Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS197. Adi Wijaya Abadi dan Putra Tunggal Berintan


__ADS_3

"Hendra nelpon tuh!" Adi melemparkan ponsel istrinya ke sofa yang istrinya duduki.


Adi kolot, terlalu cemburu buta saat mantan suami istrinya menelpon.


"Ya, hallo." Adinda coba membiarkan sejenak, suaminya yang mengerucutkan bibir dan seolah-olah tidak peduli dengan panggilan telepon itu.


"Hallo, Din. Tambang ditutup, Din. Ilegal katanya. Givan tak ada bilang, cabangnya belum ada surat izinnya." Adinda begitu kaget, mendengar pertanyaan tersebut.


"Kok bisa? Adi Wijaya Abadi ada surat-suratnya kok, almarhum ayah mertua aku yang urus waktu itu malah." Adi sedikit penasaran, dengan reaksi heboh dari istrinya.


"Bukan Adi Wijaya Abadi yang ditutup. Givan buka tambang baru, relasinya dari Papua. Katakanlah dua perusahaan bekerja sama gitu. Nama PT-nya Putra Tunggal Berintan, ternyata PT-nya belum resmi. Kalau buka tambang gitu kan, ada surat izin dari masyarakat sekitar. Itu Givan tak ngantongin juga. Jadi kena klaim lah kita. Adi Wijaya Abadi aku jual, buat bayar denda Putra Tunggal Berintan." Adinda terdiam, menyimak baik-baik cerita singkat itu.


"Aku jadi bingung harus bersyukur apa maki-maki kau. Tapi puas buat kau! Sukurin! Kau tak bilang masalah anak aku punya dua tambang. Berarti dua tahun belakangan ini, aku cuma dapat saham dari Adi Wijaya Abadi? Yang dari Putra Tunggal Berintan aku dapat bagian? Kau makan sendiri itu?" Mahendra merasa dirinya mengungkapkan kebohongannya sendiri. Adinda terlalu cerdas untuk menarik kesimpulan, dari cerita singkat itu.


"Herannya juga... Itu Adi Wijaya Abadi punya keluarga aku loh, berani-beraninya kau main jual-jual aja. Segala kau alasan buat bayar denda. Bodohnya lagi, kau udah lakuin, kau baru cerita." suara Adinda menggelegar di ruangan itu. Sepertinya gendang telinga Mahendra bermasalah setelah ini, karena suara Adinda terpantul hebat dari sambungan telepon.


"Udahlah! Masa bodoh! Kau urus jalur hukumnya sendiri." Adinda segera memutuskan panggilan telepon tersebut. Kemudian ia menoleh ke arah anaknya yang tengah bermanja dengan berbantal paha istrinya, mata nyalang Adinda mengarah pada Givan.


Bruk....


Adinda melempar bantal sofa ke arah wajah anaknya, ia amat kesal pada anak sulungnya.


"Jangan pura-pura tak denger ya kau, Van!" pekik Adinda mengejutkan mereka semua.


Givan mengangkat kepalanya, kemudian ia duduk menghadap ibunya.


"Aku kira, bagian saham Mamah itu udah dari cabang yang kedua juga. Aku malas ungkit-ungkit sama adik-adik aku, udah malas kalau direbutin mereka." ungkap Givan kemudian.


"Kau tau PT belum resmi, malah beroperasi! Bodoh betul kau!" makinya dengan wajah murkanya.


Adi terdiam, ia tak mau ikut campur. Padahal ia yang mengeluarkan modal untuk usaha anaknya tersebut.


"Waktu itu... Aku sama Ai, belum dapat keputusan pas rapat di Papua. Aku tak tau, kalau sekarang PT itu udah beroperasi. Mungkin itu adik-adik aku di sana." Canda pura-pura tidak mendengar, saat suaminya menyebut nama Ai Diah. Ia cukup miris, saat mengetahui fakta suaminya dan Ai Diah.

__ADS_1


"Tau ah! Pusing Mamah." Adinda malah melarikan diri ke kamarnya. Ia kesal, ia marah pada anaknya. Karena modal untuk membuka pertambangan bukanlah seribu dua ribu. Miliaran rupiah, bahkan mencapai angka triliunan untuk membuka usaha tersebut. Bukan hanya izin dari masyarakat, tetapi surat lainnya juga membutuhkan uang.


Unit dan alat berat, dengan harga fantastis cukup menguras tabungan Adi saat itu. Namun, semuanya malah berakhir sia-sia. Usaha anaknya tak bertahan lama.


