
"Mending jam tangan mahal, atau mending kasih uang untuk istri belanja menurut kau?" Adi membuyarkan lamunan Ghifar.
Ghifar menoleh, ia tersenyum canggung, "Mending kasih uang belanja." itu menurut pendapat Ghifar.
"Nah, itu. Meski tak punya jam tangan mahal, waktu tak akan berhenti kok. Kecuali, kontrak hidup kita yang udah habis. Perihal Canda minta uang buat belanja aja, sampek ribut, hitung-hitungan hebat. Dikiranya beli jam tangan mahal dapat berkah, ketimbang kasih uang belanja istri." Ghifar mendapat banyak pelajaran, juga nasehat yang terselip di setiap kalimat ayahnya.
"Kau jangan kek gitu. Kelak punya istri, dia minta berapa perbulan. Kau kasihlah, biar tak ribut. Lebih baik mencegah keributan dengan istri, dari pada cari gara-gara ribut sama istri. Tak takut istri, inilah, itulah. Istri cemberut, itu neraka buat kita. Apa nih, yang tak mengenakan di hatinya? Masalah apa nih yang ada sama kita, sampek istri ngamuk-ngamuk? Introspeksi diri, bukannya malah tau penyebabnya jam tangan mahal. Tapi marah balik, karena nyangkanya istri minta uang aja."
"Yang penting, arah keuangan istri itu jelas. Kita suami, nanya wajarlah. Tapi kadang, nanya juga malah disemprot pakek jawaban pedas. Beli ini, beli itu, memang kau makan rumput, anak kau makan rumput, nanya-nanya ini itu, pusing jadi perempuan tuh." hingga akhir kalimat, Adi menirukan suara istrinya yang tengah marah-marah.
Ghifar terkekeh geli, ia pun pernah mendengar sendiri amarah ibunya saat ditanya oleh ayahnya. Padahal ayahnya bertanya baik-baik, tapi ibunya tak bisa menjawab secara baik-baik. Pertanyaan sepele, tetapi berakibat fatal.
"Keperluan rumah tangga, hal yang sensitif ya Pah?" Ghifar melontarkan pertanyaan itu.
"Iya. Karena harga beras tak selalu stabil. Ayam potong, gula, minyak. Harganya naik turun terus. Ditambah, ada aja pengeluaran dadakan. Entah sih gas habis, beli cemilan, atau lampu mati. Ada aja keperluan rumah tangga itu. Terus Papah kan tak selalu di rumah, jadi tak tau. Cuma tau, belum tanggal muda, istri udah minta uang lagi. Nanya kan? Tapi itu salah lagi juga. Cari selamat aja Papah. Janjikan besok ke bank, ambil uang, kasihkan ke ma kau, beres." Ghifar akan belajar dari semua cerita ayahnya.
Namun, jika dipikir-pikir kembali. Pantas saja ibunya begitu betah ikut ke daerah asal suami, padahal jauh dari pusat kota. Rela meninggalkan orang tuanya, juga kota kelahirannya. Ternyata untuk mengabdi pada suami seperti ayah tercintanya. Sosok yang dewasa, bisa mengalah, bertanggung jawab dan yang paling penting sayang pada keluarganya.
Tak terasa, Adi kini tengah memarkirkan mobilnya di ruko yang memiliki plang nama yang Adi kenal.
Ghifar mengerutkan keningnya, ini adalah deretan ruko untuk keperluan medis. Ada yang bertuliskan trauma center, juga masing-masing hal yang tak Ghifar pahami.
Firasatnya mengatakan, bahwa ayahnya menjebaknya.
Tibalah mereka di depan pintu ruangan, yang rupanya Adi sudah membuat janji dengan orang tersebut.
Adi menepuk pundak anaknya, "Tenang... Papah cuma mau yang terbaik buat kau."
Kini Ghifar menyadari, bahwa ini adalah tempat pengobatan untuk penyakitnya.
"Wuih.... Pangling aku." Wahyudin langsung tersentak, melihat Adi telah sampai di tempatnya.
__ADS_1
"Udah tua aja kau? Dimensi kabupaten dan kota beda kah?" Adi berjabat tangan dengan Wahyudin. Mereka terlihat sudah akrab.
Wahyudin tertawa lepas, ia tidak bisa menjawab hal itu. Lalu ia menoleh pada anak muda yang berada di samping teman lamanya itu.
"Siapa ini?" ia menunjuk Ghifar dengan jempol tangannya.
"Putra aku ini, yang perlu konsultasi sama kau." wajah kaget Wahyudin tidak bisa disembunyikan.
"Ayo masuk-masuk." Wahyudin membuka pintu ruangannya lebih lebar.
Setelah Adi dan Ghifar masuk ke dalam ruangannya, Wahyudin segera menutup pintu ruangannya kembali.
