
"Karena mamah Dinda, tak seperti ibu yang lain. Mamah Dinda itu orangnya tega, juga berkomitmen kuat. Sekali tidak, sampek kapan pun tetap tidak pilihannya. Mamah itu, lebih tega dari papah sambung aku. Anaknya sendiri, anak perempuan yang dia urus dari kecil, dia hamil. Apa ada mamah Dinda datang ke rumah laki-laki adik perempuan aku? Tak ada! Mereka tak mau ngemis tanggung jawab. Mereka tak minta adikku buat mohon ke laki-lakinya. Cukup kasih tau laki-lakinya, terus liat tanggapannya. Setelah mereka udah tau tanggapannya, pilihan mereka tetap sama. Mereka tak ngijinin adik aku buat nikah, biar cucu pertamanya itu lahir tanpa ayah. Mereka lebih milih itu, dari pada nyiptain drama yang malah menambah beban hidup mereka. Mereka lebih terima, dengan cucu yang tanpa ayah. Dari pada nerima menantu, yang nikahin anaknya gara-gara udah dihamili lebih dulu." jelas Givan membuat Fira tertegun kaget.
Fira tak menyangka, bahwa ada orang tua yang seperti itu. Fira tak menyangka, bahwa orang tua kekasihnya adalah orang yang kejam.
"Yang anak perempuan, yang jelas mereka ngemban ruginya. Tetap tak dinikahkan. Apa lagi anak laki-laki, pasti perempuannya yang malah dibuat malu karena udah mau dihamili anaknya." lanjut Givan kemudian.
"Terus nasib aku macam mana, Bang? Aku kepengen nikah sama Abang. Aku tak apa dinikahi secara siri, asal aku tak Abang tinggalkan."
"Abang tau kan, keperawanan cukup penting di negara kita?"
Fira terlihat begitu memohon kepada kekasihnya. Namun, Givan terlihat sudah tak tertarik lagi pada wanita cantik tersebut.
"Aku udah tak mau, buat nikah siri. Setidaknya, aku pengen nikah sekali seumur hidup. Meski aku punya masa lalu yang cukup kelam. Aku takut malah nanti susah dapat keturunan, karena selalu sengaja buang di luar biar lawan main aku tak hamil." ujar Givan, mengungkapkan rasa khawatir akan masa depannya esok.
"Tapi semalam Abang buang dalam kan?" tutur Fira, yang membuat Givan mengingat kembali kebiasaannya.
"Dua hari lagi, jadwal kau haid. Aku ada jadwal haid kau, di aplikasi ponsel aku. Aku juga udah biasa buang dalam, tiap tanggal kau mendekati masa haid. Jangan berharap hamil, apa lagi hamil anak aku!" tegas Givan, yang sungguh membuat kacau hati Fira.
"Bang… Abang kenapa sih sebenarnya? Kok gitu kali sama aku?" tukas Fira, yang tak mengerti arah kemarahan laki-lakinya.
"Tak tau lah! Udah, aku mau siap-siap balik ke pulau K. Aku lagi banyak kerjaan!" ujar Givan dengan berlalu pergi ke arah kamar mandi.
Fira menghela nafas beratnya, ia merasa Givan benar-benar berubah sekarang. Tak seperti yang ia kenal dulu. Benarkah karena permasalahan yang sama? Tapi, jika memang demikian. Harusnya Givan seperti ini, saat orang tuanya melarang dulu. Bukan tiba-tiba, saat di mana Fira menyadari bahwa ada perempuan lain di hubungannya dengan kekasihnya. Pertanyaan itu terus bergulir di benak Fira, karena ia tak mengetahui pasti apa yang menjadi alasan utama Givan.
__ADS_1
Tak berselang lama, Givan sudah siap dengan pakaian yang rapih. Ia langsung memeriksa tas kerjanya, dengan beberapa dokumen yang ia butuhkan.
"Fir… bulan di mana aku tak ngirimin kau uang lagi, aku mohon kau mengerti keputusan aku saat itu. Setidaknya, gunakan uang yang udah aku kirimkan buat modal usaha atau apa. Juga tolong…. Jangan pernah usik aku lagi, setelah aku tak pernah ngirimin kau uang lagi. Karena… di saat itu, aku mutuskan kita udah selesai." ungkap Givan, yang masih fokus memeriksa dokumennya.
