Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS131. Kecemburuan Icut


__ADS_3

Icut membuka pintu kamarnya, karena ia merasa kering pada kerongkongannya. Namun, yang ia dapatkan. Malah pemandangan yang membuat hatinya semakin muak.


Giska tengah berada di punggung laki-lakinya, dengan Gavin digendong dengan disanggah oleh tangan Zuhdi. Sedangkan Gibran mengejar mereka, dengan rengekannya juga tangannya yang terulur ke arah mereka.


"Adi!!!! Jangan ngisengin aja bungsu Papah." seru Adi, dari dalam ruangan lain.


Giska segera turun dari punggung Zuhdi, kemudian mengangkat tubuh adiknya. Untuk naik ke punggung Zuhdi.


"Tuh!!! Bisanya nangis aja, jadi Adi lagi kan yang diteriaki." ucap Giska pada adik bungsunya.


Zuhdi menyangga alas duduk Gibran, agar anak tersebut tidak terjatuh.


"Iya ya, Dek? Padahal baru calon, udah diteriaki terus. Udah dikiranya ngapa-ngapain anaknya, padahal niat hati baru mau ngapa-ngapain calon istri." ungkap Zuhdi yang didengar oleh Icut.


Giska langsung menghujami kekasihnya dengan cubitan maut, yang ia dapatkan di kulit laki-lakinya yang ia jangkau.


"Sialan ya memang kau! Masih untung aku cinta sama kau! Mau berani-berani ngapa-ngapain aku? Siap-siap jumlah mayam sama tabungan Anda raib, digondol istri juragan. Macam sahamnya bang Givan." tutur Giska, yang membuat dirinya dan pujaannya tertawa bersama.


"Abang tak mau ambil resiko, udah capek kerja. Nanti hilang sia-sia emas Abang." celetuk Zuhdi, yang membuat tawa mereka semakin menggema.


"Ketawa teros!" ucap Givan yang muncul dengan rokok di selipan jarinya.


"Suruh mong-mong. Bawa ke pasar malam, balik bawa telor gulung buat mamah sama kakak ipar kau katanya. Nih sangunya, sama buat beli titipan." lanjut Givan, dengan memberikan tiga lembar uang sepuluh ribuan.


"Telor gulung biasanya beli 10 ribu. Buat mamah sama kakak ipar, udah 20 ribu. Aku dikasih 10 ribu, buat sangu mereka berdua." ujar Giska, dengan menerima uang tersebut.


"Ok sip, ini maksudnya Abang suruh jajanin mereka." lanjut Giska, dengan menepuk pundak laki-lakinya.


Zuhdi dan Givan terkekeh geli, "Ya iyalah. Kan bawa anak gadis orang, sama dua bocilnya juragan. Masa tak dijajanin? Ya ora dianggap mantu nanti." ucap Givan kemudian.


Tawa Zuhdi pecah seketika, "Durung pelayaran, ora dianggep mantu." timpalnya di sela tawanya.


"Udah lain semboyannya, karena pindah ke Aceh." sahut Givan dengan berjalan ke arah pintu utama.


"Ada uang tak?" tanya Giska lirih, dengan memandangi wajah calon suaminya.

__ADS_1


"Jangankan uang. Itek na, manok na, kameng na, leumo na, keubeu na, mandum na Abang sedia buat Adek." jawab Zuhdi, membuat Giska terkekeh geli dengan menutupi wajahnya karena malu.


"Serius aku, masa mau ke pasar malam tak ada uang." balas Giska dengan menurunkan adiknya kembali, karena Gibran hampir jatuh dari punggung Zuhdi.


"Ada 50 ribu, nih." ujar Zuhdi, dengan memberikan uang yang ia ambil dari lipatan belakang sarungnya.


Kemudian Zuhdi duduk di sofa ruang tamu tersebut, dengan memangku Gavin yang masih ia gendong. Tiba-tiba Gibran langsung berpindah ke atas pangkuan Zuhdi, berebut tempat dengan kakaknya.


Giska duduk di sebelah Zuhdi, ia seperti tengah kebingungan.


"Kenapa Adek? Pengen BAB kah?" tanya Zuhdi, yang melihat perubahan raut wajah Giska.


"Kon lah. Aku mau nagih utang sama Abang." jawab Giska dengan melirik tajam kekasihnya.


Zuhdi mengerutkan keningnya, "Memang Abang punya utang apa?" ucapnya kemudian.


"Pulsa 50 ribu itu, yang kata Abang nanti diganti lepas Abang balik." sahut Giska dengan bersedekap tangan.


"Lah... Tadi Abang bawa sepuluh mayam emas, sama uang tujuh juta itu apa? Buat siapa?" balas Zuhdi yang membuat mood Giska kacau.


