
Bruk.....
Tubuh Givan terhempas dan terbentur dengan lantai tanah rumah itu.
"Pulang! Bertamu yang sopan!" suara laki-laki berucap lirih, tetapi terdengar memiliki penekanan kuat.
Laki-laki yang usianya di atas Givan tujuh tahun tersebut, terlihat begitu tidak mengindahkan kehadiran Givan.
Kakak dari Ai tersebut, lalu menyepak kaki Givan seperti mengusir bintang.
"Pulang!" pintanya dengan pandangan bengisnya.
"KAMU DENGAR GAK?!!!" teriaknya, sedikit membungkuk ke arah Givan.
Givan mengangguk reflek, karena suara meninggi tersebut. Ia segera bangkit, kemudian berjalan cepat ke arah mobilnya.
"Terus buat masalah sabu. Aku memang ada yang nawarin. Katanya cobain pakek ini, karena alkohol aja tak bisa bikin kau tenang. Di salah satu hotel di kota C itu, di tempat hiburan malamnya. Aku tau itu salah, tapi aku tak mau sadar dan ingat harga diri aku diinjak-injak kakaknya Ai waktu itu." lanjut Givan, setelah dirinya buka suara tentang ceritanya dengan Ai.
"Sebetulnya... Canda tuh tak ada kurang-kurangnya. Malah, aku ngerasa dia rugi besar karena bersuami aku. Aku sama Canda mungkin sekarang udah sama-sama bergantung, apa lagi kita ketemu setiap saat. Cuma masalahnya... Canda cuma mau m*sio*aris aja. Itu yang buat aku kadang... Aduh....." lanjut Givan, di akhir kalimat bersamaan dengannya Adi tertawa begitu lepas.
"Mayoritas betina memang begitu keknya. Tapi dengan mis*on*ris kan, kau jadi yang pegang kendali atas permainan itu Van." sahut Adi kemudian.
"Bosan aku, Pah. Mungkin wajar kali ya kalau bosan?" Givan menerawang jauh kembali, memperhatikan langit cerah pagi menjelang siang hari ini.
Adi mengangguk samar, "Wajar. Apa lagi nanti kalau udah pernah melahirkan, bosan, tak penasaran, mana kendor. Tapi... Itu semua bisa teratasi, kalau wanita kau perawatan. Entah ya kalau laki-laki lain, kalau Papah sendiri. Ngatasin kebosanan itu, ganti warna dan model rambut mamah kau, dengan model-model yang selalu terbayang di pikiran Papah. Bukannya berangan-angan tinggi, malah ada kan anjuran, yang kalau kita ***** ke perempuan yang kita temui di luar rumah, kita mesti balik ke rumah buat nuntasin sama istri kita. Papah kek gitu tuh, Papah tak munafik, Papah laki-laki normal. Papah bereaksi lah, tengok perempuan muda yang badannya jiplak di balik pakaian ketatnya, kadang gamisnya ketiup angin, nampak badan itu perempuan. Error Papah, Papah anggap itu normal. Papah balik, Papah rayu mamah kau." Adi menjeda kalimatnya sejenak.
__ADS_1
"Terus... Bergurau, liburan, jalan-jalan. Biar otak fresh, biasanya pun rasa bosan itu hilang. Kalau bosan karena s*ksnya yang begitu-begitu terus, biasanya Papah coba gaya baru atau nginep di hotel. Beberapa kali juga, Papah ubah posisi ranjang di kamar, karena bosan itulah. Memang, **** itu rasanya gitu-gitu aja. Tapi lain rasanya, kalau terselip drama kecil di antara pasangan kita. Entah disengaja atau kita yang nyiptain sendiri." lanjut Adi kemudian.
Givan menghela nafas beratnya, setelah mendengar saran dari ayahnya.
"Keknya percuma aja, Pah. Bosan itu, memang susah diilangin. Kecuali, kita coba dengan yang baru." sahut Givan membuat Adi geleng-geleng kepala.
Itu hal yang paling pantang, untuk Adi lakukan. Bukan tanpa alasan, karena ia memang tak bisa membagi rasa cintanya dengan yang lain.
"Mau coba nikah lagi? Satu pun kau kewalahan bahagiainnya. Apa lagi ditambah yang lain." balas Adi, ia adalah orang pertama yang menentang pandangan anak sulungnya.
