
Kinasya meremas pelan kepala Ghifar, yang tengah mengusahakan l*nd*rnya keluar. Agar saat kegiatan penetrasi itu terjadi, Kinasya tak merasakan terlalu pedih pada intinya.
"Aku gesekin dulu ya?"
Kinasya hanya bisa mengangguk, kala Ghifar mulai merentangkan kedua kakinya lebih lebar.
Raut tidak sabaran, terlihat dari ekspresi wajah Ghifar.
Kemudian, Kinasya membingkai wajah kekasihnya yang fokus memperhatikan intinya yang bergesekan.
"Kenapa, hm?" Ghifar menyangga berat tubuhnya dengan sikunya.
Suaranya terdengar begitu menggoda.
"Jangan sakit-sakit." Kinasya tengah dilanda ketakutan.
"Tak, tenang aja." lalu Ghifar menyatukan indra pengecap mereka.
Kinasya merasakan benda tumpul yang sedikit menekan intinya, meski hanya digesekan secara beraturan. Karena salah satu tangan Ghifar mengomando, agar pusaka turunannya terarahkan dengan baik.
Ghifar menegakkan punggungnya kembali, ia fokus pada tengah-tengah tubuh mereka.
"Yang...." Kinasya kembali mengayunkan panggilan sayangnya pada kekasihnya.
Ia tidak percaya, dengan kata-kata pemuda amatiran tersebut. Mana mungkin hal ini tidak menyakitinya, dengan benda tumpul milik Ghifar yang memiliki diameter yang cukup besar tersebut.
Ghifar kembali meluruskan pandangannya ke arah wajah kekasihnya, kentara sekali bahwa Kinasya akan menangis.
"Jangan nangis lah, Yang." Ghifar malah tidak tega, untuk membelah goa tersebut lebih awal.
"Takut." Kinasya mulai terisak, dengan menggenggam tangan Ghifar yang bertengger di bagian bawah perutnya.
"Kepalanya aja." Ghifar mencoba meyakinkan kekasihnya kembali, padahal dirinya tak yakin pada dirinya sendiri.
Kinasya memberi anggukan, ia menyetujui keinginan Ghifar. Menurutnya, sekarang atupun nanti. Tetap pada Ghifar lah, ia menyerahkan segalanya seperti ini.
"Pelan-pelan." Kinasya terisak-isak, tatkala ujung benda tumpul yang memiliki ukuran lebih besar dari batangnya tersebut mulai memaksa masuk.
"Sakit kah?" Ghifar mengusap-usap kulit selang*angan kekasihnya. Namun, ia tetap mempertahankan posisi kepala bawahnya yang sedikit menyelinap tersebut.
Kinasya mengangguk, "Kek e'e sembelit, tapi bedanya di depan." Kinasya coba menjelaskan tentang yang ia rasakan.
"Kepalanya aja, Ok? Letak selaput darah, kurang lebih berapa jauh dari pintu masuk?" tanya Ghifar dengan mempertahankan posisinya, agar pintu masuk tersebut terbiasa dengan kehadiran benda tumpul miliknya.
"Segini." Kinasya menunjukkan dua ruas garis jarinya. Itu hanya ilmu yang ia dapatkan dari pendidikannya. Padahal, ia tidak tahu secara pasti.
"Kalau kepala masuk, aku ngerasa ada penghalang. Nanti aku mundur lagi." kalimat penenang lagi yang Ghifar berikan.
Kinasya hanya mengangguk, ia percaya saja dengan tutur kata manis laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Pelan...." Kinasya menahan perut Ghifar.
"Aku pelan, Yang." aslinya Ghifar sudah tidak sabar, ingin segera menerobos masuk dan berenang-renang di dalamnya.
Ia kembali mendorong pinggangnya, meski kepalanya belum sepenuhnya masuk.
"Sakit kali." Kinasya tak bisa menahan isakannya.
Sama sekali bukan kenik*atan yang ia rasakan, meski ia memaklumi hal ini. Tetapi tetap saja, ini membuatnya kesakitan.
Ghifar tak mengerti, beberapa video first time dalam kolom pencarian video dewasa. Tak seperti kegiatan asli saat ia mempraktekkannya.
Ghifar menarik kembali intinya, kemudian ia menunduk untuk melihat dengan cermat.
Masih utuh, tanpa darah yang keluar dari dalamnya. Hanya l*bangnya saja yang sedikit terbuka, lepas ia tarik kembali kepala intinya.
Lidahnya terjulur, mencoba membasahi kembali inti Kinasya yang sudah kering. Beberapa saat, ia mempertahankan posisinya, sampai Kinasya mulai mengalunkan suara yang mendayu-dayu tersebut.
Kembali Ghifar menarik kedua lutut itu berlainan arah. Satu tangannya mengarahkan kembali pada jalan yang benar.
Kinasya menahan nafasnya, saat merasakan sesuatu mencoba membelah lebih dalam.
"Aku kesakitan... Ini tak enak." tangis pelannya sudah tidak bisa disembunyikan lagi.
