
"Begitu loh, Dek. Kita sebagai orang tua, tak mungkin ngelarang kalau niat mereka memang buat belajar." ucap Adi, setelah menceritakan garis besarnya saja.
"Ya iya. Tapi Abang juga tak berhak ngerahasiain dari aku." sahut Adinda dengan memalingkan pandangannya.
"Assalamu'alaikum..." tiba-tiba perhatian mereka semua teralihkan. Mereka serentak menatap pemuda yang baru datang, dengan menggandeng tangan Gavin yang baru pulang mengaji.
"Hmm... Tamu jauh." celetuk Adinda, saat mengenali pemuda yang sering berkunjung. Tatkala dirinya baru pulang dari tempat perantauannya.
"Aku waktu muda dulu, kalau ngapel pakek jeans." ujar Givan, saat melihat Zuhdi berjalan ke arah kedua orang tuanya. Kemudian Zuhdi mencium tangan Adi dan Adinda, secara bergantian.
"Aku pakek sarung aja, biar gampang." ungkap Zuhdi, yang membuat mereka semua terpingkal-pingkal.
Zuhdi duduk di sebelah calon ayah mertuanya, dengan membuka kantong plastik hitam yang ia bawa.
"Mah... Ini simpan dulu." ujar Zuhdi, saat tawa mereka semua mereda.
"Tak punya brangkas ya kau." timpal Adi dengan raut wajah sombong yang dibuat-buat. Zuhdi hanya tertawa kecil, melihat raut wajah calon ayah mertuanya tersebut.
"Berapa ini?" tanya Adinda, dengan melihat bongkahan emas yang Zuhdi bawa.
"Ini ada sertifikatnya." jawab Zuhdi, dengan memberikan calon ibu mertuanya dompet seukuran sertifikat dari toko emas yang sore tadi ia kunjungi.
Adinda menerima dompet tersebut, dengan melihat tulisan yang tertera di sana.
"Awal kan kau nyimpen sembilan mayam ya, Di? Terus lima bulan lalu, kau lima belas mayam. Betul tak?" ujar Adinda, sedikit condong ke arah suaminya. Karena Adi, duduk di antara Zuhdi dan Adinda.
Zuhdi mengangguk mengiyakan, "Sekarang sepuluh mayam, Mah. Sama uangnya ini, ada berapa ya... Buku tabungannya di simpan Giska soalnya. Jadi aku bawa uangnya aja." tutur Zuhdi, dengan mengambil uang yang ia gulung dalam lipatan sarungnya.
Adi terkekeh geli melihat tingkah calon menantunya, "Emas kau pakek kresek, uang kau lipet di sarung. Kenapa tak sekalian kau ikat di baju kau, terus kau karetin. Macam jamannya Givan ngejer-ngejer layangan sama kau." tukas Adi kemudian.
Semua yang mendengar, terkekeh geli. Berbeda dengan Zuhdi, yang hanya tersenyum samar. Karena dirinya fokus menghitung uang berwarna biru tersebut.
Icut sedari tadi mengamati tamu yang baru datang tersebut, ia bertanya-tanya tentang siapa tamu itu dan ada hubungan apa dengan keluarganya.
__ADS_1
"Kau ngerampok kah? Cepet betul kau ngumpulin emas, cepet target nanti." tanya Givan, dengan mendongak untuk melihat wajah serius temannya yang tengah menghitung uang.
Givan duduk di karpet, dengan memangku Gibran yang tengah memainkan ponselnya.
"Karena niat, makanya cepet. Lembur terus, istirahat sholat, nyambung lagi. Cuma memang dibayar pas proyek selesai, jadi ngumpulnya uang tuh jelas." jawab Zuhdi, setelah menoleh sekilas pada yang menayangkan hal itu.
"Sekarang proyek yang di Banda selesai? Terus kau mau ke luar kota lagi?" ucap Adi, yang sedari tadi hanya menyimak saja.
"Tak, mau liburan dulu. Mau ngajak Giska liburan, boleh Pah?" sahut Zuhdi, dengan memberikan uang tersebut pada calon ibu mertuanya.
"Jangan, Pah. Nanti Giska diapa-apain sama dia." balas Givan, yang membuat Zuhdi terkekeh geli.
"Rasanya tak mungkin. Nanti Giska ngadu lagi, sia-sia nanti aku ngumpulin jumlah mayam." ujar Zuhdi kemudian.
"Tak mungkin, tak mungkin. Depan papahnya ya iya tak mungkin." sindir Adinda yang membuat Zuhdi merasa malu.
"Tak lah, Mah. Takut pas sialnya aku, malah tak meriah pestanya karena buru-buru." elak Zuhdi kemudian.