Tentu Fira tak percaya, mendengar ucapan Givan yang terdengar santai tersebut. Yang ada di pikiran Fira, Givan hanya berbual untuk mengujinya.
"Ya, Bang." sahut Fira, dengan tersenyum samar.
Dengan segala ujian yang telah lewati, Fira tetap meyakini kebosanan Givan hanya untuk sementara. Fira paham, Givan tak akan meninggalkannya. Karena Givan pernah berucap, dirinya takut malah adiknya terkena karmanya. Apa lagi sekarang sudah mendekati bulan lahir Fira, di mana Givan biasanya membuat kejutan yang luar biasa untuk dirinya.
Beberapa kali Givan pernah berucap untuk memutuskan hubungannya, juga meninggalkan dirinya. Namun, kejutan yang sungguh berkesan yang Fira dapatkan setelah dibuat menangis oleh Givan.
"Untuk bidadariku, yang duduk di pojok kanan paling belakang. Terima kasih, telah sudi mendukung dan menemaniku selama ini. Maaf, sudah mengacaukan hatimu beberapa hari belakangan ini. Happy birthday, Sayang. Semoga panjang umur dan bahagia selalu."
Fira memusatkan perhatiannya, pada seseorang yang berada di atas panggung kecil cafe tempatnya makan malam tersebut. Saat ia memutar pandangannya, ia mendapati semua orang yang tengah tersenyum ke arahnya.
Lalu Givan turun dari atas panggung, dengan diikuti pandangan penasaran para pengunjung cafe. Givan melangkahkan kakinya, menuju ke tempat di mana Fira duduk. Kemudian, saat ia telah sampai di hadapan Fira. Givan berlutut untuk memasangkan gelang kaki, sebagai hadiah ulang tahun Fira.
Tentu Fira hanya bisa tersenyum lebar, dengan menahan tangis harunya. Laki-laki yang membelinya dulu, ternyata begitu menyanjungnya hari ini.
"Makasih, Bang." sahut Fira dengan suara bergetar.
Givan bangkit dari posisinya, lalu ia duduk di kursi yang berada di hadapan Fira.
__ADS_1
"Sama-sama, Dek. Maaf ya tak romantis, aku tak suka romantis-romantisan. Ini pun, kaku betul aku lakuinnya." balas Givan, dengan menyerobot minuman milik Fira.
"Kenapa minta putus hebat, tapi kasih kejutan yang tak terkira? Aku macam orang gila. Dijatuhkan sejatuh-jatuhnya, terus diajak terbang setinggi langit macam ini." ujar Fira dengan memperhatikan Givan, yang begitu kehausan.
"Sengaja. Aku suka kejutan, juga bikin kejutan." balas Givan santai. Lalu ia memanggilkan pelayanan, untuk memesan makanan kesukaan mereka berdua.
"Aku pergi dulu, Fir." pamit Givan, dengan mencangklek tas kerjanya.
"Nanti Abang balik lagi kan?" tanya Fira dengan mengekori Givan.
"Tak janji, Fir." jawab Givan dengan berlalu pergi begitu saja.
Fira hanya menatap kepergian Givan, dengan perasaan yang kacau. Ia sebenarnya khawatir, Givan tak kembali lagi padanya. Namun, ia meyakini suatu kejutan yang membahagiakannya nanti.
~
Beberapa saat kemudian, Fira memutuskan untuk keluar untuk mencari angin segar. Namun, ia kini kembali dikacaukan dengan kehadiran seseorang yang sangat ia kenal.
Terlihat dari kejauhan, orang tersebut terlihat terkejut dengan Fira yang berdiri sembari memperhatikannya. Fira mencoba menguatkan hatinya, agar biasa saja saat bertemu orang tersebut.
Berbeda dengan laki-laki yang berada di seberang sana, ia merasa campur aduk saat dipertemukan kembali dengan Fira. Ia bertambah kacau, saat Fira tersenyum lebar dengan melangkahkan kaki ke arahnya.
......................
__ADS_1
Pengen didukung... 😌
Vote, hadiah, tips gitu... pengen ngerasain dapat tips 😅