
"Cek kamar abang kau, kunci jendelanya. Abang kau udah lelap di ruang tamu." sama sekali Adi tidak mengajak berbicara anggota keluarga baru tersebut.
Mereka semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing.
"Ya, Pah." sahut Ghava, ia mempersilahkan istrinya untuk naik lebih dulu ke tangga itu.
"Ini kamarnya, yang ini. Abang mau cek jendela dulu." Ghava hanya mendorong gagang pintu kamarnya saja, tidak ada kesan romantis menurut Winda.
Winda terdiam sejenak, memperhatikan punggung suaminya yang masuk ke kamar lain.
Helaan nafasnya begitu berat. Ia melangkah masuk ke dalam kamar pribadi suaminya tersebut.
Ia duduk di tepian tempat tidur, ia melamuni nasibnya sekarang.
"Bakal betah tak ya aku di sini?" Wanda mengusap sprai berwarna abu-abu gelap tersebut.
Lalu matanya menatap satu persatu barang di kamar suaminya itu, 'Harusnya bang Ghava ikut aku di sana. Bukan aku yang ikut dia begini, mana dia mau balik buat selesaiin KKN-nya lagi. Gimana caranya aku berbaur, kalau ditinggal sama keluarga mertua aja?' batinnya bermonolog.
"Kok ngelamun?"
Winda tersentak kaget, saat suaminya menyuarakan suaranya.
Ghava mengunci pintu kamarnya, ia masih teringat akan ayahnya yang selalu mengeceknya tiap malam. Meski jelas, tak akan mungkin ayahnya lakukan lagi.
"Bersih-bersih, Dek. Besok kita ke rumah orang tua kau, ambil barang-barang kau. Sorenya Abang ambil penerbangan ke kota J lagi." ucap Ghava, dengan melepaskan kemeja putihnya.
"Bang... Aku di rumah ma aja." Ghava menoleh cepat, masalah ini sudah ia bahas beberapa kali sebelum menikah.
"Biar bisa bebas jalan sama Uki lagi? Kau udah punya suami, Win! Jaga marwah kau sebagai istri orang." Ghifar tidak suka dengan pembahasan ini.
"Mamah sama papah yang sekarang ambil alih kau. Mereka bakal biayain pendidikan kita, sampek sarjana. Mereka orang tua kau juga sekarang. Jadi... Yang tau terima kasih sama mereka. Kelak nanti Abang tak di rumah, bersikap baik sama mamah papah." Ghava berjalan menuju ke lemari pakaiannya.
"Tapi....." Winda kembali menunduk, saat tangan kanan suaminya terangkat.
Ghava tidak menerima penolakan lagi. Ia dan keluarganya sudah menyepakati akan Winda yang akan menjadi penghuni kamarnya, selama dirinya melanjutkan pendidikannya.
Ghava berbalik badan, melangkah menghampiri Winda.
"Aku..." meski sudah pernah melakukannya, Winda merasa canggung sekarang karena mereka terang-terangan masuk ke kamar berdua.
"Lagi haid?" Ghava melanjutkan perkataan Winda. Namun, ternyata prasangkanya salah.
Winda menggeleng. Bukannya ia ingin menolak Ghava, hanya saja ia begitu merasa canggung.
__ADS_1
"Ya udah sana bersih-bersih dulu. Maksudnya... Kalau tak sekarang kan, kapan lagi? Besok malam Abang udah di perjalanan." Ghava membanting tubuhnya di atas tempat tidur.
Ia sebenarnya amat lelah. Persiapan yang serba buru-buru itu, membuatnya butuh booster tenaga ekstra. Tapi ini kewajibannya, untuk memberi nafkah batin Winda.
Winda melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Ia mengamati satu persatu barang milik suaminya. Ini adalah kali pertamanya masuk ke dalam kamar pribadi suaminya.
Tak lama ia keluar. Namun, malah dikagetkan dengan wujud Ghava yang menunggunya di depan kamar mandi.
Winda berpikir, Ghava akan menggendongnya ala bridal style. Sayangnya harapannya meleset sangat jauh.
"Awas." Ghava menyerobot masuk ke dalam kamar mandi, yang baru saja digunakan oleh Winda.
"Hufftttt...." Winda menghela nafasnya, dengan melangkah ke arah ranjang.
Khayalannya tentang indahnya pengantin baru, memang hanya sebagai khayalan saja. Bodohnya ia dulu mau ditiduri lebih dulu, membuat malam pertama sudah tak memiliki daya tarik lagi.