"Lagian mau liburan ke mana? Liburan ke ladang sebelah aja, ngopi-ngopi kau di sana." tutur Adi, dengan maksud menunjukkan usaha wisata istrinya. Agar Zuhdi tak jauh-jauh membawa Giska, untuk berlibur.
"Tak tau ke mana. Bareng sama Mamah Papah juga ayo, biar aku yang traktir kopinya." tukas Zuhdi yang membuat mereka tertawa kembali.
"Nih, batangan 10 mayam. Sama yang awal 9, terus yang kedua 15. Jadi 34 mayam, Di. Uangnya ini ada tujuh juta, betul tak?" ungkap Adinda, dengan menunjukkan uang yang ia genggam.
Zuhdi mengangguk, "Ya udah, Mah. Simpan aja, nanti aku tambahin lagi." ucapnya kemudian.
"Uang udah berapa memang, Di?" tanya Givan, dengan Zuhdi menoleh cepat ke arahnya.
"Itulah, uang paling baru berapa belas juta sama ini. Kalau tak salah ingat, yang di tabungan ada 11 juta, sama mau ditambahin ini tujuh juta." jawab Zuhdi dengan geleng-geleng kepala.
Adi menepuk pundak Zuhdi, "Masih ada waktu kurang lebih dua tahun lagi." ujarnya dengan tersenyum kuda.
"Emas setengahnya lagi, uang masih jauh betul. Takut tak kekejer tuh, Pah. Mana Giska maksa betul. Usahain ayo bang, aku tak mau tau, pokoknya.... Kalau udah pokoknya itu, macam aku berdosa betul kalau tak menuhinnya." tutur Zuhdi dengan raut wajah nelangsanya.
__ADS_1
Mereka kembali mentertawakan calon menantu yang satu frekuensi tersebut.
"Ehh, mana calon istri aku? Dari tadi, enak ngobrol aja." ucap Zuhdi, dengan menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Lagi bikin telor ceplok, kelaparan dia. Mamahnya lagi sakit soalnya, tak ada menu makanan hari ini." sahut Adi lirih.
"Sakit apa, Mah? Janganlah sakit, nanti siapa yang ngurusin catering?" ujar Zuhdi dengan melongok ke arah Adinda.
Adinda tertawa geli, kemudian menutup wajahnya karena merasa lucu dengan ekspresi wajah Zuhdi. Yang tengah dibuat seolah amat khawatir, tetapi malah terdengar lucu di akhir kalimat.
Icut baru memahami siapa tamu itu. Ia merasa dirinya seperti tak mendapat keadilan, jika dibandingkan dengan anak kandung dari ibu sambungnya.
Ia berdiri dari duduknya, kemudian mengambil anaknya yang berada di pangkuan ayahnya.
Terlihat begitu tidak sopan, saat Icut berlalu pergi ke dalam kamarnya. Tanpa sepatah kata dan senyum ramahnya juga.
Icut tersenyum kecut, kemudian menghapus kasar air matanya yang tiba-tiba terjatuh. Saat dirinya baru sampai di ranjangnya.
"Anak Maya, bukan anak Adinda." ucapnya lirih, dengan merebahkan keturunannya di atas tempat tidur dengan amat perlahan. Kemudian dirinya ikut merebahkan tubuhnya, kemudian mulai menyusui anaknya dengan posisi miring.
Icut membelai rambut anaknya, netranya bertemu dengan netra anaknya yang begitu mirip dengannya tersebut.
"Aku hamil, malah diungsikan biar mereka tak malu. Bukan malah nutupin aib anaknya sendiri, setidaknya nikahin anaknya biar cucunya punya ayah. Kejam-kejamnya ibu kandung, lebih kejam ibu tiri yang memang hanya cinta sama papah dan keturunannya aja. Mungkin ibu kabur, karena memang tak mampu bersaing sama perempuan tega kek mamah."
"Aku sama Giska diperingati berulang kali, biar tak pacaran sebelum punya gelar. Saat nasib sial datang ke aku, tetap aku yang dirugikan di sini. Aku ketauan pacaran dan ketauan hamil, malah aku dibuang. Giska ketauan pacaran, malah ngedukung pacarnya Giska buat nikahin Giska."
"Pola pikir aku yang udah tak waras? Atau memang orang tua aku lebih sayang Giska, ketimbang aku? Tapi, lebih tepatnya lebih sayang anaknya sendiri. Anak mamah Dinda, ketimbang anak Maya."
Ungkap Icut seorang diri, dengan menyeka air matanya berulang kali. Ia mendekap kembali anaknya, yang sudah memejamkan matanya tetapi mulutnya masih aktif bergerak.
Ia dirundung rasa kecewa, sedih, cemburu. Yang hanya dirinya sendiri yang memahami rasa itu. Karena mereka semua, tengah menikmati waktu kebersamaan dengan calon menantu sefrekuensi mereka.
......................
__ADS_1