
"Yang ikhlas, Far. Logikanya, perempuan baik-baik tak akan menduakan perasaannya sendiri. Secara tidak langsung, dia membagi dirinya untuk dua laki-laki. Papah yang laki-laki aja, tak bisa macam itu. Entah kalau laki-laki lain, tapi Papah sendiri tak bisa bagi perasaan Papah. Sekalipun dulu punya istri dua, cinta Papah cuma mengacuh ke mamah kau. Tidur satu tempat tidur sama mamahnya Icut, pikiran Papah tetep ke mamah kau. Perlakuan Papah, waktu Papah, bahkan diri Papah sendiri, tak bisa adil untuk istri-istri Papah waktu itu. Papah lebih berat ke mamah kau, lebih condong ke mamah kau. Bahkan saat itu pun, Papah tak pernah pengen untuk nidurin mamahnya Icut. Entah kenapa, kalau kejadian macam itu, Papah bakal ngerasa lebih bersalah ke mamah kau."
Adi menepuk pundak anaknya yang tengah termenung tersebut, "Lagian kau masih muda. Pilihan masih banyak di depan mata kau. Yang penting persiapkan diri, mental juga ekonomi kau. Kenapa Papah bilang harus persiapkan diri? Karena perempuan itu banyak macamnya, tergantung ruang lingkup kau bergaul. Kadang mereka nguji kita, melebihi batas tahan kita. Kadang, yang berhijab itu belum tentu baik. Yang nampak murahan juga, tak sepenuhnya mereka tak punya iman. Kau kena mental, nanti kalau kau tau sifat asli mereka. Ekonomi juga menunjang, karena keseriusan laki-laki itu ditunjang dengan perekonomian kau juga. Kau mau ngelamar perempuan, sedangkan kau cuma modal tongkol besar aja. Itu tak bisa disebut kau bertanggung jawab, karena tanggung jawab kau ke istri kau nanti, bukan soal kebutuhan biologis aja. Bagaimana pun ceritanya kelak." lanjut Adi, yang mendapatkan perhatian penuh dari anaknya.
"Ada Cut Ahya, yang selalu mengekori kau dari kau kecil. Keknya dia siap, jika suatu saat kau ajak dia buat berkomitmen. Dari TK, si Ahya selalu minta duduk sama kau sampek tamat SD. Ngaji sama kau, malah dia selalu nyaingin hafalan kau kan?" ucap Adi yang membuat Ghifar tersenyum geli, dengan menganggukkan kepalanya.
"Musuhin aku dia akhir-akhir ini. Gara-gara aku tak mau jemput dia balik kuliah. Diajak keluar malam mingguan, katanya f*ck you Ghifar. Tak best friend lagi kita, tega kau biarin aku kepanasan jalan kaki di siang bolong." sahut Ghifar, yang teringat akan masalah sepelenya dengan teman sepermainannya itu.
"Coba sana ajak nongkrong lagi Ahya. Tadi sore main ke rumah, nanyain kau. Katanya males sama Ghifar, tak mau diajak gantian. Padahal kemarinnya aku yang isiin bensinnya, tapi suruh jemput tak mau." balas Adi, memberitahu tamu yang sore tadi meramaikan rumahnya.
Cut Ahya adalah anak dari Sukma dan Safar. Adik satu ibu Kenandra, anak Haris. Sudah bukan hal aneh untuk keluarga itu, tentang Ghifar dan Ahya yang seperti kucing dan tikus setiap kali bertemu. Meski mereka akan berbaikan dalam waktu dekat, tapi kehebohan mereka berdua cukup memberikan kesan tersendiri untuk keluarga besar mereka.
Meski Ahya satu tahun lebih muda di bawah Ghifar, tapi mereka tumbuh bersama. Apa lagi, kekeluargaan mereka yang cukup kental. Membuat mereka saling akrab satu sama lainnya.
"Ke mana ya, Pah? Aku minta uangnya juga dong." ujar Ghifar dengan pandangan menerawang jauh.
Adi mengeluarkan uang miliknya, dari dalam dompetnya.
"Ajak naik bianglala aja, apa nonton tong gila. Di pasar malam balai desa itu. Baliknya bawain tante Sukma sama mamah kau makanan." saran Adi, dengan memberikan selembar uang seratus ribuan pada anaknya.