~
~
Dua minggu sudah, Winda menyandang sebagai menantu dari keluarga juragan tersebut. Ia merasa amat bosan, dunia ini seakan begitu sesak. Karena hari-harinya dipenuhi dengan teriakan dan seruan ibu mertuanya.
"Pengen aku sangkal ucapan bang Ghava kemarin. Mamah Dinda itu, mamah mertua idaman. Idaman dari mananya?"
"Heh, bangun! Sholat! Berangkat kuliah! Balik jam berapa?! Makan! Ngaji! Berangkat bareng sama Ghavi. Nanti bang Ghifar jemput. Nanti bang Givan antar. Suapin Memei, jagain Key." Winda menirukan suara ibu mertuanya.
"Jangan lupa dia sering nawarin kau belanja online. Baru dua minggu di sini, pakaian baru udah dua lusin aja." Winda benar-benar tak mengetahui, bahwa di belakang tubuhnya ada ayah mertuanya.
Ia menoleh pada Adi, yang tengah mengambil sesuatu dari dalam lemari pendingin.
Seingatnya, ia tengah di dapur seorang diri. Dengan perintah untuk mengupas kentang, yang akan menjadi menu makan siang hari yang penuh dengan kerepotan ini.
Mereka akan mendapat hajat besar, karena hari ini adalah undangan pernikahan Giska dan Zuhdi disebarkan.
"Nulis kau, berkarya. Kalau memang tak pandai ngajak ngobrol keluarga mertua kau." tutur Adi, sembari melenggang pergi dari area dapur itu.
"Naseb ka." Winda hanya bisa geleng-geleng kepala. Nasibnya harus terkurung di rumah mewah ini.
"Hei.... Kak...." Winda menoleh ke arah pintu belakang tersebut.
Ia tidak mengerti dengan Ghifar dan Kinasya. Ia hanya memahami, bahwa Kinasya adalah anak angkat keluarga juragan tersebut.
Tapi ia merasa heran, dengan Ghifar yang selalu mencoba mendekati Kinasya secara berlebihan. Tak jarang, Ghifar sampai mengejar Kinasya seperti ini.
__ADS_1
Suara orang beradu argumen, sampai di telinga Winda. Ia bangkit, untuk mengintip yang tengah bertengkar di halaman belakang tersebut.
"Ya udah sama kau juga, Kak. Nanti kita liburan bertiga." terlihat Ghifar tengah membujuk Kinasya.
Sepertinya masalah mereka masih sama. Perihal liburan, yang membuat Kinasya selalu menyindir Ghifar.
Winda meninggalkan jendela itu, ia tidak terlalu penasaran dengan drama akan Ghifar. Ia kembali fokus pada pekerjaannya, untuk mengupas kentang yang berjumlah tiga kilo tersebut.
Ghifar kembali menggenggam tangan kakak angkatnya. Kinasya tengah duduk dengan fokus pada ponselnya. Ia benar-benar tak ingin Ghifar selalu demikian padanya. Ia tak akan bisa menjadi kakaknya yang profesional, jika Ghifar selalu seperti ini.
"Kak, maaf..."
"Jangan cuekin aku lagi."
"Kadang kala ngomong, nyindir tentang liburan terus. Padahal aku liburannya tak jadi, tapi ngambeknya Akak tak udah-udah." Ghifar merangkul pundak perempuan itu, karena Kinasya menghempaskan tangannya yang digenggam Ghifar.
"Ya udah sih, Far!" Kinasya melepaskan rangkulan tangan Ghifar, lalu ia memberi jarak di antara mereka.
"Lagian kita siapa? Pacaran, tak! Suami istri, bukan!" tandas Kinasya dengan mata yang nyalang.
Ghifar hanya bisa tertunduk. Ia memperhatikan rerumputan yang ia pijak.
Ia meraba perasaannya sendiri. Apa dirinya terbawa perasaan, karena hal gila yang mereka lakukan berulang tersebut?
Lebih tepatnya, Ghifar mencoba memisahkan antara rasa yang berbeda dan rasa candunya.
Apakah ini hanya kepentingannya semata?
Karena, sejauh apa ia mengamati dan meyakinkan diri sendiri. Hasilnya tetap hanya Kinasya seorang, yang mampu membangunkan intinya tanpa sentuhan apapun.
Ya...
Kini hanya dengan hadirnya perempuan itu, aliran darah ke tengah-tengah tubuh Ghifar lebih memuncak.
Ghifar tak bisa mengontrol hal itu sendiri.
Ghifar menoleh ke arah Kinasya. Apa harus ia memperjelas hubungan yang pantas, antara dirinya dan kakak angkatnya tersebut?
"Kak......
......................
Ada kemiripan loh sama kisah.... 🤭
__ADS_1