"Silahkan duduk." ia mempersilahkan tamunya untuk duduk, ia pun duduk di sofa single yang terdapat di ruangannya.
"Aku kira kau, Di. Usia-usia kita kan, memang udah tak produktif lagi." Wahyudin meriah mapnya, membuka dan menuliskan sesuatu di kertas dalam dokumennya.
"Bukan." Adi tak berniat memberitahu seberapa hebatnya dirinya atas istrinya.
Ia mengulurkan tangannya, mencoba untuk mengenal Ghifar.
Ghifar bisa bersikap ramah, meski perasaannya kecewa. Karena merasa dibohongi oleh ayahnya. Ia tetap tak ingin berobat.
"Ghifar, Teuku Ghifar." Ghifar memperjelas namanya.
"Ok. Saya Wahyudin, kawan masa SMA bapak kau" mata Wahyudin terlihat tengah mengintimidasi putra juragan tersebut.
"Tenang, saya sudah disumpah kok." suasana mencair kembali, karena lawakan kecil dari Wahyudin.
"Jadi... Gimana?" Wahyudin memandang pasiennya dan ayah pasiennya bergantian.
Adi melirik Ghifar yang menunduk. Anaknya tak mau buka suara.
__ADS_1
"Jadi gini... Entah apa penyebabnya. Anak laki-laki aku nih, k*jantan*annya tak bisa bangun, meski dia udah turn on ini." ungkap Adi kemudian.
Wahyudin manggut-manggut, ia mencoba mencerna informasi tentang pasiennya.
"Apa ada keluhan sebelumnya?" Ghifar yang diajak berbicara, masih menundukkan kepalanya saja.
"Bang Ghifar, apa ada keluhan sebelumnya?" Wahyudin mengulangi pertanyaannya.
"Tak ada. Entah apa penyebabnya, aku pun tak tau." Ghifar menjawab pertanyaannya, dengan sekilas memandang seseorang yang akan mengobatinya tersebut.
"Banyak faktornya ya, Bang. Memang itu faktor medis, tapi biasanya psikis juga mempengaruhi. Jadi kita harus tau nih pengobatannya biar tepat, karena setiap obat itu memiliki kontraindikasi. Harusnya bawa istrinya juga ini, Bang. Karena, 70 persen itu dari usaha istri. Sama saya, cuma konsultasi, ngarahin, kasih obat dan kasih tindakan juga kalau perlu." Ghifar memperhatikan dengan seksama, penjelasan dari teman ayahnya tersebut.
"Saya belum beristri." Ghifar membeberkan fakta dalam status KTPnya.
"Hah?" Wahyudin melemparkan pandangannya pada Adi. Ia seperti terheran-heran.
"Aku tak tau kenapa dengan dia. Dia merantau, kurang lebih tiga tahun. Katanya... Dia selalu mimisan tiap kali nahan hasrat ke perempuan." Adi memberikan penjelasan sedikit, karena anaknya pernah mengatakan hal itu.
Wahyudin manggut-manggut, "Sebetulnya... Mimisan saat terang*ang itu fiktif belaka. Kek adegan di sinetron, di komik gitu. Tapi itu bisa terjadi, kalau orang yang bersangkutan mengkonsumsi vi*gra atau cialis." ia menjeda penjelasannya, agar bisa dicerna oleh ayah dan anak itu.
"Terang*ang umumnya memang menyebabkan detak jantung dan tekanan darah naik, tapi tak bisa sampek buat kita mimisan. Mimisan bisa terjadi karena tadi disebutin. Terus juga bisa karena kita punya alergi hidung, sinusitis akut, peminum alkohol berat, terpapar bahan kimia yang mengiritasi, sedang minum obat pengencer darah dan NSAID, trauma pada hidung, pengguna kokain, dan memiliki hemofilia. Hipertensi juga bisa, tekanan darah terlampau tinggi." lanjutnya kemudian.
"Tapi aku pernah kek gitu. Terang*ang, terus mimisan. Karena... Yang aku rasain kek gini. Ha*rat memuncak, udah mau meletup rasanya. Tapi tangan tak sampai, aku segan sama mamahnya anak-anak dulu." Adi menjelaskan tentang pengalamannya dan yang ia rasakan.
Wahyudin manggut-manggut, ia memahami maksud Adi. Lalu ia menoleh pada Ghifar, memperhatikan Ghifar begitu lekat.
"Apa......
......................
Kontraindikasi : suatu kondisi atau faktor yang berfungsi sebagai alasan untuk mencegah tindakan medis tertentu karena bahaya yang akan didapatkan pasien. Kontraindikasi adalah kebalikan dari indikasi, yang merupakan alasan untuk menggunakan pengobatan tertentu. Semacam resiko dari tindakan yang akan dilakukan.
__ADS_1