
Givan menggenggam tangan istrinya, lalu satu tangannya terulur untuk menyentuh rahang istrinya.
"Liat suamimu, Canda. Coba lupain kejadian kemarin, kita mulai dari awal lagi. Mas mohon, maafin tindakan Mas hari itu. Bisa kan kita jadi suami istri, yang saling mengasihi?" ungkap Givan, dari hatinya.
Canda mengangguk samar, "Tapi aku butuh waktu." ucapnya yang membuat senyum Givan tepatri indah di wajahnya.
"Waktu pasti selalu ada. Doain Mas, semoga lekas sembuh. Biar bisa kumpul sama kau lagi. Mungkin Mas butuh 3 sampek 6 bulan, dari keterangan yang tertulis. Kau doain, semoga Mas pulih lebih cepat." sahut Givan kemudian.
"Tapi… aku tetap mau sama mamah Dinda. Aku gak mau jauh-jauh dari jangkauannya. Aku gak apa dimarahin mertua terus, asal aku dianggap keluarga. Aku pengen punya keluarga." balas Canda, yang membuat Givan berpikir kembali.
"Usaha aku di pulau K, sedangkan mamah Dinda menetap di A*eh. Jaraknya jauh bukan main, aku tak mungkin pulang pergi tiap hari ke rumah mamah Dinda. Mau tak mau, kau harus ikut suami kau di rantau orang." ujar Givan, yang langsung digelengi berkali-kali oleh Canda.
"Aku gak mau dibawa Mas, aku takut kalau cuma sama Mas. Aku gak mau." tutur Canda, dengan memeluk dirinya sendiri. Ia teramat takut, dengan sosok suaminya sendiri. Bukan karena rupanya, lebih karena sikap Givan hari itu. Yang membuatnya trauma sampai sekarang.
"Kita bakal cari jalan tengahnya nanti. Yang penting, Mas mohon kau yang setia sama Mas. Tolong jangan pernah buka hubungan lagi sama Ghifar, apa lagi kalau Ghifar pulang ke rumah. Jangan pernah, buat narik perhatian Ghifar lagi. Jangan pernah respon dia lagi." tukas Givan, yang membuat Canda menatap wajahnya.
"Aku bukan perempuan kaya gitu, Mas. Aku cukup tau diri dengan keadaan aku kemarin. Dari awal Ghifar udah ngasih syarat, jaga mahkota, jaga marwah, jaga harga diri. Terus kejadian kaya kemarin, itu udah bikin aku ngerasa kotor buatnya. Aku sadar diri kok, Mas. Gak perlu sampai Mas ngomong kaya gitu." jelas Canda dengan mengusap air matanya yang tak tertahankan.
Givan mengangguk, "Sekali lagi, mohon maafkan suamimu ini. Lupain kejadian kemarin, kita buka lembaran baru. Aku paham pernikahan begitu sakral, tolong pertahankan pernikahan kita sampek nanti." tegas Givan dengan kembali menggenggam tangan Canda.
"Ya, Mas." jawab Canda, dengan tertunduk kembali.
"Hayooo… lagi pacaran ya?????" tuduh seseorang, yang tengah mengeluarkan air seninya di kolam ikan tersebut.
"Heh… marahin Abi loh nanti." ucap Givan, dengan menghampiri adik yang memiliki nama kembar sepertinya itu.
Gavin segera menyelesaikan hajatnya, lalu kembali menarik celananya tersebut.
"Kan yang penting tak ketahuan. Biar mabok itu ikan-ikan. Terus aku goreng deh." sahut Gavin yang membuat Canda tertawa geli.
Givan menoleh sekilas pada istrinya, lalu kembali fokus pada adiknya tersebut.
"Masuk sana, mandi! Ini bocah, batat kali." balas Givan, dengan memukul pelan part belakang adiknya.
__ADS_1
Lalu Gavin segera lari, dengan tawa renyahnya.
"Dasar bocah, tak punya beban hidup." gerutu Givan, dengan menatap adiknya yang melarikan diri tersebut.
Kemudian ia beralih menatap istrinya, "Masuk, Dek Canda. Lanjutin masakannya, Mas mau ngerasain masakan kau." ucap Givan yang diangguki oleh Canda.
Lalu Canda masuk ke dalam rumah kembali, diikuti dengan Givan yang mengekorinya.
Tak lama kemudian, mereka menikmati sarapan bersama pagi ini di atas karpet di ruang keluarga. Karena kursi makan, tak cukup untuk mereka semua.
"Bangun buru-buru, sarapan buru-buru, berangkat buru-buru." ucap Haris, saat melihat Kinasya yang sibuk mondar-mandir dengan jas putihnya.
