
"Nanti kalau aku tak bisa ngumpul uang segitu, macam mana nanti Mah?" tanya Zuhdi, yang mulai akrab dengan ibu dari kekasihnya.
"Minta belas kasih papahnya Giska, terus macam mana lagi? Orangnya tak tegaan aslinya, cuma memang kalau udah ngomongin maharin perempuan. Dia tak pernah main-main, bener-bener dimuliakan semampunya. Givan aja, keluarga perempuan minta mahar sederhana aja. Seperangkat alat sholat, atau emas berapa gram aja gitu. Papah Giska maksa mesti seperangkat perhiasan, sampek 70 gram kalau tak salah." jawab Adinda, membuat Zuhdi menelan ludahnya sendiri.
"Kau kerja yang betul, jaga kesehatan juga. Jangan sampek, kau sakit. Nanti tak bisa kerja." lanjut Adinda, dengan memperhatikan wajah Zuhdi dari samping.
Zuhdi mengangguk, lalu menoleh ke arah Adinda.
"Abis tunangan, aku mau merantau ke kota Lh*kseumawe. Ada kerjaan di sana, bangun kantor KUA sama rehab bangunan kantor desa yang udah lapuk. Nanti, aku nitip Giska ya Mah." ujar Zuhdi kemudian.
"Mama..... Bang akang......" teriak Gibran sambil berlari ke arahnya. Kemudian Gibran memeluk ibunya dengan sangat erat.
"Vin! Gavin!!!" seru Adinda sedikit bentakan pada anaknya.
"Adeknya penakut, Mah. Ini kan uletnya tak gatal, yang mau jadi kepompong itu." ujar Gavin, yang sudah ada di hadapannya dengan menunjukkan ulat ia bawa dalam selembar daun.
"Heh!" pekik Adinda, dengan reflek menyingkirkan tangan anaknya yang membawa ulat tersebut.
Zuhdi menahan tawanya, melihat tingkah calon adik-adik iparnya tersebut.
"Nih, minumnya Bang. Maaf lama, abis pipis dulu." ujar Giska, yang muncul dengan dua gelas minuman dingin.
"Ini air pipisnya?" tanya Zuhdi, dengan mengamati warna air dalam gelas tersebut.
"Bukan!" jawab Giska sembari terkekeh geli, dengan memukul pelan lengan laki-lakinya.
"Kok warnanya begini, Dek." sahut Zuhdi dengan tawa ringannya.
"Minuman teh rasa madu. Cobain deh, mahaLLL loh ini." balas Giska dengan menekankan huruf L pada kalimatnya.
"Slepet..... Satu sachet lima ratusan aja dibilang mahal! Itu aku yang beli, di warung cek Jimi." tukas Gavin, yang membuat mereka tertawa bersama.
__ADS_1
"Kau akhir-akhir ini rajin berangkat sekolah sih ya? Jadi tau kau duit lima ratusan." tutur Giska, dengan menunjuk adik pertamanya tersebut.
"Akak...." teriak Gibran, saat dirinya melihat wanita yang terlihat ragu-ragu berjalan ke arah mereka.
Semua mata tertuju pada Ahya, yang datang dengan menenteng kantong plastik berwarna hitam berukuran besar tersebut.
Ahya menundukkan pandangannya, saat bertemu dengan mantan kekasihnya.
"Ini, Mah. Kata umi, dijemur dulu daun pisangnya." ucap Ahya, setelah duduk di sebelah Adinda dengan menundukkan isi plastik hitam yang ia bawa tersebut.
Kemarin hari, Adi dan Adinda berkunjung ke kediaman keluarga ibu Handa dan pak Akbar. Mereka membawa kabar, tentang anak gadisnya yang akan bertunangan hari minggu mendatang.
"Ya ampun, Di. Kau ini ada-ada aja! Nanti Giska kelaparan, kalau kau nikahin dia sama Zuhdi." ujar ibu Handa, ibunda dari Safar. Yang telah mendengar cerita singkat dari dirinya, tentang Giska yang dilamar oleh laki-lakinya.
"Kalau memang Giska kelaparan, biar aku yang kasih makan. Aku takut Zuhdi nekat, macam aku dulu Mak cek. Lebih-lebih, aku takut nasib Giska kek Icut. Lagian, Zuhdi anak baik-baik juga. Maksudnya, orangnya tekun, pribadinya tak muluk-muluk. Aku tanya Giskanya juga, tak pernah Zuhdi macam-macam sama dia. Itung-itung bantuin aku, buat jagain Giska macam itu Mak cek." jelas Adi, menceritakan apa yang ia takutkan pada anak gadisnya.
"Tapi kerjaan dia serabutan, Di. Kau pikirkan nasib anak cucu kau nanti coba!" tegas ibu Handa kemudian.
