Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS18. Pelukan erat


__ADS_3

Dua bulan kemudian


"Abang jangan ikut lagi, nanti macam mana sekolah Gavin?" ucap Adinda yang tengah menikmati pijatan di kakinya.


Raut wajah Adi berubah drastis, "Ini Abang udah nunggu lima hari. Adek ke kota J, buat gelar acara empat bulanan Icut mungkin ada seminggunya. Terus Abang mesti sabar macam itu? Nunggu Adek pulang ke rumah, sambil urus anak-anak. Tak, Dek. Tak sudi, Abang. Abang udah mumet betul, nunggu Adek haid lama kali. Belum lagi nanti LDR-an. Aduh, amsyong Abang Dek." sahut Adi dengan begitu frustasi.


Adinda mencekal rahang suaminya, lalu langsung mengambil kecupan kasar di mulut suaminya.


"Adi Riyana, yang suka ngac*ngan. Sabar! Orang tuh, Sabar! Anak udah delapan, cucu mau satu. Mikirin selang*angan sampek frustasi macam itu!" balas Adinda yang membuat Adi tertawa geli.


"Biasanya dua malam tak, nanti malam esoknya main. Rutin macam itu, kadang setelah subuhan Abang dapat jatah lagi. Karena Adek kedinginan, alesan minta dipeluk, minta diketekin. Tak taunya, ditelan*angi Abang malah keenakan. Ke mana itu menggigilnya tadi?" gerutu Adi, yang sengaja menyindir istirnya.


"Makanya Abang yang ikut KB, biar aku tak menggigil terus-terusan." ketus Adinda.


"Tak mau, susah er*ksi bahaya nanti. Bisa-bisa Adek nanti beli berondong." ujar Adi dengan Adinda yang langsung menurunkan kakinya dari tempat tidur.


"Tau ah, Abang mesum! Aku lagi haid juga, ngomonginnya itu terus!" seru Adinda dengan keluar dari kamarnya.


Ghifar langsung menoleh, saat pintu kamar ibunya terbuka dengan menampilkan ibunya yang tengah mengerucutkan bibirnya.


"Mak, aku udah nemu ide. Aku mau jadi tukang parkir a*famart aja deh, kan lumayan tuh satu motor dua ribu. Dua ribu dikali seratus motor aja, udah aman aku buat makan di restoran sih." ujar Ghifar dengan menerawang jauh.


"Serah kau, Far!! Serah kau!!!" tukas Adinda dengan kuat, dengan berjalan menuju ke ruangan lain.


Givan terhenyak keget, "Galak betul betina bang Adi. Bibir mengerucut, nyaring bunyinya." gerutu Ghifar, bertepatan dengan Adi yang baru keluar dari kamar.


"Udah macam terompet tahun baruan ya, Far?" sahut Adi dengan Ghifar yang langsung menoleh ke sumber suara.


"He'em, kenapa sih itu mamak kami? Tadi aku disuruh mikirin usaha apa yang hasilin uang cepat. Aku ngasih ide, malah disemprot serah kau." balas Ghifar, hingga di akhir kalimat ia menirukan suara ibunya.


"Ya, kau! Hana utak!!" ujar Adi, membuat Ghifar tertawa terbahak-bahak.


"Bang, sini duduk." Ghifar dengan menepuk tempat di sebelahnya.


"Bang, bang, bang!! Jarang betul kau manggil papah. Nanti cucu dari kau manggil Papah, malah jadi abang lagi." sahut Adi dengan duduk di sebelah anaknya.


"Ok, Pah. Dulu ketemu mamah pertama kali di mana? Aku mau ikuti jejaknya, mana tau dapat yang sholehot macam mamah." balas Ghifar yang membuat keduanya menyuarakan tawanya.


"Segala sholehot kau cakap." ujar Adi dengan masih tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Aku udah dewasa, aku paham kalian masih hobi macam itu." jelas Ghifar kemudian.


"Di masjid Al-Taqwa C*rebon, abis sholat dzuhur kalau tak salah. Mak kau pakek sepatu sport putih, yang sebelahnya ketukar sama Papah." ucap Adi memberitahukan awal pertemuannya dengan istrinya.


"Janda tak apa, kan?" tanya Ghifar, dengan Adi yang langsung menoleh ke arah anaknya.


"Tak apa sih, tapi nanti Papah tak nyumbang dangdutan. Tapi tetep loh, Far. Kau harus bisa cari uang dulu, baru boleh punya perempuan lagi. Syukur-syukur, nanti beberapa bulan kau di sana. Kau udah tak minta kiriman dari mamah lagi." jawab Adi yang langsung mendapat hormat dari anaknya.


"Asal restunya aja. Ada dangdutan, atau tak ada dangdutan, aku malamnya tetap goyang." sahut Ghifar yang langsung mendapat tepukan di pahanya, dengan gelak tawa yang terdengar kembali.


"Ya udah sana disiapin dulu pakaiannya. Papah mau ke bungsu dulu." balas Adi dengan berlalu pergi untuk menemui anaknya yang masih dua tahunan itu.


Adi berjalan menuju teras rumahnya. Setelah mendengar suara anak bungsunya, juga istrinya yang tengah mengobrol. Namun, ia langsung ditubruk dengan pelukan erat, yang cukup membuatnya terkejut.


