
"Itu, Bang. Aku....." Giska begitu gelagapan, saat menyadari dirinya menabrak tubuh kakaknya sendiri.
Ia terlalu banyak menoleh ke belakang, memastikan bahwa orang-orang tak melihatnya yang merindik-rindik untuk masuk ke rumahnya sendiri. Sampai ia tak memperhatikan jalanan di depannya.
"Belum cukup kau kena marah abang kau?" Ghifar menyeret lengan adiknya, untuk mengikuti langkahnya yang kembali ke rumah.
"Ampun, Bang." Giska memohon, tetapi Ghifar telah menulikan telinganya pada adiknya.
"Ma bapak kau tak mampu ngasih jajan kau kah? Sampek kau keluyuran malam kek gini? Ngapain kau? Jual diri kau?" tuduh Ghifar di sela langkahnya.
"Tak, Bang." Giska mencoba melepaskan cekalan tangan kakaknya pada lengannya.
"Ke luar dari mana kau? Pintu udah pada rapat gini." Ghifar begitu marah pada adiknya yang selalu ia manja.
"BANG... ADIK KAU INI! BELUM PUAS DIA KENA MARAH KAU." seru Ghifar dari ambang pintu rumah mereka. Ia berteriak cukup kuat, lalu mendorong tubuh Giska untuk masuk ke dalam rumah.
Givan muncul, disusul dengan Ghavi yang masih menggendong Mikheyla. Canda pun berada di belakang tubuh Ghavi, ia sudah mengenakan kerudungnya.
"Sini kau!" Givan berjalan menghampiri Giska, ia membawa Giska untuk masuk ke dalam kamar.
Seperti tadi, ia memarahi Giska di dalam kamar. Ia tak ingin Giska malu, dengan tamu-tamu yang tidur di kamar tamu rumah itu.
"Dari mana kau?" tanya Givan dingin, dengan merangkul adiknya untuk duduk di tepian tempat tidur.
Giska masih terdiam, ia menundukkan kepalanya setelah ia menduduki kasur miliknya. Givan berjalan, ia mencari kursi yang terdapat di kamar milik Giska.
Ia mengambil kursi itu, lalu menempatkannya di hadapan Giska. Lelah ia berteriak, tetapi Giska masih tak mau menurutinya.
Ia akan mencoba cara lain, ia ingin berbicara dari hati ke hati pada adiknya tersebut.
"Kau dari mana, Dek?" nada bicara Givan terdengar lembut.
Giska menyeka air matanya, ia malah takut mendengar suara lembut dari kakaknya.
"Adek Giska dari mana?" ulang Givan, ia masih mempertahankan nada bicaranya.
"Dari ujung jalan, Bang." Giska memberanikan diri untuk melihat wajah kakaknya.
Sedetik kemudian, ia tertunduk kembali. Saat bertemu dengan netra kakaknya yang penuh selidik.
__ADS_1
"Ngapain?" pertanyaan singkat dari Givan.
Ia berpangku dagu, dengan sikut yang menempel pada pahanya. Ia memperhatikan Giska dengan seksama.
"Nemuin orang, Bang." ungkap Giska lirih.
Givan menghela nafasnya, ia meregangkan ototnya sejenak. Pikirannya terbagi pada rengekan Mikheyla di luar kamar, juga pada adiknya yang menjadi tanggung jawabnya sekarang.
"Barangnya udah Abang musnahin kan tadi?" Giska mengangguk, ia teringat kejadian sebelum rumah menjadi senyap, karena kakaknya memintanya untuk tidur.
"Masih ada." jawabnya amat ketakutan.
"Di mana kau simpan? Kenapa kau simpan di kamar?" ujar Givan, ia menarik dagu adiknya. Agar Giska tak melulu menunduk.
"Di angin-angin jendela. Aku... Aku tak punya tempat pribadi lain." Givan langsung berjalan ke tempat yang Giska sebutkan, diikuti pandangan mata Giska yang melirik setiap gerakan kakaknya.
"Ini?" Givan meraih-meraih barang yang ia dapatkan dengan rabaan tangan.
"Ada lagi?" lanjut Givan kemudian.
Giska menggeleng, "Cuma itu, Bang." sahutnya kembali menunduk.
Giska menggeleng halus, "Tak, Bang." ia seperti tertekan kala mengatakannya.
"Jujur sama Abang." suara Givan begitu dingin.
"Demi Allah, Bang." rupanya Giska tak berbohong akan hal itu.
"Kau masok dari mana? Kau pengedar?" Givan berharap Giska menggelengkan kepalanya.
