
Ghifar menyugar rambutnya ke belakang, "Aku harus gimana, Mah? Aku mau papah tak nuduh aku bohong. Aku jujur sama keadaan aku kemarin. Kalau memang ada perempuan lain, yang mampu bikin punya aku bangun, aku tak mungkin janjiin Kin untuk aku nikahin. Sekarang... Aku udah terlanjur sama Kin, aku udah janjiin dia buat bilang tentang hubungan kita ke Mamah sama papah. Aku tau Mamah tak pengen ada pernikahan di antara anak-anak yang Mamah anggap anak. Tapi aku gimana, Mah? Aku tak mungkin bisa punya keturunan, kalau aku nikah sama perempuan lain, karena punya aku cuma bangun sama Kin."
Bulu mata Ghifar basah. Ia tidak bisa memendam semuanya seorang diri. Ada harapan dan juga resiko yang Ghifar pikul, dalam menggapai keputusannya tentang Kinasya.
Ia akui, dirinya terlalu egois. Namun, ia teringat akan sindiran Kinasya tentang liburannya dengan Ahya. Terselip kecemburuan yang Kinasya berikan. Karena terlalu sering Kinasya menyindirnya, Ghifar menyimpulkan bahwa kakak angkatnya itu cemburu dengan Ahya.
Adinda diam tertunduk. Ia tidak menyangka, bahwa anaknya bermain begitu rapih di rumahnya sendiri. Ia memahami anaknya tidak sedang berbohong. Namun, ia miris mendengar pengakuan anaknya.
Ternyata, anak kandungnya dan anak angkatnya memiliki skandal di rumahnya sendiri. Sama sekali tak pernah terlintas di pikirannya. Ia menganggap anak-anaknya benar saling menyayangi tanpa perasaan spesial.
"Mah..." Ghifar mengguncang lengan ibunya, menyadarkan Adinda dari lamunannya.
Helaan nafasnya begitu berat, ia memandang kembali manik anaknya yang menyedihkan.
"Ya udah, nanti Mamah ngomong sama papah. Sekarang lanjutin dulu kerokannya." Ghifar merasa tenang, kala melihat senyum tipis dari ibunya.
Menegosiasi ibunya tak seseram yang ia bayangkan. Ghifar tak mengetahui, akan Adinda yang akan kalah jika menyangkut perasaan.
Ya, Adinda malah memikirkan perasaan anak-anak yang saling mencintai itu. Namun, terhalang dinding kekeluargaan di dalamnya.
Ia teringat akan kelicikan suaminya, agar bisa mendapatkannya dulu. Memang, ini lain kisahnya. Hanya saja, ia teringat akan hal itu. Apa lagi, Ghifar adalah keturunan suaminya. Bukan hal yang tidak mungkin, jika sifat licik suaminya turun pada Ghifar.
Adinda mencoba merilekskan tubuhnya, dengan pijatan Ghifar setelah dirinya selesai menggosok punggung ibunya dengan koin.
Mau bagaimana pun, anaknya tetaplah anaknya. Ia tidak ada hubungan darah sama sekali, dengan anak angkatnya. Apa lagi, Kinasya bukan siapa-siapa untuk mereka.
Kinasya hanya seorang anak, yang pernah Adinda asuh dari dirinya bayi. Adinda mengklaim bahwa Kinasya adalah anaknya, karena rasa keibuannya yang tidak tega melihat bayi kecil dipisahkan dari ibu kandungnya.
Ia mencoba menyadari itu. Memikir kembali, tentang pernyataannya kala anak-anak mereka mulai tumbuh dewasa.
"Nih, Dek. Ken sama Giska, tak apa beda jauh juga. Udah suami istri sih, nanti macam sepantaran." Haris menjodoh-jodohkan anaknya, saat kumpul keluarga di hari lebaran.
"He'em. Givan sama Kin. Langi tinggal pilih mau bujang yang mana, koleksi bujang aku banyak." Adi pun setuju akan hal itu.
"Anak dijodoh-jodohkan! Kalau jodohnya tak lama, malah kekerabatan kita yang merenggang. Udah aja, anak kau, anak aku, begitu pun sebaliknya. Kita besarin mereka bareng-bareng, anggap mereka ini anak-anak kita. Biar kita tetep bisa kek gini sampek tua, biarpun tak ada hubungan keluarga." Adinda langsung memberi keputusan, saat obrolan kosong itu.
"Ya lah! Terserah kau!" Haris sudah tidak minat, untuk melanjutkan tentang pembicaraan mereka ini.
__ADS_1
~
Giska dan Zuhdi baru sampai di rumah itu. Terlihat Giska menenteng sesuatu di tangannya, sedangkan Zuhdi membawa sebuah ransel.
