
"Adindaku… astaghfirullah…. Sengak betul dada Abang, tengok kau cantik kali macam ini. Pakek gamis, terus pakek kerudung syar'i, Adek nampak pantas juga cantik kali." Adi bersedekap dada dengan menggelengkan kepalanya berulang kali, saat melihat penampilan istrinya yang sama persis dengan anak-anak gadisnya.
"Abang pun masih pakek celana jeans ya, Bang. Jangan komentar terus, tengok aku cantik dikit aja." sahut Adinda dengan melanjutkan langkah kakinya menuju mobil.
"Ya masa iya, Abang harus pakek sarung Dek?" balas Adi dengan memperhatikan celana yang ia kenakan.
"Tau ah." ujar Adinda dengan berlalu pergi.
Adi masih terdiam di teras rumahnya, dengan memperhatikan wajah anak-anaknya yang tengah menahan tawa tersebut.
"Ayo, Pah." ajak Givan sedikit berseru. Ia dan saudara-saudaranya yang lain, sudah menunggu di depan dua mobil yang terparkir.
Adi melangkahkan kakinya menuju ke mobil kesayangan, yang beberapa kali sudah masuk bengkel karena usianya.
"Adek sama Abang sini! Malah gabung kau sama anak-anak muda." ucap Adi saat melihat istrinya, akan masuk ke dalam mobil milik Givan.
Adinda cengengesan dengan berbalik melangkah, menuju ke C*rolla DX milik suaminya.
"Yang gadis sama Papah." seru Adi dengan membuka pintu mobilnya.
"Ghava sama Ghavi udah dikontek belum, Far?" tanya Adinda, dengan sebelah kaki yang sudah menginjak bagian dalam mobil.
"Udah, Mah. Katanya nanti nyusul, lagi nyelesaiin satu mata pelajaran lagi katanya." jawab Ghifar dengan membawa masuk satu persatu adik balitanya ke dalam mobil.
Lalu mereka semua masuk ke dalam mobil, dengan berurutan mobil tersebut perlahan keluar dari halaman rumah keluarga Adi.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di tempat tujuan dan langsung memesan makanan kesukaan mereka. Dengan tepukan seseorang di bahu Adi dan suara yang terdengar manis di buat-buat, membuat mereka terusik dengan kehadirannya.
"Hallo, Mantan. Rindu kali aku sama suara ngebas kau." sapa wanita tersebut, dengan tangan yang masih bertengger di bahu Adi.
Adinda menoleh ke belakang laki-lakinya, karena ia tengah duduk beriringan dengan suaminya.
"Aku getok ya tangan kau, Rul!! Gatal-gatal menahun rupanya kau ini Rul." ujar Adinda dengan mengacungkan pisau yang tengah ia gunakan untuk memotong makanannya, ke arah Nurul.
Dengan Nurul yang langsung menarik tangannya dari bahu Adi, kemudian ia langsung mengambil kursi untuk duduk berkumpul di meja mereka.
__ADS_1
"Di… betina kau masih galak aja, meski kau udah tua macam itu." tutur Nurul dengan berpangku dagu, sembari memperhatikan Adi dan istrinya.
"Maklum, Dinda kan masih muda. Jadi rasa cemburunya masih besar." tukas Adi terlihat santai dengan kehadiran Nurul di antara anak-anaknya.
"Cuma cemburunya aja, Di?" tanya Nurul dengan sedikit terkekeh.
"Nafsunya juga." jawab Adi cepat, terdengar lirih dan samar karena ia sembari mengunyah makanan.
Nurul yang mendengar jelas, langsung terbahak-bahak dengan puas. Berbeda dengan anak-anak Adi yang menahan tawanya, karena melihat urat ibunya yang sudah terlihat marah.
"Ini anak kau semua, Din?" tanya Nurul dengan menoleh ke arah Adinda.
Adinda mengangguk, kemudian menelan makanannya dengan buru-buru.
"Ya… masih ada dua lagi, bujang. Masih di jalan, lagi mau ke sini." jawab Adinda yang membuat Nurul melebarkan matanya.
"Itu dari kau semua?"
"Apa dari istri muda kau juga, Di? Atau dari yang ketiga juga ada?" sahut Nurul dengan bergantian menatap Adinda dan Adi.
"Embuh lah katanya, Din." ujar Nurul dengan menoleh kembali ke arah Dinda.
"Trauma betul dia yang namanya istri kedua itu." tutur Adinda yang membuat Adi meliriknya dengan tajam.