"Memang udah jadi dokter dia?" tanya ibu Meutia, dengan memperhatin Kinasya yang kembali pergi setelah mengisi mulutnya dengan sesuap nasi.
"Belum, memang begitu penampilannya anak kedokteran." jawab Haris kemudian.
"Bi… Bun… Semuanya… aku berangkat dulu." ucap Kinasya, setelah menyelesaikan suapan terakhirnya. Lalu ia berlalu pergi, dengan rambut yang panjangnya yang melambai-lambai.
"Seminggu pakek hijab, seminggu nampakin rambut. Rasdan style kau, Kin." celetuk Haris, saat anaknya melangkah dengan sangat terburu-buru.
"Tak mau aku. Mau ikut Papah aja." sahut Giska, dengan memeluk lengan ayahnya yang duduk di sisi lain.
"Risih sama kau. Tidur nyempil aja! Gibran yang bungsu aja, dia bisa tidur sendiri." balas Adinda yang terlihat tengah kesal dengan anaknya.
Giska melirik sinis ibunya, "Apa sih Mamah? Aku kan anak Papah, anak kalian. Masa tak boleh tidur sama Papah." ujar Giska kemudian.
"Masalahnya kau bukan Gibran, yang kena guncangan dia masih lelap. Sedangkan Mamah kau butuh Papah. Nah, ada kau di situ. Bisa apa dia selain maki-maki kau?" ungkap Adi, yang menciptakan tawa pagi ini.
"Ngomong apa sih? Aku tak paham, Pah." tutur Giska dengan wajah polosnya.
"Iya… makanya dengerin Papah ngomong. Tidurlah di tempat kau sendiri. Malam kau tidur juga, Papah pasti nengokin kau." tukas Adi, dengan mengambil nasi yang tertinggal di ujung bibir anaknya.
"Tapi aku lagi haid, sakit perut, sakit pinggang. Aku mau dielus-elus Papah." ungkap Giska, yang membuat tangan Adinda geram ingin meremas kepala anaknya sendiri.
__ADS_1
"Iya, nanti suami kau yang elus-elus. Papah setengah mati balikin mood mamah kau, kau yang hancurin seketika." celetuk Adi lirih. Edi yang duduk di samping kakaknya tersebut, hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan kakaknya barusan.
"Balik kapan, Bang?" tanya Edi, mengalihkan pembicaraan mereka.
"Tak tau, kak Dinda kau malam tadi kata mau cari rumah." jawab Adi dengan menoleh ke arah adiknya.
"Di cluster Aloha, yang bunderan patung kuda sana. Ada yang lagi jual, kata satpam di depan." timpal Haris, yang mendengar ucapan Adi.
"Ini cluster apa?" tanya Giska, yang membuat semua orang menoleh ke arahnya. Ia seolah mengerti, akan masalah rumah.
"Ini Gardenia, 1,8M cash." jawab Haris menyombongkan diri, tetapi Giska malah memberikan tepuk tangan seorang diri.
"Lebay betul kau, rumah Mamah di sana 4M. Mamah biasa aja, Papah kau juga adem aja." ucap Adinda, yang membuat beberapa orang menahan tawanya.
"Mamah juga orang kaya yang ternyata? Tapi kenapa tak nikah lagi aja?" jawab Giska, yang mendapat toyoran kepala dari ayahnya.
Giska menoleh ke arah ayahnya, dengan memamerkan kawat giginya.
"Biar aku bisa bobo sama Papah, Papah buat aku aja." ucapnya tanpa dosa.
"Ya Papah yang tak mau sama kau. Jelek, hitam, mirip Papah lagi." sahut Adi dengan sudut bibir yang tertarik ke atas.
"Tapi aku cinta kali sama Papah." balas Giska yang kembali memeluk lengan ayahnya.
"Papahnya cinta kali sama mamah kau." timpal Alvi, yang melihat kedekatan Giska dengan Adi tersebut.
"Ya kah, Pah?" tanya Giska, dengan kembali memperhatikan wajah tegas ayahnya.
"Ya, lah. Cinta sama anak sih ada batasnya. Karena yang nemenin Papah tua nanti ya Mamah, bukan kau. Apa lagi anak laki-laki, yang jelas pasti berat sama keluarga kecilnya." jawab Adi dengan melirik anaknya, yang masih memeluk lengannya tersebut.
Tiba-tiba, hati Giska terenyuh. Saat membayangkan ia harus pergi, untuk ikut dengan suaminya.
......................
__ADS_1
"Batat : keras, tegar, mengeras.
Radan, waras edan 😅