Belenggu Delapan Saudara

Belenggu Delapan Saudara
BDS214. Masakan Kinasya


__ADS_3

"Periksa yuk, USG." ajak Givan dengan tersenyum manis pada istrinya.


"Memang Mas ada uang? ATM yang mamah kasih kan udah kita kuras isinya. Hari-hari kita makan aja, aku masak stok belanjaan mamah yang masih ada." Canda yang membatin, Givan yang tertikam banyak belati di hatinya. Ia merasa menjadi suami, yang tidak bisa memberikan yang terbaik untuk istrinya.


"Uang yang Mas kasih tempo hari, udah tak ada sama sekali kah?" Givan memperhatikan kepala istrinya yang tertunduk.


"Tak ada, habis. Kita jual mahar aja yuk. Kan waktu itu, aku diminta mamah buat bawa mahar aku ke rumah ini." 70 gram emas, yang Givan berikan untuk menikahi wanita tersebut. Kini menjadi taruhan, untuk kebutuhan hidup mereka.


"Sabar ya?" Givan mengusap-usap lengan istrinya.


Canda mengangguk lemah, lalu dirinya berlalu dari hadapan Givan. Untuk menyelesaikan pekerjaannya di dapur kembali.


Givan keluar dari pintu samping rumah itu, ia harus mencari jalan keluar permasalahan ekonominya.


Tokonya memang laris, berjalan sesuai harapan. Hanya saja, keuangan toko itu dihitung perbulan. Ibunya memintanya mengumpulkan hasil toko selama satu bulan, baru bisa dibagi dengan keuntungannya.


"Toko bisa dihandle sama Ituk. Ada daftar harganya sendiri. Hasan juga tetap dibayar perbulan. Aku... Aku di sana juga, cuma ngawasin aja. Canda tetep tak punya uang, kalau aku di sana. Baru akhir bulan nanti, aku bisa megang uang. Cari kerjaan aja deh, dari pada minjem ke mamah, ujung-ujungnya dikasih, tapi aku tak enak hati sama mamah. Udah punya istri, mintain uang terus." Givan merasa bimbang dengan langkah kakinya.


"Minta kerjaan sama Zuhdi, tapi kerjaan lumayan berat. Tapi, kalau tak diambil, Canda tak punya uang. Mana harus beli susu formula Key." gumam Givan sembari menyusuri jalan beralas batu halus, yang terpasang di halaman samping rumah tersebut.


"Ke luar aja dulu lah, barangkali ada yang ngajak kerja." lanjutnya meneruskan langkahnya menembus ke halaman depan rumah tersebut. Ia bergegas pergi mengenakan motornya, yang memiliki body bongsor seperti motor milik Ghifar.


Di dalam rumah, Ghifar lanjut membereskan ruangan yang memiliki tumpukan pakaian tersebut. Pakaiannya bertumpuk tak terurus, karena Adinda selalu melewati pakaian anaknya yang telah beristri. Sedangkan Ghifar, baru terungkap bahwa dirinya masih bujangan.


"Seumur hidup, bakal kek gini nih." Ia menggelengkan kepalanya, jika teringat akan pusakanya yang tak berfungsi.


Satu jam ia menekuni aktivitasnya, tanpa gangguan Mikheyla. Keringatnya bercucuran, ketika menuruni tangga kembali untuk menuju lantai dasar. Kali keberapanya dirinya bolak-balik dari ruangan pakaian ke kamarnya, hal itu cukup membuatnya lelah.


"Jero e." Ghifar memegangi perutnya sendiri, yang dari pagi belum diisi makanan. Ia merasa amat kelaparan.


"Ada ikan patin masak. Tenang, tak bau lumpur kok. Kata penjualannya tadi, ikannya dibudidaya di terpal." Kinasya berpapasan dengan putra mahkota di dapur. Ia melenggang pergi, dengan membawa sepiring nasi berisi lauk pauk yang komplit.

__ADS_1


"Perasaan... Kinasya si geulis tea selalu masak ikan. Ikan mas, ikan lele, ikan patin, ikan pedih yang mahal pun dia sanggup beli. Belum aja ikan lohan, arwana dan sejenisnya. Aku paling males makan makanan yang ngedadak misahin tulang sama duri." Ghifar menilik hasil masakan Kinasya yang tersaji di atas meja makan.