"Cukup tak?" tanya Adi, setelah anaknya menerima uang tersebut.
"Tak cukup nanti minta ke Ahya." jawab Ghifar enteng. Lalu ia langsung bergegas pergi, dengan menaiki motor matic berbody bongsor tersebut.
__ADS_1
"Bagus dong. Perempuan tak cuma Fira. Buang Fira jauh-jauh, yang udah tega nyakitin anak-anak Mamah macam itu." ujar Adinda kemudian.
"Ya, Mak. Buang Fira, dapat kak Aca, kak Kin, Ahya juga tinggal colek." tutur Ghifar yang membuat Adinda tertawa renyah.
"Mending sama Langi aja. Jenjang umurnya lebih pas, lima tahun di bawah kau." ungkap Adinda yang membuat Ghifar berpikir, dengan memperhatikan jalanan yang ramai dengan lampu-lampu kendaraan.
"Pallawarukka Rawallangi?" jelas Ghifar yang langsung diiyakan oleh ibunya.
"Masih kecil betul. Masih nemplok aja sama abi, kek Giska." lanjut Ghifar, yang mendapat kekehan kecil dari ibunya.
Pallawarukka Rawallangi adalah keturunan Haris, dari pernikahannya dengan Alvi Damayanti. Anak perempuan yang begitu diidam-idamkan dalam pernikahan kedua Haris, tumbuh kembang menjelma seperti kloningan yang persis dengan Alvi.
Wajah cantik, dengan postur tubuh tingginya. Membuatnya terlihat tidak seperti usia 15 tahun. Belum lagi kulit putih bersih, juga bulu mata yang sangat lentiknya. Membuatnya terlihat semakin menarik di mata orang yang melihatnya.
"Udah dulu ya? Assalamu'alaikum." lanjut Adinda dengan langsung memutuskan panggilan teleponnya.
"Ohh… lagi patah hati ya? Hebat ya orang A*eh, patah hati aja sampai nyebrangin lautan buat nyembuhinnya." ucap Canda yang mengalihkan perhatian Ghifar.
"Jangan ngajakin ngobrol aja! Jangan cari topik pembicaraan terus! Pusing aku dengar suara kau!" ketus Ghifar yang malah membuat Canda terkekeh.
"Aku duluan ya… nanti malam aku telepon Mas."
"KIRI….."
__ADS_1
Ucap Canda, lalu dirinya turun dari kendaraan umum tersebut. Ghifar hanya terdiam, sembari memperhatikan Canda yang melangkahkan kakinya setelah turun dari mobil tersebut.
Entah kenapa, kini Ghifar seperti muak dengan semua sikap Canda. Awalnya dia menganggap Canda adalah perempuan baik-baik, tetapi sirna sudah saat ia mengetahui ternyata Canda berada di tempat hiburan malam.
Hingga beberapa saat kemudian, Ghifar telah sampai di kediaman keluarga Haris. Dengan langsung disambut ramah, oleh Alvi dan Haris yang tengah bersantai di depan rumahnya.
"Te… masak apa?" tanya Ghifar, setelah dirinya mencium tangan Haris dan Alvi secara bergantian.
"Kelaparan kau?" sahut Haris dengan tawa mengejek.
"Tak juga. Aku mau basa-basi sama Tante." balas Ghifar dengan duduk di sebelah Alvi, dengan posisi sedikit menyerong menghadap Alvi.
"Tante cantik kali… boleh kali aku jadi diangkat jadi menantunya." gurau Ghifar, yang membuat Alvi tertawa geli. Sedangkan Haris membuka matanya lebar, karena tak percaya mendengar penuturan Ghifar barusan.
"Tak jadi suami kedua aja kah? Kau mirip betul sama papah kau, pasti sesuatu yang bikin Dinda gila juga mirip." celetuk Alvi, yang membuat Haris lupa caranya bernafas.
Senyum lebar Alvi begitu meyakinkan, saat mengatakan hal itu. Membuat Haris merasa, bahwa dirinya tengah diperbandingkan dengan suami squad broken heart-nya.
"Awas……….
......................
Bek tuwoe, yang tulis miring itu kilas balik ya Mak 😊
__ADS_1