"Adi ini belajar dari pengalamannya, Bu. Biarin aja lah, Giska juga anak mereka. Memang betul juga, Zuhdi ini orangnya bener. Cuma memang derajatnya rendah, dipandang sebelah mata karena profesinya. Kalau dulu Ibu tak usir-usir Zuhdi setiap kali main, mungkin yang dilamarnya sekarang bukan Giska, tapi Ahya." timpal pak Akbar, yang sedari tadi menyimak pembahasan mereka.
Ahya tertunduk, mencoba meredam rasa kacau di hatinya. Ia menyesal, dulu tak bisa berbuat apa-apa untuk kekasihnya.
"Aku tak tau kalau Ahya pernah pacaran. Dengar-dengar, Mak cek cerita itu. Yang katanya Zuhdi diusir, karena tak punya adab." celetuk Adinda, yang membuat Ahya menoleh pada seseorang yang ia panggil mamah tersebut.
Ibu Handa mengangguk, "Memang, Din. Tak punya adab Zuhdi itu. Nganter Ahya, pakek kolor aja dirinya. Terus, ngajakin Ahya jalan-jalan seharian. Pulang-pulang Ahya asam lambungnya kambuh, karena pas jalan-jalan tak diajak makan. Apa lagi itu, kalau memang Zuhdi tak mampu bayarin Ahya makan." ucapnya kemudian, dengan raut wajah kesalnya.
Adi mengerutkan keningnya, ia merasa heran dengan ucapan bibinya tersebut. Pasalnya, ia mengetahui sendiri tentang Zuhdi yang selalu memberi Giska uang jajan saat dirinya menerima gajinya.
"Kok bisa begitu ya, Mak cek? Giska dikasih jajan terus sama Zuhdi. Tapi namanya juga Giska, udah dikasih 200 ribu setiap Zuhdi gajian, masih aja mintain uang. Zuhdi sampek uang tak ada tuh, ya dikasihkan yang dia punya. Aku baca chatnya sampek ngerasa kesel sendiri sama Giska, uang 30 ribu dari Zuhdi buat pegangannya sendiri. Diterima juga." ungkap Adi membuat Adinda menjatuhkan rahangnya.
"Kok bisa anak Abang macam itu?" tanya Adinda kaget, membuat Adi langsung memukul mulutnya sendiri. Karena merasa keceplosan, telah mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Entahlah, Dek. Tapi Abang udah bilangin Zuhdi sama Giskanya juga." jawab Adi dengan tersenyum lebar.
Ahya semakin merasa kacau. Air mata pun, sudah tak mampu ia tahan di pelupuk matanya. Dengan segera, Ahya bergegas pergi menuju kamarnya. Ghifar yang selalu menyamarkan lukanya, kini sudah jauh dari jangkauannya. Zuhri yang selalu terlihat di matanya, kian menambah sesak batinnya. Saat mendengar cerita, betapa Zuhdi mencintai adik sepupunya sendiri tersebut.
"Heh! Kenapa kau ngelamun aja?" tanya Adinda yang menepuk pundak Ahya.
Ahya terhenyak keget, kemudian menoleh ke arah Adinda.
"Tak apa, Mah. Memang akhir-akhir ini, ngerasa perut tak enakan aja. Ghifar ke mana sih, Mah? Kok dia tak ngajak-ngajakin aku keluar." ujar Ahya mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Tak tau ke mana dia. Kalau mau nanya Ghifar, hubungi aja bang Ken. Abang kau dari abi Haris itu." sahut Adinda, yang membuat Ahya mengingat kembali kapan ia menghubungi kakak seibunya tersebut.
"Ohh, iya-iya Mah." balas Ahya sekenanya.
"Coba VC sekarang, Mamah kangen, pengen liat gambar Ghifar sekarang, meski tak ngomong langsung." ungkap Adinda, membuat suasana sore hari tersebut berubah menjadi begitu sendu.
"Ke mana Ghifar?" bisik Zuhdi lirih, yang duduk di sebelah kekasihnya.
Mereka semua tengah duduk di teras rumah, dengan kedua balita yang mengitari mereka beberapa kali.
"Heh?" seru Giska yang meminta Zuhdi memperjelas ucapannya. Namun, malah mengagetkan semua orang.
"Mulut! Kuat-kuat betul. Kaget Abang." ujar Zuhdi, dengan menarik pelan bibir Giska.
Giska terkekeh geli, dengan Adinda yang geleng-geleng kepala saja melihat anaknya yang tengah dilanda kasmaran tersebut.
Membuat Ahya yang tengah mengubungi kakaknya, mengalihkan perhatiannya pada romansa Zuhdi dan Giska.
......................
Kalau kata orang sini, sebutannya jodoh jorok. Macam mantan pacar sepupunya, atau mantan pacar anggota keluarga sendiri mau nikahin kita tuh, macam Giska sama Ahya gitu. Memang tak apa-apa, tapi banyak orang ngomong tak enak.
__ADS_1