Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS91. Kegeraman Adi


__ADS_3

Adi mendapat pelukan erat dari anak gadisnya, ingin meluapkan emosinya pada Giska pun Adi tak bisa. Karena Giska terlihat sudah basah dengan air matanya.


"Nanti Papah carikan supir lain, buat antar jemput kau kuliah. Fokus sama pendidikan dulu, biarin si Zuhdi serius kerja tanpa gangguan dari kau." ungkap Adi lembut, dengan membelai kepala anaknya yang masih terlapisi hijab berwarna gelap tersebut.


"Bukan berarti kau harus cari laki-laki yang namanya sama kek Papah, buat jadi pendamping hidup kau. Adi itu apa orangnya, tak semua Adi itu kek Papah." lanjut Adi yang membuat Giska semakin terisak di pelukannya.


"Mana HP-nya? Papah pinjam dulu." ujar Adi setelah melepaskan pelukan anaknya.


"Papah mau apa?" tanya Giska, dengan memberikan ponselnya ragu.


"Mau cek aja." jawab Adi dengan mengantongi ponselnya.


"Bersih-bersih sana, terus sholat. Makan, terus istirahat." pinta Adi, dengan dirinya keluar dari kamarnya.


Adi mencari beberapa manusia, yang tinggal di rumah itu. Hingga ia menemukan Canda, yang tengah menggerutu sembari mencuci piring.


"Mana mamah?" tanya Adi yang mengagetkan Canda.


Canda terhenyak dari posisinya, kemudian menoleh ke sumber suara.


"Anu, Pah. Mamah masih di kamar. Tadi keluar, tapi udah ma….." jelas Canda menggantung, karena Adi segera pergi dari area dapur tersebut.


"Harmonis, kaya, gak kekurangan apa pun. Tapi ada aja masalahnya, ada aja yang diributinnya. Gimana nanti rumah tangga aku sama mas Givan? Pasti suka berantem begini juga." ujar Canda seorang diri, dengan melanjutkan aktivitasnya.


Adi menuju ke kamar anak-anaknya. Ia ingin memastikan keberadaan anaknya, karena rumah terlihat begitu sepi.


Namun, saat ia membuka ruangan bermain. Yang menghubungkan kamar anak balitanya tersebut. Adi menemukan Gavin tertidur di atas mainannya yang begitu berantakan.


"Astaghfirullah, Gavin." Adi geleng-geleng kepala, saat melihat Gavin masih mengenakan pakaian semalam. Menandakan anak itu belum membersihkan dirinya, juga tak berangkat sekolah.


"Macam mana kau bisa tidur, sambil masih mainan gini? Ini lagi apa? Bekas coklat?" ucap Adi, dengan memperhatikan wajah anaknya yang begitu kotor.


'Keterlaluan betul kau, Dinda! Anak-anak Abang kau tak urusi.' gumam Adi, dengan rasa dongkol di hatinya.


Adi membenarkan posisi tidur Gavin. Kemudian ia beranjak menuju kamar kedua balitanya.


Terlihat Gibran tengah terlelap, dengan memeluk guling kesayangannya. Adi mendekatinya, kemudian mendaratkan kecupan ringan di pucuk kepala anak tersebut.

__ADS_1


"Ajari abang kau itu buat hidup teratur, Nak. Tidur di kamar, mau tidur ya bersih-bersih dulu. Kau rupanya udah mandi ya?" tanya Adi pada anaknya yang terlelap.


Adi masih ingat, dengan pakaian yang semalam anaknya kenakan. Namun, pakaian Gibran sudah berganti. Tidak seperti Gavin, yang masih mengenakan piyama tidurnya.


Adi meninggalkan kamar anaknya, dengan melangkah berhati-hati. Agar anak-anaknya tak terganggu dalam tidurnya.


Kemudian Adi melangkah menuju kamarnya, berniat untuk membersihkan diri dan menunaikan sholat dzuhur.


"Ke mana Dinda?" tanyanya, karena tak menemukan istrinya di dalam kamar pribadi mereka.


'Mungkin lagi olahraga.' jawab Adi dalam benaknya, karena tak jarang Adinda berolahraga pada waktu tengah hari seperti ini.


Adi segera menuju ke kamar mandi, yang terdapat di kamar pribadinya. Ia langsung melepaskan kemejanya, berniat untuk menyegarkan tubuhnya dengan air dingin.


Namun, matanya segar seketika. Rasa berat di kepalanya berangsur membaik, rasa kaku di tengkuknya berangsur mengendur. Ia malah merasakan darahnya mengalir cepat ke inti tubuhnya, karena pemandangan di depannya.


"Pusing!!! Duit tak ada, suami tak butuh. Ngelayap paling enak. Tapi percuma juga, soalnya tak ada uang." suara Adinda terdengar lirih menggerutu, dengan tangannya asik menyabuni tubuhnya di bawah guyuran shower.


