati sendiri!" Langi dengan penampilan kacaunya, memberikan beberapa barang pada Kinasya.


Kinasya menerima buku lusuh berwarna pink tersebut. Dengan Langi, yang tersenyum miring dan berbalik badan untuk meninggalkan kamar Kinasya.


Kinasya masih mematung di ambang pintu kamarnya, dengan membaca nama yang tertera di buku KIA tersebut.


"Shalwa Khoirunisa?" sebuah nama, membuat pikiran Kinasya langsung menjurus ke pada tantenya yang berada di luar negeri.


Karena hanya tantenya yang ia kenal, yang memiliki nama Shalwa. Teman-teman maupun kerabatnya, tak memiliki nama yang sama seperti tantenya.


"Ini tahun aku lahir, dua bulan sebelum aku dilahirkan. Kok di foto, umi tak nampak besar perutnya?" tanya Kinasya seorang diri, dengan memperjelas penglihatannya. Untuk membaca tulisan yang berada di belakang selembar foto tersebut.


Ia kembali menilik buku KIA tersebut, ia mencari informasi tentang suami dari Shalwa Khoirunisa. Yang biasanya tertera di lembar pemeriksaan.


Hanya strip satu, yang terdapat di informasi mengenai nama suami dari Shalwa Khoirunisa.

__ADS_1


Ia mencoba mencerna informasi yang ia dapat. Ia mengingat setiap pertemuannya dengan keluarga besarnya. Ia baru memahami, kenapa dirinya selalu mendapat tanggapan angkuh dari keluarga besarnya.


"Aku bukan anak umi, makanya aku tak pernah dapat jatah lebaran dari abusyik sama masyik. Cuma bang Ken, yang selalu mereka tanyakan kabar." lirihnya, dengan berkaca pada kamarnya yang terlapisi kaca berukuran temboknya.


"Kai sama nini pun, suka malingin wajahnya dari aku. Aku anak siapa? Apa aku anak dari selingkuhan abi? Sampek mereka semua, kek jijik kali sama aku." prasangka Kinasya kian menjadi.


"Baiknya aku pindah aja, biar tak jadi bulan-bulanan Langi sama bunda. Aku mau ikut umi aja. Tapi.... Tapi kalau aku bukan anak umi, umi pasti keberatan aku ikut dia. Aku mesti ke mamah sama papah, mereka pasti tak keberatan nampung aku untuk sementara. Aku tak mau Langi nyebutin aku anak ungsian lagi. Aku tak mau bunda diemin aku, macam aku tak ada di rumah ini. Aku tak mau liat abi ngamuk lagi, aku takut. Hari ini abi bisa jatuhin tangannya ke bunda sama Langi, aku takut besok-besok malah aku yang jadi sasaran abi." Kinasya segera bangkit, kemudian mencari keberadaan koper yang ia gunakan setiap kali berlibur. Lali ia mengambil beberapa pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.


Kinasya merindik-rindik, agar bisa keluar dari rumah itu tanpa sepengetahuan Langi dan ibu sambungnya. Bukan karena ia tidak sopan, atau dalam misi kabur dari rumah. Tapi lebih karena, ia tak mau menjawab pertanyaan dari adik dan ibu sambungnya.


"Abi tak mungkin hajar kau, kalau kau tak mancing emosinya." ucap Adinda dengan mengusap lengan anak perempuan, yang bersandar pada bahunya.


"Aku takut, Mah. Aku belum pernah tengok abi semarah itu." sahut Kinasya sembari memeluk tubuh Adinda.


"Mah, aku numpang di sini boleh tak? Nanti aku sembari cari kerja." lanjutnya kemudian.


"Aku masih takut sama abi, Mah." tandas Kinasya dengan menegakkan kembali posisi duduknya.


"Makanya papah bilang tadi, kau tenangin diri kau dulu. Jangan ke umi dulu, karena umi pun punya kehidupan sendiri. Takutnya timingnya tak pas, malah umi ngerasa terganggu atas kehadiran kau tiba-tiba. Nanti biar Mamah main ke sana dulu, ngobrol dulu sama umi. Biar umi tak kaget, biar dia yang ke sini nyamperin kau buat ngobrol. Karena... Ya, gimana ya. Bunda yang ngurus kau dari kecil aja, bisa tak acuh kan sama kau? Apa lagi... Omnya anak-anak Mamah. Malah hampir tak pernah ketemu kau lagi." jelas Adinda. Yang Adinda maksud adalah Safar, saat ia mengatakan om dari anak-anaknya.