"Ada semur telor. Tapi hasil masak siapa?" Ghifar menoleh ke kiri dan ke kanan.


Canda.


Ia khawatir itu hasil masakan kakak iparnya. Baru juga tuduhan akan dirinya, sudah diselesaikan. Ia tak mau membuat masalah baru, dengan memakan hasil masakan kakak iparnya.


"Ya... Sudahlah." akhirnya Ghifar memutuskan untuk menyantap masakan Kinasya, yang jelas uang belanjanya bersumber dari ATM miliknya.


Ia duduk anteng, sembari menikmati cita rasa masakan Kinasya yang sedikit pedas dan memiliki tambahan rasa masam.


"Pandai juga masaknya, tak bau amis." komentarnya menghabiskan suapan terakhir.


Kemudian Ghifar segera membasuh piring kotornya, lalu mencuci tangannya.


"Heh... Tunggu di halaman belakang, aku mau ngobrol." Ghifar mengangguk, saat mendengar perintah dari orang yang mengantri di wastafel cuci piring itu.


Matanya berbinar, seolah-olah tengah melihat harta benda yang berlimpah.


Namun, Kinasya langsung melipir untuk segera mencuci piring kotornya. Santapan mata Ghifar langsung sirna memunggunginya.


Ghifar berjalan ke arah meja makan kembali, untuk meneguk air putih. Lalu ia segera berjalan menuju halaman belakang rumah itu, dengan mulai menyalakan rokoknya.


Terlihat sepeda milik Gavin dan Gibran tergeletak begitu saja, dengan jemuran pakaian milik keluarganya yang berjejer tiga. Halaman belakang kurang terlihat nyaman, untuk dijadikan tempat berkumpul dengan orang dari luar.


"Far..." Ghifar menoleh ke arah bentuk terindah di depan matanya.


"Apa?" Ghifar memalingkan pandangannya, mencoba menikmati rokok yang memiliki cita rasa mint tersebut.


"Aku tadi ngobrol sama mamah, suruh ajak kau berobat." asap mengepul lewat hembusan nafas Kinasya. Gadis itu, masih belum bisa melupakan rokok elektriknya.

__ADS_1


"Berobat apa, Kak?" Kinasya memilih untuk duduk di kursi teras, persis dengan kursi teras yang terdapat di teras depan rumah itu.


Sedangkan Ghifar, lebih memilih untuk selonjoran di samping kursi yang Kinasya duduki.


"Tentang keris empu turunan dari Adi Riyana." jawab Kinasya penuh teka-teki.


Ghifar menyipitkan matanya, kemudian mendongak menatap Kinasya.


"Papah tak suka mistis. Dia takut mistis, makanya dulu indra keenamnya bang Givan diusahakan ditutup. Dia percaya gaib itu ada, tapi dia takut tentang cerita atau keberadaannya di dekat kita." jelas Ghifar kemudian.


"Bukan tentang mistis." Kinasya tertawa lepas.


"Tapi tentang k*jantan*an kau. Besok kita periksa, Ok? Aku ambil libur nanti, buat nemenin kau sampek bisa nyoblos." Ghifar baru mengerti maksud pembicaraan Kinasya.


Rahangnya menegas, ia tidak suka dengan arah pembicaraan mereka.


"Kau tak perlu ikut campur, Kak. Itu masalah pribadi aku." Ghifar terlampau malu, jika Kinasya ikut serta di dalamnya.


"Aku maklumi, Far. Jangan macam aku orang lain di kehidupan kau coba, Far. Aku pengen kau sembuh, punya masa depan yang bagus, punya anak yang banyak macam ma bapak kau." ungkap Kinasya tulus.


Ghifar terdiam tak menyahuti, ia tengah direpotkan dengan pemikirannya sendiri.


"Aku nanya-nanya ke kawan dulu. Tentang ahli andrologi di kota ini." ujar Kinasya dengan menyentuh bahu telan*ang Ghifar.


Ghifar mendongak kembali, "Jangan bikin aku tambah malu. Kalau memang kau tak tau, kau tak usah tanya ke kawan kau. Lebih baik kau fokus kerja aja. Dari pada repot-repot bantu pengobatan aku." ketus Ghifar tak bersahabat.


Kinasya mengalah, ia masih belum bisa membujuk seseorang yang ia anggap adik tersebut.


"Kin....


......................

__ADS_1


__ADS_2