Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS128. Cut Putroe Hamerra


__ADS_3

"Apa, Dek?" sahut Givan, dengan menyambut uluran tangan Canda yang tak ia mengerti.


Canda terkekeh geli, dengan mengajak Givan berdiri.


"Heh, apa?" tanya Givan bingung dengan istrinya tersebut.


Namun, Canda malah tertawa renyah dengan memandangi wajah suaminya.


"Tak apa, Mas." jawab Canda kemudian.


Givan melepaskan tautan tangan mereka, "Tak jelas betul kau!" sahutnya dengan tertawa kecil.


"Sih Mas kenapa? Main terima-terima tangan aku aja." balas Canda, dengan duduk di pangkuan suaminya.


"Ya tak tau, kirain mau diajakin ke mana." ujarnya kemudian mendaratkan kecupan kecil di pipi kiri istrinya.


"Heh, Mas. Aku gempita betul. Masa, berat aku sampek 59 kilo?" ungkap Canda, dengan memandangi wajah suaminya dari dekat.


Givan tersenyum mengejek, "Pindah duduk, Tuyul! Kau tau, kau berat. Malah masih pangku aja, linu betul paha Mas." tutur Givan yang membuat Canda bangkit dengan terbahak-bahak.


Canda sudah terbiasa, dengan Givan yang jarang berbicara halus meski nada suaranya lembut. Ia merasa itu adalah ciri khas tersendiri, dari anak sulung keluarga mertuanya tersebut.


"Heh, tapi kok Adek bisa nimbang di tukang sayur sih? Jadi, lagi berapa Adek sekilonya?" tanya Givan dengan raut wajah jahilnya.


Givan terbahak-bahak, saat istrinya mengerucutkan bibirnya.


"Mas kira aku ayam potong?" tukas Canda kemudian.


"Aku nimbang di posyandu, soalnya aku gempita betul." jelas Canda dengan senyum bahagianya.


Givan melirik tak percaya, kemudian langsung geleng-geleng kepala dengan memalingkan wajahnya.


"Gendut, gempita-gempita. Apa yang gempita?" gerutu Givan terdengar jelas oleh Canda.


Canda mencubit gemas pinggang suaminya, kemudian dirinya melarikan diri ke dalam rumah.


"Tapi... Kenapa ya perempuan akhir-akhir ini pada gemuk? Mamah gemukan, Canda gemukan." ucap Givan seorang diri, dengan meraih sapu lantai.


Dirinya mulai beraktivitas menyapu lantai teras rumah mewah tersebut, karena dirinya tengah tidak punya pekerjaan.


Ladang bagiannya, sudah dikelola lima bulan silam. Tetapi ladang itu tidak bisa langsung dipanen, membutuhkan waktu empat tahun untuk menikmati hasilnya.


Ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah tersebut, membuat Givan memusatkan perhatiannya. Tak begitu lama, muncul seorang perempuan dengan menggendong seorang anak.

__ADS_1


Kulit putihnya, juga gaya penampilannya membuat Givan langsung mengenal wanita tersebut.


"Ehh cie, mudik." seru Givan, dengan berlari kecil menuju ke arah adiknya tersebut.


Icut tersenyum lebar pada kakaknya yang langsung menyambut anaknya tersebut.


"Putih betul, anak Ayah. Kau macam... Macam apa ya? Kue yang ada tepung manisnya itu loh, Cut." ungkap Givan, mencoba mengambil alih anak perempuan tersebut dari gendongan Icut.


"Kue salju. Itu bukan tepung lah, itu gula halus." sahut Icut, ibu dari bayi berusia tujuh bulan tersebut.


Givan mengangguk, kemudian dirinya fokus mengangumi sosok bayi yang begitu ia dambakan. Bertubuh gempal, dengan kulit putih yang bersih.


"Masuk yuk." ajak Givan, dengan menoleh pada adiknya.


"Kau kasih nama siapa, Cut?" tanya Givan, dengan menyetarakan langkah kakinya bersama Icut.


"Papah yang kasih nama. Namanya... Cut Putroe Hamerra." jawab Icut, sembari menarik koper kecil miliknya.


"Dipanggilnya?" tanya Givan kembali, dengan memperhatikan mata bayi tersebut yang terarah ke arahnya.


"Hame. Tapi kalau di sini, pasti disebutnya Memei." jawab Icut singkat, yang membuat Givan tertawa geli.


"Cantik-cantik kau dipanggil Memei." ujar Givan dengan mengusap pipi anak Icut yang berwarna kemerahan tersebut. Kulitnya seperti Icut, yang berubah menjadi kemerahan bila terlalu lama terkena sinar matahari.