'Pengen jual mahal pun tak bisa nolak aku.' gumam Adi, dengan langsung memeluk tubuh basah istrinya.


"D*ggy berdiri enak, Dek." ucap Adi dengan tersenyum jahil.


Adinda mendongakkan kepalanya, mendapati wajah suaminya yang dialiri air dari shower di atasnya.


"Aku mau sholat, Bang. Nanti keburu habis waktu dzuhur." ujar Adinda, yang terdengar seperti penolakan atas ajakan suaminya.


"Semalam ngajak, sekarang nolak. Jangan sampek Abang bener-bener marah sama Adek." sahut Adi dengan suara yang membuat Adinda takut.


Adinda mengangguk cepat, karena terlanjur dibuat merinding dengan sentuhan suaminya.


"Maksa Abang juga tak apa, Dek. Abang tau kewajiban Abang, sekalipun Abang lagi capek. Jangan lampiasin ke anak-anak, mereka butuh ibunya. Jangan ulangi lagi, biarin Gavin sama Gibran tak terurus macam itu. Abang tak masalah Adek males ngerjain tugas rumah tangga, yang penting anak-anak Abang kehandle." ungkap Adi, tepat di cuping telinga istrinya.


Adinda hanya mengangguk, merasakan darahnya yang berdesir hebat atas perlakuan suaminya.


Adi langsung mengerjakan tugasnya dengan begitu baik, membuat Adinda nyaman tanpa rasa sakit atas barang yang mengganjal tersebut.


"Jangan berisik, ok? Canda di dapur, takut kedengaran suara Adek." bisik Adi, dengan rasa bangganya karena telah menanamkan batangnya dengan sempurna.

__ADS_1


Adi mengatakan hal tersebut, karena kamar mandi yang berada di kamar pribadi mereka. Bersebelahan dengan dapur, tepatnya pada wastafel cuci piring. Suara Adinda tak mungkin teredam, hanya karena guyuran shower saja. Adi harus meminimalisir hal itu, karena tentu mereka akan merasa sangat malu pada menantunya tersebut.


"Ouchhh… aduh, Abang… pelan, Bang…" samar suara ibu mertuanya, yang sampai ke telinga Canda.


"Aduh, apa itu?" tanya Canda, yang tengah membereskan peralatan dapur yang sudah ia cuci dan lap bersih.


Canda bergidikan, dengan segera meninggalkan dapur tersebut. Meski pekerjaannya masih setengah jalan. Karena hal itu membuatnya teringat kembali, saat Ghifar mengajaknya berduaan di dalam rumahnya. Saat Givan tengah berada di luar rumah, pada siang hari saat Ghifar libur bekerja.


"Kalau aku peluk-peluk, udah ceramah aja. Ini ngapain segala pintu ditutup, dikunci lagi." ucap Canda, saat dirinya baru kembali dari kamar mandi.


"Sini…" sahut Ghifar, dengan menepuk kursi di sebelahnya.


"Iya, mau apa?" tanya Canda, dengan menuruti perintah pujaannya.


"Mau… apa ya?" jawab Ghifar menggantung, dengan menarik tirai jendela yang berada di belakang kursi tamu tersebut.


"Aku curiga deh, jangan-jangan… " ujar Canda dengan melirik Ghifar dengan senyum manisnya.


"Pengen tau tak orang kawin itu kek mana? Nih, biar kau ada takutnya juga sama aku. Berduaan tuh bisa jadi kek gini loh." jelas Ghifar, dengan mengetikkan kata 'with boyfriend' pada kolom pencarian browser yang dilengkapi dengan VPN tersebut.


"Astaghfirullah…." tutur Canda, saat Ghifar menyodorkan ponselnya dengan menampilkan dua sejoli berkulit putih tanpa mengenakan pakaian.


Ghifar terkekeh geli, dengan memegangi perutnya.


"Lebay deh kau, Dek." tukas Ghifar kemudian.


Canda langsung menggeser posisi duduknya, "Jangan liat yang begituan lah. Ngeri aku liatnya." ucap Canda, dengan memperhatikan wajah pujaannya yang masih memasang senyum jahil tersebut.


"Mau denger tak suara keenakannya kek mana? Sini coba, lebih dekat sama Mas." pinta Ghifar, dengan menepuk kembali tempat yang berjarak di antara mereka.


Terdengar desahan hebat, yang membuat Canda tegang menyaksikan tontonan yang Ghifar berikan.


"Udah, udah. Kasian banget ceweknya kaya udah ampun-ampunan, tapi gak diladenin." ucap Canda, yang malah iba pada pemeran wanitanya.


"Liat raut wajahnya, dia itu keenakan. Perempuan nampak dari wajahnya, mana keenakan, mana kesakitan." sahut Ghifar, yang mengutak-atik ponselnya untuk menyudahi tontonan dewasa tersebut.


......................

__ADS_1


Aduh, nanggung betul scene-nya 🤣


__ADS_2