Ia tentu memiliki maksud lain, dari rencananya untuk mengajak ngobrol Sukma. Semata-mata, ia ingin berdiskusi dulu dengan Sukma dan Haris. Mau bagaimana pun, kelak menikah nanti. Kinasya akan tahu siapa ibu kandungnya, karena nashabnya mengikuti ibu kandungnya.


Kinasya mengangguk, "Iya, Mah. Kek mana aja lah, yang penting aku tak diminta balik ke sana. Kalau nanti aku udah dapat kerjaan baru, ngontrak pun aku tak apa Mah. Barangkali aku ngerepotin, atau nambah beban hidup Mamah." ujarnya dengan membenahi tali tank top yang turun ke tangannya.

__ADS_1


"Di sini aja sama Mamah, kita bareng-bareng." putus Adinda dengan tersenyum lebar.


"Mamah ambilin pembalut dulu ya. Terus mau jemput Gibran pulang sekolah." lanjut Adinda, ia bangun dari sofa dan berjalan ke arah pintu kamar Kinasya.


Setelah memberikan pembalut pada Kinasya, Adinda langsung menemui suaminya kembali.


"Udah jam sembilan, setengah jam lagi Gibran pulang sekolah. Aku jemput dulu ya, Bang. Sekalian... Mau ke Sukma dulu." ucap Adinda pada suaminya. Terlihat Adi tengah berada di dalam halaman belakang, dengan anak sulungnya.


"Bentar dulu, Dek." tandas Adi, dengan menarik tangan istrinya untuk duduk di sebelahnya.


"Apa, Bang?" pandangan mereka bertemu, Adi seperti tengah kebingungan dari raut wajahnya.


"Katanya Adek nyuruh Givan buka toko? Konsepnya gimana itu? Givan minta tuker pikiran sama Abang, ya Abang tak paham." aku Adi, Givan dan Adinda terkekeh kecil mendengar pengakuan tersebut.


Adinda menarik nafasnya lebih banyak, "Rencananya... Tanah yang di perempatan jalan depan sana, tanah kosong itu. Mau aku beli, buat toko materialnya Givan." ia menjeda ucapannya sejenak.


"Kita pagar beton itu batas tanah, terus kita bikin ruangan berbaris macam ruko ngelilingin tanah itu. Ruangan satu dan ruangan lainnya, saling berhubungan pakek pintu. Depannya ruangan itu, pasangin rolling door semua. Setiap ruangan, buat tempat penyimpanan barang yang mau dijual. Macam cat, satu ruangan itu isinya macam-macam cat tembok, cat kayu, cat besi, cat karet, gitu-gitulah. Ruangan lainnya pun sama, kalau paku ya, paku beda-beda ukuran di ruangan itu semua. Semen juga kita harus nyimpen tuh, tapi kita juga harus mikir biar semen itu cepat mutar. Kita jual murah, biar tak ngebatu karena stok banyak. Kita lebih sering ambil semen dari pabrik, kita bisa dapat hadiah dari pabriknya. Abang tak tau itu kan? Nah terus, buat tempat pipa. Ruangannya lebih lebar, buat kita nempatin pipa-pipa yang ukurannya panjang. Terus di tengah bangunan yang bentuk ruko itu, kita sedia batu bata, pasir, batako, paving blok. Bagian depannya kita pasang pagar kawat, ujungnya macam berduri gitu nah. Tapi kawatnya agak besaran, macam besi seukuran kelingking. Begitu konsepnya Bang, Givan." kemudian Adinda menoleh bergantian ke arah anaknya dan suaminya, setelah menjelaskan ide yang ada di pikirannya.


"Berarti modelnya segi empat gitu ya, Mah?" Givan bisa membayangkan yang ibunya jelasnya.


Hanya saja, Adi cuma bisa menggaruk kepalanya. Ia tak bisa membayangkan, tanpa contoh yang istrinya tuangkan dalam sebuah kertas.


"Jadi Abang harus kek mana, Adek?" Adi bangkit kemudian mengambil sebuah ranting yang tak jauh dari jangkauannya.

__ADS_1


"Nih, coba.....


......................


__ADS_2