"Gara-gara Gibran, setiap kali video call nyebutnya Memei. Di sana sih pada manggilnya Hame, keluarga sini yang seenaknya manggil." tutur Icut, dengan menghela nafasnya sejenak. Karena sekarang dirinya telah sampai di teras rumah megah tersebut.


"Aduh... Timingnya tak pas betul dong. Aku ke sini mau cari jalan keluarnya, soalnya aku lagi sibuk sama kuliah. Kerja juga aku, Bang." sahut Icut.


Terlintas di pikiran Givan, agar Canda saja yang mengasuh anak Icut. Namun, ia tidak bisa langsung memutuskan sebelum berdiskusi terlebih dahulu dengan Canda.


"Ya kau di sini dulu satu minggu, tunggu mamah sembuh dulu. Kau bilang kangen mamah, pengen nengok keadaan mamah. Jangan bilang pengen nitip anak, keadaannya tak pas soalnya. Nanti kau kena marah." ungkap Givan yang disepakati oleh Icut.


"Assalamu'alaikum..." mereka berdua memasuki rumah, dengan disambut oleh Giska yang baru akan keluar dari rumah.


"Wa'alaikum salam. Wah... Bayi tabung, mudik ya." ucap Giska, dengan langsung menghujami keponakannya ciuman bertubi-tubi. Membuat bayi tersebut, langsung menyuarakan tangis karena tidak nyaman.


Icut memukul part belakang Giska dengan tas cangkleknya, kemudian langsung mengambil alih anaknya.


"Bayi rahim ini, bukan bayi tabung." sahut Icut yang membuat Giska terkekeh.


"Soalnya waktu bayinya masuk ke tabung inkubator sih, aku jadi inget terus." balas Giska dengan memamerkan kawat giginya.


"Dadah, Gemoy. Aunty mau nguli ahhh dulu, biar pandai menjaga suami." ungkap Giska dengan berlalu pergi.

__ADS_1


"Heh... Dianter siapa?" tanya Givan, dengan memutar tubuhnya.


"Ayah. Tuh..." jawab Giska, dengan menunjuk Jefri dengan dagunya.


Terlihat Jefri sudah menunggu di luar pagar, dengan mengendarai sepeda motor matic. Ia merangkap menjadi seperti yang Adi inginkan, untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya.


Kemudian Givan dan Icut menuju ke kamar orang tuanya.


"Assalamu'alaikum...." ucap Icut, saat dirinya berhasil melihat ayahnya tengah mengasihi ibunya.


Terlihat Adinda tengah disuapi oleh suaminya. Adi begitu telaten, menyuapi suap demi suap ke mulut istrinya.


Adi dan Adinda menoleh ke arah pintu, "Wa'alaikum salam." sahutnya bersamaan.


Senyum mereka mengembang, ia terlihat begitu senang dengan kedatangan Icut dan buah hatinya.


"Wahhh... Memei jalan-jalan jauh." ucap Adinda, saat melihat Hamerra menoleh ke arahnya.


Icut berjalan mendekati ibu dan ayahnya, lalu ia mencium tangan mereka bergantian.


"Dek... Abang mau anak perempuan yang kek gini." ujar Adi, dengan mengambil alih cucunya dari gendongan Icut.


"Sadar diri dong, Bang. Abang ini kan tak puteh, aku pun puteh karena perawatan." ungkap Adinda yang di akhiri dengan kekehan geli.


Hamerra menoleh ke arah orang-orang yang asing untuknya. Ia memperhatikan wajah yang baru ia lihat secara langsung, dengan bergantian.


Ia seperti kebingungan, berada di tengah-tengah keluarga hangat ini.


"Mendingan belum, Mah?" tanya Icut, dengan duduk di tepian ranjang. Persis di sebelah ibunya. Kemudian ia mendapatkan kecupan kecil, di pipi kiri ibunya.


"Udah, sebetulnya udah tak apa-apa. Tapi kapan lagi dimanja Papah kau, kalau tak lagi sakit begini." jawab Adinda, membuat Adi tersindir hebat.


Adi mengingat kembali, kapan ia memanjakan istrinya.


"Abang kan selalu manjain." celetuk Adi, membela dirinya sendiri.


"Kapan? Sarapan tak siap, tetap sih aku yang disuruh cepet-cepet bikinin. Anak-anak, tetap aku yang ngurusin. Manjain aku, kalau lagi ada maunya aja." tutur Adinda, dengan respon Adi yang hanya memamerkan giginya saja.


Semua mata tertuju ke arah Hamerra, karena tangannya menggapai hidung besar kakeknya.


"Aduhhhh....." pekik Adi, saat kuku tipis tetapi tajam tersebut mencakar area hidungnya.


Kekehan serentak, membuat Hamerra menoleh ke arah orang-orang yang tengah gemas padanya tersebut.

__ADS_1


"Cepet sehat, Mah. Bantu aku, buat.....


......................


__ADS_2