"Jadi itu masih tetap utang? Padahal Abang bawa tujuh juta tadi. Gimana Adek kemarin yang seminggu sekali minta jatah dua ratus ribu? Padahal tak Abang apa-apain, tak dapat apa-apa juga." ungkap Zuhdi, dengan pandangan menerawang.


Giska langsung bersembunyi di lengan kekasihnya, kemudian menyuarakan tawa yang ia tahan sedari tadi.


"Jadi mana uang bayar utangnya?" tegasnya dengan menengadahkan telapak tangannya ke depan wajah Zuhdi.


"Besok lagi deh, Abang cuma bawa 50 ribu tadi. Kirain udah tak dihitung utang, ternyata..." tutur Zuhdi dengan geleng-geleng kepala.


"52 ribu loh, Bang." tukas Giska yang membuat Zuhdi memasang wajah murungnya.


"Beranak lagi? Tadi bilang 50, sekarang jadi 52." ucap Zuhdi dengan begitu frustasi.


Giska terkekeh geli, dengan memukuli lengan kokoh Zuhdi.


Mereka tidak sadar, ada seseorang di ambang pintu kamar yang tengah memperhatikan mereka berempat.

__ADS_1


Icut merasa kacau pada dirinya sendiri, ia tak bisa meraba perasaannya yang begitu hancur dengan keputusan orang tuanya. Di satu sisi, ia merasa lega yang tak bisa ia jelaskan. Di sisi lain, ia begitu merasa cemburu melihat ibu dan ayahnya begitu merestui Zuhdi sebagai calon suami dari anak gadisnya.


"Diurusin dulu, pakekan jaket. Kasian, anak juragan mau ngawal kakak perawannya pacaran." pinta Zuhdi, dengan mengusap kepala Gibran dan Gavin bergantian.


Giska memukul kembali lengan kekasihnya, kemudian mereka tertawa bersama.


"Tapi Abang lebih rileks sama keluarga Adek. Perasaan... Tak begitu tegang ngadepinnya. Abang tadi izin, bawa Adek liburan. Aslinya sih tak diizinin Dek, tapi bahasanya itu beda. Nih, malah dibolehinnya suruh ke pasar malam. Abang paham kalau tak dapat izin liburan, tapi tak sakit hati gitu Dek." ungkap Zuhdi, dengan merapihkan jilbab pashmina Giska. Agar menutupi bagian dadanya.


"Tapi sekalinya Abang bikin salah, nancep di ulu hati omongan mamah nanti." ucap Giska, dengan ikut merapihkan hijabnya.


"Iya sih, pernah denger juga kabar tentang mulut mamah. Gih cepet ambilin jaketnya anak-anak, nanti keburu malem mereka main odong-odongnya." sahut Zuhdi, dengan Giska yang langsung menunaikan perintah kekasihnya untuk mengambilkan jaket adik-adiknya.


Setelah siap, Zuhdi pamit pada Givan untuk membawa ketiga adiknya.


"Balik bawa cilok salju, Di. Buat abangnya pacar kau ini." ucap Givan, saat Zuhdi tengah memutar arah motor matic miliknya.


"Ini aja ditagih utang, 52 ribu." sahut Zuhdi, dengan melirik pada Giska yang tengah mencari keberadaan sendalnya.


"Kasian ya? Ngumpulin emas, ngumpulin uang, ditagih juga utangnya. Ya udah, carikan aku proyek aja deh. Tak jadi ciloknya." balas Givan, membuat Zuhdi terkekeh geli dengan menggelengkan kepalanya.


"Tenang, mamak-mamak penjual ciloknya pun aku bawakan buat kau." ujar Zuhdi, setelah dirinya siap di atas jok motornya.


Givan terkekeh kecil, dengan memperhatikan ketiga adiknya yang naik ke motor milik Zuhdi. Hingga mereka berempat, berlalu pergi dengan begitu hati-hati.


Givan berbalik arah, ia ingin meminta istrinya membuatkannya kopi.


"Can...." Givan tak melanjutkan panggilannya, karena melihat wajah Icut yang begitu kacau.


Icut terburu-buru masuk ke dalam kamar, saat melihat kakaknya tengah memperhatikannya begitu lekat.


"Cut..." panggil Givan, sebelum Icut menutup pintu kamarnya.


Jantung Icut berdegup kencang, ia khawatir kakaknya bertanya tentang keadaan matanya yang bengkak karena menangis. Mata sipit Icut, tak bisa menyembunyikan bahwa sang empunya tengah bersedih hati.


"Cut... Kenapa kau? Ada masalah apa? Tadi juga kau masuk kamar, pas kita lagi kumpul. Ada apa sebetulnya?" tanya Givan, dengan menahan daun pintu kamar Icut yang hampir tertutup sempurna.

__ADS_1


......................


__ADS_2