
"Balik!" Adi melempar sepatu olahraga milik Ghifar, yang bertengger di depan pintu kontrakan tersebut.
Ghifar tak memperhitungkan segala sesuatunya. Ia begitu ceroboh, karena tak membawa masuk sepatu olahraga miliknya. Jika ada orang cerdas, yang melewati kontrakan tersebut. Pasti mereka memiliki spekulasi negatif, akan dua pasang sepatu yang memiliki warna khas dan ukuran berbeda tersebut.
Sepatu milik Kinasya, memiliki warna pink dengan perpaduan warna putih. Sedangkan sepatu milik Ghifar, memiliki warna hitam dengan perpaduan warna coklat tua. Siapa yang melihat, pasti ia bisa membedakan sepatu tersebut.
Meski di zaman sekarang, sepatu dengan model yang sama tak memandang si pengguna sepatu. Sepatu tak mematok jenis kelamin. Namun, sangat berbeda dengan perbedaan warna si pemakai sepatu. Orang pasti tetap akan mengira, bahwa sepatu yang tergeletak di depan pintu kontrakan tersebut adalah sepatu milik muda-mudi yang berada di dalam ruangan itu.
"Ya, Pah."
Kinasya menoleh ke arah Ghifar, yang cepat-cepat keluar dari kontrakannya itu.
"Papah?" tanya Kinasya lirih, kala menyadari ada seseorang di depan kontrakannya.
"Ikut Papah!" nada suara Adi begitu dingin.
"Ya, Pah." Ghifar segera naik di jok belakang motor ibunya, yang dikenakan oleh ayahnya.
Bahkan, Kinasya dan Ghifar tak menyadari ada suara motor yang berhenti di depan halaman kontrakan tersebut.
Ghifar dirundung gemetar, saat dirinya sampai di kediaman orang tuanya.
Ghifar melepaskan sepatunya cepat, lalu mengikuti langkah cepat ayahnya yang memasuki rumah mereka.
"PAPAH PASUNG JUGA KAU!!!"
Orang-orang yang tengah bersarapan, langsung berhamburan menuju sumber suara.
Ghifar tertunduk, di depan hadapan ayahnya. Ia tidak bisa menepis telunjuk ayahnya, yang lurus menunjuk dirinya.
"KAU MINTA NIKAH, PAPAH SEGERAKAN ITU NAK." suara Adi sampai bergetar.
"Bang..." Adinda melangkah cepat menghampiri suaminya.
"BIAR APA COBA?"
"YA BIAR KAU TAK KEK GINI!"
Adi melempar pertanyaan, tetapi ia menjawabnya sendiri. Amarahnya memuncak, tapi bisa ia tahan agar tak mempermalukan anaknya atas perzinahan yang anaknya lakukan.
Yang pasti, Adi tak mau anaknya menanggung malunya diseret ke kantor desa setempat. Atas tuduhan masa, yang melayangkan tuduhan bahwa dirinya berbuat mesum. Adi tak mau anaknya merasakan malu, yang ia alami dulu bersama istrinya.
"SABAR, NAK....." suara menggelegar Adi turun seketika.
__ADS_1
Ghifar terisak kecil, ia merasa amat bermasalah sudah membuat orang tuanya kecewa.
"Maaf, Pah." Ghifar tidak bisa membela dirinya. Ia hanya bisa meminta maaf, karena sudah mengecewakan kepercayaan yang ayahnya berikan.
Adinda memeluk suaminya, ia mengusap-usap dada suaminya yang tengah menangis kecewa. Adi adalah laki-laki cengeng, yang mudah menangis jika sudah menyangkut keluarganya.
Adinda tak mengerti, pertikaian apa antara suaminya dan anaknya. Ia hanya fokus untuk mengolah masakan sejak subuh tadi.
"Kin cinta sama kau! Dia tak bakal lari, tanpa kau minta pembuktian cintanya!" Adi bersuara di tengah tangisnya.
Adinda memeluk tubuh suaminya, ia tidak bisa menahan air matanya. Saat suaminya menangis tergugu seperti ini.
"Yang tenang lah, Bang. Nanti Abang drop." Adinda membingkai wajah suaminya, lalu menghapus air mata suaminya.
"Abang harus kek mana lagi, Dek?" Adi memandang wajah istrinya dengan sorot putus asanya.
Tidak seperti dulu, Adi yang selalu menolak jika anaknya ingin menikah. Sekarang Adi segera mengurus segala sesuatunya, jika ada anaknya yang menginginkan untuk menikah.
"Jangan kek gini, Abang....." Adinda memeluk kembali tubuh suaminya. Ia begitu hancur, kala melihat air mata suaminya semakin deras membasahi wajahnya.
Givan merangkul pundak ayah dan ia mengusap pundak ibunya.