"Kau yang habis-habisan, dia yang trauma ya Din?" tukas Nurul dengan kekehan dari keduanya, yang langsung mendapat anggukan dari Adinda. Berbeda dengan Adi, yang terlihat seperti moodnya terlihat buruk.
"Berarti selama ini rumah tangga kau aman-aman aja? Tak ada yang ketiga, keempat dan selanjutnya kah?" tanya Nurul dengan melambaikan tangannya, pada pelayan yang tengah berlalu lalang.
"Kalau masalah perempuan tak pernah ada lagi. Paling fansnya Dinda bikin kesel aja, sampek ada yang datang ke rumah. Terus ributlah aku sama Dinda. Kadang dari pihak produser film, yang maksa buat ajak Dinda, tapi kadang kan aku keberatan, masalahnya Dinda di rumah punya tanggung jawab juga. Masalah anak-anak ribut sama saudara sendiri, sama anak tetangga juga nambah-nambah bikin heboh. Kau sendiri, mana anak kau? Katanya ikut suami, kok sekarang udah di sini lagi aja?" jelas Adi dengan sedikit penasaran dengan kisah mantan pacarnya tersebut.
"Suami aku, sama aku beda tujuh belas tahun. Aku sekarang udah 48an, dia 65an. Udah wafat 3 bulan kemarin, ninggalin dua anak. Satu dari istrinya dulu, sama anak keduanya dari aku." ungkap Nurul bercerita.
"Ohh, dapat duda kah?" tanya Adinda yang ikut mendengarkan cerita Nurul.
"He'em." jawab Nurul singkat. Dengan menerima makanan yang diantarkan oleh pelayan.
__ADS_1
"Maaf, Mah. Agak lamaan, tadi nyelesaiin pelajaran dulu." ucap anak laki-laki, yang langsung mencium tangan Adinda dengan bergantian.
"Ehh, kenalin ini Tante Nurul." sahut Adinda dengan menunjuk Nurul dengan dagunya, saat anak-anaknya terburu-buru mengambil tempat duduk untuk masing-masing.
"Oh iya, hai semuanya. Aku Nurul, teman masa sekolahnya papah kalian." ujar Nurul, saat Ghava dan Ghavi mencium tangannya.
Lalu, anak-anak Adi menyebutkan nama mereka masing-masing. Dilanjutkan dengan obrolan ringan, juga makanan yang habis tak tersisa.
~
Givan masuk ke dalam kamar orang tuanya, begitu mendapat izin dari pemilik kamar yang berada di dalam kamar. Hatinya merasa terenyuh, saat melihat pemandangan Ghifar yang terlihat kacau dengan memeluk ibunya. Dengan posisi ayahnya, yang juga mengapit Ghifar di atas tempat tidur.
"Udah dua puluh tahun, Woy. Masih aja suka nyari ketek Mamah." ucap Givan mencoba menganggap hubungannya dengan adiknya baik-baik saja.
Ia meyakini, adiknya pasti selalu memikirkan perkataannya yang menyangka bahwa dirinya yang mengganggu hubungannya dengan Fira. Ia sadar, secara tidak langsung ia membuat hubungannya dengan adiknya menjadi renggang.
"Sakit dia, panas, ingusan." sahut Adi dengan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang, saat anak sulungnya duduk di tepian ranjang di dekatnya.
"Pantesan manja betul sama Mamah, tak taunya lagi sakit." balas Givan kemudian. Bukan hal yang aneh untuk keluarga tersebut, dengan Ghifar yang selalu bermanja pada ibunya saat dirinya tengah merasa tak enak badan.
"Tenggorokannya sakit, Mak." rintih Ghifar, dengan menggosokkan wajahnya ke baju ibunya.
"Bang, belikan penyegar satu krat." pinta Adinda pada suaminya.
"Royal ya kau, Dek. Adek mau Ghifar mabok penyegar?" sahut Adi yang mendapat kekehan dari anak-anaknya.
"Ya… maksudnya buat stok, Adi Riyana kekasihku." tegas Adinda dengan mencubit paha suaminya.
"Mah… apa resepnya sama Papah masih harmonis aja? Pacaran berapa lama sampek nikah?" tanya Ghifar dengan menoleh ke arah ayahnya, hingga ia beralih menatap kakaknya yang sedari tadi tengah memperhatikannya.
"Resepnya…..
......................
*Embuh lah : Gak tau lah.
__ADS_1
bahasa kota C