"Papah…. Jangan tinggalin aku sendirian. Aku ikut, Pah. Aku tak mau di rumah, apa lagi sama bang kembar. Mereka sok seenaknya aja nyuruh-nyuruh aku, Pah. Mana di kampus, direcokin mereka terus, masa di rumah juga digangguin terus." rengek Giska yang membuat Adi menghela nafasnya.


"Gavin sama Gibran nanti sama siapa?" sahut Adi dengan menunduk, untuk melihat wajah anaknya yang tengah merengek seperti bayi itu.


"Tuh, kan? Mana aku disuruh ngasuh dua bungsu pulak. Aku ikut aja Pah. Aku mau ikut, aku tak mau ditinggal di rumah." balas Giska yang malah menangis seperti anak kecil.


Adi melepaskan pelukan anaknya, lalu ia sedikit berjongkok di depan anaknya.


"Giska udah besar. Udah haid, udah baligh, udah paham reproduksi tandanya udah dewasa. Macam mana nanti kalau dibawa suaminya? Papah sama mamah mau pergi ke luar kota berapa hari aja, udah ditangisin macam ini." ungkap Adi sembari melangkah menuju teras rumah.


"Aku tak bisa tidur, kalau di rumah tak dijagain Papah. Aku mau ikut Papah aja, suami aku juga nanti suruh ikut Papah." sahut Giska yang masih terisak di punggung ayahnya.


"Dek… betina random nangis nih." ujar Adi pada istrinya. Namun, dirinya langsung mendapat pukulan ringan di punggungnya.


"Aku anaknya, malah dibilang betina random." balas Giska dengan suara yang bergetar.


"Ehh, kok kau nangis Dek. Kenapa, Dek Giska?" tanya ibunya, saat Giska turun dari gendongan ayahnya.


"Mamah… aku mau ikut." jawab Giska dengan menghentakan kakinya. Lalu ia langsung menubruk tubuh ibunya, dengan pelukan eratnya.


"Tuh, kan? Drama lagi. Udah pesan tiket buat tiga orang, Giska." sahut Adinda dengan menepuk punggung anaknya.


"Batalin tiketnya dulu, Far!" seru Adi dengan menghadap pintu rumahnya.


"Dari pada hangus, gara-gara drama anak perawan." lanjut Adi menggerutu.

__ADS_1


"Papah…." rengek Giska dengan duduk di pangkuan ayahnya, yang baru saja menduduki kursi yang tersedia di teras rumah.


Adi menyelipkan rambut dicat pirang, yang keluar dari hijab anaknya, "Jadi dari tadi kau murung, gara-gara ini?" tanya Adi lembut, dengan langsung mendapat anggukan kepala dari anaknya.


"Tengok! Gibran melongo aja liat drama kau dari tadi." lanjut Adi dengan menunjuk Gibran dengan dagunya.


Giska menoleh sekilas pada adik bungsunya, lalu ia berbalik menatap ayahnya dengan pandangan sedihnya.


"Aku ikut, Pah." rengekan Giska begitu menyedihkan.


"Kau kenapa sih pengennya nemplokin papah kau aja? Kamar dekat papah. Dulu kecil kalau BAB, ceboknya mesti sama papah. Sampek kelas 1 SMP, masih suka tidur dikelonin papah." tanya Ghifar yang muncul dengan mengutak-atik ponselnya.


"Soalnya mau punya adik lagi." timpal Adi yang langsung mendapat pukulan ringan di dadanya, bukan lain adalah Giska pelakunya.


"Aku tak mau punya adik lagi, Papah." sahut Giska setengah berteriak.


"Ya udah, stop nangisnya. Macam anak kecil aja kau, nangis kuat betul meski ditonton keluarga kau sendiri." balas Adi dengan mengusap air mata anak gadisnya.


"Aku ikut, Pah. Aku diajak, tak mau aku ditinggal di rumah."


"Ya Pah, aku ikut ya?" celotehan Giska, yang diulang dengan kalimat yang sama.


Adi menghela nafas beratnya, ia menatap wajah anaknya yang tengah menunggu jawaban darinya tersebut.


"Papah cinta pertama aku, masa aku mau ditinggalin sendirian di rumah? Memang Papah tega? Aku aja tak pernah ninggalin Papah, aku di rumah terus nungguin Papah." ucap Giska, setelah menarik ingusnya kembali.


Adi merasa tersentuh dengan ucapan anak gadisnya. Tak dipungkiri, bahwa ia pun sangat menyayangi anak perempuan satu-satunya tersebut. Namun, ia tak mau rasa sayangnya yang terlalu berlebihan pada Giska. Malah membuat Giska tumbuh menjadi anak yang manja, juga keras kepala.


Adi kembali menghela nafas beratnya, "Kau….


......................


*Hana utak : Gak ada otak


Siapa nih yang ke papahnya, macam kek Giska gini? 😅


Oh, iya. Author minta dukungannya dong.. tap favorit ❤️, rate ⭐⭐⭐⭐⭐, like, komennya juga, vote, juga hadiahkan author juga. Bunga, kopi, atau lainnya 😊


Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2