"Kita duduk Pah, Mah." Givan mencoba meminimalisir, jika Adi tidak kuat menopang tubuhnya.
Givan merangkul ayahnya, membawa ayahnya untuk masuk ke kamar pribadinya.
Di dalam kamar yang pintunya setengah terbuka itu. Adi menceritakan ulang perihal peristiwa tadi, pada istrinya dan sulung anak-anaknya.
Ia begitu kecewa, saat anak laki-lakinya. Kembali menorehkan rasa kecewa mendalam, karena melakukan perbuatan yang sama seperti putra-putranya yang lain.
"Ya, Mah. Nanti aku bilang ke umi Sukmanya." Givan segera melakukan, yang dilayangkan oleh ibunya.
"Nanti aku minta keluarga bang Haris secepatnya datang. Kita tak bisa nahan Ghifar lebih lama lagi. Tak laki-lakinya, tak perempuannya, memang sama-sama tengah dimabuk cinta Bang." Adi hanya mengangguk, ia percaya sepenuhnya pada istrinya.
"Aku keluar dulu, Mah." Givan undur diri dari kamar tersebut.
Adinda mengangguk, kemudian ia fokus untuk menenangkan suaminya kembali.
Givan segera pergi dari rumah itu, dengan mengajak putrinya.
"Yayah... Ayan-ayan?" nada suara Mikheyla seperti tengah menanyakan sesuatu.
"Ya, jalan-jalan." Givan hanya menyahuti seperlunya. Ia tengah tidak ingin mengguraui anaknya.
__ADS_1
Sesampainya ia di rumah tersebut, ia langsung menghadap pada Sukma yang tengah membersihkan halaman depan rumah tersebut.
"Umi..." Givan menarik perhatian seorang ibu yang dulunya pernah mengurusnya tersebut.
"Apa, Van?" Sukma berjalan menghampiri Givan yang duduk di teras.
"Ghifar.... Ketahuan mesum. Ini bukannya sekali aja, Ghifar ketahuan sama papah. Biar aman dari dosa, biar aman dari penduduk sekitar juga, Umi diminta boyong Kin buat tinggal di sini sementara. Sampai datang hari pernikahan Kin sama Ghifar. Papah takut Ghifar diarak penduduk, terus kena cambuk. Cukup papah dulu katanya, yang ngerasain malunya digrebek penduduk." Givan memangkas cerita pada Sukma.
Sukma kalut, ia memikirkan nasib Kinasya. Ia malah takut Kinasya tidak baik-baik saja sekarang, jika ia teringat sifat anak-anak Adi.
"Kinnya diapain? Dia di mana sekarang?" tanya Sukma kemudian.
"Katanya sih... Ya..." Givan terlihat ragu untuk membeberkannya.
Ia kembali memperhatikan Mikheyla yang berlarian seorang diri, dengan mengejar kupu-kupu yang hinggap di bunga-bunga peliharaan Sukma.
"Kek mana, Van?" Sukma menggoyangkan lengan Givan.
"Papah tak tau pasti, tapi papah sempet denger Kin nangis sambil bilang sakit. Ya... Mungkin udah kena, entah sih masih utuh. Papah tak langsung negur, karena takut menarik perhatian orang-orang. Soalnya di kontrakannya si Kin." ungkap Givan pelan, ia memahami ini adalah rahasia keluarganya.
"Ya ampun, Ghifar. Padahal nampak alim itu bocah." Sukma memandang kosong halaman itu.
"Ya udah, nanti Umi jemput Kin sama om kau. Papah kau udah bilang abi?"
Givan langsung menggeleng, karena tadi ibunya masih menenangkan ayah sambungnya.
"Bukannya apa-apa, Mi. Papah takut Ghifar digrebek terus ngerasain malunya." ujar Givan yang dimengerti oleh Sukma.
"Yayah..." mereka berdua menoleh ke arah Mikheyla, anak itu sudah bersiap di motor Givan.
"Yuk." Givan bangkit dari duduknya.
"Pamit dulu, Mi. Cepat dijemput Kinnya." ungkap Givan dengan melangkah terburu-buru.
"Ya, Van. Ati-ati." Sukma masih bergelut dengan pikirannya sendiri, ia amat khawatir pada keadaan Kinasya.
Dari pengalamannya sendiri. Sukma merasakan amat kesakitan, saat menjajal rasa pusaka keramat turunan keluarga besar Adi tersebut dengan suaminya. Padahal dirinya mengalami hal itu, saat kondisinya sudah janda. Sudah pernah mengeluarkan satu anak dari jalan lahirnya. Apa lagi yang Kinasya rasakan, dengan kondisinya yang belum pernah berhubungan sekalipun.
"Bang...." Sukma segera meneriaki suaminya yang masih berada di rumah.
......................
270 tamat ya, Kak 😁
__ADS_1