Namun, harapannya mencelos. Giska menganggukkan kepalanya beberapa kali, ia mengakui bahwa dirinya seorang pengedar mariyuana siap pakai.
"Dapat dari mana?" Givan mencoba tegar, untuk mendengar setiap jawaban dari adiknya.
"Dari kawan, dia ketua KKN di kelompok aku." Givan memejamkan matanya, ia merasa begitu kecewa. Ia gagal menjadi kakak sulung, yang menjadi panutan bagi adik-adiknya.
"Mana HP kau?" Givan menengadahkan telapak tangannya pada Giska.
"Buat apa, Bang?" Giska memandang wajah kakaknya.
__ADS_1
"Kau bisa kena hukuman mati, Giska. Biar Abang musnahin HP kau juga. Kau ambil cuti pendidikan, tinggalin masa KKN kau. Kau tak bisa lepas dari bandar, sekalinya kau udah mutusin buat ikut bisnis mereka gini." jelas Givan perlahan.
Giska tak percaya, mendengar penuturan kakaknya barusan. Temannya tak pernah mengatakan hal itu sebelumnya.
Ia memilih jalur ini, karena ia menyukai tantangan di dalamnya. Ini semua adalah pelariannya dari sakit hatinya.
"Nanti nama aku keseret tak, Bang?" Giska begitu cemas, memikirkan tentang jeruji besi.
"Biasanya mereka yang lakonin bisnis ini. Tak bakal buka suara, tentang siapa aja yang ikut di dalamnya. Makanya kenapa, narkotika begini susah diendus. Mereka saling menutupi, mengamankan yang megang kendali mereka." Giska sedikit plong, mendengar hal itu.
"Tapi... Misal macam pemakai yang kena tangkap. Nama kau bisa terbawa." lanjut Givan kemudian.
Lubang hidung Giska melebar, ia terkejut mendengar lanjutan kalimat dari kakaknya.
"Mana HP kau." Giska langsung memberikan ponselnya pada kakaknya.
Ia sudah tidak bisa menyembunyikan apapun lagi sekarang. Ia benar-benar ketakutan.
"Kau kenapa begini?" Givan mengantongi ponsel adiknya, kemudian dirinya menggenggam tangan adiknya yang begitu dingin.
Giska beralih memandang wajahnya, lamunannya buyar dalam sekejap.
"Aku sakit hati sama bang Adi, Bang. Dia tak punya rasa lebih ternyata. Dia nerima gitu aja, pertunangan aku sama dia yang udah kandas. Dia tak ada perjuangannya, buat dapatin aku lagi." Giska menarik tangannya kembali, ia memeluk tubuhnya sendiri.
Isakan pelan terdengar lirih, "Capek aku, Bang. Aku harapin dia, tapi dia tak demikian. Setiap kali HP aku nyalain, aku berharap spam chat dari bang Adi muncul di bar notifikasi. Tapi... Hari berganti minggu, aku sadar aku cuma berharap lebih dari dia. Kesungguhannya cuma sebatas itu, dia tak sungguh-sungguh buat minang aku."
Givan memahami, rasa yang Giska rasakan. Adiknya tertoreh luka, atas harapannya sendiri.
"Aku tak bisa tidur, aku malas makan. Tak ada tawa yang warnain hari-hari aku. Aku butuh hiburan, aku butuh tantangan buat bangkitin rasa semangat aku." lanjut Giska, ia mengungkapkan alasannya melakukan itu semua.
"Cukup judi yang buat kau gila, Giska. Kenapa kau tambahkan beban lain? Pengedar hukumannya tak beda jauh dari bandar. Kau berdosa, udah buat anak-anak di sekitar sini kecanduan barang yang kau bawa." Giska mengusap air matanya, tubuhnya condong untuk memeluk tubuh kakaknya.
"Aku mesti kek mana, Bang? Aku tak tau harus lari ke mana." Giska begitu kacau saat ini.
Givan terdiam, ia tengah mencari opsi terbaik untuk adiknya. Givan khawatir Giska mengulangi hal ini, karena harapannya belum terpenuhi. Ia cukup paham, dengan sikap pemaksa dan egois adiknya. Giska bukan hanya manja dan kekanak-kanakan.
Namun, langkah pertama yang harus Givan ambil sekarang adalah. Membawa Giska untuk keluar dari bisnis haram ini. Menguburkan identitas dan nama baik Giska, dari orang-orang dalam yang mengincarnya karena Giska meninggalkan pekerjaannya.
Apa yang harus Givan lakukan? Otaknya merumit, pikirannya membelit dengan permasalahan yang ada pada adiknya.
__ADS_1
......................