"Ai Diah, si montok bibit unggul." tandas Ghifar, setelah Givan selesai bercerita.


Mereka semua terkekeh, mendengar komentar mesum Ghifar.


"Jangkung-jangkung, tinggi besar anak-anak dia nanti." tambah Ghava, ia tahu siapa dan bagaimana perawakan Ai Diah.


"Malah dapatnya...." Ghavi tak melanjutkan kalimatnya, karena tawa mereka semua begitu menggelikan.


"Jangan body shaming dong, istri gue itu." Givan membela istrinya yang menjadi bahan tertawaan mereka.


"Tak body shaming juga. Tapi nampaknya, kek gitu kali ya kalau airnya cocok, susunya cocok." tambah Ghava, ia melanjutkan membahas tentang kakak iparnya.


"Iya betul." Ghifar menyahuti sembari terkekeh.


"Bang Givan susunya cocok, makanya badannya seger. Masa ototnya bertambah, mukanya berseri-seri." lanjut Ghavi yang membuat tawa laki-laki itu begitu hebat di tengahnya malam ini.


"Udah ah, balik kamar. Diledekin teros." Givan bangkit dan melarikan diri dari kamar adiknya.


"Tapi kenapa bisa tak hamil- hamil?" tanya Ghifar lirih, selepas kepergian Givan. Ia tak ingin kakaknya tersinggung, saat dirinya menanyakan hal itu.


"Kau tak tau, Bang?" Ghifar menggeleng cepat, saat muncul pertanyaan lain dari Ghavi.


"Bang Givan airnya kurang gacor. Katanya jumlah benih di air m*ninya kurang banyak, jadi tak bisa buahin kak Canda." jelas Ghava, membuat Ghifar menganga.


Ghifar amat tidak percaya dengan kenyataan itu. Ia cukup syok mendengarnya.


"Kok bisa?" satu pertanyaan lolos dari mulut menganganya.


"Bang Givan rutin buang, pas belum sama kak Canda. Katanya sih gara-gara itu, Bang." ujar Ghavi kemudian.

__ADS_1


Ghifar hanya manggut-manggut, hal itu cukup menjelaskan semuanya. Ia baru memahami kenapa dirinya tak memiliki keponakan dari mantan pujaannya. Ternyata ada masalah yang menyebabkan hal itu.


~


"Ayolah, Yah." Givan sampai memohon pada Jefri.


Jefri langsung mengangkat kedua tangannya, setelah Givan menceritakan tentang masalah yang menimpa adiknya.


"Masalahnya bukan cuma uang nih, Van. Bisa-bisa nama Ayah keseret juga." jelas Jefri, ia menyerah dengan kasus anak dari sahabatnya itu.


"Bisa, Yah. Yuk, bisa yuk." Givan merangkul ayah angkatnya, yang jauh terlihat lebih tua dari ayah sambungnya.


"Sialan kau!" Jefri terkekeh, ia memahami teks ajakan yang ramai di sosial media itu.


"Ya Yah, ya?" Givan memaksa penuh harap.


"Ya udah Ayah coba. Jagain adik kau betul-betul. Orang tua lagi tak di rumah tuh, kakak tertua yang ngemban tanggung jawab." ungkap Jefri dengan menepuk pundak Givan.


"Ok, Yah. Aku udah pesan sama Ghava buat jagain Giska, sementara Ghavi urus cutinya Giska." Givan mengangguk beberapa kali.


"Aku ke toko dulu ya, Yah." pamit Givan dengan mencium tangan Jefri. Ia tetap menghormati Jefri, meski Jefri hanya pekerja ayahnya sekarang.


"Ya, ati-ati." sahut Jefri cepat. Ia merencanakan sesuatu dalam lamunannya.


Secuil rasa, melintas memikirkan tentang beban pikiran Adi. Pantas saja ayah dari delapan anak itu menyerahkan sepenuh pekerjaannya pada dirinya, ternyata dirinya tengah dihadapkan dengan masalah anak-anaknya yang rumit.


Di tempat lain, Ghifar seperti ragu untuk melangkah ke rumah laki-laki yang pernah melabraknya beberapa kali itu. Ia khawatir, orang tua Zuhdi ikut menimbrung pembicaraan mereka. Ia tidak lancar berbicara dengan baik, jika dihadapkan dengan orang yang ingin mengetahui hal lebih darinya.


"Heh, ngapain kau?" Ghifar mengerutkan keningnya, saat ia berpapasan dengan teman akrabnya itu.


......................


Siapa lagi nih 🤔

__ADS_1


__ADS_2