Ghifar menahan pusakanya, agar tidak kebablasan. Ia menurunkan punggungnya kembali, mencoba memberi rang*angan pada area leher Kinasya.
Ghifar menarik kembali intinya, karena ia merasakan ada sesuatu yang jika diterobos akan membuat Kinasya berteriak hebat.
Hanya setengah kepalanya saja, yang ia gerakkan beraturan. Meski ia merasa akan meledak, tetapi ia mencoba membuat Kinasya nyaman dengan kehadiran benda tumpul tersebut.
"Yang...." panggil Kinasya, dengan menahan dada bidang kekasihnya.
Ghifar menghela nafasnya, ia menatap wajah yang penuh dengan air mata tersebut. Ia memahami Kinasya juga menginginkan, hanya saja ia malah tidak tega melakukannya lebih dalam.
Ia menangkap sinyal, bahwa Kinasya tak menikmati perlakuannya. Ini hanya menguntungkan dirinya saja, tetapi tidak dengan Kinasya.
Ghifar menarik kepala batang tersebut keluar. Kemudian, dirinya kembali mengecek keadaan inti kekasihnya.
Goa tersebut sedikit terbuka, bekas kelakuannya sebelum fajar tiba ini.
Ghifar menoleh ke kiri dan ke kanan, untuk mencari keberadaan ponselnya.
Setelah ia mendapatkan ponselnya, lalu ia menyalakan penerangan dalam ponselnya yang di arahkan ke tengah-tengah tubuh Kinasya.
"Sedikit merah, Yang." ucap Ghifar, ia bisa melihat dengan jelas pintu selamat datang yang telah ia nodai tersebut.
Ghifar membuka bibir bawah Kinasya, untuk bisa melihat dengan jelas sembari mengarahkan flash yang menyala itu.
"Tak ada darah keluar, tadi aku tak maksa masuk pas ngerasa ada yang halangin." ungkap Ghifar kemudian.
__ADS_1
Kemudian Ghifar mematikan penerangan dalam ponselnya dan meletakkan ponselnya begitu saja.
Ia tersenyum pada wajah takut Kinasya. Kemudian dirinya mendekati wajah tersebut.
"Maaf ya?" ungkapnya tepat di depan wajah Kinasya.
"Beli lubricant coba! Jangan sakit-sakit." Kinasya menyeka air matanya yang kembali keluar.
Ghifar mengangguk, dengan memperhatikan senyumnya.
"Iya, nanti beli. Gih cuci dulu." Ghifar membantu Kinasya untuk bangkit.
Sebenarnya ia tidak tahan dengan gejolak n*fsunya, hanya saja ia tidak tega memaksa Kinasya. Karena, saat Kinasya menangis tadi. Itu malah membuat Ghifar akan Canda yang sesenggukan dengan bermandikan darah.
Ghifar menatap tengah-tengah intinya, selepas kepergian Kinasya ke dalam kamar mandi.
Miliknya masih berdiri kokoh, dengan rasa luar biasa sakit di kepalanya.
'Nahan sebulan lagi kuat tak? Kin udah pasrah betul. Kalau aku tega aja, udah berenang-renang anak aku di rahimnya.' gumamnya dengan memperhatikan kalender yang terdapat di kontrakan Kinasya.
Ghifar bergantian untuk menggunakan kamar mandi tersebut, lalu dirinya segera berpakaian kembali.
"Kerja tak? Aku anterin yuk?" Ghifar masih mencoba menenangkan Kinasya.
Kinasya menggeleng, "Aku masih campur aduk." ia memilih untuk berlibur di hari ini.
"Ya udah. Aku balik dulu ya?" Ghifar mengecup pipi Kinasya sekilas.
Kinasya membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, kemudian Ghifar menarik selimut untuk untuk menutupi tubuh Kinasya yang hanya tertutup daster tipis.
"Ya, langsung balik. Jangan main ke Ahya dulu." Ghifar terkekeh kecil, kekasihnya rupanya masih cemburu terhadap Ahya.
"Iya, Sayang." sahut Ghifar lembut.
Lalu dirinya bangkit, segera ia melangkah menuju pintu kontrakan tersebut.
Setelah kunci terbuka, ia menarik gagang pintu tersebut secara perlahan. Matanya melirik jalanan di jam setengah tujuh pagi tersebut, biasanya orang ramai berlalu lalang untuk pergi sekolah maupun berladang.
Namun, Ghifar malah dibuat tertegun. Saat klise tubuh gagah seseorang, tengah duduk di teras kontrakan yang Kinasya tempati.
Ia menelan kasar ludahnya, ia mengenali punggung lebar tersebut.
Naasnya lagi, orang tersebut menoleh ke daun pintu. Ia melihat Ghifar yang tengah mengintip di balik celah pintu yang sedikit terbuka tersebut.
"Ka?" tanyanya dengan wajah menahan amarah.
......................
*Ka : Sudah
__ADS_1