"Tak juga sih, Pah. Cuma tuh, pengen Canda mau gaya baru. Monoton betul, mis*on*ris aja." jelas Givan dengan suara menurun. Ia tengah menahan malu, atas pengakuannya sendiri.
"Canda pernah tak minta duluan?" tanya Adi. Ia mencoba biasa saja, juga tak mentertawakan anaknya. Agar anaknya lanjut bercerita, juga mau buka suara tentang masalah yang ada di rumah tangganya.
"Kau tepis tangannya, kau bilang dia punya maksud apa. Kalau belum apa-apa, Canda ngode, kau langsung gercep. Ya udah, dia tak bakal punya inisiatif." saran Adi, Givan hanya bisa manggut-manggut mencoba mengerti saran dari ayah sambungnya.
"Aku tak bisa tahan, Pah. Dikata aku kurang subur, tapi li*ido bisa diadu Pah." ujar Givan menciptakan tawa mereka menggema.
Adi bangkit dari duduknya, kemudian menepuk bahu anaknya.
"Lepas haid tuh, biasanya perempuan kan butuh. Nah, kau tahan-tahan dulu tiga sampek empat hari. Biasanya mereka udah pada ngerengek." tutur Adi kemudian.
"Yuk, kau urus Giska. Papah urus usaha kau." lanjut Adi yang diiyakan oleh anaknya.
Sesalah apapun anak. Peran orang tua sangatlah penting, untuk kelangsungan hidup mereka. Sekalipun anak-anak mereka sudah berumah tangga. Saat anak gagal membina rumah tangganya, ataupun kesulitan ekonomi. Maka orang tua kembali, tempat mereka mengadu dan mengeluhkan nasibnya.
__ADS_1
~
Di tempat lain, Adinda tengah bercerita tentang kehadiran tamunya pada Sukma.
"Aku tak masalah sebetulnya, kalau Kin ikut sama aku. Tapi kau tau sendiri, aku tinggal sama mertua. Mampu aja aku buat rumah, tapi kau tau sendiri mak cek kau itu. Ditambah lagi Liana tak pernah pulang kampung, mak cek kau itu pasti berisik kesepian." ungkap Sukma, dengan bersila di atas tempat tidurnya.
Adinda meluruskan kakinya, di tepian tempat tidur.
"Bukan tempat tinggal Kin yang aku permasalahkan, aku masih sanggup ngasih makan dia tiga kali sehari juga. Cuma tuh, tentang Kin bukan anak kandung kau sama bang Haris ini. Mentalnya kabur-kaburan. Dia tau, kalau Haris enteng tangan, langsung kabur dia ke rumah aku. Nanti... Kalau dia tau, bahwa dia anak adik bang Haris, bisa-bisa dia kabur dari kita, karena ngerasa dibohongi, terus dia datangin ibu kandungnya. Tak mau aku, kalau Kin sampek kek gitu. Dibesarin dari kecil sama bang Haris, sampek dia punya gelar dokter. Tandanya bang Haris nganggap Kin anak sendiri, ikhlas ridho dia biayain hidup Kin. Kin kabur, bang Haris tak diam aja. Dia telpon aku, chat aku, sampek akhirnya dia ke bandara, buat mastiin kalau Kin ada di penerbangan ke daerah aku. Dia khawatir, sama keponakannya sendiri, yang dianggap anak sama dia." ucap Adinda panjang lebar, kemudian dirinya mengambil satu bantal untuk diletakkan di atas pahanya.
Sukma terlihat tengah memikirkan sesuatu. Lalu, helaan nafas beratnya terdengar kembali.
"Keknya udah waktunya Kin tau, tapi alangkah baiknya kalau bang Haris ngasih tau sendiri." ujar Sukma, dengan telunjuk berada di pipi kirinya.
"Coba aku hubungi bang Haris dulu, dia harus jelasin sendiri sama Kin. Tentang cerita aslinya, sampek Kin harus diangkat anak sama dia." tutur Adinda yang mendapat bunyi jentikan jari dari Sukma.
"Aku setuju. Coba hubungi bang Haris dulu." tukas Sukma kemudian.
Adinda meraih ponselnya, kemudian ia mencari nama seseorang dalam aplikasi chat miliknya.
Panggilan berdering, tak lama kemudian detik dalam panggilan mulai berjalan.
"Hallo, Dek. Gimana......
......................
__ADS_1