Awalnya Givan memperhatikan langkah kaki Giska. Seperti belum ada sesuatu yang terjadi, Giska tak terlihat kesakitan dalam berjalan. Givan menyimpulkan bahwa adiknya masih perawan. Kadang setidak penting itu, pikiran kakak Giska.
"Bawa apa kau?" tegur Givan pada Zuhdi.
"Pakaian aku. Keknya aku yang pindah ke sini." dari raut wajahnya, Zuhdi terlihat tengah menahan kekesalan.
"Ya memang kau yang tinggal di sini, kan Giska masih belum wisuda. Masih jadi tanggungan Papah." tambah Adi, ia berniat pergi ke ladang dengan membawa cangkul di pundaknya.
Adinda masih belum bercerita apapun pada suaminya. Ia ingin mencari waktu yang pas untuk membicarakan tentang Ghifar.
"Mah...." Kinasya masuk, ia berpapasan dengan Adi.
Ia begitu kecewa, saat ia menyunggingkan senyum pada Adi. Namun, kepala keluarga di rumah itu malah melengos pergi.
"Mah aku bawa sandwich nih." seru Kinasya mencoba menghalau rasa kecewanya.
"Far... Anterin ke puskesmas dong." Adi langsung menoleh ke belakang, saat mendengar suara manja dari Kinasya.
"Ya." Ghifar menyahuti sembari berjalan ke arah dapur.
Ia baru terbangun, sejak tertidur kembali setelah subuh.
Adinda menoleh ke arah Kinasya. Adinda berpikir, bahwa Ghifar belum menceritakan perihal dirinya yang mengobrol dengan ibunya. Karena Kinasya masih seperti biasa saja, layaknya tidak ada rahasia di dalamnya.
"Adik kau." Zuhdi sudah kembali dari kamar Giska.
Lalu ia duduk di sebelah Givan yang tengah menonton siaran televisi. Kepala Zuhdi menggeleng beberapa kali, meski pandangannya fokus pada televisi.
"Kenapa?" Givan meladeni obrolan Zuhdi.
Feeling-nya, Zuhdi akan mengadu tentang Giska di rumah mertuanya.
"Tidur bareng, nampak kek terheran-heran betul."
__ADS_1
Givan langsung tertawa geli, saat mendengar ucapan terheran-heran keluar dari mulut Zuhdi.
"Mana kan... Cerewet betul dia di rumah. Malam-malam, ribut skincare aku ketinggalan." tambah Zuhdi bercerita.
Givan merasakan sendiri, bagaimana ribetnya seorang wanita. Canda pun tak beda jauh dengan Giska.
"Cerewet kek mana?" Givan merasa adiknya tak terlalu banyak komentar jika di rumah ini.
"Nyamuk lah. Cuci tangan, kaki, muka dulu. Sempit lah, geser lah. Kek mana caranya mesra-mesraan?"
Tawa Givan pecah, saat temannya curhat seperti itu. Nyatanya benar, ini ada sangkut pautnya dengan masalah ranjang.
"Jadi?" tanya Givan kemudian.
"Aku tidur di kasur lantai. Miris tak?"
Givan kembali mentertawai Zuhdi. Ini cukup menggelitik perutnya.
"Memang aku pun belum ada niat, buat unboxing. Feeling aku, model Giska ini harus banyak energi. Aku masih sama rasa, perasaan lutut apa masih pada lemes." lanjutnya kemudian.
Untungnya mereka berteman. Jadi, obrolan seperti itu santai didengar.
"Sehatin aja badan kau dulu. Udah jadi istri sih, tak bakal ke mana." ujar Givan kemudian.
"Ayo sarapan dulu."
Perut Canda sudah terlihat cembung. Kalau saja ia bercerita pada mertuanya, pasti Adinda tak akan membiarkan cucunya besar dalam kandungan tanpa tambahan vitamin apapun.
Sayang sekali, Givan dan Canda seolah menutupi usia kehamilan Canda. Padahal jelas, itu bukan aib untuk mereka. Givan terlampau fokus, untuk susu formula Mikheyla saja.
"Bang Adi...." Zuhdi langsung menarik nafasnya begitu dalam.
"Cuci tangan dulu."
Belum saja dirinya diperintah untuk melakukan sesuatu. Kembali cuci tangan Giska perintahkan pada Zuhdi.
Bukannya Zuhdi malas cuci tangan. Hanya saja, ia sedikit tersinggung perihal cuci tangan. Apa karena tangannya yang kasar dan terlihat kotor, membuat istrinya terus-terusan memintanya untuk cuci tangan?
__ADS_1
......................